
Disaat semuanya menatap Tara kagum karena sudah bisa berjalan lagi. Kesempatan itu di manfaatkan Keke ambil pistol yang tergeletak di lantai. Ia hendak menarik pelatuk.
"Angkat tangan!" sergah tiga polisi yang sudah siap senjata di tangan mengacungkan ke arah Keke. Namun Keke tidak perduli. Ia harus membunuh Bulan. Pikirnya. Ia kembali hendak menarik pelatuk.
Dooorrr!
"Aaaagggghhh..."
Keke jatuh tersungkur betisnya bersarang peluru. Wanita yang mengenakan rok selutut itu tidak berdaya.
"Tangkap Dia!" pekik polisi yang masih menodongkan pistol khawatir Keke membuat ulah lagi.
Kedua polisi meringkus Keke memaksanya ke luar. "Lepaskan gw! Lepaskaaaannn..." jerit Keke bergema.
Bulan dan yang lainya masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi.
"Terimakasih Pak," Tara berucap kepada salah satu polisi yang menembak Keke baru saja.
"Kami yang harusnya terimakasih, karena wanita itu sudah lama menjadi target kami," kata polisi. "Sekarang juga kalian ikut kami ke kantor memberikan kesaksian" titah polisi setengah baya itu.
"Baik Pak" dua pria dan dua wanita yang tak lain, Bulan, Tara, Sum, dan Nanta menjawab serentak. Ketika ingin melangkah mendengar suara yang di kenal.
"Bulan... Dipta..." Maya berlari memeluk menantu dan anaknya bersamaan. "Sukurlah kalian nggak apa-apa Nak," Maya menagis haru. Setelah mendapat telepon dari Tara Bisma segera menghubungi kantor polisi agar menuju tkp.
Maya melepas pelukanya baru sadar jika putranya sudah bisa berdiri tegak. "Kamu? Jadi kamu?" Maya menatap lekat wajah Tara yang tersenyum kepadanya. Maya kembali menghambur ke pelukan Tara.
"Alhamdulillah... jadi suami kamu sudah bisa jalan Bulan," Bisma berkaca-kaca.
"Alhamdulillah.... Pa" Bulan tersenyum menatap mertuanya.
Bisma kemudian menemui polisi, tampak sedang berbicara kepadanya. "Terimakasih, putra putri anda yang telah membantu kami," kata polisi.
"Sama-sama Pak, saya juga terimakasih," pungkas Bisma. Lalu mengait lengan istrinya mengikuti langkah polisi.
Mereka semua mengikuti mobil polisi. Tidak lama kemudian, sampai tujuan. Satu persatu mereka di minta kesaksiannya.
Dengan gamblang Sum menceritakan semua kejahatan yang di perbuat Keke, ketika masih tinggal bersama dan juga saat Bulan hendak di racuni.
__ADS_1
Ternyata Sum yang terakhir dimintai keterangan diantara ketiga bos. Lalu saat ini giliran Maya dan Bisma menjawab pertanyaan-pertanyaan polisi.
Bulan, Tara, Nanta, dan Sum mereka berempat sudah ke luar dari kantor polisi berpapasan dengan Abu, Udin dan yang membuat Bulan terperangah adalah; Kehadiran tetangga kampung. "Novi," Bulan menatap lekat wajah Novi.
"Bulan... maafkan aku..." Novi memeluk Bulan menangis pilu.
"Kenapa Nov? Apa yang terjadi? Lalu kenapa kamu bisa berada di kantor ini juga?" cecar Bulan memegang kedua pundak Novi.
"Novi dipanggil polisi agar memberi kesaksian, Lan" jawab Udin tidak menyebut kecelakaan apa.
"Kesaksian Apa?" Bulan menoleh Tara dan juga Nanta.
"Sebenarnya aku tahu penyebab kecelakaan bus yang menjemput anak-anak kkn 10 bulan yang lalu ketika itu Lan," Novi menunduk.
"Apa?!" sergah Tara, Nanta dan juga Bulan. Sementara Sum hanya mendengarkan mereka saja.
Flashback on.
Satu hari sebelum keberangkatan anak-anak kkn, termasuk Tara dan Nanta. Keke menemui Novi di gubuk kecil di pinggir sawah.
"Kamu mau uang tidak?" tanya Keke ia sudah sering menemui Novi agar meneror Bulan. Saat itu Keke membawa segepok uang di tepuk-tepuk kan ke telapak tangan. Tentu mengiming-iming Novi.
