Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Berpisah.


__ADS_3

Dua minggu kemudian pernikahan Rembulan dan Bumantara genap satu bulan. Selama itu pula kehidupan rumah tangga mereka sungguh manis. Bahkan selama sepekan ini selagi belum pulang ke Jakarta dan melanjutkan kuliah, Tara memanfaatkan waktu untuk selalu berdua hingga akhirnya tibalah saatnya hari ini Tara dan siswa yang lain sudah berakhir masa tugasnya, dan harus kembali pulang ke Jakarta.


Jika punya pilihan lain tentu Bulan tidak mengikhlaskan suaminya pergi. Tapi Bulan harus terima konsekuensinya saat baru mau menikah pun, Tara sudah mengutarakan hal ini.


"Bang, bajunya dibawa semua nggak?" tanya Bulan saat Tara sedang bersiap-siap hendak berangkat.


"Biar di sini saja Lan, aku kan hanya sepekan, paling aku bawa jaket saja," jawab Tara, membuat Bulan sedikit lega, bahwa Bumantara memang pergi berniat kembali.


"Bang..." Bulan memeluk erat tubuh suaminya dari depan, tangisnya pecah. Saat ini ia benar-benar sudah ketergantungan pada suaminya, tidak bertemu beberapa jam saja, ia sudah merindukan, tapi kini Tara akan pergi selama seminggu. Bulan pasti akan merasa sangat kehilangan.


"Sayang... hey... kok malah menangis?" Tara mengusap punggung istrinya, kemudian mendorong pundak Bulan menatap sendu mata indah istrinya berubah merah berlinang air mata.


"Aku takut Bang... kamu tidak akan kembali," Lirih Bulan.


"Sayang... tatap mata aku, apa ada kebohongan di sini?" Tara menunjuk matanya. Lalu mengusap air mata istrinya. "Bulan... bukan hanya kamu yang tidak ingin berpisah, aku juga sama, tapi ini demi masa depan kita sayang..."


"Iya Bang," pada akhirnya Bulan melepas kepergian Tara.


"Sekarang antar aku dengan sepeda, sampai kecamatan ya, karena bus yang kami tumpangi menunggu di sana,"


"Iya Bang," mereka keluar dari kamar hendak berangkat, tapi sebelumya pamit bu Fatimah dulu.


"Hati-hati di jalan ya Nak Tara, ini buat bekal di bus," Fatimah memberikan satu kantong plastik cemilan hasil panen yang sudah ia olah sendiri.


"Terimakasih Bu, titip Rembulan ya," Tara ambil alih kantong dari tangan Fatimah, lalu mencium lembut tangan wanita yang baru berusia 36 tahun itu.


"Ya jelas Nak, Ibu akan selalu jaga istrimu ini, dia kan harta Ibu satu satunya," Fatimah mengusap kepala putrinya.


Mereka menuruni rumah panggung, kemudian Tara ambil sepeda dan mempersilahkan istrinya naik.


Tara menggoes sepeda jika biasanya Bulan banyak gaya, kali ini ia menempelkan keningnya di badan Tara, tangannya melingkar di perut. Tidak ada lagi semangat walaupun di bibir berkata. Iya.Tapi di hati berkata. "Jangan pergi" Namun tidak ada yang bisa Bulan ucapkan melalui kata-kata karena percuma tidak akan merubah apapun.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya sampai di depan kecamatan, bus sudah berada disana. Keke melihat kehadiran Bulan yang masih memeluk perut Tara dari belakang, menatapnya tidak suka lalu melengos pergi masuk ke dalam bus.


"Cieee... cieee..." Ananta menggoda sahabatnya. Bulan segera melepas tanganya cepat.


"Neng Bulan, mau ikut?" tanya Nanta, selama Bulan menikah dengan Tara baru kali ini Ananta menyapa kembali.


"Nggak Kak," jawab Bulan singkat.


"Sudah ada supirnya Ta?" Tara mengamati supir dari kaca.


"Belum, kayaknya lagi makan bakso di setelah sana" tunjuk Ananta.


"Lan, ikut aku kedalam yuk, aku mau menyimpan laptop dulu," ajak Tara.


