Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Di Sekap Di Gudang.


__ADS_3

Jika di kamarnya Keke sedang tertawa-tawa sendiri seperti orang gila. Karena sudah dapat rencana untuk membalas dendam nya pada bibi.


Sementara bibi di kamar Tara sedang bergijabu dengan tugas. Yakni membereskan kamar. Ia kalang kabut sendirian karena bangun kesiangan. Pasalnya bibi tidur hingga larut malam. Biasanya bibi bangun sebelum pemilik rumah bangun yakni sebelum adzan subuh, tapi pagi ini bibi bangun jam 5 pagi.


"Tuan muda... bangun, katanya mau shalat subuh" Bibi menyibak selimut Tara.


"Hoaaamm..." Tara menggeliat angop, tapi kali ini ditutup dengan telapak tangan.


"Bi... Bulan sudah sampai?" pertama yang Tara tanyakan ketika bangun tidur adalah istrinya.


"Belum Tuan, mari saya bantu ambil air wudhu," Titah bibi. Sebab tadi malam Tara berpesan pada bibi agar membangunkan subuh. Tapi kali ini sudah bukan waktu subuh lagi karena sudah jam 5 30 menit.


"Siang amat sih Bi," protes Tara ketika melirik jam ternyata sudah hampir jam 6.


Saat ini sudah didorong ke kamar mandi.


"Bibi kesiangan Tuan" jawab bibi tidak enak hati, sebenarnya bibi berniat membangunkan sejak tadi, tetapi bibi tidak tega


Bibi mendorong Tara ke kamar mandi, kemudian menunggunya di luar.


Di kamar mandi sambil duduk di closed,Tara berpikir. Ia tadi malam telepon Gavin agar menjemput Bulan pagi-pagi sekali. Tapi kenapa Bulan belum juga datang? Tara gelisah sendiri.


Tidak lama kemudian Tara sudah selesai ritualnya lalu memanggil bibi.


"Tuan tidak mandi sekalian?" Bibi lihat air hangat yang beliau siapkan tidak Tara pakai.


"Nanti menunggu Bulan, saja," jawab Tara. Di mandikan Bulan tentu akan lebih segar karena di gosok-gosok seluruh badan.


Bibi tidak menyahut kemudian menyiapkan perlengkapan shalat.


"Tuan saya siapkan sarapan dulu ya," bibi segera berlalu setelah di angguki tuan nya.


Sementara Tara sedang shalat, bibi ke dapur berniat menyiapkan sarapan, namun sebelumnya tidak lupa mengunci pintu dulu. Bibi antisipasi agar Keke tidak bisa masuk menemui Tara.


Langkah bibi berhenti di depan pintu kamar, kala kakinya minginjak bekas sabun tadi malam masih licin belum dibersihkan oleh Sumidah.


Bibi membiarkan saja dulu, setelah menyiapkan sarapan untuk Tara baru akan ia bersihkan. Walaupun sebenarnya tugas bersih-bersih adalah bagian Sumi. Namun bibi harus bertanggung jawab pada apa yang telah ia lakukan.


Bibi membuat roti tawar di selipkan keju. Namun sebelumnya rotinya di bakar lebih dulu dengan mentega. Setelah matang bibi membuat susu seperti yang sudah di ajarkan Bulan.

__ADS_1


"Tuan sarapan dulu," bibi sudah sampai di kamar. Menatap Tara yang masih duduk di kursi roda. Namun kali ini sudah berada di dekat sofa mungkin Tara mendorong roda dengan kedua tangan.


"Terimakasih Bi, tolong bantu saya duduk di sofa ya," titah Tara.


"Mari Tuan,"


Tara mengigit roti rasa keju buatan bibi mengulum sesaat, meskipun penampilannya sama. Namun rasa tentu berbeda dengan roti buatan Bulan. Tak urung Tara menyantap nya juga, kasihan bibi yang sudah cape membuat.


*******


Sementara yang di tunggu-tunggu saat ini sedang terjebak macet.


"Pak Gavin, kok tumben ya, pagi-pagi gini sudah macet," Bulan menyembulkan kepala keluar kaca. Melihat ada apa gerangan di depan.


"Tadi saya dengar orang ngobrol katanya ada tabrakan," Gavin menyahut.


"Oh pantas," Bulan pun menyandarkan kepalanya di jok. Ia memikirkan suaminya pasti sedang menunggunya.


