
Setelah berhasil lompat dari jendela, bibi berjalan hati-hati. Karena melewati semak belukar. Yang akan ia tuju adalah pintu dapur, terpaksa melewati belakang rumah Tara. Karena harus berputar untuk mencapai tujuan.
"Aku akan membuat kejutan, Keke," Bibi tersenyum. Sebenarnya bibi menyimpan semua kunci serep tiap- tiap pintu, kecuali pintu gudang memang hanya satu. Karena bibi sudah di percaya oleh keluarga Maya. Tetapi ia memilih melalui pintu dapur, daripada melewati pintu depan harus membuka pagar dan lain sebagainya.
********
Sementara Gavin, setelah berhasil melompati pagar segera mengetuk pintu rumah Tara. Namun tetap saja tidak dibuka.
"Deeerrrt deeerrrt.
Handphone dalam saku Gavin bergetar. Ia segera melihat siapa gerangan yang telepon.
"Hallo! Vin,"
"Hallo Tuan," ternyata Tara yang telepon.
"Kamu dimana Vin?! kenapa sudah jam segini belum datang juga, kemana Rembulan? Kamu ajak mampir kemana?!" tuduh Tara membuat Gavin menggeleng. Boro-boro kencan. Mau mendekati Bulan saja sulit.
"Tuan, saya di depan sejak jam 6 tadi, tapi tidak ada yang membuka pintu. Tuan dimana?" Gavin, balik bertanya.
Gavin pun menceritakan apa yang di alami pagi ini.
Tut.
Tara menutup sambungan telepon sepihak. Gavin menarik napas panjang. Lalu menyimpan handphone ke dalam kantong celana sebelum akhirnya menemui Bulan yang masih di luar pagar.
"Bulan... sebaiknya kamu lompat pagar juga, daripada di luar nggak ada orang," saran Gavin.
"Pak Gavin ini ada-ada saja, mana mungkin saya lompat pagar sih," tolak Bulan.
Bulan tentu ingat pesan Fatimah, harus berhati-hati siapa tahu dirinya memang benar hamil.
"Bukan lompat juga sih Bulan, sini naik pagar, aku bantu," kata Gavin. Setelah berdebat panjang akhir nya Bulan menurut.
Perlahan Rembulan memanjat pagar, ketika hendak turun, Gavin membantu. Setelah hampir sampai bawah, Gavin memegang pundak Bulan. Aroma segar tubuh Bulan, seolah menghipnotis Gavin.
Dada pria berkulit putih itu berdebar-debar.
"Alhamdulillah... akhirnya sampai juga," ucap Bulan menyadarkan Gavin dari rasa terpesona nya.
"Pak Gavin kenapa sih... perasaan yang memanjat pagar saya, tapi kenapa malah Bapak, yang ngos-ngosan," celoteh Bulan menyadarkan Gavin.
"Nggak apa-apa kita duduk di teras saja, Tuan Dipta tadi telepon siapa tahu bibi segera membuka pintu," Gavin pun mengalihkan pembicaraan.
"Tuan telepon? Terus, bagaimana keadaan nya?" Bulan tidak sabar ingin mendengarkan.
__ADS_1
"Tuan bilang, dia juga tidak tahu Bulan, soalnya pas aku telepon tadi, Dia masih tidur," Gavin menjelaskan setelah bangun tidur. Tara mengecek handphone di sebelahnya, lantas telepon Gavin balik karena melihat panggilan yang tak terjawab dari Gavin berkali-kali.
*******
Di dalam kamar, Tara telepon bibi berkali-kali namun tidak diangkat. Padahal dia ingin segera ke kamar mandi.
Dengan susah payah ia mencoba pindah dari ranjang ke kursi roda. Ia dorong roda ke depan menuju pintu dengan kedua tangan setelah dari kamar mandi. Selama dirawat Rembulan, perkembangan Tara semakin membaik.
Dok dok dok.
Ia ketuk pintu berkali-kali pun tidak ada yang membuka.
"Bibiiii..." pekiknya. Andai saja Tara tahu jika bibi saat ini masih berjuang agar bisa cepat menemuinya.
Dengan terpaksa Tara memutuskan kembali. Kedua tangan kekar itu mendorong roda menuju lemari. Ia seketika ingat, Maya sang mama pernah pesan kepadanya, jika perawat tidak ada. Maya menyimpan kunci serep di laci.
Ia menarik laci mencari benda tersebut, setelah mendapatkan benda pipih kecil itu kembali mendorong roda ke depan pintu kamar.