"Aku tunggu di sini saja, Bang, malu," tolak Bulan. Namun Tara menggenggam tangan Bulan, mengajaknya ke atas bus, toh masih ada beberapa menit lagi sebelum berangkat untuk mereka berbincang-bincang.


Di atas bus para mahasiswa memperhatikan sejoli yang sedang menuju kursi bagian tengah, mereka menatap kagum, Tara dan Bulan adalah pasangan yang cocok.


"Waah... sweet..." kata siswi no kursi 13.


"Iya, yang cewek cantik, yang cowok ganteng," cewek no 15 pun ikut komentar.


"Terus saja! puji Dia!" sungut Keke yang duduk di kursi 16. Semua lantas diam.


Sementara Tara masih menghibur istrinya, rupanya Bulan merengek manja, seolah tidak ingin berpisah.


"Kamu kan sudah simpan nomer aku, nanti begitu aku sampai, langsung telepon kamu. Okay," Tara memelas memandangi wajah istrinya yang masih tidak ada binar di mata.


"Benar ya, Bang. Begitu sampai terus telepon aku," Bulan sedikit lega.


"Benar dong... sekarang senyum, jangan sedih gitu wajahnya, ingat, hanya seminggu," Tara menunjukkan jari mengulum senyum.

__ADS_1


"Iya" Bulan menyusup ke dada suaminya, rasanya betah mencium aroma ini sudah menjadi candu baginya. Tibalah saatnya bus hendak berangkat. Bulan turun dari bus di susul Tara.


"Aku berangkat, doakan aku selamat lancar sampai tujuan, bisa mengerjakan tes dengan lancar. Setelah semester nanti aku libur dua bulan, jika kamu ingin selama itu aku tinggal di sini tidak masalah, jika kamu ingin ikut aku langsung ke Jakarta tidak masalah," Tara mencium bibir istrinya, sampai lupa jika bus sudah menunggu Tara seorang.


Tiiinn... tiiinnn...


Klakson berbunyi nyaring mengejutkan keduanya lantas menyudahi pagutan.


"Nanti hari sabtu tunggu aku disini, jemput aku dengan sepeda; ya," Tara mengusap kepala istrinya.


"Baiklah... aku akan tunggu Abang disini, sampai jumpa," Bulan mengakhiri perbincangan.Tara masuk ke dalam bus ia berdiri di tengah pintu masih memandangi istrinya hingga bus berjalan, ia melambaikan tangan.


Begitu juga sebaliknya.


Bulan masih memandangi bus, hingga tidak terlihat lagi. Dengan langkah gontai, Bulan menghampiri sepeda. Satu menit kemudian sepeda menjauh meninggalkan tempat itu.


"Bulan..." baru beberapa jengkal sepeda melaju terdengar suara yang amat di kenalnya. Bulan menghentikan sepeda lalu menoleh ke belakang tanpa berniat untuk turun.


"Ada apa Din?" walaupun Udin tempo hari sudah melukai perasaannya namun Bulan tetap berbicara lembut.


"Hahaha..." Udin tertawa meledek.


Melipat tangan di depan dada.


"Mau apa kamu Din? jika tidak ada keperluan, saya mau pulang. Ibu pasti menunggu," Bulan menunduk menarik standar.


"Selamat menikmati kesendirian kamu Bulan, baru menikah satu bulan di tinggal pergi, dan ironisnya, kamu belum tahu, siapa sebenarnya pria pilihan kamu itu. Aku sadar kok, tidak bisa seperti pria yang kamu banggakan, orang tajir, anak kuliahan, tapi apa kamu yakin? Jika pria pujaan kamu itu akan setia?" cecar Udin.


Bulan tidak menimpali ocehan sahabatnya menurutnya tidak penting.


"Kenapa kamu diam Bulan? Nggak bisa jawab kan?!" Udin tersenyum miring.

__ADS_1


"Terserah kamu mau bilang apa Din, saya tidak perduli. Saya sudah terlalu kecewa karena telah memiliki sahabat seperti kamu! Aku pikir kamu memang sahabat yang baik, tetapi kamu sudah menyakiti hati saya karena ucapanmu," Bulan menggoes sepeda meninggalkan Udin.


Kepergian suaminya sudah membuatnya sesak, kini di tambah lagi Udin yang tidak punya perasan itu menambah luka baru, karena penghinaan Udin tempo hari belum mengering.


__ADS_2