Berbeda dengan Gavin, macet seperti ini justeru membuat dia senang, karena bisa berlama-lama berdekatan dengan Bulan. Tanpa Bulan sadari, Gavin mencuri pandang. Tidak pernah bosan memandangi gadis cantik di sebelahkan.


"Lan, kamu kerasan nggak, kerja sama Tuan Dipta?" Gavin khawatir Bulan seperti perawat yang dulu selalu tidak betah. Padahal Gavin sudah menaruh hati pada gadis di sebelahnya.


*********


"Sum, kamu mau uang nggak?" Keke minta Sumi datang ke kamar agar mengurut pinggulnya bekas jatuh tadi malam rasanya sakit semua.


"Memang saya disuruh apa Non?" Sumi tahu jika Keke menawarinya uang sudah pasti akan memerintahkan sesuatu yang di luar tugas.


"Kita kerja sama Sum, jika Rembulan nanti sudah datang, jangan dibukakan pagar, maupun pintu," Keke menyeringai licik.


"Memang kenapa Non?" Sumi agak keberatan dengan tugas yang di berikan Keke hari ini. Sebab jika Bulan tidak bisa masuk, otomatis bibi akan mengurus Tara dan kerjaan bibi tetap Sumidah yang mengerjakan.


"Pokoknya, turuti saja perintah saya! Kamu mau uang tidak?" Keke mengulangi. Ia tahu jika berkenaan dengan uang Sumi paling mudah untuk disuruh-suruh.


"Jika kamu mau, saya akan belikan handphone yang bisa buat vidio call, nggak seperti punya kamu itu," Keke tidak kehabisan akal.


"Siap Non," Sumidah semangat.


"Terus... saya harus melakukan apa?" Sumi sudah tidak sabar.

__ADS_1


Keke membisikkan sesuatu ke telinga Sumi.


"Baik Non" Sumi menyudahi mengurut Keke, kemudian mencari bibi di dapur tidak ada, ke kamar mandi juga tidak ada. Sumi hendak ke kamar Tara, namun matanya menangkap bibi yang sedang mengepel lantai Sumi mendekati.


"Bi maaf, saya belum sempat ngepel, soalnya di suruh memijit Non, Keke," Sumi mulai beraksi.


"Sini, biar aku yang ngepel, ini kan tugas aku," Sumi mengambil alih kain pel.


Bibi menatap Sumi dengan dahi berkerut. Apakah ada jin baik yang sedang nyusup ke tubuh Sumi? Sehinga sikapnya berubah lembut, sedangkan biasanya jika disuruh bibi, Sumi selalu membantah.


"Kok bibi malah melihat saya kayak gitu sih? Oh iya bi, tadi Nyonya Maya telepon selagi beliau belum pulang kita di suruh membersihkan gudang," tutur Sumi.


"Oh pantas, kamu bersikap baik sama saya pagi ini, ternyata ada maunya Sum!" Bibi tersenyum miring.


"Bukan begitu Bi, kan kita berdua yang di suruh, mendingan Bibi duluan gih, nanti saya menyusul," kata Sumi.


Tanpa merasa curiga bibi ambil perlengkapan bersih-bersih. Sapu, pel, dan yang lainya membawa nya ke gudang.


Atas suruhan Maya, setiap sebulan sekali gudang tersebut memang harus dibersihkan.


Ceklak.


Bibi membuka pintu gudang, segera ke dalam. Dengan kemoceng bibi mengibas-ngibas debu hingga 10 menit kemudian.


Glek.


Ceklak. Ceklak.


Gudang di kunci dari luar oleh wanita yang sudah mengamati sejak tadi. "Jangan main-main sama saya, kamu sudah mengibarkan bendera perang rupanya," gumamnya dengan nada sinis menatap pintu. "Hahaha... bersenang-senang lah bersama tikus dan kecoa Bibi!" ucapnya dari luar pintu.


"Yes" Ia mengangkat lengan ke atas kemudian menariknya ke bawah. Dengan rasa puas karena berhasil mengurung bibi di gudang. Ia melangkah pergi, tangan kananya melempar-lempar kunci bibirnya tidak berhenti tersenyum.


Tadi malam boleh gagal memiliki Tara, tapi tidak untuk saat ini. Ya dia adalah Keke. Pagi ini ia akan mencurahkan perhatiannya kepada Tara. Memandikan, mengganti pakaian dan " Aaahhh..." Keke segera melangkah ke kamar Tara mendorong pintu namun di kunci.


"Brengsek!"


.


*********

__ADS_1


__ADS_2