
"Tolooong... tolooong..." pekik Rembulan. Ia berlari kencang saat itu sudah melewati rumah penduduk. Sebab Udin mulai mendekat. Awalnya sudah menjauh namun karena Rembulan jatuh alhasil tertangkap oleh Komaruddin.
"Mau lari kemana kamu! Bulan?!' sarkas Udin. Menahan tangan Bulan.
"Tolooong..." Bulan kembali memekik.
Para penduduk yang kebetulan mendengar jeritan Bulan, berbondong-bondong menuju arah suara karena hujan pun sudah mulai reda.
"Bulan... Udin... kalian kenapa?" tanya seorang bapak yang mengenakan sarung dan kopiah.
"Pak Umar, tolong saya, Pak. Udin mau melakukan pelecehan," adu Rembulan menarik-narik tangannya yang dicengkeram Udin.
"Pelecehan?" tanya pak Umar tidak percaya, seluruh desa tahu, jika Bulan dan Udin berteman akrab.
"Apa benar, yang dikatakan Bulan, Udin?! Jawab Udin?!" bentak pak Umar, mendekati Udin.
Udin diam membisu matanya mengerling kanan kiri mencari celah untuk kabur karena warga sudah mengepung.
"Lepaskan Bulan, Udin! Atau, kami semua akan menghajar kamu!" tandas pak Umar, menunjuk ke arah Udin yang sedang kebingungan. Dengan cepat Udin melepas tangan Bulan.
"Bulan... apa benar? Apa yang kamu katakan?" potong seorang pemuda yang berpakaian koko rapi, dengan surban yang melilit di leher tampak berwibawa.
"Saya berani bersumpah Kak Abu," jawab Bulan menatap Abu. Abu pria alim salah satunya yang mencintai Bulan. Ia adalah putra pak Umar.
"Kita bawa ke balai desa, biar di sidang disana," kata Abu.
"Benar-benar," seru warga.
"Bulan? Kamu nggak kenapa-napa Nak?" Bersamaan dengan itu Fatimah datang merangkul Bulan dalam keadaan baju basah.
"Ibu... Ibu kenapa ke sini?" Bulan terkejut.
"Itu tidak penting, sekarang katakan ada apa?" tanya Fatimah menatap putrinya seksama.
Bulan hanya menggeleng. Sebenarnya ingin menceritakan kepada Ibunya tapi tentu tidak di sini.
Akhirnya pak Umar yang menceritakan apa yang akan dilakukan Udin terhadap Bulan. Fatimah menatap Udin dengan tatapan membunuh.
Saat orang-orang beralih pandanganya ke arah Fatimah. Udin berniat kabur namun dengan cepat Abu Bakar menahan lengan Udin.
Plak.
"Kurangajar, kamu Din! Selama ini kamu saya anggap anak sendiri, tapi begini balasan kamu! Hah?! tangan Fatimah melayang ke pipi Udin.
"Sudah Bu Fatimah, biar Udin di bawa ke balai desa, kita pikirkan nanti hukuman apa yang akan diberikan untuk pria kurangajar ini," pak Umar menyudahi.
__ADS_1
Warga pun menyeret Umar ke balai desa.
"Bulan, Bu Fatimah, mari kami antar," ucap Abu.
"Tidak usah Nak, biar kami jalan kaki saja," tolak Fatimah.
"Benar yang dikatakan Abu, Bu," imbuh pak Umar.
"Terimakasih Pak Umar, atas bantuanya, tapi saya mau ambil sepeda di depan kecamatan saja, biar saya bisa memboncengkan Ibu," jawab Bulan.
"Baiklah jika begitu, kamu tunggu di sini saja Bulan, biar aku yang ambilkan,"
Tanpa menunggu jawaban Bulan, Abu ambil sepeda dengan motor miliknya. Tak lama kemudian kembali.
Rembulan menggoes sepeda dalam kegelapan hanya diterangi senter oleh Fatimah yang membonceng di belakang.
********
Di rumah sakit terbesar di Jakarta, seorang ibu berusia 47 tahun sedang menangis tersedu-sedu. Beliau mengajak anaknya berbicara walaupun putranya entah mendengar atau tidak. Sebab sang putra kesayangan sudah seminggu belum sadar dari kritis.
"Bangun sayang... Ibu kangen sama kamu Nak," wanita itu menyusut air matanya dengan tisu. Dua bulan tidak bertemu sang anak tentu sangat rindu. Namun takdir berkata lain, saat bertemu anaknya sedang meregang nyawa.
