Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Curahan hati Bumantara.


__ADS_3

Gavin mengendarai mobil Tara meninggalkan mansion. Di dalam mobil mewah anak dan ibu itu saling diam.


Tara mengedarkan pandanganya ke kanan, dan ke kiri jalan, barang kali Bulan masih berada di dekat sisi.


Hingga beberapa menit kemudian.


"Kita ke kontrakan Bu Fatimah saja Vin, mungkin Bulan sudah sampai disana," titah Tara.


"Baik Tuan," Gavin pun belok kiri menuju kontrakan Fatimah.


"Kontrakan Bu Fatimah? Siapa, itu?" tanya Maya membuka percakapan.


"Mertua aku Ma," Tara menjawab singkat.


"Dip, kenapa kamu tidak pernah bercerita sama Mama, Papa, jika kalian sudah menikah?" Maya kali ini bertanya lembut.


"Mama kan tahu, saat itu aku sedang terpuruk Ma. Setelah kecelakaan naas itu, dan menerima kenyataan bahwa keadaan aku cacat, harapan untuk menjalani hidup ke masa depan, hilang semua," Tara bersedih.


"Sayang..." Maya menarik pundak putranya, seperti anak kecil, menjatuhkan di pundak beliau. Yang namanya orang tua kepada anak sampai kapan pun akan menyayangi seperti sejak lahir dulu.


"Jujur, setelah aku lumpuh, aku menjadi kecil dihadapan Bulan Ma, aku menjadi takut. Takut jika Bulan tidak akan mencintai aku lagi," lirih Tara bersandar di jok.


"Dipta..." air mata Maya bercucuran menetes di rambut putranya. Maya bersedih, ia baru mengerti ternyata cinta anaknya kepada Rembulan cukup besar.


"Sebelum pulang ke Jakarta, aku berjanji pada Bulan akan kembali menjemputnya, tapi ternyata takdir berkata lain, aku justeru kecelakaan." Tara menarik napas berat Ia pun menyesal, tidak menceritakan sejak awal.


"Tapi kenapa saat kalian menikah, kamu tidak memberi tahu kami Nak?" Maya menarik kedua pundak putranya mereka berhadapan.


"Maafkan Tara Ma, aku mengecewakan Papa sama Mama," Tara menatap sendu wajah Maya yang sedang menangis.


"Aku salah Ma, karena aku menikahi Bulan tidak memberi kabar. Padahal saat itu, Bu Fatimah sudah menyarankan agar aku minta ijin Mama," Tara merasa sumber kesalahan saat ini ada padanya. Pasalnya segala sesuatu yang ia lakukan tidak dipikirkan dengan matang.


"Sejak SMA, hingga kuliah, aku belum pernah mencintai wanita manapun, tetapi saat bertemu Bulan, baru pertama kali pun, aku benar-benar mengagumi Ma, dan mengapa saat itu, aku segera menikahinya," Tara mencurahkan isi hatinya.


"Apa karena kamu sudah membuat Bulan hamil, sebelum menikah?" Maya memotong ucapan Tara.


"Mama... aku belum selesai bicara," Tara kesal. Kata-kata Maya seolah tidak mempercayainya.


Begitu juga dengan Gavin, yang sejak awal hanya mendengarkan obrolan, terkejut dengan pertanyaan Maya.


"Ya sudah... teruskan, mama akan mendengarkan cerita kamu," Maya menarik tanganya dari pundak Tara.

__ADS_1


"Saat itu, mengapa aku cepat menikahi Bulan, Ma. Yang pertama, karena aku tidak mau pacaran. Menikah akan lebih baik, karena aku takut hilap. Dan yang kedua, Bulan itu kembang desa, banyak pria yang suka padanya, aku takut Bulan memilih satu diantara mereka," jujur Tara.


"Lalu mengapa Bulan bisa bekerja, di rumah kita? Apakah Bulan memang sudah tahu, jika kamu kecelakaan" imbuh Maya.


"Tidak Ma, itu hanya kebetulan saja, itulah yang membuat aku akhirnya sadar, ternyata Bulan itu jodohku, karena dimanapun kami berada ternyata dipertemukan, tapi aku sudah membuat hatinya terluka," terlukis penyesalan yang cukup dalam di mata Tara.


"Dan semua ini Keke lah sumber yang membuat keadaan semakin rumit dan runyam," Tara menjambak rambutnya gusar.


"Keke!" ujar Maya.


"Kita sudah sampai Tuan," kata Gavin. Menghentikan ucapan Maya.


