
"Abang tadi, berbicara apa sama Nyonya?" Bulan terkejut melihat perubahan sikap Maya terhadapnya. Selama belum diakui menjadi menantu tentu ia akan memanggil mertuanya nyonya.
"Tidak apa-apa, lupakan," jawab Tara enteng.
Bulan tidak melanjutkan ucapanya dan juga tidak ingin tahu urusan intern keluarga Tara.
"Ini obat yang untuk diminum," Bulan menyiapkan obat dalam mangkok kecil dengan air putih.
"Huh! Sampai kapan? Aku mau minum obat begini terus?!" Tara menggerutu tak urung diminum juga.
"Sabar Bang, namanya juga biar sembuh," Bulan menghiburnya sambil menyerahkan gelas air minum.
"Abang tadi minta Pak Gavin, menjemput aku? Terimakasih ya," Bulan duduk di depan Tara membersihkan mulut Tara dengan sapu tangan.
"Iya, kamu senang kan! Di godain Dia, terus..." Tara posesif.
"Ih! Ampun deh Abang! Jadi orang cemburuan," Bulan melepas tanganya dari lutut Tara merengut kesal. "Kalau Abang berniat menjebak aku... lain kali nggak usah sok jadi pahlawan," Bulan kesal di cemburui terus.
"Tapi kenyataanya begitu kan, Lan? Gavin itu pria sempurna, sedangkan aku, hanya pria lumpuh!" dengus Tara.
"Abang... ih!" Bulan menatap nanar wajah Tara. Ia tidak habis pikir, jika suaminya yang dulu soleh akan sering mengeluh.
"Jangan kebanyakan mengeluh Bang, semua itu sudah takdir yang harus kita jalani. Dan sekarang bagaimana caranya Abang merubah takdir itu, dengan cara ikhtiar, biar cepat sembuh, dan menjalani hidup normal seperti dulu," Bulan tidak bosanya menasehati suaminya itu.
Tara menunduk meremas rambutnya dengan kedua tangan.
"Jangan pikir hanya Abang yang merasa terpuruk, tapi aku juga sama Bang. Abang pergi meninggalkan aku, tanpa ada kabar," Bulan menunduk sedih.
"Setelah aku bisa menemukan Abang, ternyata aku harus mengahadapi kenyataan, bahwa Abang mengalami sakit seperti sekarang," Bulan tidak bisa menahan tangis.
"Betul Bulan, dan ketika aku sakit, kamu selingkuh dengan Abu kan?!" tuduh Tara.
"Abang!" Bulan mendelik gusar.
"Omong kosong apa ini?! Siapa yang sudah memfitnah aku Bang?! Keke kan?! Iya..." Bulan telungkup di lutut Tara tangisnya pun pecah.
Tara tidak menyahut meraih hp di sebelahnya sedetik kemudian membuka galeri foto.
"Lihat ini Bulan?" Tara mengangkat dahi Bulan agar bangun dari lututnya.
Bulan menurut dan mendapati foto dirinya dengan Abu yang di perlihatkan oleh Tara.
__ADS_1
Bulan membersihkan air matanya sebelum akhirnya ambil handphone milik Tara. Ia mengerutkan dahi. Pasalnya, fotonya saat malam-malam ditolong Abu, karena perlakuan Udin ada yang mengabadikan.
Dan ketika Bulan berjualan pakaian curhat di masjid dengan Abu, karena daganganya hilang pun ada di galeri.
"Jadi ini yang membuat Abang membenci aku?" lirih Bulan.
"Apa untungnya orang ini sampai memata-matai hidup aku Bang? Aku ini orang susah tidak pernah neko-neko," kata Bulan mengeluarkan isi hatinya.
"Abang itu katanya anak kuliahan, tapi ternyata mudah percaya dengan foto semacam ini," Bulan menatap Tara yang memandang lurus ke depan.
"Bang, lihat yang benar foto ini, apa ada aku bersentuhan dengan Abu?" tanya Bulan. Membuat Tara memperhatikan galeri.
"Bang, darimana Abang mendapatkan foto ini? Jadi ternyata Abang tidak percaya dengan Istrimu sendiri, sampai menyewa orang untuk memata-matai aku?" tersirat kekecewaan di mata Bulan.
"Aku hanya dapat dari orang," kali ini Tara berbicara pelan.
"Iya, berarti tidak salah kan dugaan aku? Bahwa selama ini Keke mempengaruhi Abang, dan anehnya suami aku lebih percaya pada orang lain daripada aku istri Abang," Bulan pun diam begitu juga dengan Tara. Entah apa yang dipikirkan pria itu.
