
Keke mendelik gusar, masih memandangi gaun malamnya yang sudah basah kuyup.
"KERJAAN SIAPA INI?!" ia teriak-teriak tidak ada Maya, merasa bebas melakukan apapun.
"BIBIIIII....!" urat lehernya menonjol sangking kencangnya Keke teriak.
"Ada apa Non?" tanya bibi pura-pura tidak tahu. Bibi mengerjapkan mata agar Keke menyangka, bahwa bibi memang baru bangun tidur.
"Ini pasti kerjaan bibi Kan?! Ngaku!" kuku tajamnya yang memang di biarkan panjang, siap mencakar wajah bibi. Bibi memundurkan wajahnya. Netranya melirik gaun malam Keke yang basah kuyup tertawa ditahan.
"Oh maaf Non Keke, sebelum tidur tadi, saya sengaja menyimpan ember di atas pintu, jika ada maling masuk, agar kedengaran sama saya" bibi rupanya pandai mengarang cerita. Orang semacam Keke memang harus diberi pelajaran.
"Maling! Maling! Maling, apa?! alasan!" tergambar jelas kilat marah di wajah Keke.
"Ya jelas maling Tuan muda Non, kalau mau maling barang kan, besar-besar, maling na teh, pasti berat bawanya" bibi menjawab dengan kas logat jawa barat.
"Awas! Jika Mama sudah pulang nanti! Bibi akan saya adukan! Supaya kamu dipecat!" Hardik Keke kemudian hendak pergi.
"Sreeeetttt... brakk!
"Kurangajaaaarrrr..." Keke jatuh ke lantai terpeleset air sabun. Ia pun meringis. Tatapan tajamnya menghunus bibi.
Bibi sebenarnya tidak tega, tapi sudah terlanjur hanya terpaku di tempat.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Jika diibaratkan nasip Keke malam ini.
"Hati-hati Non," bibi mendekat mengulurkan tangan berniat menolong membangunkan Keke. Namun Keke justeru menepisnya keras.
"Awas! Pergi!" usir Keke geram.
Brak" Keke melempar ember ditunjukan pada bibi. Karena bibi berkelit, alhasil ember membentur tembok.
Bibi kembali ke kamar, kali ini mengucinya dari dalam.
"Ada apa Non?" Sumidah mendengar kegaduhan segera bangun kemudian menuju tkp. Ia berhenti kala menatap Keke yang masih duduk di lantai.
"Bantu saya Sum!" perintah Keke mengangkat satu tangan ke arah Sumi.
"Mari Non, saya bantu" Sumidah membantu Keke berdiri tampak hati-hati. Jika tidak, bisa-bisa Sumidah pun tergelincir sebab lantai nya sangat licin.
"Ada apa Non? Kok lantainya basah?" tanya sumidah menenteng sandal Keke atas perintahnya menuju kamar tamu.
"Semua ini gara-gara pembantu sialan itu! Awas saja, besok pagi saya akan pecat!" maki Keke.
*******
__ADS_1
"Ada apa sih Bi... berisik sekali," omel Tara ketika bibi sudah kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Rupanya Tara pun mendengar drama malam ini.
"Tidak ada apa-apa Tuan, lebih baik Tuan tidur saja lagi." jawab bibi santai.
"Atau... Tuan muda mau ke kamar mandi?" Bibi berniat bangun.
"Nggak," Tara menyahut pendek.
"Kira-kira... malam ini Bulan sedang apa ya Bi?" tanya Tara sambil terpejam.
"Hehehe... pasti tidur Tuan, sekarang kan sudah hampir jam 12 malam," bibi tertawa, tuan muda benar-benar bucin tapi sok (Jumal) Jual Mahal.
Mereka ngobrol hingga beberapa saat, sebenarnya Tara masih ingin ngobrol tentang Bulan, tetapi bibi rupanya sudah tidak menyahut itu artinya sudah tidur.
********
Malam berlalu datanglah pagi setelah subuh Bulan sudah siap-siap hendak berangkat ke kediaman suaminya.
"Bulan... masih pagi begini kamu mau berangkat Nak," kata Fatimah.
"Iya Bu, jika sampai di rumah nanti, aku bisa langsung memandikan Abang," kata Bulan bersemangat. Ia sudah menylempang tas kecil.
Setelah semalam tidur dengan Fatimah dan diberikan banyak petuah, tentang bagaimana menghadapi peliknya kehidupan, Bulan sedikit merasa lega.
