Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Tiba Di Jakarta.


__ADS_3

Sore hari setelah bangun tidur badan Rembulan terasa enteng. Ia keluar dari kamar mendapati ibunya yang sedang setrika pakaian.


"Ibu... nggak usah, biar Bulan saja, yang sterika," Bulan segera mencabut kabel setrika.


"Hais, kamu! Biar Ibu yang sterika, sebaiknya kamu ashar dulu terus kita ke rumah Pak Umar." titah Fatimah. Kemudian menyolok kabel kembali.


"Kerumah Pak Umar Bu? Mau apa?" Bulan terkejut.


"Pokoknya sholat dulu, nanti baru cerita." kata Fatimah. Tidak ingin putrinya terlambat shalat.


Bulan mengangguk kemudian ambil air wudhu lalu menjalankan ibadah wajib tersebut. Selesai shalat, ia ke dapur menyambar toples yang berisi makanan kering lalu kembali menemui Fatimah sambil makan.


"Keripik Bu," ucapnya meletakan toples di samping Fatimah.


"Kamu saja yang makan, masa iya, Ibu lagi gosok disuruh nyemil, nanti bajunya berminyak semua," keduanya terkekeh.


Ibu dan anak itu, seperti kakak adik. Jika bertemu orang yang tidak di kenal pasti menyangka bahwa Fatimah adalah kakak Rembulan. Wajar, Fatimah menikah masih di bawah umur, yakni 16 tahun. Saat itu Fatimah baru lulus SMP.


*****


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Wanita berpakaian gamis, dan berjilbab panjang tampak religius menyambut tamunya. Beliau adalah bu Syarifah istri pak Ramli Umar.


"Fatimah... Rembulan," sapa bu Umar. Begitulah Ifah sering di panggil.


"Masuk Imah," A mempersilahkan Bulan dan Fatimah.


"Terimakasih..." ujar Fatimah. Lalu masuk di ikuti Rembulan. Sementara Syarifah memanggil suaminya.


"Ada apa Bu Fatimah?" tanya pak Umar tidak mungkin Fatimah menyempatkan diri untuk datang ke rumahnya, jika tidak ada seseuatu yang penting. Pikir pak Ramli Umar Umar.


Pak Umar lalu duduk di samping Syarifah berhadapan dengan Rembulan dan Fatimah.


"Begini Kak Ifah. Pak Umar." Fatimah memulai pembicaraan.


Fatimah mengutarakan niatnya akan pergi ke Jakarta. Lalu berniat menitipkan rumahnya kepada keluarga Umar.


"Oh jadi... kalian akan pergi ke Jakarta?" tanya Syarifah.

__ADS_1


"Benar Kak, menurut Bulan, kami tidak bisa hanya berdiam diri, kami harus ikhtiar mencari Bumantara," tutur Fatimah panjang lebar. Dan akhirnya rumah Fatimah akan di tinggali kakak tertua Abu Bakar.


Obrolan pun selesai. Fatimah pamit pulang. Bulan tidak tahu bahwa sepasang mata ternyata mendengarkan pembicaraan mereka.


"Jadi... kamu akan pergi dari desa ini Bulan, semoga kamu menemukan kebahagiaan. Sampai saat ini cintaku masih tersimpan di relung hati ini. Cinta tidak harus memeliki Bulan," gumam seorang pria. Ia adalah Abu Bakar.


*****


Sampai di rumah. Bulan mulai berkemas. Memasukan pakaian ke dalam tas. Ia sudah memantapkan hati akan pergi.


Bulan membuka lemari kayu jati, dua bulan yang lalu Tara yang membelikan. Matanya berkaca-kaca menatap pakaian suaminya.


"Abang... aku akan menyusulmu, semoga Allah memudahkan langkahku, dan dengan cepat bisa menemukan kamu," gumam Rembulan. Memeluk salah satu baju Bumantara yang sengaja Tara tinggalkan. "Semoga cintamu tetap utuh untuk aku Bang. Seperti cintaku padamu,"


"Bulan... ini baju ibu," kata Fatimah meletakan baju di kasur. Membuat Bulan terkesiap.


"Iya Bu, nanti Bulan bereskan," jawab Bulan. Lalu Fatimah keluar lagi.


Fatimah memindahkan pakaianya ke kamar Bulan. Sebab kamar Fatimah nantinya akan di gunakan oleh Bariah, kakak Abu Bakar yang akan menempati rumah bulan sebelum mempunyai tempat tinggal sendiri.


