
Suara gonggongan Anjing mengejutkan wanita yang membuang susu ke pinggir tong sampah. Ia berlari masuk lalu bersembunyi di balik pintu dapur masih memperhatikan Anjing entah milik siapa itu. Anjing itu pun menjilati susu yang sudah tumpah ke pinggir tong sampah sebagian. Sebab ketika melempar tidak tepat sasaran masuk ke dalam tong karena keburu ketakutan.
Puk.
"Kiaaaa.... hos hoos hoos" napasnya ngos ngosan karena kaget.
"Kamu ngapain disini Sum? Di panggil Nyonya tuh," sergah bibi.
"Bibi... kaget Tahu!" sungut Sum. Keget karena Anjing belum hilang sudah ditambah lagi dengan tepukan tangan bibi. Ternyata wanita penyelamat itu adalah Sumidah.
"Lagian kamu ngapain disini, Sum? Nyonya memanggil kamu," Bibi mengulangi.
"Ya sudah ayo, nanti saja cerita nya," Sum hendak kembali ke ruang tamu tetapi masih menoleh ke tempat sampah.
"Bibi!" pekik Sum. Menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terperangah.
Bibi pun kembali lagi."Ada apa Sum?"
"Lihat Bi!" Sum menunjuk Anjing yang kejang-kejang dengan mulut berbusa.
"Astagfirlullah... Kenapa Anjing tetangga itu Sum? Kamu racuni?" tuduh bibi.
"Bibi! Ihh!" Sum menceritakan apa yang ia lihat di dalam tadi tidak ada yang di tutup-tutupi.
"Ya Allah... lagi-lagi Keke. Sudah di tendang dari rumah ini wanita itu masih bikin ulah juga," bibi berpikir harus menceritakan pada Maya jika sudah acara selesai.
Kedua art super women itu kembali melanjutkan tugasnya. Hingga acara selesai. Para tamu membubarkan diri.
"Bulan... jika di perbolehkan, saya akan mengantar ibu kamu pulang" kata Handoko.
"Oh soal itu saya terserah ibu saja Pak" Bulan melirik sang ibu.
Fatimah tidak menjawab tentu ia akan menolak walaupun pulang bersama Udin tetapi tidak lah pantas jika pulang dengan pria yang belum ia kenal. Walaupun sudah pernah diantar pria itu. Sesungguhnya Fatimah menolak jika Bukan karena Udin.
"Mbak Fatimah, terima saja, Handoko itu orang baik, dan beliau juga masih bujangan," bisik Maya.
Fatimah pun akhirnya pamit pulang di antar Handoko bersama Udin tentunya.
Sementara Bulan segera masuk ke kamar rasanya perutnya terasa kencang.
__ADS_1
"Capek ya?" Tara menatap Bulan terlihat lelah.
"Sedikit Bang, aku istirahat dulu," Bulan pun merebahkan tubuhnya.
********
Bulan berganti. Tujuh bulan sudah usia kandungan Rembulan. Ia menjalani rumahtangganya sangat bahagia.
Tara walaupun belum sembuh, tetapi sangat perhatian. Walau Tara tidak bisa memberikan perhatian secara fisik namun kasih sayangnya tercurahkan untuk istrinya.
Selama tiga bulan setelah acara 4 bulan ketika itu, Keke tidak mengganggu lagi.
Namun kendati demikian keluarga Bisma dan Maya bukan tidak mengalami kesulitan. Betapa tidak? Saat ini semua proyek miliknya macet. Properti yang sudah siap jual sejak tiga bulan lalu belum ada investor yang berniat membeli. Bahkan di sewakan pun belum ada yang berminat.
Bagusnya keluarga Bisma masih mempunya tabungan untuk menopang hidup selama beberapa bulan terakhir. Penyelidikan kasus kecelakaan Tara pun terpaksa di hentikan sebab sudah tidak mampu lagi untuk membayar.
Walaupun keadaan ekonomi mereka sangat merosot dratis. Keluarga Bisma saling mendukung dan menyayangi agar jangan ada yang tergoyahkan oleh keadaan ini.
"Bibi... Sumidah... saya memanggil kamu ke sini, ada hal yang ingin saya sampaikan," ucap Maya terasa berat.
"Ada apa Nyonya?" Sum dan bibi bertanya.
"Tidak Nyonya, saya rela tidak di gaji, karena saya tidak punya siapa-siapa lagi," jawab bibi.
"Saya juga tidak mau pergi Nyonya, karena Non Bulan sudah berpesan agar saya membantu beliau ketika lahiran nanti," jawab Sum. Sudah satu Bulan ini memang Sum Rembulan yang menggaji.