Dia adalah Maya mama Bumantara. Sudah tentu pria yang tergolek tak berdaya itu adalah Tara.
Sore itu bus melaju sedang para mahasiswa antusias bernyanyi. Namun berbeda dengan Bumantara. Ia bersandar di jok memejamkan mata, memikirkan istrinya.
Sungguh berat rasanya harus berpisah dengan Bulan cinta pertamanya. Wanita yang mampu menggetarkan hatinya saat pertama kali bertatap mata.
Tara berkali-kali menarik napas sesak. Walupun kepergiannya hanya selama tujuh hari dan akan kembali tapi mengapa sangat menyiksa.
Bayangan Bulan saat ia tinggal menangis di pelukanya seolah menghantui pikiranya.
"Dip, lo mau permen?" tanya Keke yang posisinya duduk di belakang Tara, tiba-tiba berdiri di samping menyodorkan permen berbungkus hitam. Yakni permen menahan kantuk.
Tara hanya mengangkat sebelah tangan kode penolakan.
"Gw mau," ucap Ananta yang duduk bersebelahan dengan Tara.
"Beli sendiri!" sungut Keke kemudian kembali duduk di kursi belakang. Ia kesal atas penolakan Tara.
Namun tiba-tiba bus melaju kencang di atas rata-rata membuat penumpang seketika menjerit karena membentur sandaran kursi di depanya.
"Tara, loe merasa ada yang aneh mggak?" tanya Ananta.
"Iya, kenapa ini mobilnya kok berkelok kelok? Untung jalanan sepi," Tara maupun Ananta seketika berdiri.
__ADS_1
Semakin lama, bus semakin tidak terkendali. Membuat para mahasiswa menjerit-jerit.
Sementara di depan. Supir dan kernet pun menegang. "Bagaimana ini? rem nya sepertinya blong," Kata supir, berusaha semaximal mungkin mengendalikan mobil namun ternyata rem nya benar-benar blong.
"Pak Seno, bukankah sebelum berangkat tadi bus sudah di check ke bengkel?" tanya kernet.
"Sudah, tadi semua bagus Man, tapi kenapa rem nya blong begini?" Supir balik bertanya. Bus semakin tidak terkendali.
"Pak Seno... awaaasss..."
Braaakk!!!"
Pekik kernet untuk yang terakhir kali. Supir membanting setir kekiri menghindari mobil yang sedang melaju dari arah depan.
Kecelakaan tidak bisa di hindari. Bus menabarak satu toko di tepi jalan yang sedang tutup.
Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Bus pun terbalik. Tampak darah mengalir dari pintu, dan kaca yang sudah pecah hanya menyisakan kepingan.
"Nguing... nguing... nguing..." mobil polisi yang sedang patroli datang ke tkp.
Tampak warga sekitar menonton kejadian.
******
Di rumah sakit daerah A. Semua korban kecelakan segera dilarikan kesana. Pihak kepolisian segera menghubungi kampus di Jakarta dimana para korban kuliah disana.
Bus berkapasitas 60 dan ada sekitar 40 masiswa/siswi yang menumpang bus tersebut, hanya kira-kira 10 orang yang masih selamat. Itupun mereka masih kritis.
Jerit tangis para orang tua korban memilukan hati. Kebanyakan mereka membawa putra-putrinya pulang sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
"Diptaaa..." Maya memekik saat sampai di rumah sakit yang masih di daerah A. Tentu rumah sakit kecil. Peralatan tidak memadai.
"Kenapa sampai begini Nak," Maya memeluk tubuh putranya yang masih ditidurkan di ruang periksa. Ia benar-benar hancur.
"Ya Tuhan..." Bisma tidak kuat memandangi ruang IGD tampak berjajar para pasien sedangkan yang meninggal sudah di bawa ke ruang jenazah.
"Pa... anak kita Pa... Dipta masih hidup kan Pa... iya kan, Pa..." Maya yang awalnya memeluk anaknya seketika berdiri. Mengguncang lengan Bisma yang masih tak bergeming. Rasanya kakinya kaku untuk bergerak memandangi putranya yang penuh luka di tubuh, dan hanya ditolong dengan peralatan seadanya.
"Sabar Ma," jawab Bisma, pria dingin itu hanya satu kata.
Keesokan harinya, Pradipta Bumantara segera dibawa pulang ke Jakarta dengan pesawat yang disewa oleh Bisma.
Flashback off.
Bersambung.
__ADS_1