
Selesai menyeka punggung Tara, Bulan pindah ke depan membersihkan dada Tara, yang tampak kurus hingga terlihat tulang iga yang menonjol membuat Bulan merasa sedih.
Sedetik kemudian beralih menatap mata Tara. Yang ditatap masih asik main ponsel.
"Nggak usah lihat-lihat! Setiap ada laki-laki ganteng matamu jelalatan!" sinis Tara. Melirik Bulan sekilas kemudian kembali fokus ke benda pipih di tangan.
"Maksud Abang apa?!" sungut Bulan.
"Nggak usah berlagak polos," ujar Tara tanpa beralih dari ponsel.
"Sini" secepatnya, Tara merebut handuk lalu menggosok dadanya sendiri, setelah meletakkan handphone di sebelahnya.
"Abang jahat..." Bulan merengut. Lalu duduk di ranjang memperhatikan Tara yang sedang membersihkan perut.
"Perut saya bukan hiburan jadi jangan di tonton,"
"Iihhh..." Bulan kemudian beranjak menghentak-hentakkan kaki menuju lemari membukanya lalu ambil kaos yang nyaman untuk Tara.
Seburuk apapun perlakuan Tara terhadapnya. Bulan tetap menjalankan tugas dengan baik. Namun bukan seperti rencana awal sebagai tenaga kerja, melainkan sebagai seorang istri terhadap suami.
"Sekarang... ganti kaos nya," Bulan memberikan kaos dan boxer yang masih dilipat rapi.
Tara membuka kaos mengganti dengan yang baru. Namun ketika hendak membuka boxer Tara kesulitan.
"Aku bantu," Bulan hendak membuka boxer. Namun tanganya didorong Tara. "Panggil Mama!" pintanya ketus.
"Abang! Sampai kapan kamu mau begini?" Bulan melotot kesal.
"Ok! Kalau kamu tidak mau menganggap aku sebagai istri, dan memilih Keke untuk menjadi pengganti aku, silahkan!" tantang Bulan.
"Tapi, setidaknya biarkan aku merawat kamu, karena aku di sini bekerja. Dan sudah berjanji pada Nyonya besar untuk merawat kamu!" Bulan menatap nyalang wajah Tara yang tampak masam.
"Iya, karena kamu sudah ada pria lain di luar sana, rawat saja selingkuhan kamu!" Tara balik menyerang dengan kata-kata pedas.
"Terserah Abang mau menilai apa tentang aku. Aku tidak akan perduli!" Bulan berkata-kata dengan raut wajah kesal.
Tara menatap Bulan, mendengar perkataan istrinya hatinya sedih, tapi ia kembali menepis perasaanya untuk tidak akan percaya dengan istrinya yang sudah berkhianat.
Bulan kemudian membuka boxer, dan yang terakhir membuka CD. Tampak burung Tara bergerak-gerak seperti ingin masuk ke dalam sarang.
"Heh! kamu jangan meronta-ronta!" Bulan menyentil burung Tara.
"Aaarrrggg... Bulan! Sakit," bentak Tara. Sebab Bulan menyentil Burung itu dengan kuat.
Bulan merengut kesal membayangkan jangan-jangan Keke sering melihat burung suaminya saat meronta-ronta seperti ini.
__ADS_1
"Heh! Senior kamu itu sekarang sudah berubah munafik, sombong, sok nggak butuh, tapi ternyata kamu malah mencari tempat untuk bersarang,"
Bulan dalam hati tertawa geli sendiri karena ia mengajak bicara junior Tara yang semakin menegang. Mana mungkin daging tumpul itu bisa di ajak bicara.
Bulan akhirnya selesai mengganti celana. Badan Tara berkeringat walaupun di ruangan ber ac.
Bulan ambil parfum dan juga sisir, yang terletak di meja rias. Biar laki-laki ternyata suaminya itu rajin merawat diri. Buktinya ada susu pembersih, deodorant, dan juga parfum yang semuanya untuk pria.
Bulan pun kembali menyisir rambut suaminya. Ia senang bisa melakukan ini, walaupun Tara saat ini sedang membencinya. Bulan maklum, mungkin suaminya saat ini belum bisa menerima kondisi tubuhnya yang tidak berdaya.
Bulan pun menyemprotkan minyak wangi ke tubuh Tara.
"Kruuukkk... kruuukkk.
Cacing di perut Tara pun minta asupan gizi. Bulan menahan tawa.
