Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Dilanda Sepi.


__ADS_3

Setelah diberitahu Udin, bahwa di luar ada tamu. Rembulan bersama Fatimah segera keluar menemui tamunya.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Fatimah kepada tamunya yakni pria setengah baya.


"Begini Bu, perkenalkan, nama saya Arief, supir kantor properti, di utus Tuan muda Dipta, agar menjemput Rembulan." Tutur supir panjang lebar menahan napas.


"Apa? Saya ini baru saja sampai loh," Bulan yang menyahut, intonasi suara nya naik.


"Saya hanya menjalankan perintah Tuan muda, Bulan," jawab Arief hati-hati.


"Saya mengerti, tapi maaf Pak Arief, tolong sampaikan kepada Tuan muda, saya baru saja sampai, bahkan belum sempat ngobrol sama ibu saya," tolak Bulan.


"Paling tidak, nanti sore saya akan datang sendiri kesana," sambung Rembulan.


"Tapi ini utusan Tuan muda loh," supir menegaskan. Ia merasa heran, berani sekali gadis cantik ini menolak permintaan bos nya.


Sementara Fatimah bersama Udin hanya menyimak obrolan. Terutama Udin tidak mengerti siapa itu yang di sebut tuan muda.


Flashbach on.


Di dalam kamar Tara mengerjapkan mata. Ketika bangun tidur biasanya yang pertama ia lihat adalah istrinya. Ia mengerlingkan mata mencari sosok yang dicari, namun kali ini tidak ada.


"Mungkin di kamar mandi? ia bergumam.


"Hoaahh..." Tara angop/ kuap ret. Sengaja ia buat sekencang mungkin, agar suaranya terdengar oleh Rembulan.


Tetapi tetap saja Rembulan tidak keluar, Tara masih yakin bahwa Bulan di kamar mandi.


Setiap Tara angop lalu Bulan mendengar, selalu ngomel-ngomel agar menutup mulut lah, memelankan suara lah. Namun pagi ini Tara tidak mendengar omelan istrinya, rasanya kangen.


"Kemana sih Bulan? Kok belum ke kamar," Tara berbicara sendiri. Menit berlalu hingga setengah jam Tara menunggu, tetapi Bulan tidak juga masuk ke kamar.


Bumantara melirik jam dinding sudah jam 5. 30 menit.


"Bulan..." panggil nya. Tara sudah menahan pipis, dan belum shalat subuh pula. Selama Bulan tinggal bersamanya istrinya itu selalu membimbingnya untuk shalat.


Tok tok tok.


Senyum Tara mengembang. "Istriku akhirnya masuk, kenapa juga... dia pakai mengetuk pintu segala," Tara terus bergumam. Secepatnya, Tara menarik selimut, menutup wajahnya pura-pura tidur. Ia tersenyum membayangkan istrinya membuka selimut dan sudah menyusun rencana. Akan menarik tangan Bulan agar jatuh ke dadanya dan aaahhh...


Sreeeekk... sreeek...


Terdengar gorden di tarik.


Klek klek.


Tara mendengar seseorang membuka jendela. Kenapa lama sekali siiih...".

__ADS_1


Tara menggerutu dalam hati. Dan pada akhirnya langkah kaki berjalan ke arahnya.


"Tuan Muda... bangun... sudah siang," suara bibi terdengar merdu namun rasa kecewa memenuhi relung hati Tara. Secepatnya ia tarik selimut dengan kasar.


"Kok Bibi sih... yang kesini... memang Bulan kemana Bi?" Tara bersungut kesal.


"Tuan muda ini bagaimana? Sekarang kan hari minggu, biasanya kan tiap hari minggu, bibi yang mengurus Tuan," bibi menjelaskan.


"Yah bibi... walaupun hari minggu kan harusnya Bulan jangan libur!" omel Tara.


"Kenapa Tuan... Tuan merasa kehilangan kan? Jika tidak ada Non Bulan?" bibi mengulum senyum seraya ambil roda mendekatkan pada tuan muda.


"Maksud bibi apa?" Tara tidak tahu jika bibi sudah mengetahui bahwa Tara dengan Bulan suami istri.


"Sudahlah. Tuan... tidak usah malu sama bibi mah. Ayo, bibi bantu ke kamar mandi,"


Tara menurut, kemudian bibi mendorong roda ke kamar mandi. Tara menyelesaikan ritual nya. Jika bukan Bulan yang merawat Tara. Ia cukup di sediakan air dalam baskom, dan menyeka tubuhnya sendiri. Toh tanganya tidak mempunyai masalah. Namun dengan dirawat istrinya Tara bisa bebas tidak merasakan malu dan bisa bermanja-manja.


Lagi-lagi ia kecewa biasanya Bulan yang melakukan semua ini. Tentu menambah sensasi yang berbeda bagi Tara.


"Bi sudah..." ucapnya.


"Baik Tuan," Bibi membuka pintu, Tara sudah mengenakan handuk kimono. Kemudian kembali ke kamar.


