
Setelah menutup sambungan telepon, Sum memasukkan ke dalam celana jins selutut. Wanita tomboy walaupun sedikit gemuk tidak menyulitkan lari nya hingga sampai di pinggir jalan.
Ia menoleh ke kiri, mobil yang membawa Bulan sudah agak menjauh. Lalu mata tajamnya menoleh ke kanan mobil yang di kendarai Ananta melaju sedang membuat Sum tidak sabar.
"Ada apa Sum? Bulan kemana?" Tara membuka kaca ketika Sumidah melambaikan tangan tanpa istrinya perasaan Tara sudah tidak tenang.
"Bulan di culik Tuan," Sum kemudian berjalan memutar berniat menyetir.
Jedeeerrrrr.
"Apa?!" bak disambar petir Tara mendengar jawaban Sum.
"Geser!" perintah Sum pada Ananta. Ananta hanya bisa mengelus dada.
"Sum, kamu tidak bercanda kan?!" Tara menganggap bahwa ini adalah mimpi.
"Sabar Tuan! Kita harus cepat mengejar mobil yang menculik Non Bulan." Sum tancap gas mengendara di atas rata-rata. Membuat Nanta yang di sebelah ngeri sendiri. Paska peristiwa kecelakaan ketika itu masih belum bisa menghilangkan rasa trauma.
"Heh! Kurangi kecepatan!" bentak Nanta.
"Hus! Lebih baik diam! Jika takut pejamkan mata!" Sum menyalip beberapa kendaraan. Tidak perduli Ananta yang nerocos.
Sementara Tara tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Ia menyesal kenapa keadaanya seperti ini? Sehingga tidak bisa melindungi istrinya. Jika saat kejadian tadi dia ada di tempat pun pasti tidak ada yang bisa di lakukan dalam kondisi kaki yang masih seperti sekarang. Pikir Tara.
"Astagfirlullah..."
Tara terus istighfar.
"Mendingan kamu foto-in mobil yang berwarna hitam di depan," sum tentu tidak ingin mobil itu sampai lolos.
"Iya-Iya" dengan cepat Ananta merogoh handphone.
"Aaagggghhh... lampu merah lagi!" teriakan Sum memukul stir membuyarkan lamunan Tara.
"Sudah di foto belum?" tanya Sum pandanganya tidak lepas dari mobil yang sudah meninggalkan mereka agak jauh.
"Belum" jawab Nanta lemas.
"Huh lama banget sih!" Sum kesal sekali.
"Sum siapa yang menculik Bulan?" tanya Tara lirih. Menghentikan percekcokan dua orang di depan.
"Saya tidak tahu Tuan, penculiknya pria pakai masker, maaf Tuan saya sudah berusaha melawan, tetapi kewalahan, karena mereka berdua," jawab Sum.
__ADS_1
Ananta hanya mendengarkan saja, tapi merasa heran dengan wanita tomboy ini. Ternyata Sum bukan art pada umumnya buktinya menjalankan mobil saja seperti pembalap professional.
"Ya Allah... bagaimana ini mobil nya sudah jauh," Sum semakin panik. Bagusnya lampu merah berganti hijau.
Tin tin tiiinn...
Sum kembali melesat mencari celah agar bisa menyalip kendaraan yang lain.
********
Sementara Bulan di dalam mobil ia diapit dua orang pria tidak bisa bicara apapun karena mulut di tutup.
Bulan hanya berdoa dalam hati agar di berikan keselamatan untuk anak dan juga dirinya. Mobil berwarna hitam itu masuk ke sebuah bangunan tua.
"Ayo turun!" bentak pria itu membuat Bulan mendelik gusar. Lenganya di tarik paksa dua pria itu dan yang satu lagi masih di dalam mobil. Bulan lebih baik mengikuti langkah pria itu jika melawan tentu khawatir bayi dalam kandungan akan mengalami sesuatu hal yang buruk.
Hingga sampai di dalam gedung tua, cat tembok sudah terkelupas yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Tampak gedung ini sudah tahuan tidak di pakai. Bulan mengedarkan pandangan jika di teliti seperti bangunan sebuah kantor sebab masih ada meja, kursi, kubikel dan fasilitas kantor lainya kecuali komputar.
