Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Nasi Goreng Mercon.


__ADS_3

Tara melempar tatapan tidak suka kepada Abu yang baru pulang bersama Udin dari mushala. Namun Abu justru membalas nya dengan tersenyum ramah pada pria yang sudah mampu membuat hati Bulan jatuh cinta.


"Din, ajak masuk Kak Abu, kok malah di luar terus," Bulan memecah ketegangan.


"Oh iya, masuk Bang," Udin berjalan melipir karena terhalang kursi roda. Dengan cepat Bulan mendorong kursi yang sudah kosong, karena Tara sudah duduk di lantai beralas tikar.


"Abang... wajahnya jangan ditekuk gitu ih, jelek tahu!" Bulan meremas kedua telapak tangan suaminya. Tentu ia berbicara berbisik-bisik agar jangan terdengar dua pria yang sedang ngobrol entah apa yang mereka bicarakan.


Tara menatap wajah istrinya rasanya ingin segera memeluk jika tidak ada orang lain di dekatnya.


"Nanti akan aku ceritakan kenapa Kak Abu bisa sampai di sini," Bulan berusaha agar jangan sampai Tara marah pada Abu yang jelas tidak ada sangkut pautnya dalam rumah tangga nya.


"Ya Allah... ada Nak Abu?" Fatimah keluar bersama Maya, tersenyum ramah kemudian meletakkan minuman di meja kecil.


"Iya Bu, Ibu sehat?" Abu segera berdiri menyalami tangan Fatimah yang Abu anggap seperti ibu nya sendiri.


"Sehat Nak," jawab bu Fatimah lalu menanyakan keadaan orang tua Abu di kampung dan juga menayakan kabar kakak Abu yang menempati rumah Bulan.


"Bu Maya, kenalkan, ini Abu, tetangga kami dari kampung," Fatimah memperkenalkan pada besan.


"Oh gitu... jadi rame ya Mbak, ternyata tetangga Mbak Fatimah, banyak yang merantau ke sini," Maya membalas senyuman Abu yang kas.


"Saya sendiri juga baru tahu jika Abu berada di kota ini Bu," jawab Fatimah sambil meletakkan minuman satu persatu di depan tamu-tamu nya.


"Ibu... Abang... dan juga Mama... aku mau cerita" kata Bulan ketika semuanya sudah diam.


Semua yang berada di ruangan sempit itu menatap Bulan seksama.


Bulan menceritakan apa yang ia alami seharian ini, dan juga minta maaf kepada semuanya karena sudah membuat mereka panik.


"Apa! Jadi... Ada orang yang akan menabrak kamu Bulan?!" kilat marah terpampang jelas di wajah Tara.


Bu Fatimah pun segera merangkul Bulan dan mengucap syukur, tidak ada kata yang bisa ia rangkai, selain bersyukur, karena Tuhan telah melindungi putrinya.


"Tara... Bulan... apa selama ini kalian punya musuh?" tanya Maya.


"Tidak!" sahut Bulan dan Tara cepat.


"Lalu... siapa yang sudah berani bermain-main dengan keluarga Bisma Bumantara?!" Maya mendelik gusar.


"Paling ini ulah Keke!" tegas Udin.


"Keke?" Tara dan Maya berucap bersamaan melempar tatapan tidak percaya dengan apa yang Udin ucapkan.


"Udin... kamu tidak boleh berburuk sangka. Ya, kalau tuduhan kamu itu benar, jika salah, itu namanya fitnah," nasehat Abu.


Semua lantas diam.


"Tante... jika saya boleh usul, sebaiknya kasus ini segera di selidiki" kata Abu. Abu meyakini jika mobil yang akan menambrak Bulan memang disengaja.

__ADS_1


"Usulan yang benar Nak Abu, saya akan segera mencari orang untuk menyelidiki," Maya mengepalkan tangan.


"Saya rasa, kecelakan yang menimpa dek Tara, juga bukan hanya kecelakan biasa," kata Abu diplomatis.


Tara melirik Abu sekilas, tidak menyangka ternyata Abu akan berpikir sejauh itu.


"Masalah kecelakaan itu, sudah di tangani oleh pihak yang berwajib Nak, namun sudah hampir tiga bulan, pihak kepolisian belum berhasil mengungkap," tutur Maya.


Sambil berbincang-bincang mereka minum teh hangat yang di sediakan oleh Maya.


"Nak Abu, saat ini saya sedang membutuhkan supir untuk mengantar Dipta dan juga Bulan kemanapun mereka pergi, sekaligus mengawalnya. Dan saya rasa kamu lah orang yang tepat," titah Maya.


"Mama..." tolak Tara.


