Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Di Jodohkan.


__ADS_3

"Apa?! kamu bertemu Udin dimana?!" wajah Tara menegang. Tara tahu jika Udin adalah pria yang sangat mencintai istrinya tentu ia tidak rela jika Udin mendekati Bulan.


"Ini yang mau aku ceritakan, tapi janji nggak boleh marah, jika sampai Abang marah mendengar tentang Udin, berarti Abang tidak adil!" tandas Bulan.


"Bulan... mau bicara saja kok berbelit-belit," protes Tara ia ingin segera mendengar cerita istrinya tentang Udin.


"Udin saat ini tinggal bersama Ibu Bang," tutur Bulan hati-hati.


"Apa?!" Tara mendelik gusar.


"Cek! Aku bilang, jangan marah," Bulan pun ikut kesal.


"Siapa yang nggak marah! Coba Bulan? Udin itu kan suka sama kamu, terus sekarang tinggal di rumah kamu!" Tara melempar tatapan mengintimidasi.


"Nah! Nah! Itu Abang tahu!" sungut Bulan.


"Tahu apa maksudnya?!" Tara menatap Bulan nanar.


"Abang sekarang tahu, dan merasakan bagaimana jika orang yang kita sayangi menampung orang di rumah nya," sindir Bulan.


Tara menoleh perlahan ke arah Bulan.


"Udin memang tinggal di kontrakan Ibu, tapi tentu Abang tahu kan, setidaknya aku tidak tinggal bersama?" Bulan menoleh Tara yang sedang menumpangkan lengan di kening.


"Sementara Abang, apa?! membiarkan Keke tinggal disini, sedangkan keadaan Abang seperti sekarang, jika sampai Abang di apa-apain bagaimana?" Maksud Bulan jika sampai Tara diperkosa. Membayangkan hal itu, Bulan merasa nyeri. Yang namanya kucing dikasih umpan ikan cuek saja masih mengorek-ngorek tempat sampah, apa lagi jika disungguhkan ikan segar.


"Itu kan bukan kemauan aku Bulan, tapi Mama yang membiarkan Dia, tinggal disini," kilah Tara.


"Abang pikir awalnya aku mengijinkan Udin tinggal di kontrakan? Aku sempat marah, dan mengusirnya kok, tapi ibu sama Udin sejak kecil sudah seperti anak sendiri, wajar jika Ibu menahan Udin," Bulan berkata panjang lebar.


"Terus... aku harus bagaimana Bulan? Jika aku mengusir Keke, pasti Mama juga menahan," raut bingung di wajah Tara.


"Tentu Mama Abang tidak akan membiarkan Keke tinggal disini, jika Abang bisa bersikap Jujur, pada Mama Abang," Bulan memijit pelipis nya.


Tolong Bang, jika Abang ingin aku tetap mendampingi kamu selamanya, bicara yang jujur sama Mama Abang, jika aku ini istrimu," Bulan berkata panjang lebar.


"Kecuali memang Mama Abang tidak menyukai aku, akan lain ceritanya." Bulan sudah pasrah jika seandainya kedua orang tua Tara tidak menyukainya.


Bulan mengerti, tiap orang tua menginginkan anak nya hidup bahagia, jika Bulan tidak masuk dalam kriteria menantu Maya, dan pada akhirnya Maya mengusirnya apa boleh buat, ia akan terima.

__ADS_1


Bulan menyesal, mengapa ketika Tara mengajaknya menikah tidak memaksa Tara agar ijin orang tuanya terlebih dahulu. Inilah kesalahan Bulan mengambil keputusan.


"Aku membiarkan Udin tinggal sama Ibu bukan tanpa alasan Bang, aku menjadi tenang merawat Abang disini. Karena ada Udin yang menemani Ibu" Bulan senang selain Fatimah ada yang menjaga. Udin juga rajin membantu ibu nya dan tidak akan kecapean.


Tara hanya diam mendengarkan penuturan Bulan. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu.


"Aku juga ingin cerita sama Mama Bulan, tapi kan kemarin Mama keburu pergi," Ujar Tara.


"Yah... jika Abang memang serius, kita tunggu sampai Mama Abang pulang," pungkas Bulan. Lelah berbicara Bulan pun terlelap di ranjang Tara.


Kamar menjadi hening tidak lagi mendengar celotehan Bulan, Tara pun duduk menatap wajah Bulan yang teduh. Apa lagi disaat sedang tidur.


"Maafkan Abang istriku," Tara mengecup bibir Bulan. Lalu memandanginya tak berkedip. Benar kata Bulan, Tara harus memperjuangkan istrinya, tidak mau berpisah untuk yang kedua kalinya.


Flashback on.