"Aku ambil makan dulu," ucap Bulan selesai mengembalikan sisir dan parfum ke tempatnya lalu keluar hendak ambil sarapan untuk suaminya.
"Bulan... kamu habis menangis? Dipta marah-marah sama kamu ya?" tanya Maya ketika Bulan melintasi sofa hendak ke dapur. Maya menatap mata Bulan yang masih sembab.
"Tidak apa-apa Nyonya, saya hanya kaget saja, besok-besok... saya akan lebih sabar," jawab Bulan santai.
"Maafkan Dipta ya Nak," Maya mengusap kepala Bulan.
"Tidak apa-apa Nyonya, saya permisi, mau ambil sarapan untuk Tuan muda dulu," Bulan kemudian mencari letak dapur. Ia tidak akan bercerita dulu siapa dirinya. Bulan bertekat akan mengembalikan Tara seperti Tara yang dulu.
"Dipta..." panggil Maya lembut menghampiri Tara.
"Iya Ma," sahutnya. Kemudian meletakkan handphone.
"Kamu harum... pasti Bulan sudah merawat kamu dengan baik,"
Tara mendongak cepat menatap mamanya yang masih mengusap rambut kelimis nya.
"Bulan itu Mama lihat wanita baik, Mama baru mengenal sekali langsung jatuh hati," Maya tersenyum.
"Maksud Mama?" tanya Tara terkejut.
"Kalau Mama perhatikan, Dia itu akan telaten merawat kamu, dan tidak gampang putus asa," Maya berpendapat.
"Pasti rambut kamu ini juga Dia yang menyisir," tebak Maya. Namun Tara bergeming.
"Tara... Mama minta cukup tempo hari saja, kamu selalu memarahi perawat, sudah tiga orang loh yang sudah tidak tahan dengan sikap kamu," Maya menarik napas panjang.
"Dia itu Bukan perawat Ma," jawab Tara cepat. Ia rupanya keceplosan.
__ADS_1
"Maksud kamu? Bukan perawat bagaimana?" dahi Maya seketika berkerut.
"Ya siapa tahu, pura-pura jadi perawat," jawab Tara asal.
"Kamu jangan asal Dipta, Gavin memilih Bulan melalui seleksi loh, tidak asal mencari pengasuh," sanggah Maya.
"Tapi ya sudahlah... yang kemarin-kemarin tidak betah, tapi yang satu ini, tolong dipertahankan Dip,"
********
Sementara di dapur.
"Nona ini siapa ya, kok saya baru lihat?" tanya bibi yang bagian memasak. Ketika Bulan sampai di dapur.
"Oh kenalkan Bu, saya Rembulan, perawat Ab-... Tuan Muda," Bulan hampir keceplosan.
"Oh si Eneng... cantik banget," puji bibi.
"Ah bibi, bisa saja," Bulan tersenyum.
"Semoga Eneng betah ya," ucap bibi.
"Oh iya Bi, saya mau ambil sarapan buat Tuan muda,"
"Di meja makan, Neng," Bibi segera ambil piring lalu memberikan kepada Bulan.
Bulan kemudian menyendok nasi yang masih ngebul, meletakan Ayam satu potong, tempe satu potong, di dalam cawan kecil. Dan yang terakhir Bulan menyendok sayur sup kedalam mangkok.
Bibi memperhatikan Bulan sangat cekatan menyiapkan sarapan Tara, seperti sudah bekerja sejak lama. Sebenarnya bibi curiga, tapi membiarkan saja.
"Saya permisi antar ini dulu ya Bi," Bulan mengangkat nampan.
"Silahkan Neng,"
Bulan segera kembali ke kamar tetapi kamar Tara tidak ditutup. Padahal ketika hendak ke dapur tadi perasaan Bulan menutupnya.
Bulan samar-samar mendengar obrolan Maya dan Tara. Sepertinya sangat serius. Bulan pun menghentikan langkahnya.
"Mau Mama itu... kamu menikahi Keke menunggu kamu sembuh, Dip. Tapi rupanya Keke sudah tidak sabar... menurut kamu sendiri bagaimana?"
Praaaannnkkk.
Tangan Bulan gemeteran mendengar penuturan Maya. Makan pagi yang ia bawa pun jatuh berserakan di lantai.
"Bulan..." Maya terperangah menghampiri Bulan.
__ADS_1
*******
... Happy reading....