
Taksi berwarna merah marun melaju sedang. Argo yang tampak di depan terus bertambah, membuat Fatimah melebarkan mata.
"Bulan, kenapa kita tadi nggak numpang angkutan umum saja sih? Lihat tuh, mahal banget! Sudah sampai dua ratus ribu," bisik Fatimah agar tidak terdengar supir taksi.
"Hihihi... Ibu..." Bulan tertawa menatap wajah Fatimah yang tampak panik.
"Bulan... kok malah tertawa. Kita disini tidak punya siapa-siapa, kalau kita tidak cepat mendapat pekerjaan, kita mau dapat duit dari mana," Fatimah tampak resah.
"Ibu... jangan khawatir, tabungan yang ditinggal Abang masih banyak, belum lagi mas kawin, sebenarnya tidak usah bekerja ke sini, tidak akan kelaparan Bu, cuma masalahnya kan aku harus mencari Bang Tara," Bulan menjelaskan.
"Ibu tahu, tapi kan tidak harus boros juga Nak, tabungan kamu untuk masa depan kamu, misalnya usaha apa gitu, jangan boros, belum lagi membayar kontrakan."
"Iya Bu, Bulan tahu," Bulan merangkul tubuh Fatimah.
Mobil sampai di pemukiman padat penduduk. Itulah tempat yang Bulan tuju.
"Alamat tepatnya dimana Non?" tanya supir.
"Jalan melati Mas, Rt 1 rw 2," Bulan menjelaskan alamat. Taksi berjalan perlahan karena banyak anak yang bermain.
Mereka sampai di depan kontrakan petakkan berjejer. Bulan sengaja kontrak di tempat itu, di samping ramai, juga tempatnya strategis. Jika hendak naik angkutan tidak jauh cukup berjalan kaki beberapa meter. Walaupun memang agak mahal sedikit. Tentu Bulan memikirkan Fatimah jika ia tinggal kerja nanti sang ibu tidak kesepian.
"Ini alamatnya Non,"
"Oh iya Pak,"
Bulan turun dari taksi disusul Fatimah bergegas mebuka bagasi, mengeluarkan tas pakaian yang selalu naik turun mobil sejak berangkat tadi.
"Terimakasih Mas," Bulan berucap setelah membayar transport taksi hingga 300 ribu.
******
"Permisi Bu, apa benar, ini kontrakan Pak Maman Suherman?" Bulan memastikan sesuai alamat yang ia ambil dari internet, kemudian Bulan simpan.
"Betul Dek, saya istrinya," jawab seorang Ibu setengah baya.
Bulan menjelaskan mengenai kontrakan yang sudah ia bayar dp nya melalui transfer.
"Mari Dek,"
Bulan mengikuti wanita gemuk itu yang masuk ke dalam rumah di samping kontrakan.
"Ini kuncinya Dek," Ibu kontrakan, memberikan kunci kepada Bulan. Setelah ke luar rumah yang agak besar dibandingkan kontrakan yang lain.
Terimakasih Bu," Bulan menerima kunci. Selangkah kemudian membuka pintu kontrakan petakan, lalu masuk ke dalam bersama Fatimah, dan juga pemilik kontrakan.
Netranya memindai sekeliling. Kontrakan yang diskat tiga bagian. Yang depan ruang tamu, kamar tidur di ruang tengah, rupanya sudah ada ranjang. Lalu dapur yang sudah ada peralatan memasak.
__ADS_1
Memang sengaja, Bulan memilih yang sudah ada fasilitas, walaupun agak mahal sedikit.
"Begini Mbak, kontrakan nya, semoga Mbak, dan putrinya betah tinggal di sini," kata pemilik kontrakan kepada Fatimah.
Fatimah mengulas senyum ramah.
"Kenalkan Mbak, nama saya, Suhaya. biasa di panggil Pok Aya" sambungnya.
"Saya Fatimah, dan putri saya ini, Rembulan, Pok Aya," Fatimah pun menjabat tangan Suhaya.
Setelah berbincang-bincang sesaat, Suhaya kembali pulang ke rumah yang tidak jauh dari kontrakan.
Bulan yang masih mengerlingkan mata kesana kemari membuka pintu dapur. Walaupun ia dapat di tengah, tapi bagusnya ada pintu belakang jadi tidak pengap.
"Ibu istirahat dulu," kata Bulan sembari merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ibu mau ke kamar mandi dulu Nak," Fatimah ke kamar mandi. Lalu gantian dengan Bulan. Setelah istirahat beberapa saat, ibu dan anak itu melihat-lihat seputar kontrakan.
"Bulan, tempat ini kan ramai, kalau Ibu jualan kecil-kecilan boleh nggak?" tanya Fatimah.
"Ibu mau jualan apa?" Bulan menoleh cepat. Menatap Fatimah yang sedang tersenyum memandangi anak-anak kecil yang sedang bermain.
