
Sekeras apapun ice batu akan mencair juga jika sudah hangat. Seperti hati Rembulan. Ia adalah wanita lembut mewarisi watak Fatimah. Bukan kedua wanita itu jika tidak cepat memaafkan.
"Din, sampai sejauh mana hubungan kamu dengan Keke?" tanya Rembulan setelah shalat ashar mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju taman yang tidak jauh dari kontrakan.
"Hubungan apa Lan, aku nggak pernah ada hubungan. Aku hanya bertemu tiga kali, itupun Dia yang selalu menemui aku, entah darimana ia selalu tahu keberadaan aku saat aku sedang menyendiri," jujur Udin.
"Dan sampai sekarang pun, aku tidak tahu lagi, dimana Dia," kata Udin tidak tahu jika Keke saat ini tinggal bersama Tara. Namun Bulan tidak mau menceritakan pada sahabatnya apa yang terjadi dengan rumah tangganya.
"Ya sudahlah Din, tidak ada gunanya kita membicarakan Dia," Bulan menarik napas berat.
"Lan, ada juga yang ingin aku ceritakan sama kamu, dan ini masih masalah Keke," Udin menatap sahabatnya.
"Apa Din?" Rembulan tersentak.
"Waktu pakaian yang kamu jual saat itu hilang, ada campur tangan Keke juga," jujur Udin.
"Apa? Kok bisa, bukankah saat itu dia sudah kembali ke Jakarta?" Bulan terkejut.
Flashbach on.
Detik-detik pencurian pakaian Bulan, yang hilang di depan masjid. Saat itu Udin sedang bersembunyi dibalik pohon mengintai siapa gerangan yang mencuri.
Seorang wanita berbadan gemuk, itulah pelakunya. Ketika sudah agak jauh dari tempat itu, Udin menghadang langkah wanita itu.
"Berhenti!" Bentak Udin keras.
"Brak!
Wanita itu menjatuhkan satu kantong plastik besar dan satu kardus berukuran sedang yang ia tenteng dua tangan.
"Udin," kata Wanita itu, menatap wajah Udin yang mendelik gusar kepadanya.
"Ternyata kamu itu maling, Novi!" tuding Udin berjalan ke arah Novi. Dia adalah kakak kelas Udin dan Bulan saat sekolah.
__ADS_1
"Kamu kemarin datang ke balai desa, bahkan ikut menyidang saya, tapi ternyata kamu pun sama buruknya dengan saya!" sergah Udin. Udin mendekati Novi membawa segudang kemarahan. Membuat Novi ngeri lalu mundur beberapa langkah.
"Maafkan aku Udin, aku ikut datang ke balai desa karena aku dendam sama kamu! Selama ini aku mencintai kamu! Tapi kamu pura-pura buta! Justru kamu mencintai Bulan yang sudah jelas dia tidak melirik kamu barang sejenak!" Novi pun akhirnya menangis.
Udin terkejut mendengar pernyataan Novi. Sebenarnya Udin tidak tega, tapi Dia juga harus menunjukan kebenaran bahwa Novi sudah berbuat salah.
"Sekarang ikut saya, kita ke balai desa, pakaian ini sebagai bukti ternyata bukan hanya saya yang berkelakuan buruk" paksa Udin mencekal kerah Novi.
"Jangan Udin, ambil saja baju ini, karena aku hanya di suruh orang," Novi menunduk tidak berani menatap Udin.
"Siapa yang menyuruh kamu?!" Udin melepas cengkeraman tangan nya.
"Dia... Dia... anak KKN," jujur Novi.
"Apa orang itu, Keke?" tanya Udin pada akhirnya.
"Iya, kenapa kamu tahu Din?"
Udin tampak berpikir sejenak, ternyata wanita itu tidak hanya menghasut dirinya tetapi juga Novi.
"Betul Din, tapi dia mendatangi aku dalam keadaan wajahnya yang banyak luka, sudah mulai mengering. Awalnya aku menolak melalukan ini Din, tapi dia berjanji akan membujuk kamu agar mau menjadi kekasih aku," Novi berkata lirih sebenarnya malu untuk mengatakan itu.
Flashbach off.
