
"Kekeeee...." Pekik Tara.
"Bang... bangun Bang," Bulan menepuk pipi suaminya, posisi seperti ruku. Rupanya Tara sedang bermimpi.
Tara pun menarik tubuh Bulan hingga jatuh ke dadanya. Membuat Bulan terkesiap, karena tidak menyangka Tara akan melakukan gerakan secepat kilat.
Bulan memejamkan mata, dekapan hangat suaminya ini lah yang selalu ia rindukan. Namun seketika Bulan sadar dan bangun dari dada bidang suaminya.
Ia menatap Tara yang masih tersengal-sengal. Mata merah kas bangun tidur itu menatapnya lekat, entah apa arti tatapan itu. Bulan sadar, dekapan ini bukan ditujukan untuk dirinya, melainkan untuk Keke.
"Abang memimpikan Keke," Bulan merasa kecewa. Namun Tara tampak masih bingung memindai sekeliling.
Bulan merasa sesak, kemudian beranjak meninggalkan Tara yang masih diam membisu, entah apa yang ia pikirkan.
Bulan pun memelih berjalan ke dapur. Jika bibi sudah pulang dari pasar, tentu memasak lah yang akan ia jadikan hiburan.
Bulan tersenyum, dari kejauhan melihat bibi yang sedang mencuci sesuatu di wastafel.
"Bibi sudah pulang?" Bulan menghampiri wanita setengah baya itu.
"Sudah Neng, ini saya sedang mencuci pesanan Neng," bibi menoleh sekilas lalu kembali mencuci tulang sapi yang sudah di potong-potong.
"Saya rebus air ya Bi,"
"Iya Neng,"
Rembulan membuka kitchen set, ambil panci tebal yang ditunjukkan oleh bibi. Bulan kemudian meletakkan di atas kompor, setelah diisi air, lalu merebusnya hingga mendidih, dan memasukan tulang.
Memotong-motong sayuran lalu menumbuk bumbu.
"Neng pintar memasak ya?" bibi kagum mengamati Bulan yang sudah ahli meracik bumbu.
"Pintar sih tidak Bi, tapi setiap ibu memasak suka lihatin," sahut Bulan, sambil menumis bumbu hingga harum.
"Tapi kalau untuk masakan seperti daging, ayam, kami jarang memasak Bi, paling sayuran, tempe, tahu. Jika ada rezeki lebih, baru membeli telur maupun ikan, itupun menurut saya sudah mewah," tutur Bulan.
"Neng Bulan, nggak suka masakan seperti itu ya?" tanya bibi sambil mencuci buah-buahan sebelum di simpan di kulkas.
"Bibi... bukan nggak suka Bi, tapi nggak ada uang buat beli. Hihihi..." Bulan mentertawakan hidupnya.
"Ah Eneng, bisa saja," bibi tersenyum.
__ADS_1
"Benar Bi, orang susah seperti saya, bisa makan tempe, tahu, saja sudah bersyukur," Bulan seketika ingat Fatimah sang Ibu, walupun makan seadanya mereka sangat bahagia. Ibunya sangat menyayangi namun tidak pernah memanjakan.
"Sudah Neng, tidak usah dibahas. Bibi teh, sudah biasa, karena bibi lebih susah dari Eneng, tapi bibi mah, tetap bersyukur," bibi juga orang susah, tentu merasakan semua itu.
"Bibi sudah lama bekerja disini?" Bulan mengalihkan obrolan.
"Sejak Tuan Muda, masih SMP Neng,"
"Oh, sudah lama juga ya Bi, ngomong-ngomong... Tuan muda pernah punya pacar Bi?" selidik Bulan.
"Nggak tahu juga sih Neng, kalau di luar, tapi setahu bibi mah, selama ini Tuan tidak pernah membawa wanita ke rumah," jujur bibi.
"Oh, terus... kalau wanita yang bernama Keke itu, siapa-nya Bi?" cecar Bulan. Berniat menyelidiki sampai sejauh mana hubungan Keke dengan suaminya.
"Oh, kalau Dia sih, sering kemari Neng, bahkan setelah Tuan muda kecelakan, dia tinggal disini. Yang bibi dengar dari Sumidah, dalam waktu dekat mereka akan menikah," tutur bibi.