Cetek cetek.
Ia buka kunci perlahan.
Ceklak.
Pintu terbuka lalu mendorong roda ke rusang tamu. Namun tidak menemukan siapapun disana.
Ceklak.
"Eheemm..." Tara berdehem. Membuat Bulan dan Gavin seketika menoleh ke arahnya.
"Tuan" Rembulan segera berdiri menyambut tangan Tara lantas menciumnya.
Tara memegang erat tangan istrinya seolah tak ingin berpisah lagi. Keduanya saling pandang mengobati rindu yang mereka derita walaupun Bulan hanya pergi sehari semalam. Namun terasa menyesakkan dada.
Mereka tidak tahu jika ada pria yang iri menatap keduanya. Pria itu yang tak lain adalah Gavin. Sejak tadi ia memperhatikan keduanya, tidak mungkin jika tidak ada hubungan diantara Tara dan Bulan. Pasalnya Gavin menangkap keduanya saling melempar tatapan penuh cinta.
"Pak Gavin masuk dulu," ucap Bulan mengejutkan lamuan Gavin.
"Saya langsung pulang saja Lan" ucapnya seraya beranjak.
"Tidak sopan sekali kamu!" tandas Tara menarik bibirnya sebelah.
"Saya Tuan," Gavin mendekati Tara.
"Masuk!" Tara menggerakkan kepala agar Gavin mengikuti ke dalam.
__ADS_1
"Baik Tuan" Gavin pun menurut.
Bulan segera mendorong suaminya ke dalam, dan berhenti di ruang keluarga. Membantunya pindah duduk di kursi sofa.
"Bagaimana kabar Mama, sama Papa?" Tara ingin penjelasan tentang bagaimana kedua orang tuanya di luar kota.
"Tuan sama Nyonya, baik-baik saja Tuan muda, besok pagi saya harus kembali, karena selama seminggu akan mengantar beliau jika di butuhkan," jawab Gavin.
Tara mengangguk-angguk. Sementara keduanya ngobrol, Bulan ke dapur berniat membuatkan minum.
Bulan berjalan ke dapur bertanya-tanya kemanakah Bibi? Apa mungkin ke pasar? Jika iya, mengapa lama sekali. Pasalnya saat ini sudah jam 9 pagi.
Sampai di dapur, Bulan kemudian membuatkan dua gelas juice buah alpukat yang ia ambil dari kulkas. Setelah rapi ia kembali ke luar.
"Minum Pak Gavin," Bulan meletakan minuman di depan Tara maupun Gavin.
"Terimakasih Bulan," Tara dan Gavin menjawab serentak.
"Saya boleh numpang ke kamar mandi?" tanya Gavin.
"Silahkan Pak" Bulan yang menjawab. Sedangkan Tara segera menyeruput juice buatan istrinya terasa segar.
"Bagaimana keadaan Abang?" tanya Bulan, kemudian duduk di samping Tara.
"Kamu kenapa! Dijemput Pak Arief tidak mau pulang?" bukan menjawab pertanyaan Bulan.Tara justeru balik bertanya. Ketika nggak ada Bulan, ia kelimpungan, namun ketika ada istrinya sikapnya selalu ketus.
"Yang benar saja Bang, aku kan kangen sama ibu, masa Abang tega, baru sampai di rumah malah di suruh jemput," omel Bulan.
"Lagian aku malas, kalau di dekat Abang selalu dimarahi, disalahkan, dituduh yang tid-..."
"Uam-uam," Tara seketika menyambar bibir indah istrinya, membuat Bulan gelagapan tidak bisa melanjutkan bicara. Jika sudah begini Bulan menjadi pasrah rasa cinta membuatnya lupa akan perlakuan Tara.
**********
Sementara Keke, baru ke luar kamar, ambil minuman kemasan dari kulkas lalu meneguknya sembari berjalan.
"Rasain kalian!" ia tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai dua musuh sekaligus. Pikirnya. Ia pikir Bulan masih menunggu di luar dan bibi masih menangis di dalam gudang.
"Kalian itu penghalang misi gw untuk mendapatkan Dipta! ahaha," ia tertawa sendiri.
Dengan menggenggam minuman kemasan dalam botol plastik berwarna orens dia bawa ke ruang tamu.
Senyumnya mendadak hilang kala matanya melihat pria yang ia cintai dan Wanita yang ia benci sedang memadu kasih.
*
__ADS_1
...Happy reading....