"Gampang, kamu hanya tinggal mengutak atik rem bus agar blong," perintah Keke enteng.
"Kamu gila! Sejahat-jahatnya orang di kampung kami tidak satu orang pun yang mau menjadi pembunuh!" tolak Novi tegas.
"Benar... kamu tidak mau uang?" Keke melempar-lempar uang ke atas kemudian menangkapnya.
"Kamu ini aneh! Seandainya saya mau menuruti perintah kamu, itu artinya kamu sudah bosan hidup dong! Karena kamu pun akan mati sia-sia, jika bus nanti celaka!" tandas Novi.
"Gw tidak perduli! Kalaupun gw harus mati. Gw tidak masalah, jika gw tidak bahagia Bulan pun akan meratapi nasib karena suaminya akan mati! Ahahah!" Keke tertawa puas.
"Dasar sinting!" pungkas Novi kemudian meninggalkan tempat itu.
Pagi-pagi sekali Novi kepikiran berniat mengatakan pada Bulan, apa yang akan dilakukan Keke, tetapi Novi sendiri pun membenci Bulan, lantaran Udin yang ia cintai lebih memelih Bulan.
Dengan perasaan tidak tenang Novi mengintai bus dari kejauhan tampak Keke sendiri yang memutus rem.
__ADS_1
Flashback off.
"Astagfirlullah..." Bulan dan Tara istighfar.
Akhirnya Novi yang giliran masuk akan di mintai kesaksiannya di temani Udin. Meninggalkan Bulan.
"A'a Abu apa kabar?" Sumidah memberikan senyum termanisnya. Sebab selama Abu menjaga apotek, sejak tiga Bulan yang lalu, mereka tidak lagi bertemu.
"Kabar saya baik dek Sum. Astagfirlullah... kaki kamu..." Abu terperangah kala menatap kaki Sum yang terluka parah.
"Sum... sebaiknya kamu segera ke rumah sakit," kata Bulan. Semua pun tertuju kepada kaki Sum.
"Ta, setelah mengantar kami ke rumah, tolong antar Sum, ke dokter ya," Tara minta tolong sahabatnya.
"Tidak usah Tuan, Nona, nanti di obati di rumah saja," tolak Sum.
"Dek Sum, luka seperti itu kok mau kamu obati di rumah! Nanti kalau infeksi bagaimana?" Abu khawatir. "Ayo, saya antar pakai motor saja," kata Abu.
"Iya deh! Kalau diantar A'a Abu sih, mau." Sum tersenyum menatap Abu penuh cinta.
"Ini kuncinya saya serahin ke loe, antar Tuan, dan Nona gw sampi rumah jangan sampai lecet sedikitpun," Sum menyerahkan kunci pada Ananta yang hanya tertegun menatap perubahan sikap Sum. Jika dengan Abu bisa bersikap lembut, tetapi mengapa jika kepadanya bersikap ketus terus-menerus.
"Hee... jangan bengong," Sum memegang telapak tangan Nanta dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menempelkan kunci. Sum Lalu menuju motor milik Abu.
"Sum mau kemana?" tanya Maya yang baru ke luar bersama suaminya terkejut melihat Sum sudah di atas motor berboncengan dengan Abu.
"Saya mau ke dokter dulu Nyonya," jawab Sum sudah memeluk helm yang di berikan Abu.
"Ke dokter?" Maya terkejut. Bulan lalu menceritakan jika kaki Sum terluka. Maya hanya meringis menatap luka Sum walaupun masih di bungkus dengan sapu tangan. Namun sapu tangan itu robek karena untuk melawan Keke.
Semua pun pulang namun bukan Nanta yang menyetir tapi Bisma. Bisma saat datang ke tkp hanya mengendarai taksi. Pasalnya mobil miliknya sudah di jual. Sedangkan Ananta pulang dengan taksi.
Sum dengan Abu pun segera berangkat mereka berboncengan. Sum sebenarnya ingin sekali merangkul pria yang memboncengkan dirinya. Namun Sum takut sudah pasti Abu akan menolaknya.
*******
"Ahahaha..." seorang gadis berpakaian serba putih, menyelipkan bunga kamboja di telinga.
__ADS_1
Wanita itu salah satu penghuni rumah sakit jiwa. Ia kadang tertawa, menangis, menjerit histeris, tidak jarang ia di suntik agar tenang karena kadang mengamuk mengganggu pasien yang lain.