
"Pak Han..." lirih Fatimah kala ia sudah sampai di kamar hotel. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya pergi ke Jakarta dan akhirnya mendapat jodoh.
"Kenapa kamu kaget gitu? Kita ini sekarang suami istri loh," Handoko menatap Fatimah mengulum senyum. Fatimah mengerjapkan mata masih terpaku di tempat berdiri mematung. Kala menatap Handoko melucuti semua pakaian. Yang pertama kemeja, kaos, dan hanya menyisakan kaos dalam, dan boxer.
"Astagfirlullah..." Fatimah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Hehehe..." lagi-lagi Han terkekeh gemas melihat istri nya.
"Ima... duduk disini," titah Handoko menepuk ranjang di sebelahnya.
"Sa- saya... aku... mau ke kamar mandi dulu. Ya, ke kamar mandi dulu," alasan Fatimah terbata-bata membuat handoko menggeleng.
Fatimah segera ke kamar mandi, walaupun sebenarnya tidak berbohong karena sudah menahan pipis. Sekaligus menghindar untuk sementara menenangkan detak jantungnya yang berdegup semakin kencang.
__ADS_1
Di kamar mandi Fatimah mondar-mandir sambil mengigit kuku jari. Ia intip sang suami dari kaca, tampak sedang tiduran meninggikan bantal. Sambil mantengin handphone entah apa yang pria itu baca. Pria berkumis tipis, hidung mancung, alis tebal itu sungguh membuat hati Fatimah merasa ada geleyar aneh, dihinggapi ribuan kupu-kupu yang menggelitik hatinya.
"Ima... kok lama sekali di kamar mandi?" tanya Handoko dari kasur.
Fatimah hanya diam bersandar di tembok menyembunyikan tangan di belakang. Ia mendongak menatap langit-langit.
"Ima..." panggilan itu terdengar lagi. Apa lagi dengan kata Ima... terasa sejuk di pendengaran Fatimah. Dengan langkah ragu-ragu Fatimah memberanikan diri mau bersembunyi di kamar mandi sampai kapanpun tidak akan ada guna. Ia menyadari bahwa kini sudah menjadi istri Handoko.
Handoko bangun dari tidurnya membopong tubuh langsing istrinya ke atas ranjang, kemudian merebahkan tubuh itu perlahan-lahan.
"Ima..." pria perjaka itu menatap lekat wajah istrinya. Ia dekat kan wajahnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya menempel ke wajah Fatimah.
Dada Fatimah berdentam-dendam rasa hangat menyentuh bibirnya. Hal ini tidak pernah Fatimah rasakan lagi selama kurun waktu belasan tahun, tentu selama suaminya meninggal. Fatimah memejamkan mata merasakan sentuhan-sentuhan suaminya.
__ADS_1
Dua manusia yang sedang dimabuk cinta itu terbang melayang mengepakkan sayap hinggap di dunia yang teramat sangat indah.
"Fatimah..." lirih Handoko bersamaan dengan pencapaianya. Pasangan yang tidak lagi muda itu pun terlelap, setelah mandi keringat.
Hingga menjelang magrib Fatimah membuka mata lebih dulu. Namun ia merasakan benda berat menindih perutnya menyulitkan Fatimah untuk bangun. Ia singkirkan tangan kekar suaminya agar tidak mengganggu tidurnya.
Ibu muda yang masih cantik itu terduduk menatap anggota tubuhnya yang tanpa sehelai kain. "Astagfirlullah..." lirih Fatimah, kemudian menatap pria yang tertidur pulas di samping nya masih seperti mimpi, tidak menyangka dia akan mendapatkan pria yang tampan
Segera ia ambil pakaian mengenakan cepat merasa malu dengan dirinya sendiri. Dengan tertatih-tatih Fatimah ke kamar mandi memutar kran mengguyur tubuhnya, ia gosok rambutnya dengan sampoo sambil terpejam. Tidak Fatimah sadari begitu membuka mata, sesosok pria ternyata memperhatikan istrinya mandi.
"Pak Han..." Fatimah yang awalnya berdiri seketika berjongkok menyembunyikan dua onggok daging yang menggoda dengan cara menempelkan ke lutut. Fatimah baru ingat ternyata tidak mengunci pintu kamar mandi saat masuk.
"Hehehe, Fatimah... kenapa kamu malu sekarang aku mandikan ya" Handoko mendekati Fatimah yang duduk memeluk lutut erat. Handoko kemudian menyalakan kran kembali. Pria itu memandikan sang istri walaupun rasa malu Fatimah sudah sampai ubun-ubun.
__ADS_1