
"Jadi... Bulan sudah di rumah Bu?" tanya Tara, setelah mobil berjalan. Tetapi Tara masih berpikir yang tidak-tidak, jangan-jangan... Bulan pulang ke kontrakan berjalan kaki. Tara meraup wajahnya gusar.
"Benar Nak," jawab Fatimah.
Lain Tara, lain Fatimah. Beliau berpikir. Bulan bisa sampai kontrakan dengan cara apa, yang penting putrinya selamat sampai di kontrakan, dan tidak mengalami suatu hal yang buruk.
Empat manusia di dalam mobil, larut dalam pikiran masing-masing. Maya juga bingung, bagaimana setelah bertemu dengan menantunya nanti. Akankah Bulan mau memaafkan dirinya? Itulah yang berkecamuk di dalam pikiran Maya.
*********
Bulan bersama Abu, masih berbincang-bincang di teras kontrakan.
Di depan kontrakan dengan wajah kuyu, Udin baru turun dari ojek online. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Pasalnya sudah berputar-putar seharian, ganti-ganti angkutan, namun tidak bisa menemukan Rembulan.
"Terimakasih Bang," kata Udin setelah membayar ojek. Netranya melempar tatapan ke arah kontrakan lampu belum dinyalakan. Sudah pasti bu Fatimah pun belum pulang.
Saat di jalan tadi siang, Udin telepon bu Fatimah memberi kabar jika ia mencari Bulan. Sebab tadi pagi belum pamit beliau.
Udin menyipitkan mata kala matanya merangkap dua sosok yang duduk di depan warung. Hari sudah mulai gelap di tambah lagi lampu belum di nyalakan, tentu wajah sosok tersebut tidak begitu jelas.
"Din... nggak usah mindik-mindik begitu, macam orang mau mencuri sandal saja! Kamu," kelakar Abu.
"Hihihi..." Bulan tertawa mendengar canda-an Abu.
"Kak Abu... Bulan..." seru Udin. Walaupun tidak terlalu jelas wajah keduanya, tentu Udin sudah mengenali suara mereka.
"Kak Abu... Bulan... kok bisa sih? Berduaan disisni?" Udin masih tidak percaya.
"Sudah Din, kamu bawa kunci serep nggak?" Bulan rasanya sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi. Tidak menanyakan Udin darimana, yang Bulan tahu, Udin baru pulang kerja. Belum juga menanyakan kemana perginya sang Ibu. Nanti saja. Pikir Bulan.
"Oh iya, ada," Udin membuka pintu, di dalam sudah gelap. Karena sudah lewat adzan maghrib. Dengan pendar senter hp Udin menyalakan lampu.
"Masuk Kak" kata Udin sambil menggelar tikar. Rasa lelah seolah hilang melihat Bulan sudah pulang.
"Aku mau ke kamar mandi dulu," tanpa menunggu jawaban. Bulan bergegas ke kamar mandi.
"Kak Abu mau minum apa?" Udin hendak membuat minum untuk kakak yang biasa dipanggil Ustadz ini. Jujur Udin masih merasa takut menatap Abu. Karena Udin merasa telah mengecewakan Abu.
Keluarga Abu orang paling di hormati di kampung, bukan lantaran karena orang kaya, melainkan keluarga Abu terkenal arif dan bijaksana. Maka tidak heran jika cukup disegani.
"Nanti saja Din, mushola nya jauh nggak?" tanya Abu. Pria sholeh yang berumur 25 tahun itu tidak pernah meninggalkan kewajiban ibadah.
"Tidak Kak, mau ke mushola, kita barengan saja," pungkas Udin mereka barengan ke mushola.
__ADS_1
"Kak Abu, saya minta maaf," kata Udin sambil berjalan kaki.
"Maaf untuk apa?" Abu pura-pura tidak tahu, pasti yang dimaksud Udin masalahnya dengan Bulan.
Udin melirik sekilas Abu di sampingnya. "Masalah di kampung dengan Bulan waktu itu Kak," lirih Udin.
"Kenapa kamu minta maaf sama saya Din. Kamu kan salahnya sama Bulan" sahut Abu.
"Yang sudah, ya sudah Din. Bulan sudah menceritakan sama saya, ini untuk pelajaran buat kamu. Jangan mudah dipengaruhi orang yang sudah ketahuan itu jahat, apa pun alasannya," nasehat Abu.
"Iya Kak," Udin terus melangkah menatap jalanan.