Bulan menarik napas panjang entah dengan magic apa, sampai Keke bisa mempengaruhi suaminya.
"Perlu Abang tahu, saat Abang tidak ada, aku merasa setres memikirkan Abang. Dan untuk mengusir sepi aku berusaha berjualan pakaian keliling kampung," jujur Bulan.
"Ternyara nasip baik belum berpihak kepadaku, dagangan aku hilang ketika aku sedang shalat."
"Lalu?" pada akhirnya Tara penasaran.
"Saat itu hanya Abu, orang satu-satunya yang menolong aku," Bulan bertutur sambil menagis ketika di dikucilkan orang. Bahkan sahabatnya Udin pun saat itu membencinya.
"Jika aku mau menikah dengan Abu, kenapa tidak dari dulu saja, mengapa juga aku harus selingkuh yang sudah tahu itu dosa,"
"Bulan..." Tara mengusap kepala istrinya.
"Bang, sekarang aku mau menegaskan pada Abang untuk yang terakhir kalinya. Jika Abang mau percaya padaku, dan tetap akan mempertahankan rumah tangga kita yang belum seumur jagung ini, aku akan beri Abang kesempatan." Bulan menyusut air matanya dengan jari.
"Tapi jika Abang ingin terus percaya pada Keke, yang sudah jelas, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Abang, lalu Abang akan menikahinya terserah Abang." Bulan bersungguh-sungguh.
"Tetapi aku minta Abang segera ceraikan aku dulu, sebelum Abang menikahi Keke," Bulan akhir-akhir ini menjadi wanita cengeng, mudah baper.
"Aku capek selalu dicurigai, dan tidak dianggap. Besok kan hari minggu waktunya aku libur sebagai pengasuh Abang. Tapi aku minta ijin menjenguk ibu, selaku istri Abang."
Tara tercengang mendengar perkataan Bulan.
__ADS_1
Sementara Bulan, meraih obat dalam kantong plasti.
"Ini obat yang untuk dibalurkan ke persendian Abang, aku seduh air hangat dulu," Bulan mengakhiri ucapanya. Lalu beranjak tanpa persetujuan Tara.
Bulan keluar dari kamar, baru beberapa langkah mendengar obrolan Maya dengan Keke yang menyebut nama dirinya. Tentu Bulan penasaran dan terpaksa menguping.
"Ke, Mama sih berharap agar kamu menjadi menantu Mama, tapi jika memang Dipta tidak menyukai kamu bagaimana?" Maya mengangkat kedua tangannya.
"Aku tahu Ma, pasti Dipta sudah cerita, kalau Dia, mencintai Bulan kan," Keke tampak santai.
"Jadi kamu sudah tahu Ke?" Maya terkejut.
"Kenapa kamu tidak cerita sama Mama," sesal Maya.
"Buat apa cerita Ma, Mama jangan khawatir, Bulan itu tidak selugu, dan sepolos yang Mama kira," Keke tampak memprofokasi.
Bulan mendegarkan di belakang lemari yang biasa untuk menyusun pajangan, mulutnya menganga lebar dan menutupnya dengan telapak tangan.
"Maksud kamu apa Ke?" Maya penasaran.
"Mama tunggu disini sebentar," Keke beranjak masuk ke dalam kamar, membuka laci ambil foto yang dikirim oleh orang suruhanya sudah ia cuci dalam ukuran poskar.
"Lihat ini Ma," Keke menunjukkan foto.
Maya mengamati foto itu dengan dahi berkerut, lalu kembali menatap Keke yang masih menyeringai.
"Ada apa dengan foto ini Ke?" tanya Maya membuka lembar demi lembar.
"Tidak ada yang aneh kok, dengan foto ini, seperti foto sahabat pada umumnya," ujar Maya.
Bulan merasa lega dengan ucapan Maya yang tidak menelan mentah-mentah apa yang ia lihat.
"Haha" Keke tertawa membuat Maya semakin heran.
"Bulan itu perempuan yang suka menjajakan tubuhnya ke satu pria, ke pria yang kain Ma, Dipta tahu itu kok,"
Praaang!
Saking terkejutnya dengan fitnah Keke. Bulan menjatuhkan pajangan.
"Bulan..." Maya berlari ke depan lemari memperhatikan pajangan yang hancur berantakan.
__ADS_1
"Maaf Nyoya, saya tidak sengaja," Bulan segera berjongkok merapikan pajangan.