"Dipta... kamu harus nurut sama Mama. Mama tidak ingin, kalian kenapa-kenapa Nak. Lagi pula, apa kamu tidak memikirkan keselamatan anak kamu," tegas Maya, tidak mau dibantah.


"Bagaimana Nak Abu?" Maya menatap Abu penuh keyakinan, jika hanya Abu yang bisa melakukan ini.


Sementara Abu, menatap Tara dan Maya bergantian. Ia bingung, sebenarnya memang dia berniat melindungi Bulan, tetapi sepertinya Tara keberatan.


"Nak Abu... tolonglah kami," wajah Maya penuh harap.


"Baik Bu"


Ucapan Abu menutup pembicaraan. Malam ini Fatimah di bantu Bulan memasak, menyiapkan makan malam untuk para tamu. Selesai makan malam, Tara mengajak istrinya pulang.


******


"Tapi setidaknya wanita itu sudah hengkang dari rumah ini! Hahaha..." Keke tertawa sendiri.


"Mama Maya, Kamu memang pantas menjadi mertua aku, kita rupanya sudah sehati," Keke merasa senang.


"Aku akan banyak kesempatan untuk mendekati Dipta. Dia harus menjadi milikku," Keke merasa menang.


Deeerrrttt... deeerrrttt...


Saat sedang bergumam handphone miliknya di ranjang bergetar.


"Hallo!"


"Hallo! Non, jika satu bulan ini saya tidak berhasil menemukan siapa penyebab kecelakaan itu. Tuan Bisma akan mencari detektif lain," tutur seorang pria di telepon.


"Kenapa? Loe menyerah?! atau... bayaran loe masih kurang?" hardik Keke.


"Iya Non, kalau sampai saya di pecat menjadi detektif, mau dapat uang darimana saya, untuk memberi makan anak istri,"


"Dasar bodoh! Lakukan saja, perintah gw jika loe mau uang! Jika berani berkhianat! Akan gw bunuh loe!"


Tut

__ADS_1


Keke melempar handphone ke kasur, sebelum kemudian membuka pintu. Mungkin karena kelelahan marah-marah, perutnya menjadi lapar.


Ia melangkah ke meja makan membuka tutup saji, tidak ada masakan istimewa menurut Keke, karena hanya ada oseng kacang panjang dan tempe penyet.


"Bibiiiiii...." pekiknya.


"Ada apa Non?" bibi yang sedang menonton sinetron bergegas menghampri Keke di susul Sumidah.


"Makanan apa yang kamu masak ini?" tangan kiri Keke mengangkat tutup saji, dan tangan kananya menunjuk tempe.


"Maaf Non, karena yang menggaji saya Tuan dan Nyonya, tentu saya memasak sesuai permintaan beliau," bibi menjawab enteng.


Klak.


Kekek menjatuhkan penutup saji berwarna biru itu dengan kasar.


"Kurangajar kamu! Berani-beraninya sama saya!" Keke kembali menghardik.


"Buatkan saya nasi goreng!" perintahnya tanpa belas kasih.


"Baik Non," bibi segera ke dapur.


"Bi, biar Sum yang goreng nasi, bibi istirahat saja," kata Sumidah.


"Kamu yakin Sum?" bibi tidak percaya jika Sum sampai menawarkan diri untuk memasak.


"Sudahlah Bi, anggap saja ini ucapan terimakasih, karena Bibi selalu membantu pekerjaan saya," kata Sum meyakinkan.


"Sok, lah Sum, bibi teh memang sudah lelah," bibi kemudian ke kamar.


Sum tersenyum lebar. "Akan gw kerjain kamu wanita jahat!" Ia membuka kulkas 20 biji rawit merah, bawang merah, bawang putih, ia tumbuk hingga halus lalu di tumis, menambahkan garam, penyedap, lalu kecap. Nasi goreng mercon pun telah matang. Sum mengiris tomat dan mentimun, memang begitulah kesukaan Keke.


"Bibi... nasi goreng nya sudah matang," Sum memanggil bibi ke kamar.


"Iya" bibi keluar. "Baunya enak banget nasi gorengnya Sum," bibi berniat mecoba tapi di penggorenagn tidak ada lagi.


Bibi mengantarkan nasgor ke meja makan.


"Silahkan Non," bibi meletakkan di depan Keke. Karena perutnya memang sudah lapar, Keke segera menyuap nasi goreng.


"Bibiiiii....!!!" Keke mengibas-ngibas mulutnya dengan telapak tangan, padahal yang di lakukan Keke tidak bisa mengurangi pedas.


"Kenapa Non?" dahi bibi berkerut.


Sementara Sum yang memperhatikan dari kejauhan tertawa puas.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2