Bulan manggut-manggut menyembunyikan kegetiran hatinya. "Bagaimana mau menikah sih Bi? Kan Tuan muda belum bisa berjalan," Bulan berusaha meyakinkan diri sendiri, berharap pernikahan itu tidak akan terjadi.
"Nah ada apa ini, Eneng ingin tahu tentang Tuan muda? Eneng naksir ya?" bibi menangkap kekhawatiran di mata Bulan.
"Bibi bisa saja, mana mungkin Tuan muda suka sama saya, Bi," Bulan tersenyum kecut.
"Bibi... kenapa kita jadi gibah ya, padahal nggak boleh loh,"
"Iya Neng, ya ampun... mulut Bibi teh kalau sudah ngomong nggak bisa di rem," dua orang beda generasi itu tertawa.
"Alhamdulillah Bi... sudah matang," Bulan pun mematikan kompor. "Nanti siang, kalau mau makan saya hangatkan lagi Bi," pungkas Bulan kemudian kembali ke kamar Tara.
********
Hari berganti, pagi ini jadwal kontrol Tara ke rumah sakit. Tampak Gavin asisten Bisma yang menjemput Tara dan Rembulan. Karena supir keluarga Bisma, harus mengantar Bisma beserta istri meninjau kembali apartement yang sebentar lagi akan berpindah tangan.
Ratusan apartement di dekat kampus yang rata-rata pembelinya adalah orang tua mahasiswa itu. Harusnya project ini Bumantara Yang menangani. Namun karena keadaan Bumantara terpaksa di handle oleh Bisma.
Mobil silver milik Tara sudah menunggu di dalam pagar.
"Loe di depan!" perintah Keke ketika Bulan hendak duduk di samping Tara.
"Biar saya saja yang duduk di belakang Non, nanti kalau Tuan muda, butuh sesuatu bagaimana?" Bulan beralasan, tentu tidak ingin Keke duduk berdua dengan suaminya.
"Cepat loe pindah ke depan! Gw kan calon istrinya, tentu gw lah, yang urus!" jawab Keke menyebalkan.
__ADS_1
Bulan terpaksa mengalah, turun dari mobil. Namun sebelumya, melirik Tara yang tidak mau membelanya Bulan merengut kesal.
"Sudahlah cantik, nggak apa-apa menemani aku di depan," Gavin tentu senang sekali, ada kesempatan berdekatan dengan Bulan.
Mendengar banyolan Gavin, Tara pun sebenarnya kesal.
Bulan pindah ke depan menatap Keke dari spion, yang duduk bersebelahan dengan Tara. Bahkan Keke terkesan operating sungguh membuat Bulan meradang. Ia lebih baik membuang pandanganya ke jalanan.
"Bulan sudah punya pacar?" tanya Gavin memecah keheningan.
Tara melempar tatapan ke wajah Bulan jawaban apa yang akan Bulan berikan.
"Sudah... bukan hanya sekedar pacar Pak, tapi sudah menjadi suami malah," Bulan menangkap senyum samar di bibir Tara, dari kaca spion.
"Masa sih? Yang benar Bulan," Gavin tampak patah hati.
"Benar lah Pak, tapi sayangnya, suami saya saat ini sedang selingkuh, bahkan mau menikah lagi!" Bulan berapi-api.
Senyum Tara pun mendadak hilang.
"Astagfirlullah... yang sabar Bulan, pria brengsek! Seperti itu jangan di pertahankan!" Gavin memukul setir.
Tanpa Gavin tahu, Tara mendelik gusar.
"Mungkin pria itu balas dendam kali Vin, jaman sekarang kan, tidak hanya laki-laki yang selingkuh, tapi wanita juga banyak," sambar Keke.
"Ah, saya tidak percaya Ke, kalau Bulan melakukan itu," Gavin tidak tahu jika tiga manusia yang sedang bersamanya sedang perang dalam hati, karena mereka korban dan pelaku.
"Saya setuju dengan Pak Gavin, jaman sekarang kan pelakor dimana-mana Pak, dan menjadi musuh sebagian besar para wanita, termasuk saya," Bulan melengos tidak perduli tatapan sinis Keke yang terlihat dari spion.
"Muve on Bulan. Bulan kan cantik, hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan wanita seperti kamu,"
"Braakk"
"Diaaaam...." Tara meninju sandaran jok di belakang Gavin.
"Ciiiiittttt,"
"Jedug," kepala Bulan membentur dashboard mobil.
.
__ADS_1