
Satu bulan kemudian setelah Keke ditangkap, nasib buruk menimpa Herlina. Betapa tidak? Putri satu-satunya masuk rumah sakit jiwa. Di depan kamar putrinya tepatnya di RSJ ia termenung menatap putrinya sendu. Keke baru saja tidur setelah di suntik oleh salah satu dokter karena baru saja mengamuk.
Lina berjalan gontai meninggalkan sang putri. Jika Keke sudah tidur begini tidak ada yang bisa Lina kerjakan kecuali pulang beristirahat. Lina menyetir seorang diri kembali ke rumah.
Sampai di kediamannya Lina menjatuhkan bokongnya di kursi, menarik napas berat. Ia saat ini benar-benar hancur. Usaha sang suami nyaris bangkrut padahal ia saat ini sedang banyak membutuhkan biaya untuk pengobatan Keke.
Setelah beberapa saat merenungi jalan hidup keluarganya. Lina ke kamar, ingin segera mandi sore untuk menyegarkan tubuhnya.
Ketika baru ke luar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk. Lina di kejutkan oleh Agung sang suami yang sudah duduk lemas bersandar di kursi sofa. Tergambar dalam wajah Agung jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Papa sudah pulang?" tanya Lina yang sedang membuka lemari ambil baju ganti kemudian mengenakan.
"Lin, apa boleh buat, kita harus menggadaikan rumah ini," Agung menyugar rambutnya gusar.
"Apa? Yang benar saja Pa! Rumah ini peninggalan papa aku. Aku tidak setuju!" Lina marah besar.
"Mau bagaimana lagi Lin, semua properti sudah habis terjual sedangkan kita sudah tidak bisa membangun kembali," Agung frustasi.
"Ini salahmu Pa! Bukankah sudah aku peringatkan jangan menjual properti asal laku, tapi kamu ngeyel!" tuding Lina.
"Semua sudah terjadi Lin, jangan salahkan aku terus!" Agung tak mau kalah.
"Begitu terus, jawabmu tiap aku menyinggung masalah ini!" Lina mengeluarkan isi hatinya.
"Aku capek Pa, setiap hari bertengkar terus. Ceraikan aku, tapi jangan pernah usik harta satu-satunya peninggalan Papa aku," air mata Lina bercucuran.
"Oh! Jadi begini Lin?! Kamu mau menendang aku! Setelah aku bangkrut!" Agung berdiri.
"Aku bukan orang yang sejahat itu! Jika karena itu, aku sudah menolak sejak pernikahan kita dulu, tapi nyatanya aku setia Kok, selama 27 tahun mendampingi kamu, dalam keadaan sulit sekalipun! Tapi kelakuan kamu semakin tua semakin tidak bisa aku mengerti!" Maya mengeluarkan isi hatinya.
Ya demi dendamnya pada Bisma Agung ingin menghancurkan usaha properti milik Bisma. Namun ternyata senjata makan tuan, dia sendiri yang merugi. Agung boleh tertawa melihat Bisma kesulitan dalam keuangan. Tetapi setidaknya properti milik Bisma yang berbentuk hotel, beberapa apartemen, dan perumahan masih utuh hanya karena belum laku terjual. Tetapi Agung telah memetik karma karena menjual apartemen miliknya dengan harga jauh di bawah harga standar kini habis hingga ke modal-modalnya.
__ADS_1
Pertengkaran seperti ini terus terjadi, sebenarnya Lina wanita baik dan penyabar. Ketika Agung mempunyai rencana seperti itu Lina tidak menyetujui bukan karena Maya sahabatnya. Namun dengan siapapun orang bodoh pun tahu tindakan yang dilakukan suaminya adalah tindakan yang bodoh, bahkan paling bodoh. Mana ada berdagang yang mau merugi.
*******
Di tempat yang berdeda perjaka yang masih tampan diusianya yang sudah 40 tahun. Ia sedang meninjau salah satu apartemen yang sudah beberapa tempat ia beli. Dia adalah salah satu pengusaha yang membeli apartemen dan perumahan milik Agung dengan jumlah terbanyak. Bukan bermaksud memanfaatkan seseorang namun bisnis adalah bisnis. Jika ada yang menjual harga murah mengapa tidak? Walaupun ia sendiri kena imbasnya sebab Agung menyewakan apartemen sangat murah. Apartemennya sempat sepi selama 6 bulan belakangan. Namun kini para penyewa kembali mendatanginya.