"Yang sabar mengahadapi suami kamu. Jika Dia marah-marah... jangan dilawan. Sudah pasti suami kamu itu setres Lan. Bayangkan saja, yang awalnya segar bugar, tapi tiba-tiba tidak bisa apa-apa pasti dia uring-uringan kan," belum cukup nasehatnya tadi malam, Fatimah melanjutkan pagi ini. Walaupun Bulan tidak bercerita tentang kelakuan Tara, namun Fatimah seolah tahu.
"Memang begitu ya Bu?" tanya Bulan.
"Iya, waktu kampung kita dulu diterpa bencana, dan Ayah kamu menjadi korban. Ayah suka uring-uringan Lan, tetapi... karena ibu sabar merawat dengan baik, saat Ayah kamu di panggil lebih dulu, ibu tidak terlalu menyesali. Karena... Ibu sudah mencurahkan kasih sayang kepada Ayahmu," Fatimah merasa lega, tentu bukan karena sang suami dipanggil lebih dulu, melainkan karena Fatimah sudah melakukan yang terbaik disaat suaminya masih hidup.
"Iya Bu, Bulan berangkat," di cium nya tangan Fatimah. Rasanya masih ingin berlama-lama tinggal bersama ibu, namun ia mempunyai tanggungjawab sebagai seorang istri.
"Lan... apa nggak sebaiknya berangkatnya nanti saja, bareng sama aku," usul Udin yang sedang menyapu lantai.
"Nggak Din, kamu kan berangkatnya siang nanti," tolak Bulan.
"Din, aku titip Ibu ya," kata Bulan.
"Tentu dong Lan," Udin mengacungkan jempol.
Bulan tersenyum menatap Udin. Dengan adanya sahabatnya tinggal bersama ibu. Ibu tentu tidak akan merasakan kesepian lagi.
"Kamu berangkatnya naik apa Lan?" tanya Udin.
"Naik ojek Din,"
__ADS_1
"Oh kalau aku mendingan numpang angkutan Lan, di samping irit, juga turun pas depan apotek," kata Udin memang benar adanya.
"Betul Din, tapi kalau masuk ke rumah suami aku, tetap saja harus pesan ojek mendingan sekalian saja," tutur Bulan.
Bulan membuka ponsel memesan ojek tentu akan lebih cepat ketimbang numpang angkutan umum terlalu menyita waktu pula.
Bulan berjalan ke pinggir jalan diantar Fatimah.
"Nanti kalau sudah ada waktu, kamu periksakan kandungan kamu Nak, siapa tahu hamil beneran," titah Fatimah.
"Baik Bu,"
"Lan, Ibu tinggal dulu ya Nak, ibu kan lagi masak air, tadi," Fatimah berjalan cepat
Bulan tersenyum menatap bu Fatimah, hingga masuk ke kontrakan.
Ia menunggu ojek, tetapi bukan ojek yang datang, melainkan mobil mewah berhenti di depanya. Seorang pria turun dari mobil menghampiri Bulan.
"Pak Gavin?" dahi Bulan berkerut.
"Apa? Cepat naik, kamu tuh ya! Di jemput pak Arief tidak mau, ternyata kamu ingin aku yang menjemput," seloroh Gavin percaya diri.
"Pak Gavin bukan sedang di luar kota?" tanya Bulan.
"Nggak lah, buktinya sekarang aku ada disini," Gavin tersenyum.
"Cepat masuk, bos kamu sudah tidak sabar," Gavin melebarkan pintu. "Ternyata benar dugaan aku Lan, kalau Dipta itu suka sama kamu," Gavin tampak kecewa.
"Pak, saya sedang menunggu ojek, jadi saya tidak bisa bareng Pak Gavin," Bulan mengalihkan pembicaraan.
"Cek! Bulan... kamu mau, aku dimarahi bos kamu," Gavin kali ini tampak serius.
Tidak lama kemudian ojek datang, Gavin memilih membayar kerugian daripada dimarahi Tara. Bulan pun akhirnya mengalah mengikuti Gavin.
*********
Sementara di kediaman Tara. Keke sedang mengangkat telepon dari Maya.
"Hallo Ma,"
"Hallo Ke! Mama tidak bisa pulang hari ini, minggu depan baru bisa pulang,"
"Oh memang ada apa Ma?"
Entah apa jawaban Maya selanjutnya di telepon, yang jelas, Keke menyeringai setelah menutup panggilan.
__ADS_1
"Ini kesempatan gw untuk membalas dendam pada ART sialan itu! Tunggulah Bibi! Hahaha" Keke pagi ini masih meluapkan emosi. Ia sedang menyusun rencana untuk balas dendam pada bibi pagi ini.
*