
Sahabat yang sempat hilang kini telah kembali. Mereka pulang sambil mengenang masa-masa yang indah ketika di sekolah. Kadang mengundang gelak tawa diantara mereka. Sejenak membuat Bulan melupakan kepedihan hati ketika sedang dirundung masalah peliknya rumah tangga. Sahabat yang sesungguhnya adalah seseorang yang berarti untuk sahabat itu sendiri.
"Kalian sudah pulang?" tanya Fatimah ketika Bulan dan Udin mengucap salam kemudian masuk ke kontrakan.
"Sudah Bu," Bulan pun duduk di samping Fatimah. Tanpa aba-aba merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu.
Sementara Udin segera mandi.
"Bulan..." Fatimah mengusap kening Bulan sayang.
"Ada apa Bu," Bulan memandang wajah Fatimah. Momen seperti inilah yang selalu Bulan rindukan.
"Kamu baru pergi seminggu loh Nak, kenapa badanmu kurus?" Fatimah menunduk memandangi putrinya tampak sedih.
Bulan memejamkan mata, menandakan tak sanggup menatap kesedihan sang Ibu.
"Aku tidak apa-apa Bu," jawab Bulan. Namun Fatimah tidak bisa dibohongi bahwa putrinya benar baik-baik saja.
"Coba buka mata kamu Nak,"
Bulan membuka mata. Menatap sendu sang Ibu.
"Cerita sama ibu, apa penyakit suami kamu parah sekali Nak?" Fatimah mengira jika kesedihan Bulan hanya semata-mata kelumpuhan yang di derita menantunya. Padahal banyak sekali yang Bulan rasakan.
Bulan menarik napas panjang. "Bu, aku sedih, Bang Tara lumpuh dan entah sampai kapan akan sembuh," Bulan menahan genangan air mata jangan sampai menetes.
"Sabar ya Nak, yang penting kamu harus tulus ikhlas merawat suami kamu, InsyaAllah penyakitnya akan segera di angkat,"
"Aamiin..." Bulan meraup wajahnya.
"Bu boleh ya, malam ini aku menginap disini," rengek Bulan seperti anak kecil.
"Bukan Ibu tidak boleh Bulan, tapi kamu kan sudah punya suami, bagaimana kalau suami kamu menunggu, nanti dikira Ibu yang menahan kamu disini Nak," jawab Fatimah diplomatis.
"Bu... kan hanya semalam, aku ingin tidur sama ibu, sekali... saja," Bulan menatap Fatimah memohon.
Fatimah mengangguk terpaksa mengalah. Fatimah tahu pasti anaknya sedang banyak masalah yang ia hadapi.
"Bu, Bulan tadi pengen mangga muda di ujung jalan sana, tapi saya mau minta sama pemiliknya, Bulan nggak boleh," Kata Udin yang baru saja selesai mandi ikut bergabung bersama mereka.
"Mangga muda?" Fatimah terkejut.
__ADS_1
"Udin... malu kali, masa nggak kenal tiba-tiba minta mangga, kapan- kapan saja, beli ke pasar," Bulan memotong ucapan Fatimah.
"Bulan... kamu hamil kali Nak," kata Fatimah.
"Hamil?" Bulan mendadak bangun dari pangkuan Fatimah, di usapnya perut rata miliknya.
"Masa hamil sih Bu," sanggah Bulan.
"Memang kenapa, kalau kamu hamil? Kamu kan menikah sudah hampir 4 bulan, wajar Lan, kalau kamu hamil," Fatimah memandangi perut Bulan tersenyum senang. Jika benar Bulan hamil kebahagiaannya akan semakin lengkap, sebentar lagi akan menimang cucu.
Bulan tidak menyahut entah apa yang Bulan pikirkan.
"Pakai tespek saja Lan, aku kemarin banyak melayani pembeli. Terus aku tanya sama teman kerja, alat itu intuk apa, eh katanya untuk check kehamilan," tutur Udin. Tampak malu-malu.
"Udin... kamu ini! Aku mau mandi dulu," Bulan segera kebelakang ambil handuk kemudian ke kamar mandi.
********
Malam harinya, Bumantara merasa kebingungan, kerena Bulan belum juga pulang. Ia berpikir kenapa Bulan tidak memikirkan dirinya sampai hati meninggalkan dia sendiri.
"Bibi nggak menyimpan nomor hp Bulan?" tanya Tara pada akhirnya.
"Nggak Tuan, saya lupa tanya," lirih bibi matanya sudah 5 watt. Sebab biasanya jika jam 10 bibi sudah bermimpi.