"Lepaskan saya!" Bulan akhirnya bersuara. Namun tidak bisa jelas dan keras karena dengan mulut masih tertutup.
Mata Bulan membelalak kala kedua tanganya diikat di kursi oleh pria yang berwajah seram setelah membuka masker. Bulan benar-benar takut.
"Jangan bicara Nona, atau mulutmu akan saya robek!" pria itu menakut-nakuti dengan pisau.
Bulan menunduk bayi dalam kandungannya bergerak lincah membuat ia sedikit terhibur. "Semoga kita selamat Nak," gumamnya. Ketika kedua pria itu meninggalkan dirinya.
"Ya Allah... selamatkan kami!" Bulan meraup kedua telapak tangan. Ia harus kuat demi anak yang di kandungnya.
Deerrtt... Deeerrrt.
"Hallo Bang... tolong aku Ba-...
Hup
Lima menit kemudian datang seorang wanita yang tidak asing berjalan mendekatinya merebut handphone Bulan.
Prak!
Handphone Bulan di lempar wanita itu ke tembok.
"Keke?" Bulan melebarkan mata. Selama hampir empat Bulan ia merasa tenang karena tidak diganggu oleh wanita ini. Namun mengapa? Wanita ini justeru menyiksanya? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Bulan.
"Ahaha..." Keke tertawa davil. "Loe, pasti kaget dengan kehadiran gw wanita perebut!" sinis Keke.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" suara Bulan tidak jelas.
Keke mendekati Bulan lalu menarik kain pengikat mulut dengan kasar hingga Bulan hampir jatuh dari kursi jika tanganya tidak diikat.
"Apa mau kamu Keke?!" sungut Bulan.
"Mau apa loe bilang?! Selama hampir satu tahun loe boleh senang Bulan! Karena berhasil merebut Dipta dari gw!" tersirat kemarahan yang dalam di wajah Keke.
"Tapi sekarang saatnya loe harus menerima pembalasan gw! Karena loe sudah berani merebut pria yang gw cintai sejak kecil!" tandas Keke.
Keke tipikal wanita yang tidak mau mengalah, jangankan pria yang ia cintai dicintai orang lain. Hanya mainan saja tidak boleh di pinjam teman.
"Sekarang apa mau kamu Keke?" suara Bulan memelas.
"Hahaha..." Keke kembali tertawa.
"Jika gw tidak bisa bahagia, loe pun harus merasakan hal yang sama!" Keke menyeringai.
"Keke... jika aku menikah dengan Bang Tara, itu karena sudah takdir. Bukan merebut dari siapapun," Bulan mencoba berbicara halus.
"Omong kosong!" Keke mendelik gusar.
"Sekarang gw akan memberikan penawaran. Jika loe dan anak loe ingin selamat, tinggalkan Dipta, karena Dipta itu hanya gw yang berhak memiliki," Keke menyeringai.
Bulan menatap Keke yang sedang menatapnya horor. Perempuan gila! pikir Bulan. Mana ada wanita yang merelakan suaminya dimiliki wanita lain.
"Keke..."
"Jangan potong ucapkan gw, pergilah dari kota ini, maka loe dan bayi yang loe kandung akan selamat dan hidup bahagia bersama pria lain selain Dipta bukan kah Abu sangat mencintai Kamu?!" ujar Keke menyeringai licik.
"Hihihi..." Bulan terkikik untuk menyembunyikan rasa gelisah jika ia terlihat takut akan di manfaatkan oleh Keke.
"Kenapa loe malah cengengesan?!" Keke mencengkeram dagu Bulan. Membuat Bulan meringis. Namun Bulan berusaha melepas tangan Keke.
Bulan tidak menjawab ia menunduk berpikir agar bisa keluar dari tempat ini. Mana mungkin Bulan merelakan anak dan suaminya. Hanya orang bodoh yang akan melakukan itu.
"Lagian kamu ini lucu Keke! Sudah tahu jika Bang Tara tidak mau sama kamu, tapi kamu malah menghalalkan segala cara," Bulan meledek.
"Apa loe bilang?! Loe berani sama gw?!" Keke merogoh sesuatu dari pinggang.
Dooorrr.
"Bulaaaaaannnnn..."
__ADS_1
.