Fatimah berdiri di depan rumah panggung memindai sekeling. Wanita cantik itu, sebenarnya berat meninggalkan daerah tercinta. Ia adalah penduduk asli. Namun karena saudara-saudara nya meninggal karena tragedi yang memilukan, hanya tinggal Fatimah sendiri di sini.


Jarang sekali penduduk sini yang pergi merantau jika bukan karena sesuatu hal seperti yang dialami putrinya.


"Bulan... masih belum selesai Nak?" tanya Fatimah menyembulkan kepala ke dalam kamar Bulan.


"Sudah selesai kok Bu, ada yang bisa dibantu?" Bulan segera menghampiri Fatimah.


"Kita ziarah ke makam Ayah dulu Nak,"


"Baik Bu,"


Keduanya pun ziarah ke makam Ayah dan kakek nenek sebelum berangkat meninggalkan daerahnya.


*******


Keesokan harinya tepat jam 6 pagi. Bulan di antar Abu Bakar ke depan kecamatan. Karena di situlah, ia akan menunggu trafel yang sudah Bulan pesan, hendak menuju bandara.


Dengan semangat, Abu Bakar sudah balik tiga kali. Yang pertama mengantar Fatimah, mengangkut barang bawaan, dan yang terakhir mengantar wanita yang dicintai sejak dua tahun yang lalu itu. Namun Abu harus berlapang dada karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Hati-hati Bulan, jika sudah sampai Jakarta, kabari aku," ucap Abu.

__ADS_1


"Tentu Kak, jika kakak sudah menikah nanti, jangan lupa kabari aku juga," jawab Bulan mengulas senyum.


Abu tersenyum kecut. Mana bisa secepat itu melupakan Rembulan. Batin Abu.


Sesaat mereka diam lalu menghampiri Fatimah yang menunggu barang bawaan khawatir hilang seperti seminggu yang lalu.


"Oh iya Bulan, maaf. Karena aku tidak bisa menemukan siapa orangnya yang sudah tega mencuri pakaian kamu. Jika suatu saat nanti aku bisa menemukan orangnya, mau dihujum dengan cara apa orang itu," kata Abu kesal. Mengingat kala itu.


"Lupakan saja Kak Abu, bahkan saya sendiri sudah tidak ingat," jujur Bulan.


"Benar Nak Abu, kamu nggak usah repot mencari orang itu," Imbuh Fatimah.


Abu hanya bisa menatap kagum kedua wanita di hadapannya. Bukan hanya cantik wajahnya tetapi hatinya jauh lebih cantik.


Mobil sejuta umat pun akhirnya datang. Tampak beberapa orang penumpang sudah berada di dalam. Abu menyimpan barang-barang Rembulan di bagasi.


Rembulan bersama Fatimah sang Ibu hanya kebagian duduk di kursi paling belakang. Tapi ya sudahlah, yang penting selamat sampai tujuan. Pikir Rembulan.


Tidak jauh dari tempat itu seorang pria mengamati Rembulan. Ia adalah Komaruddin. Entah apa yang ia pikirkan. Komaruddin memandangi kepergian mobil yang di tumpangi Bulan beserta Fatimah hingga tidak terlihat lagi.


Rembulan bersama Fatimah sampai di Bandara kemudian menurunkan tas memindahkan ke stroller.


Bulan mendorong stroller bersama Fatimah setelah check in satu jam kemudian masuk ke dalam pesawat.


"Bulan... Ibu kok takut," ujar Fatimah setelah pesawat hendak lepas landas.


"Nggak apa-apa Bu," Bulan tersenyum. Menatap Fatimah yang memeluk erat pundaknya.


"Bentar ya, Bu" Rembulan melepas rangkulan ibunya, kemudian memasangkan sabuk pengaman. Mereka baru sekali ini numpang pesawat.


"Ibu tidur saja ya," kata Bulan mengusap pundak Fatimah. Fatimah pun mengangguk. 15 menit kemudian, akhirnya terlelap.


Bulan pun turut memejamkan mata, namun tidak bisa tidur. Hampir tiga jam akhirnya pesawat mendarat di bandara Internasional Sukarno Hatta.


Bulan segera menyalakan handphone. Lalu menghubungi pemilik kontrakan.


Inilah pertama kali Bulan bersama sang Ibu menginjakkan kaki di Jakarta. Akan mengawali babak baru dalam menjalani kehidupan.


...✍✍✍...


...Ditunggu jempol dan komentarnya agar semangat....

__ADS_1


...Happy reading....


__ADS_2