
Setelah subuh, Rembulan tidur kembali. Sakit kepala menyerang membuatnya malas untuk bangun. Hingga dua jam kemudian, ia membuka mata lalu mengucek. Karena sinar matahari yang masuk melalui celah papan, membuatnya silau.
Rembulan pun bangun membuka jendela yang baru dibuat Tara dua minggu yang lalu. Angin pagi terasa segar menerobos masuk ke kamar mengingatkan Bulan pada suami tercinta.
Flashback on.
"Lan, kamar ini aku kasih jendela ya, biar sekalian dipasang anak buah Pak Umar," kata Tara. Rumah ini milik Rembulan jadi harus minta ijin dulu.
"Nggak usah Bang," jawab Bulan yang sedang melipat selimut.
"Kenapa, Bulan... dengan dipasang jendela, sirkulasi udara segar akan selalu masuk. Jadi kamar ini akan selalu sehat," Tara menjelaskan.
"Iya Bang, aku tahu, tapi..." Bulan tidak melanjutkan ucapanya.
"Tapi apa?" Tara merangkul perut Bulan.
"Tapi... sudah banyak biaya yang Abang keluarkan, aku nggak enak Bang, kalau sampai kedua orang tua Abang tahu, Abang banyak mengeluarkan dana hanya untuk membantu aku," Bulan tidak ingin di tuding sebagai menantu yang serakah.
"Bayangkan saja, kalau sampai Mama Abang tahu. Abang sudah membuatkan aku kamar mandi, membeli kulkas, memberi aku banyak ua-..."
"Hup" Tara menyambar bibir istrinya memciumnya lembut. Bulan gelagapan tidak bisa melanjutkan bicara.
"Jangan katakan itu lagi Lan, aku ini suami kamu, sudah seharusnya memberi nafkah," Tara menyudahi pagugan.
"Iya, tapi kan Abang belum bekerja, masih mengandalkan uang orang tua," tandas Bulan.
"Sok tau, kamu!" Tara menyentuh hidung Renbulan. "Sini duduk," Tara mendudukan Bulan di pangkuan.
"Biar gini-gini... aku selalu bantu Papa menjual unit apartemen, salah satu bisnis properti Papa," tutur Tara.
"Masa sih, terus... bagaimana caranya, kan Abang sibuk kuliah?" dahi Bulan berkerut.
"Aku memasarkan lewat online, jika ada waktu luang, baru aku datang melakukan presentasi di perusahaan Papa, meyakinkan Customer," tutur Tara sambil memainkan rambut Bulan.
"Walaupun hanya bagian marketing apartemen. Jika aku berhasil meyakinkan customer, kemudian tertarik membeli properti milik Papa, aku selalu mendapatkan bonus dari Papa," tutur Tara. "Belum lagi aku mendapat gaji dari Papa seperti karyawan yang lain," imbuh Tara.
"Oh... jadi... Papa Abang itu berbisnis properti?" tanya Bulan. Bulan tampak semakin menciut lalu bangun dari pangkuan suaminya.
"Betul, aku selalu bekerja dengan Papa sejak SMA," jawabTara menceritakan siapa dirinya dan kedua orang tua nya.
"Jadi... intinya... nafkah yang aku berikan untukmu, itu hasil keringat aku sendiri," Tara menegaskan.
__ADS_1
"Tapi memang sih... Walaupun tabungan aku sendiri, Papa selalu mengawasi pengeluaran aku, karena Papa takut, uang itu aku gunakan untuk hal yang tidak bermanfaat," jujur Tara.
"Nah! Itukan, artinya Papa Abang, pasti terkejut dong, karena Abang menarik tabungan terlalu banyak," Bulan merasa resah.
"Jangan khawatirkan itu Lan, kamu tenang saja, aku akan jelaskan pada Papa sama Mama nanti," pungkas Tara.
Flashback off.
"Abang... dimanapun kamu berada kini aku hanya bisa berdoa, semoga Abang baik-baik saja," doa Bulan menengadah lalu meraup tanganya. Ia masih berdiri di depan jendela.
Bulan kemudian merapikan kamar, melipat selimut, mengibas-ngibas ranjang dengan lidi, lalu membersihkan karpet.
Sementara Fatimah, bergijabu seorang diri dengan panci di dapur. Sambil memasak memikirkan nasib putrinya. Sejak ayahnya meninggal, Bulan tidak pernah ceria. Baru setelah menikah, Fatimah melihat binar di mata putrinya. Namun baru satu bulan binar itu kini meredup kembali.