"Biar saja Tuan... biar Bulan menenangkan diri," bibi dalam hatinya tertawa. Bukan berarti merasa senang jika Tara menderita. Namun biar tuan nya ini merasakan jika diacuhkan itu tidak enak.
"Cek, kok bibi malah bicara begitu sih?" Tara merasa kesal.
"Hehehe... Tuan ini lucu, pokoknya saran bibi... kalau Bulan besok sudah sampai, cepat minta maaf dan bersikaplah layaknya suami terhadap istri." bibi menasehati Tara seperti anaknya sendiri.
"Bagaimana mau bersikap sebagai suami sih Bi, aku kan lumpuh," keluh Tara.
"Bukan begitu maksud bibi teh, Tuan pasti tahu apa yang harus Tuan lakukan," imbuh bibi.
"Lebih baik kita tidur Tuan," pungkas bibi. Malam ini bibi tidur di kursi sofa.
Atas perintah Maya bibi seharian ini tidak meninggalkan kamar Tara, khawatir Keke ambil kesempatan.
Walaupun biasanya Tara tidur hanya sendiri, tetapi selalu ada Maya yang mengawasi. Tentu Keke tidak akan berani macam-macam.
Bibi merasa aneh sama Maya, ia mengijinkan Keke tinggal di rumahnya. Padahal Maya sendiri tahu jika Keke bisa saja memperkosa putranya.
__ADS_1
Bibi bingung dengan pikiran orang-orang di rumah ini. Tara selalu marah-marah, Bisma terlalu diam, dan cuek hingga tampak seperti robot.
Bibi beranjak dari tidurnya memeriksa Tara jika sudah diam begini, pasti sudah tidur. Dan benar saja, ternyata tuan nya sudah mendengkur halus.
Bibi merasa haus, kemudian keluar kamar hendak ambil minum ke meja makan.
******
Di dalam kamar, Keke malam ini dandan habis-habisan. Ia mengamati wajahnya di depan kaca.
Gaun malam tanpa lengan menyerupai lingerie, panjang selutut, berwarna coklat pasta menampilkan bagian dada, hingga gunung kembarnya terekspos sebagian.
"Dipta... malam ini kamu harus jadi milikku. Hahaha... malam ini malam keberuntungan kamu Keke. Manusia ice batu itu tidak ada, Maya pun juga tidak ada, Bulan sudah minggat. Sumidah? Sudah dalam genggaman aku, tinggal bibi wanita tua itu hanya ibarat semut di injak lalu kriees... mati! Hahaha..."
Srot... sroot... sroot..." minyak wangi kelas mewah penyempurnaan penampilannya. Ia memutar tubuhnya di depan kaca, sesekali memainkan bibir yang sudah di hias dengan perona merah.
"Syaa... lala, lalaaa... liii li li li liiii... bum bum buum.... cus cus cus... dam! dam! dam..." ia menyanyi dan menari seperti balerina
"Cabuuuutttt..." ucapnya sejak sore gadis seksi itu selalu berbicara sendiri.
Ia jalan menggoyangkan pinggangnya yang seperti gitar, tampak aduh haii. Jalan percaya diri tangan mulusnya membuka pintu kamar tamu yang biasa ia tiduri, kemudian berjalan menuju kamar Tara.
Ia tidak tahu jika bibi yang sedang di meja makan ambil minum memperhatikan gerak gerik Keke. Pakaian yang ia kenakan membuat mata bibi melebar. Bibi tahu pasti yang akan di tuju Keke adalah kamar Tara.
"Astagfirlullah..." bibi istighfar.
"Awas kamu gadis genit! Kerjain aahh..." bibi tersenyum. Ide cerdik nya muncul. Sebelum Keke mendekat, bibi segera kembali ke kamar Tara.
Satu menit kemudian, keke sampai di meja makan. Suasana tampak sepi. Ia mengamati gelas dan memegang gelas tersebut ternyata masih hangat.
"Ada siapa ya? Tidak mungkin kan ART minum di meja makan? Ah masa bodo. Keke membatin.
Berjalan jinjit, sejenak berdiri di depan kamar Tara sebelum membuka pintu, ia masih memastikan bahwa penampilannya ok.
Tanganya mendorong handle pintu senyumnya mengembang karena memang kamar Tara tidak pernah di kunci khawatir membutuhkan sesuatu.
Ceklak.
Biyuuuuurrr....
"Tidaaakkk..." pekik Keke. Ternyata bukan kebahagiaan yang gadis itu dapat. Namun derita malam. Air sabun mengguyur tubuhnya.
__ADS_1
*
...Happy reading....