Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Pria Penyelamat.


__ADS_3

Komaruddin menatap Tara sinis, jika tidak mengingat bahwa Tara sedang tidak berdaya, tanganya gatal hendak menonjok. Namun Udin masih menahan diri untuk melakukan itu.


Diletakkan minuman di atas meja, kemudian Udin kembali ke dapur. Ia lewat pintu belakang. Tidak ada gunanya marah, yang ada justeru membuat suasanya semakin rumit. Mencari Bulan saat ini akan lebih baik, walaupun kemungkinan menemukan itu kecil, karena Udin tidak punya motor, apa lagi mobil. Hanya numpang angkutan, yang bisa Udin lakukan, tetapi yang namanya usaha siapa tahu akan berhasil.


Udin sedih jika mengingat sahabatnya itu. Bulan orang baik, tetapi kenapa nasibnya selalu menyedihkan.


Udin sampai di pinggir jalan menyetop angkutan kemudian pergi.


*******


"Maafkan saya Mbak Fatimah, karena saya sudah mengusir Bulan," Maya ikut merasakan bagaimana sedihnya perasaan Fatimah. Sebagai seorang Ibu, yang tidak tahu keberadaan anaknya. Dan semua itu Maya lah penyebabnya.


Fatimah tidak menyahut melempar tatapan kosong, ke arah jalanan.


"Tadi pagi itu saya baru datang dari luar kota, Mbak, rasanya capeeek... banget" Maya bercerita.


Fatimah menatap Maya begitu juga sebaliknya.


"Selain itu, saya juga kangeeeennn... sama Dipta," Maya mengusap punggung Tara yang sejak tadi pikiranya tidak mau lepas memikirkan istrinya.


"Tetapi begitu saya masuk ke kamarnya, saya melihat pemandangan yang mengejutkan. Bulan tidur dengan Dipta saling berpelukan, saat itu saya emosi. Saya pikir mereka itu berbuat zina. Jika Saya tahu, bahwa mereka sudah menikah, tentu saya akan menerima Bulan dengan senang hati," jujur Maya.


"Saya mengerti Bu," Fatimah menatap mata Maya. Dan manik mata itu tidak sedikit pun ada kebohongan.


"Jika begitu, sama pamit Mbak Fatimah, kami akan mencari Bulan," kata Maya.


"Boleh, saya iku, Bu Maya?" Fatimah berharap, jika diam di rumah tidak melakukan apapun, yang ada Fatimah tambah setres.


"Tentu boleh Mbak, mari kita cari sama-sama," Maya menyambut antusias.


"Saya telepon pak Arief dulu Bu," kali ini Tara mau bicara. Tara menghubungi pak Arief.


Sebelum berangkat, dan sambil menunggu pak Arief, Fatimah menyarankan agar minum teh buatan Udin.


"Sekarang Udin kemana Bu?" tanya Tara, karena semua bingung hingga melupakan keberadaan Udin. Fatimah beranjak mencari Udin ke dalam, hingga berputar-putar namun tidak ada. Hingga mobil kantor properti yang dikendarai pak Arief datang, semua berangkat mencari Bulan.


Karena mobil milik Tara sudah dibawa lebih dulu oleh Gavin.


*******

__ADS_1


Di salah satu warung kopi di pinggir jalan, walaupun kecil, namun sangat ramai. Kebanyakan pelanggannya seorang pria, pekerja proyek, atau para supir yang singgah karena ingin segera minum kopi.


"Pok, ini siapa?" tanya salah satu pria yang sedang memesan kopi dan mie, dan Bulan lah yang melayani.


"Oh ini, saudara saya," jawab pok Kesih tersenyum; sambil mengusap bahu Bulan, yang sedang tersenyum pula.


"Waah... cantik sekali," kata pria itu. Bulan hanya mengangguk sopan. Di sinilah sejak tadi pagi, Bulan membantu pok Kesih di pinggir jalan. Sebelum melanjutkan perjalanan agar mendapatkan sarapan. Mungkin faktor kehamilannya penyebab Bulan tidak kuat lama menahan lapar.


Flashback on.


Di masjid selesai mandi, Bulan ngobrol dengan pengurus masjid. Ia rasanya capek dan lapar lalu memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil berpikir langkah apa yang akan Bulan ambil.


"Sebaiknya aku naik taksi saja, nanti kan aku bisa bayar di kontrakan" batin Bulan.