"Ya Sudah, tetapi jika kalian tidak kuat lantas berniat keluar jangan takut bicara ya," pungas Maya, lalu meninggalkan mereka.
**********
"Bang ayo, sekarang ini waktunya kita kontrol," Bulan membujuk Tara. Pasalnya Tara menyerah tidak ingin kontrol lagi hanya menghabiskan biaya pikir Tara.
"Bang, jangan menyerah, ingat! Anak kita hanya kurang dua bulan lagi akan lahir, tentu Abang ingin sehat kembali dan bermain lari-larian dengan anak kita kan," Bulan terus membujuk.
"Tapi Lan, aku ingin berobat alternatif saja, biayanya terjangkau oleh kantong kita saat ini," Tara saat ini tidak memikirkan dirinya sendiri melainkan anak dalam kandungan Bulan. Masih banyak biaya yang harus ia siapkan saat ini, khususnya untuk persalinan nanti. Tara tidak ingin membebani mama dan papa nya lagi, karena mereka pun tidak kalah sulit.
"Sudah lah Bang... ayo, aku kan masih punya tabungan, uang aku uang kamu juga, jangan hitung-hitungan," jujur Bulan.
Ya, segitu parahnya saat ini keuangan Tara. Dunia kini terbalik karena saat ini Bulan yang punya uang walaupun tidak banyak namun cukup jika hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
Bulan saat ini bekerja sama dengan Abu dan Udin mengembangkan usaha apotek.
Flashback on.
"Kak Abu tidak bekerja? tanya Udin saat ini mereka sedang berkumpul di kontrakan Fatimah.
"Tidak Din, mertua Rembulan saat ini tidak membutuhkan supir lagi," jawab Abu. Abu berniat bekerja menjadi supir taksi lagi.
"Memang kenapa Lan, Tuan Bisma tidak membutuhkan supir lagi?" Udin beralih menatap Rembulan.
"Aku rasa, aku tidak perlu ceritakan apa alasanya Din," jawab Bulan merasa kasihan dengan keadaan mertuanya.
"Aku juga sedang ketar ketir Kak Abu, karena apotek tempat saya bekerja sudah di iklankan akan di jual, jika sudah ganti atasan kemungkinan besar kami akan diberhentikan." Udin pun tampak lemas.
"Oh iya Kak Abu, aku punya sedikit tabungan ingin sekali membuka usaha, tidak mungkin kan aku hidup bergantung pada mertua terus, tapi usaha apa? Aku masih bingung," Bulan pun tidak mungkin bergantung pada suaminya, karena saat ini Tara sedang dalam titik terendah.
Ketiga sahabat itu masing-masing sedang dalam kebingungan bagaimana langkah kedepanya.
"Oh iya Din, apotek tempat kamu bekerja, akan di jual berapa?" Bulan bertanya serius.
"Aku dengar, toko beserta isinya akan di jual sekitar 400 juta Lan," Udin pernah menguping pembicaraan antara pemilik apotek dan calon pembeli.
"Yah... aku punya tabungan sih, tapi hanya sedikit nggak cukup kalau beli apotek itu," Bulan tampak berpikir.
"Memang kamu punya tabungan berapa Lan, siapa tahu kita nanti bisa bekerja sama," Abu memecah kebuntuan.
"Dua ratus juta," jawab Bulan. Uang maskawin milik Bulan 100 juta plus napkah dari suaminya yang tidak Bulan otak otik, berjumlah 100 juta. Bulan berniat akan membuka usaha.
"Aku punya 100 juta Bulan, kalau gitu kita gabungkan saja, kita usaha bareng," usul Abu. Ia mempunyai uang tersebut dari penjualan tanah di kampung. Karena tanah Abu yang di pinggir pantai kena gusur.
"Oh tanah hasil gusuran ya kak?" tanya Udin. "Kalau gitu aku ikut menanam modal, tapi hanya 50 juta," Udin bersemangat karena tanah orang tua Udin yang di pinggir pantai tidak keluas milik Abu.
"Kalian pada dapat gusuran ya" Bulan tersenyum. Walaupun Bulan satu kampung tetapi orang tua Bulan tidak punya tanah di pinggir pantai. Hanya punya sepetak kebun dan tanah yang di tempati.
Dan pada akhirnya, mereka mengumpulkan dana setelah Rembulan di ijinkan oleh Tara. Uang yang terkumpul masih kurang 50 juta dan Tara lah yang menutup kekurangan tersebut.
Flashback off.
Kini apotek itu sudah menjadi milik berempat, dan Bulan lah yang mempunyai saham terbesar. Apotek tersebut kini di kelola oleh Abu dan Udin.
__ADS_1
.