Setelah selesai menemui para penyewa bersama asisten pribadinya ia berniat mengunjungi seseorang.
"Ru, kamu pulang dengan taksi saja ya" ucapnya. Karena mobilnya akan ia bawa sendiri.
"Baik Tuan," Heru sang asisten pun pulang seperti yang bos perintahkan.
Sementara si bujang lapuk mengendarai mobilnya sendiri menuju salah satu mall.
******
"Alhamdulillah... sayang... apartemen di dekat kampus sudah banyak para mahasiswa yang menyewa lagi," tutur Tara. Sambil meng-usap perut istri nya. Mainan Tara yang sangat mengasyikkan. Saat ini mereka sedang berkunjung di kontrakan Fatimah.
"Alhamdulillah... Bang, rezeki dedek," jawab Bulan. Perkiraan dokter seminggu lagi ia akan melahirkan.
"Iya Bang aktif sekali bayi kita," Bulan tersenyum.
"Bang, kok Ibu lama ya, belanja nya?" Bulan kepikiran. Pasalnya Fatimah sudah dua jam belanja belum juga sampai di rumah.
"Macet kali yank, kalau begitu aku menjemput Ibu," Tara berniat beranjak.
"Nanti malah nggak ketemu Bang, kalau Ibu sudah di dalam angkutan bagaimana," kata Bulan masuk akal.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Saat sedang membicarakan Fatimah. Beliau masuk bersama Handoko. Handoko tidak membiarkan Fatimah membawa yang berat-berat jadi kedua tangan Handoko menenteng dua kardus besar.
"Ibu kok bisa bareng sama Pak Han?" dahi Bulan berkerut, lalu menoleh Tara yang sedang tersenyum kepada Handoko.
"Tadi ibu lama sekali menunggu angkutan Lan, terus Pak Han kebetulan lewat makanya ibu bareng sekalian," tutur Fatimah kemudian masuk ke dalam. Di ikuti Handoko meletakkan kardus di pinggir etalase.
"Oh..." hanya itu jawaban Bulan.
"Sudah berapa bulan usia kehamilan kamu Bulan?" tanya Handoko menatap perut Bulan yang sudah besar. Lalu meletakkan bingkisan buah yang ia beli di mall ketika dalam perjalanan kemari tadi.
"Hanya kurang seminggu lagi Pak," Bulan tersenyum. "Pak Han kok repot-repot membawa buah segala" ujar Bulan.
"Tidak repot Lan, hanya buah yang saya beli di pinggir jalan." Handoko merendah.
"Kalau begitu saya terimakasih Pak," Bulan kemudian berdiri ke dapur hendak membuat minuman.
"Pak Han rupanya sudah serius dengan mertua saya," kelakar Tara. Setelah Bulan sudah ke dapur.
"Dip, tujuan saya kemari memang untuk itu, tolong bicara dengan Rembulan agar merestui kami," Handoko tampak serius. Fatimah sebenarnya sudah memberi lampu hijau. Namun Fatimah tentu menunggu persetujuan putrinya.
"Pasti Pak, masalah itu beres, saya akan sampaikan, saya rasa Bulan akan setuju jika Ibu menikah dengan Bapak," Tara tahu jika Handoko adalah orang baik.
"Oh iya Dip, bagaimana usaha kamu? Sudah ada kemajuan," Sambil menunggu Bulan dan Fatimah ke luar. Handoko beralih membicarakan tentang bisnis mereka.
"Alhamdulillah... sedikit-demi sedikit akan mulai bangkit," Terlukis keceriaan di wajah Tara. Saat usia kandungan istrinya sudah hamil tua kehidupannya yang sempat amburadul kini mulai tertata kembali.
"Di minum teh nya Pak," Bulan membawa 4 gelas teh manis dan kudapan di ikuti Fatimah di belakang.
"Terimakasih Lan, tidak usah repot-repot," Handoko melirik Fatimah yang sudah duduk di tikar.
"Tidak repot kok"
__ADS_1
Mereka minum teh sambil menikmati kudapan.
"Bulan... kedatangan saya kesini berniat melamar ibu kamu, sudikah kiranya Nak Bulan menerima saya menjadi Bapak untuk kamu?" Handoko memberanikan diri.