"Ke, gw pinjam handphone loe, mau telepon Gavin agar menyuruh orang memberi kabar Bulan, ke kampung," Tara ingin menyuruh orang agar menjemput Bulan. Handphone Tara hilang entah kemana, saat kecelakaan terjadi.


Satu bulan yang lalu, saat Tara sudah sadar dari koma. Keke yang selalu menemani di rumah sakit bergantian dengan Maya dan bibi.


"Dipta... kamu terlambat, karena gw sudah menyuruh orang agar mengabari istrimu," bohong Keke. Keke memang menyuruh orang ke kampung Bulan, tetapi bukan mengabari Bulan, melainkan ada misi yang lain disana.


"Lalu apa jawaban Bulan? Kenapa tidak loe suruh orang suruhan loe mengajak istri gw kesini sekalian," Tara tampak kecewa.


"Cepat katakan Ke?!" desak Tara.


"Sebenarnya, Bulan sudah satu bulan ini, menjalin hubungan dengan Abu, Dip," Keke mengarang cerita.


"LOE BOHONG!" kilat marah di mata Tara, membuat Keke menunduk.


Wajah Tara terlihat sangar jika bisa bangun ingin mengacak-acak apapun yang ada di dekatnya, untuk pelampiasan.


"Tidaaakkk..." pekik Tara, sebenarnya menurut dokter. Tara harus diberi perhatian khusus, diajak bicara yang menyenangkan, bukan malah diracuni pikiranya dengan hal buruk seperti yang Keke lakukan.


Tiga hari kemudian, selama itu pula mental Tara semakin terguncang. Suka marah-marah, dan Keke berusaha menghibur, seolah-olah menjadi malaikat penolong.


"Sudahlah Dipta... jangan selalu sedih memikirkan istrimu yang sudah jelas berkhianat" kata Keke, dengan kata-kata bualan nya, Keke mulai berhasil meracuni pikiran Tara.


"Mama aku, sama Tante Maya, sudah berunding loh ingin kita menikah Dip, kita menikah sederhana saja, jika kita sudah sah, aku akan bebas merawat kamu, aku akan jagain kamu," Keke tersenyum membayangkan akan menjadi istri Tara. Biar lumpuh tidak akan menjadi masalah. Bagaimana nanti saja. Pikir Keke.

__ADS_1


Tara hanya diam tidak menolak maupun mengiyakan.


"Ini buburnya dimakan dulu, aku suapi," Keke menyuapi Tara.


"Sudah kenyang!" sinisTara, baru makan dua suap, Tara terasa kenyang kala mengingat Bulan. Kata-kata Keke jika istrinya berselingkuh terus terngiang di telinga.


"Ya sudah..." Keke mengusap bibir Tara dengan tissue.


"Wah... waah... waaah... kalian ini pasangan yang cocok," kata Herlina, mama Keke masuk ke ruangan bersama Maya. Herlina adalah sahabat Maya saat SMA.


"Mama... Tante Maya..." sapa Keke, mengukir senyum manis.


"Bagaimana keadaan kamu Dipta?" tanya Herlina yang biasa di panggil Lina itu.


Tara tidak menyahut, sejak tiga hari yang lalu mengekspresikan kemarahanya dengan mendiamkan semua orang. Jika sekali menyahut dalam keadaan marah.


"Loh... kok buburnya tidak dimakan? atau kamu mau Mama pesankan makanan yang lain?" tanya Maya duduk di samping putranya.


Tara hanya mengangkat tangan tanda penolakan, membuat Maya semakin bersedih.


"Oh iya May, aku bawa makanan yang aku buat sendiri, barang kali Dipta suka," kata Herlina membuka cup cake lezat dilihat dari penampilan.


"Waah... Tante Lina jago bikin kue, Mama ambilkan ya," Maya bersemangat namun Tara hanya menggeleng.


"Tante Maya... biar Keke yang menyuapi ya," Keke momotong cup cake.


Sementara Maya mengajak duduk Lina di sofa, sambil mengamati Keke yang sedang membujuk Tara agar mau makan.


"May... aku rasa, anak kita segera kita nikah kan saja, lihat tuh, mereka sudah semakin akrab," tutur Lina menatap Keke yang sedang menyuapi Tara.


"Aku takut Lin, jika sikap Keke suatu saat nanti akan berubah, dan tidak sabar merawat Dipta dengan keadaanya yang seperti sekarang ini," Maya menitikkan air mata.


"Apa nggak sebaiknya perjodohan ini kita batalkan saja, Lin," tutur Maya disela-sela isak tangis.


"May... kamu harus yakin, hanya Keke yang akan selalu sabar merawat Dipta," pungkas Lina.


Flashback off.


Tara menarik napas berat, kemudian berusaha untuk tidur. Tara dan Bulan pun terlelap di pagi hari.

__ADS_1


*******


...HAPPY READING....


__ADS_2