"Oh iya Din, sebelum saya berangkat kemari, Ibu kamu titip pesan. Jika saya bertemu sama kamu, beliau minta kamu menghubungi Nya," Abu mengalihkan pembicaraan, kasihan melihat wajah Udin yang tampak memelas.
"Memang kamu tidak pernah telepon ibu kamu?" Abu heran, Udin punya handphone tetapi ibunya sampai pesan segala.
"Saya tadi malam sudah telepon Kak, kemarin-kemarin memang saya belum menghubungi ibu, soalnya nggak punya paketan" Udin menutup obrolan karena sudah sampai mushola.
********
Rombongan Tara sudah sampai di depan kontrakan. Fatimah segera berjalan cepat begitu turun dari mobil, hingga melupakan bahwa ia bersama Tara dan Maya. Tanganya langung mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Bentar" sahut Bulan. Ia sudah selesai mandi bahkan sudah maghrib, mendengar pintu di ketuk kemudian berjalan mendekati pintu.
Ceklak.
Bulan membuka pintu tampak sang Ibu dengan wajah lelah menatapnya redup.
"Bulan... hiks hiks hiks" di rangkulnya tubuh putrinya dengan tangis yang mengharu biru.
"Ibu... Ibu kenapa? Terus... darimana?" Bulan tidak tahu jika sang ibu sedang mencarinya.
Fatimah melepas pelukan. "Kamu tidak apa-apa Nak?" Fatimah menatap Bulan dari kepala sampai kaki.
"Ibu... Bulan nggak apa-apa kok, memang kenapa?" Bulan pikir Fatimah tidak tahu apa yang terjadi. Ia tentu bermaksud menyembunyikan masalahnya kepada bu Fatimah.
"Bulan..." Suara berat membuat Bulan menoleh.
"A-Abang..." sapa Bulan terbata-bata. Lalu beralih menatap Maya yang kedua tanganya masih memegang kursi roda.
"Nyonya..." lirih Bulan ingat perlakuan Maya tadi pagi masih terngiang di telinga, dan takut akan terulang lagi.
__ADS_1
Maya melepas tanganya dari roda, kemudian mendekati Bulan. Wanita setengah baya itu berdiri di depan menantunya. Di candaklah kedua lengan Bulan memegangi erat.
"Maafkan Mama sayang..." ujar Maya.
Ribuan kupu-kupu terasa menari di hadapan Bulan, inilah perasaan Bulan kini. Menatap lekat wajah Maya yang mengulas senyum kepadanya.
"Bulan..." Maya memeluk tubuh ramping menantunya. Fatimah dan juga Tara memandangi keduanya, dada yang terasa sesak menjadi lega.
"Nyonya..." Bulan berucap. Bulan tahu, sebenarnya Maya orang baik, selama tinggal di rumah beliu, Maya tidak membeda-bedakan kasta.
Maya merenggangkan pelukanya. "Jangan panggil Nyonya, tapi panggil saja Mama." ujar Maya tulus.
"Terimakasih Ma," Bulan tersenyum lega.
"Mari ngobrolnya sambil duduk," titah Maya.
Namun Maya minta ijin ke kamar mandi, sedangkan Bulan segera mendekati suaminya mendorong roda ke dalam.
"Ibu bikin minuman dulu ya Nak," Fatimah meninggalkan pasutri.
"Iya Bu,"
"Bulan... kamu nggak apa-apa kan?" Tara memandangi lekat wajah Bulan yang duduk bertumpu lutut di depannya.
"Aku baik-baik saja Bang" Bulan kasihan tergambar jelas wajah lelah suaminya.
"Maaf, aku nggak bisa melindungi kamu," Tara merasa bersalah. Masih membayangkan istrinya terlunta-lunta di jalanan.
Digenggam nya tangan Bulan, kemudian menciumnya.
"Kok Abang dan Mama, bisa bersama Ibu?" Bulan ingin segera tahu.
Tara menceritakan apa yang ia lakukan sejak pagi, bersama mama Maya dan ibu Fatimah.
"Jadi... Abang mencari aku sejak pagi? Terus... Abang makan nggak, minum obat nggak?" cecar Bulan.
"Sudahlah Bulan, tidak minum obat, sehari juga nggak apa-apa, yang penting kamu dan bayi kita sehat," Tara mengusap lembut kepala istrinya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Tara melempar tatapan keluar ke pada dua pria yang masih berdiri di luar pintu. Tara terperangah. Terutama tahu siapa pria yang datang bersama Udin. Tara tidak pernah menyangka akan bertemu dengan pria yang ia hindari.
__ADS_1
******
...Happy reading ...