Tara melihat ke sebelah kiri jalan, memang benar sudah sampai di kontrakan Fatimah. Jika ia sudah bisa berjalan tentu ingin berlari agar cepat bertemu istrinya. Namun apalah daya, keadaan tidak memungkinkan.


"Jadi... Bulan tinggal di kontrakan itu?" tanya Maya memindai sederet kontrakan petakan yang berjajar.


"Iya Ma, ayo turun," Tara sudah tidak sabar.


Maya membuka pintu, menyandak kursi roda yang sudah Gavin ambil dari bagasi, membantu Tara turun.


Di dorongnya kursi roda melui medan yang agak sulit. Sebab kadang roda masuk ke lubang peluran yang sudah waktunya diperbaiki.


"Permisi dek," Maya menganggukan kepala tersenyum ramah kepada Udin.


"Mau beli apa Bu?" tanya Udin dari dalam etalase.


"Sa-saya..." seorang Maya ternyata gugup menghadapi Udin, entah akan mulai bertanya darimana.


"Ibu ada Din?" pada akhirnya Tara yang bertanya.


Udin tidak menjawab, segera menyembulkan kepala keluar dari atas etalase. Ingin tahu siapa gerangan yang menanyakan Fatimah.


"Oh... Kak Tara, ada kok, sedang memasak, mari masuk," Udin segera berputar ke luar melalui pintu mengajak suami Bulan masuk.


"Terimakasih," Maya yang menjawab.


Sampai di luar, Udin dan Tara saling pandang, masing-masing merasa punya salah. Udin mengaku salah karena sempat kurangajar pada Bulan. Begitu juga dengan Tara. Ia telah melukai hati wanita yang di cintai. Tentu Tara malu pada Udin tidak becus melindungi istrinya.


Sementara Maya menatap skeptis kepada kedua pria itu.


"Siapa Din?" terdengar suara Fatimah dari dalam, memecah keheningan.

__ADS_1


"Suami Rembulan Bu," Udin menyahut. "Silahkan masuk Tante," imbuh Udin.


"Terimakasih..." Maya menjawab. lalu mendorong Tara masuk berpapasan dengan Fatimah di dalam dan luar pintu.


"Ibu ini, Mama nya Tara?" tanya Fatimah. Sebab wajah mereka mirip sekali.


"Betul Mbak. Mbak ini ibu nya Bulan? Saya pikir tadi kakaknya," Maya kagum memandang kecantikan Fatimah yang asli tanpa polesan dan masih sangat muda.


"Ibu bisa saja." Fatimah tersenyum. Namun senyum Fatimah menghilang kala Tara datang tidak bersama Rembulan. Fatimah menyimpulkan bahwa Bulan sedang tidak baik-baik saja.


"Tara... mana Bulan..."


Deg deg deg


Pertanyaan bu Fatimah membuat dada Tara dag dig dug. Dari jawaban Fatimah sudah jelas bahwa Bulan belum sampai di rumah.


"Mari Bu, masuk dulu, kita bicarakan di dalam," melihat ketegangan Tara, Fatimah mempersilahkan untuk duduk di lantai beralas tikar.


Fatimah sebenarnya sudah bisa menangkap seperti ada sesuatu yang terjadi.


Tara menceritakan apa yang terjadi.


"Apa? Jadi... Bulan pergi?" kepanikan meliputi wajah Fatimah. "Terus kemana Dia Tara, Dia kemarin cerita sama ibu tidak memegang uang sama sekali?" Fatimah pun menangis.


"Tidak bawa uang Bu? Tapi... kemarin Bulan cerita, di ATM masih banyak?" Tara tidak habis pikir.


Fatimah menceritaka ketika Bulan kesini kemarin berniat ambil Kartu ATM, tetapi Bulan lupa.


"Terus anak Ibu kemana Tara..." Fatimah menangis. Anaknya pergi dari jam 4 sedangkan saat ini sudah jam 10 lalu kemana? Fatimah membayangkan pasti putrinya terlunta-lunta di jalanan.


"Maafkan saya Mbak, saya yang paling bersalah disini" Maya menatap sendu wajah Fatimah.


"Vin, tolong kerahkan anak buah, Mas Bisma, untuk mencari Bulan," titah Maya.


"Baik Nyonya," Gavin yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan segera pergi.


Sementara Udin yang membawa nampan untuk menyuguhkan minuman terpaku di tempat. Udin meluncurkan tatapan anak panah ke arah Tara.


*****


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2