"Jualan sembako Lan, disini kan belum ada," Fatimah mengedarkan pandanganya ke sekeliling kontrakan.
"Ibu ada modal kok, untuk membeli etalase sama barang produk, sedikit-sedikit yang penting komplit," Fatimah bersemangat sudah membayangkan progres ke depan.
"Tapi Bu," Bulan tapak berpikir. Sebenarnya tidak mengijinkan ibunya bekerja. Tetapi melihat semangatnya yang luar biasa. Bulan pun mempertimbangkan. Apa lagi ibunya masih cukup muda dan masih bersemangat untuk beraktifitas.
"Bulan..."
"Iya Bu, tapi kita harus bicara dengan Pok Aya dulu," pungkas Bulan.
********
Setelah shalat dzuhur, Bulan sudah siap berangkat interview ke alamat yang dicantumkan di internet.
"Bu, aku berangkat," Bulan mencium tangan Fatimah.
"Hati-hati Nak, semoga lancar ya," Fatimah mencium pipi putrinya kiri, dan kanan sebelum akhirnya Bulan numpang ojek yang sudah ia pesan.
10 menit bukan waktu yang lama. Bulan sampai di sebuah bangunan perusahaan tetapi tidak terlalu besar.
"Permisi Pak, saya mau wawancara, dan diminta untuk datang ke alamat ini," Bulan menemui scurity di pos.
"Oh... baiklah, mari saya antar." kata scurity lalu masuk ke dalam kantor.
Bulan mengikuti Scurity bertanya-tanya dalam hati. Bukankah ia akan bekerja merawat orang cacat? Pasalnya, gedung tersebut bukan agen penyalur tenaga kerja untuk perawat. Melainkan gedung sebuah perusahaan dibidang properti. Bulan baca di papan reklame ketika masuk tadi.
__ADS_1
"Silahkan menunggu di sini Dek, nanti menunggu giliran dipanggil" kata scurity. Setelah keluar dari ruangan menyerahkan data-data Rembulan, kepada seseorang di dalam ruangan.
"Baik Pak, terimakasih," Bulan menunggu di depan ruangan bersama kira-kira 10 pelamar semuanya wanita.
Satu persatu mereka mendapat giliran wawancara, dan Bulan lah yang bagian terakhir hingga sore hari.
"Selamat sore Pak," sapa Rembulan kepada pria yang sedang menunduk mengecek data para pelamar.
"Sore! Silahkan duduk,' jawab pria itu tanpa menatap Rembulan.
"Terimakasih" Rembulan duduk dihadapan seorang pria, jika diperhatikan wajahnya lumayan tampan.
Bulan menunggu detik, menit. Hingga 10 menit pria itu masih tampak meneliti map tanpa sedikitpun meliriknya. Bulan merasa diabaikan.
"Uhuk-uhuk," Bulan pura-pura batuk. Misi nya tercapai membuat pria itu mengangkat kepalanya.
"Maaf" ucap Bulan tersenyum.
Pria yang benama Gavin. Tampak dari nemtek yang menempel di saku kemeja itu justeru menatap Bulan tidak berkedip.
Bulan merasa risi diperhatikan seperti itu. Jika bukan karena membutuhkan pekerjaan ini ingin rasanya kembali ke luar.
"Maaf Pak, ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Bulan. Membuat Gavin seketika tersadar. Bahwa pria itu kesengsem dengan kecantikan Bulan.
"Oh ti-tidak" ucap Gavin gelagapan. "Oh Anda lulusan SMK jurusan farmasi?" tanya Gavin mengalihkan. Seraya memeriksa data Bulan untuk menutup rasa malu.
"Betul Pak," Bulan menjawab singkat.
Suasana menjadi sunyi. Lima menit kemudian. "Anda diterima bekerja, besok saya antar ke alamat rumah pasien yang akan kamu rawat," ujar Gavin. Tidak bertanya ini itu, Gavin langsung to the point.
Bulan merasa aneh belum juga diwawancara langsung diterima kerja. Apa lagi akan dijemput ke rumah pula, membuat perasaan Bulan semakin aneh. "Saya menjadi perawat wanita atau pri-..."
"Saya minta alamat lengkap kamu, besok jam tujuh saya jemput," potong Gavin. Kemudian menumpuk semua map.
Bulan padahal ingin menanyakan yang akan ia rawat pria atau wanita tetapi Gavin tidak memberi kesempatan.
"Anda datang kesini bersama siapa?" tanya Gavin kemudian. Gavin melempar pandangan ke wajah Bulan.
"Dengan ojek Pak," jujur Bulan.
Setelah berbasa basi dan sudah tidak ada yang ditanyakan. Bulan pamit pulang, setelah menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat dimana Bulan tinggal saat ini.
Gavin gigih ingin mengantarkan pulang tetapi Bulan sudah ditunggu ojek di depan kantor properti.
*******
...Happy reading....
__ADS_1