Fatimah menarik napas panjang.
Sebagai seorang ibu tentu Fatimah punya feeling, mengapa ia merelakan putrinya menikah dengan Tara, pria yang baru dikenal.
Karena Fatimah yakin, bahwa Tara adalah pria baik, tetapi mengapa feeling nya bisa salah? itulah yang dipikirkan Fatimah.
Jika diperhatikan, Tara bukan tipe pria pembohong. Tapi mengapa anak itu tidak menepati janji? Fatimah merasa gusar, tapi yang namanya hati manusia. Tidak selamanya lapang, bisa berbelok arah. Contohnya Udin, Fatimah tidak menyangka jika Udin sekarang menjadi pria kasar padahal awalnya anak yang santun.
Fatimah membuka kulkas ambil ayam goreng kemudian menghangatkan.
"Ibu sudah masak? maaf Bu, aku tadi ketiduran jadi nggak bisa bantu," kata Bulan merasa bersalah.
"Nggak apa-apa... bagaimana? Kepala kamu masih sakit?" Fatimah menatap wajah Bulan agak pucat.
"Sudah lebih baik Bu, aku mandi dulu ya,"
"Ya sudah... selesai mandi terus sarapan," jawab Fatimah.
"Oh iya Bulan, sebaiknya kamu pakai air hangat, biar sakit kepala kamu tidak tambah parah," tidak menunggu jawaban Bulan Fatimah mengangkat air dalam panci. Membawanya ke belakang rumah dimana Bulan akan mandi.
"Biar aku saja Bu,"
"Sudah sana, kamu siapkan ember," titah Fatimah.
********
Sementara di Jakarta, suasana sarapan pagi di meja makan terasa sunyi. Maya hanya mengaduk-aduk nasi dalam piring.
__ADS_1
"Makan May... kok malah di aduk-aduk terus," rupanya Bisma memperhatikan istrinya walaupun posisi menunduk, disela-sela mengunyah.
"Mana bisa ketelan Pa, sementara anak kita masih belum sadar juga," Maya bersedih.
"Aku tahu May... tapi kalau kita ikutan tidak makan, lantas kita saki juga, semua akan tumbang, lalu siapa yang akan meperhatikan Dipta," kali ini Bisma berkata panjang. Menatap pipi istrinya yang semakin tirus.
Mendengar nasehat suami, Maya terpaksa menyuap.
"Selamat pagi Tante Maya... Om Bisma..." gadis berambut pirang karena diwarnai, dan masih banyak bekas luka di wajah tersenyum kepada Maya.
Baru satu suap Maya meletakkan sendok kembali. Menatap tamu yang datang.
"Selamat pagi Ke, kamu sudah sembuh?" tanya Maya.
"Sudah lebih baik Tan, walaupun badan masih terasa sakit, dan ini bekas luka masih banyak," Keke menunjukkan bekas luka di lengan dan kaki.
Yah... diantara korban yang selamat, kini Keke masih di berikan kesempatan untuk hidup.
"Duduk Ke, kita sarapan bersama," Maya menunjuk kursi.
Keke pun menurut, pandanganya tertuju ke arah Bisma yang masih menikmati sarapan seperti tidak perduli dengan kehadiran Keke.
"Ayo Ke, mau sarapan apa?" tanya Maya memecah kebisuan.
"Terimakasih Tan, sudah sarapan di rumah tadi," jawab Keke. Kembali melirik Bisma masih dalam mode awal.
"Kamu dari rumah, atau darimana Ke? Kok tumben, pagi-pagi sudah ke sini," Maya merasa heran.
"Ini Tan, Keke kan mau kontrol, sekalian biar hari ini saya yang jagain Dipta kasihan Tante, pasti capek, sebaiknya Tante istirahat," Keke memegangi lengan Maya.
"Terimakasih Ke, kamu sendiri kan belum sehat benar, kalau mau menjenguk sih boleh, tapi kalau untuk menunggui biar Tante saja," tolak Maya lembut.
Sebab Maya harus menyeka Tara, dan juga mengganti pakaiannya. Tentu tidak bisa di wakilkan kecuali Maya sendiri atau bibi.
"Oh gitu... sekarang yang menemani Dipta siapa Tan?"
"Bibi," jawab Maya pendek.
"May... kalau kamu ngobrol terus... kapan kamu mau makan!" ketus Bisma, Menyudahi obrolan, karena takut dengan tatapan suaminya yang tampak kesal. Maya terpaksa makan, walaupun hanya sedikit.
...Bersambung....
__ADS_1