"Pak, saya permisi ya, terimakasih sudah memberi tempat untuk istirahat," pamit Bulan.


"Si Eneng teh, aya-aya bae, terimakasih ke saya, ini kan masjid Neng, siapapun boleh kok ibadah disini," pengurus masjid terkekeh.


Setelah pamit kepada pengurus masjid, Bulan menenteng tas, memang tidak terlalu berat karena baju yang dibawa Bulan tidaklah banyak. Namun perut Bulan yang sudah keroncongan menghentikan langkahnya.


"Kok akhir-akhir ini, perutku cepat lapar sih..." gumamnya.


Bulan pun memutuskan untuk duduk di depan warung kopi mencium bau mie kuah membuat nya semakin lapar. Ia menoleh ke belakang tampak seorang wanita sangat kerepotan. Sebab, harus menyeduh mie, dan membuat kopi, belum lagi sambil menggoreng.


"Memang yang biasa membantu kemana sih Pok?" tanya pelanggan yang sudah menunggu dilayani.


"Cek! Dia nggak masuk hari ini, katanya sih... anak nya sakit," jawab ibu setengah baya yang sedang membalik pisang goreng.


Bulan yang melihat kerepotan bu warung, segera berdiri.


"Maaf Bu, boleh saya bantu, saya bisa kok membuat mie, menyeduh kopi, atau... mencuci piring juga bisa," Bulan menawarkan jasa.


"Kamu siapa?" tanya ibu yang biasa di panggil mpok oleh pelanggan itu.


"Saya kebetulan lewat Bu, sedang menunggu taksi, tapi nggak ada yang lewat," tutur Bulan.


"Oh cantik banget" bisik pria penikmat kopi.


"Iya, Ya, cantik banget," salah satu dari pria yang berjumlah 5 orang menatap Bulan kagum.

__ADS_1


"Boleh sih, tapi saya tidak bisa membayar kamu mahal," pemilik warung menatap wajah Bulan, yang cantik seperti bukan orang sembarangan. Ia khawatir Bulan minta bayaran mahal.


"Jangan khawatir Bu, saya hanya akan minta imbalan, pinjam handphone untuk memesan taksi, sama minta minum," Bulan tersenyum.


"Baik, lah," pemilik warung mengijinkan Bulan membantu.


Flashback off.


"Kamu memang tinggal dimana Nak?" tanya pok Kesih, kepada Bulan, yang sedang menjejer 3 gelas kopi dalam nampan yang sudah siap dihidangkan.


"Saya dari komplek xxx Bu," jawab Bulan lalu menyuguhkan kopi kepada para pelanggan pok Kesih.


"Waah... itu kan rumah orang-orang berkelas. Pantas... kamu cantik, di situ juga kan kebanyakan para artis yang tinggal," pok Kesih terkejut.


"Ibu bisa saja, sebenarnya yang tinggal di tempat itu suami saya Bu,"


"Suami? Jadi... Kamu sudah menikah," sambar pria yang sejak tadi memperhatikan Rembulan.


Rembulan hanya menanggapi dengan senyuman. Dengan semangat ia membantu pok Kesih sambil ngobrol panjang lebar hingga waktu sore.


"Terimakasih Bu, sudah sore, saya mau pulang," kata Bulan ketika mereka sedang santai, pembeli belum ada yang datang lagi.


"Saya yang terimakasih Bulan, kamu kan tahu, sejak pagi tadi ramai terus, jika tidak ada kamu pasti pelanggan saya pada kabur, karena tidak segera dilayani," pok Kesih terlihat senang.


"Ini buat ongkos naik taksi ya," Pok Kesih memberi selembar uang berwarna merah.


"Tidak usah Bu, sesuai janji saya. Saya hanya ingin pinjam handphone," tolak Bulan.


"Saya disini sudah dapat makan dua kali, bagi saya sudah cukup," jujur Bulan.


Pemilik warung mengalah kemudian meminjamkan handphone. Setelah memesan, Bulan menunggu taksi di pinggir jalan.


Tidak Bulan sadari mobil melaju kencang mengancam nyawanya.


"Ciiiiiitttttt."


"Bulaaaaannn... awaaaassss..." Seorang pria menarik tubuh Bulan. Bulan pun jatuh dalam pelukan pria penyelamat


*****

__ADS_1


...Happy reading....


__ADS_2