"Bi, tolong ambil sarung sama peci ya," titah Tara.


"Ini Tuan"


"Terimakasih Bi," walaupun sudah jam 6 Tara pada akhirnya shalat subuh dengan cara tetap duduk di roda.


"Sekarang Tuan sarapan dulu," bibi membawa nampan setelah Tara selesai shalat.


"Kenapa mama mengijinkan Bulan libur sih Bi?!" keluh Tara. Ia hanya memandangi bubur. Biasanya Bulan yang menyuapi.


"Tuan... jika ingin Bulan tetap disini, sebaiknya Tuan jujur pada Nyonya, jika Bulan itu Istri Tuan," kata bibi. Seketika Tara menatap bibi.


"Bibi tahu darimana?" Tara terkejut. Bertanya dengan dahi berkerut.


"Maaf Tuan... bibi sudah lancang bertanya pada Non Bulan, karena saya sering memergoki kalau Tuan sering bersikap mesra pada Non," jujur bibi.


Tara memandangi bubur Ayam dalam mangkok, tidak ada selera untuk makan hanya mengaduk-aduk. "Terus dia jawab apa Bi?" Tara meletakkan sendok. Menatap bibi seksama.


"Non bilang, kecewa pada Tuan. Tuan sudah menghianati janji suci di hadapan Allah," bibi bertutur hanya ingin membantu Bulan. Tentu Bulan tidak bicara panjang lebar seperti yang bibi ceritakan.


"Maksudnya apa Bi?" tanya Tara kemudian.


"Tuan, sebagai seorang wanita, saya merasakan apa yang Bulan rasakan. Wanita mana yang membiarkan wanita lain tinggal di rumah suaminya. Dan tidak hanya itu, sang suami justeru berniat menikahi wanita itu," bibi memang bebas bicara dengan Tara ketimbang nyonya Maya maupun Bisma.

__ADS_1


"Bi, tolong ambilkan handphone saya," Tara memotong ucapan bibi.


"Baik Tuan," bibi ambil handphone di atas nakas, kemudian memberikan kepada Tara.


Tara segera menghubungi Gavin.


"Hallo Tuan,"


"Hallo Vin, jemput Bulan sekarang! Bukankah kamu tahu tempat tinggalnya," kata Tara menandakan tidak ingin berbasa basi.


"Saya sedang dalam perjalan ke luar kota, bersama Tuan dan Nyonya, tapi saya akan minta tolong pak Arief agar menjemput Bulan,"


Flashbach off.


"Pak Arief, sebaiknya kita ngobrol di dalam saja," kata Fatimah sebab mereka berbicara di teras kontrakan.


"Saya tidak bisa lama-lama Mbak, jika Bulan tidak mau saya jemput sekarang, saya pamit akan segera ke kantor," pak Arief pada akhirnya mengalah.


"Dek, jual rokok?" pak Arief mengejutkan Udin.


"Oh ada Pak Arief, rokok nya apa?" Udin membuka etalase.


"Jika Sampean Suka," kata pak Arief konyol.


"Apa itu?" tanya Fatimah.


"Djisamsue, Bu," jawab Udin pelan. Lalu memberikan rokok kepada pak Arief.


Pak Arief pinjam korek api yang diikat karet panjang. Kerjaan siapa lagi, jika bukan Udin. Sebab jika tidak begitu selalu sering hilang. Setelah menyundut dan menghisapnya pak Arief kemudian pergi, setelah pamit Bulan dan juga Fatimah. Tak urung pak Arief tidak langsung ke mobil, melainkan menuju penjual gorengan di warung yang masih satu barisan dengan kontrakan Fatimah. Pak Arief segera duduk bergabung kepada penikmat gorengan, sekedar menghabiskan rokok, dan minum kopi.


"Oh ternyata karena malu, nggak mau minum teh disini," kata Udin masih memandangi pak Arief dari kejauhan.


"Sudah... biar saja, sekarang kita minum teh dulu," kata Fatimah.


Mereka minum teh sambil sarapan nargor, yang sudah dimasak Fatimah sebelum ke masjid tadi.


Mereka bertiga ngobrol, setelah menghabiskan sarapan. Walaupun Bulan selalu berbicara ketus kepada Udin. Namun bagi Udin tidak diambil hati.


Udin pun menceritakan kepada Bulan, tentang kelakuannya yang tidak senonoh kepada Bulan ketika itu, jika Udin di suruh Keke.


"Siapa Din?! Keke?!" Bulan meperjelas. Mengepalkan tangan gusar.


"Betul Bulan, maafkan aku, karena aku sudah bersikap bodoh! Jika ada pria yang tidak punya prinsip itu, adalah aku orang nya," Udin menunduk.


******


"Haii... Reader.... yang sedang menikmati liburan dengan keluarga, semoga kalian berbahagia. Selamat menikmati secangkir kopi dan juga cemilan sore"

__ADS_1


"Jika sekarang hari minggu berarti besok hari senin, jangan lupa ya, hadiah Vote. 🤣🤣🤣.


__ADS_2