"Astagfirlullah..." Bulan meremas dagunya. Kenapa semua orang tunduk kepada Keke. Tidak hanya suaminya, Udin, bahkan Novi, dan entah siapa lagi, pasti masih ada orang lain lagi. Orang-orang yang dekat dengan Bulan di hipnotis oleh Keke, dan ironisnya mereka bisa tunduk dengan kata-kata Keke.
"Pantas Din, saat aku sedang berjualan, Novi menghina aku habis-habisan," Bulan berpikir, jangan-jangan perlakuan warga yang menyudutkan Bulan karena ulah Keke juga.
"Aku tahu, semua itu Lan, jujur saat kejadian aku berbuat salah kepadamu, aku selalu mengikuti kamu, berniat minta maaf, tapi saat itu aku nggak punya keranian," Udin geleng-geleng kepala mengingat itu.
Bulan menatap sahabatnya tidak percaya.
"Dasar! Pengecut!" Bulan menoyor dahi Udin dengan telunjuk, tetapi kali ini sambil tertawa.
__ADS_1
"Aow... Bulan, kamu kok jadi galak," Udin pura-pura sakit.
"Makanya Lan, saat itu aku bertekat melamar pekerjaan melalui internet. Memantapkan hati untuk mencari kamu. Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin minta maaf dari kamu, dan kita bisa berteman seperti dulu," Udin senang ternyata niat baiknya di mudahkan oleh Allah, dan pada akhirnya berhasil mendapat kan semuanya.
"Terus, darimana kamu dapat alamat aku?" Bulan salut akan kegigihan sahabatnya.
"Aku minta sama Kak Abu. Awalnya kak Abu tidak mau memberikan, tapi untung nya ayah kak Abu baik hati," Udin senyum-senyum mengingatnya.
"Yah... ini untuk pelajaran yang berharga buat kita Din, kali ini aku memaafkan kamu, tapi jika suatu saat nanti kamu mengulangi, aku tidak akan memaafkan kamu lagi," tegas Bulan."
"Tidak lagi Bulan, aku kapok, ternyata kehilangan sahabat seperti kamu sungguh berat," Udin menyesal karena telah melukai sahabat sekaligus saudara.
"Oh iya Din, kita kembali ke masalah pakaian, terus... baju itu sekarang dimana?" Bulan sebenarnya sudah ikhlaskan daganganya, tapi yang penting pakaian itu ada yang memakainya.
"Waktu itu, pakaian kamu disimpan Novi di balai desa Lan," jawab Udin.
Saat itu, Novi sempat datang ke rumah Bulan, berniat mengembalikan dagangan, sekaligus ingin minta maaf agar Bulan memaafkan dan jangan sampai membawa kasusnya ke balai desa. Namun saat itu Bulan sudah berangkat ke Jakarta.
"Tapi sekarang aku nggak tahu lagi kemana pakaian kamu Lan," Udin memang tidak tahu lagi sebab dia pun segera pergi.
"Sudahlah Din, lupakan pakaian itu, jika ada yang memakai aku ikhlas," tulus Bulan.
"Bilang juga sama Novi, aku sudah memaafkan Dia, yang penting tidak mau melakukan itu lagi jika sewaktu-waktu Keke ingin berbuat kejahatan," kata Bulan.
"Sudah sore Din, kita pulang saja, soalnya jam lima nanti, aku akan kembali," Bulan beranjak meninggalkan taman di susul Udin.
Di depan salah satu rumah warga Bulan berhenti lalu mendongak, tampak menelan ludah. Kala penglihatannya tertuju pada buah mangga yang hanya bisa di gapai oleh tangan. Semua itu tidak lepas dari perhatian Udin. Udin pun turut berhenti.
"Bulan, kamu mau buah mangga itu?" tanya Udin perhatian.
"Hehehe... kayaknya enak ya Din," air liur Bulan bercucuran, membayangkan mangga yang masih hijau di colek sambal dan gula merah.
"Kalau kamu mau, aku minta sama yang punya ya," Udin berniat memetik buah mangga.
__ADS_1
"Tidak usah Din, kita pulang saja," tolak Bulan mereka pun kembali pulang.
*