Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Kecewa.


__ADS_3

"Permisi" pria yang berpenampilan rapi itu mengulas senyum.


"Tuan... ada yang bisa saya bantu?" tanya Udin. Sedangkan Bulan hanya memperhatikan saja percakapan mereka.


"Nyonya Fatimah ada?" tanya pria berambut klimis, membuat Bulan tertegun mengapa Ibunya bisa mengenal pria itu, apakah Dia seorang pelanggan warung? Bulan bertanya-tanya dalam hati.


"Ada, silahkan masuk," titah Udin.


Pria itu pun masuk sementara Bulan bersama Udin, masih berdiri di depan etalase.


"Siapa pria tadi Din?" tanya Bulan penasaran.


"Nggak tahu Lan, aku sama Ibu ketemu beliau di toko grosir ketika kami belanja, terus beliau mengantar kami pulang, awalnya Ibu menolak dengan tegas, tapi aku ikut membujuk Ibu agar menerima tawaran Dia, kapan lagi numpang mobil mewah. Ahahaha," Udin tertawa.


"Ihh! Dasar norak," Bulan mendorong dahi Udin dengan telunjuk. Namun Udin hanya tertawa.


Bulan kesal bagaimana jika pria itu pria jahat, tentu Bulan tidak mau Fatimah terjadi yang tidak di inginkan. Bulan meninggalkan Udin hendak bergabung dengan suaminya namun sebelumnya Bulan ke dapur membuat satu gelas lagi minuman untuk tamu.


********


"Permisi..." Pria itu kembali menyapa Fatimah yang sedang ngobrol bersama Abu dan menantunya.


"Pak Han?" Tara dan Fatimah terkejut.


"Loh Dipta? Kamu disini?" pria yang dipanggil Han itu pun tak kalah terkejut.


"Kenalkan Pak Han! Tara ini menantu saya," kata Fatimah. "Tapi kok nak Tara bisa kenal dengan Pak Handoko?" Fatimah merasa aneh.


"Pak Han ini, salah satu investor yang membeli apartemen kami Bu" Tara menjelaskan.


Handoko memang mempunyai beberapa apartemen. Salah satunya tidak jauh dari toko dimana Fatimah belanja. Apartemen tersebut ia sewakan tentu mendapatkan keuntungan berlipat.


"Oh... Jadi Mbak Fatimah sudah punya menantu?" tanya Handoko terkejut. Han pikir Fatimah anaknya masih kecil-kecil.


"Sudah Pak, ini anak saya," Fatimah mengenalkan rembulan yang baru ke luar membawa nampan.


"Handoko," pria itu mengulurkan tangan.


"Rembulan," Bulan hanya menangkupkan telapak tangan.


"Jika boleh tahu? Apa tujuan Pak Han datang kesini? Apakah sudah berjanji bertemu dengan menantu saya?" sela Fatimah.

__ADS_1


Handoko diam menatap Tara dan juga Rembulan. "Sebenarnya saya mempunyai kepentingan dengan Mbak Fatimah, tetapi saya kira saat ini tidaklah tepat," jawab Handoko mengurungkan niatnya.


"Tuan Dipta, bagaimana keadaan kaki Anda, apakah sudah lebih baik?" Handoko mengalihkan pembicaraan kemudian meneliti kaki Tara.


"Sudah lebih baik Pak," Tara tersenyum. Ia pikir kedatangan Han kemari karena ingin bertemu Bulan istrinya. Namun dugaannya salah. Awalnya Tara sempat cemburu, tetapi setelah melihat interaksi Han dengan Bulan biasa saja, Tara merasa lega.


Handoko pun akhirnya pamit pulang.


"Ibu ada masalah apa dengan Pak Han? Jangan-jangan... Ibu punya hutang sama Dia," tebak Bulan.


"Ibu nggak tahu Lan, mana pernah Ibu punya hutang sama orang, kamu tuh ada-ada saja deh!" jawab Fatimah. Fatimah sendiri pun bingung apa tujuan Handoko datang ke kontrakan.


"Kalau dilihat dari tatapan Pak Han, sepertinya beliau menaruh hati sama Ibu," Abu berpendapat.


"Apa?!" Fatimah terperangah.


"Sama Kak, aku juga mikirnya begitu," Udin menyambung obrolan. Ia sudah tahu sejak pertama kali bertemu. Sebagai seorang pria tentu Udin tahu tatapan seorang pria yang menaruh hati.


"Tunggu! Tunggu!" Bulan menghentikan obrolan. "Jika memang benar, aku tidak akan melarang jika Ibu menikah lagi, tetapi apakah pria yadi tidak mempunyai istri?" Bulan tentu tidak ingin ibu nya menjadi istri kedua.


"Kalian ini pada bicara apa! Sih!" sungut Fatimah. "Katanya kalian kemari mau menjemput ibu, sekarang kita berangkat," Fatimah menutup pembicaraan.


"Bu, aku boleh ikut ya" Udin mengejar Fatimah. Fatimah


"Boleh Din, kami bawa mobil Papa yang lebih besar kok," jawab Tara. Sebelum berangkat papa bisma menyarankan agar Tara menggunakan mobil miliknya.


"Berarti aku duluan Lan, mau panaskan mobil," Abu berdiri setelah menghabiskan teh.


Bulan hanya mengangguk. Ia merenung masih memikirkan pria yang akan berbicara secara pribadi dengan sang Ibu. Apakah yang akan pria itu bicarakan?


"Bulan... kok kamu merenung," Tara mengusap kepala istrinya.


"Bang. Abang kan tahu, siapa Handoko? Berarti tahun juga dong, Handoko itu punya istri atau tidak?" selidik Bulan menunggu Fatimah dan Udin siap-siap. Bulan pun mencari tahu siapa Handoko.


"Aku nggak tahu Lan, ketika kami sedang berbisnis tidak pernah menanyakan internal keluarga mereka," jawab Tara memang benar adanya.


"Sudah... jangan terlalu dipikirkan," Tara mengakhiri obrolan karena Udin dan Fatimah sudah siap berangkat.


Mereka pun segera berangkat karena mobil sudah di panaskan oleh Abu. Di dalam mobil Udin lah yang bangak bicara. Hingga akhirnya sampailah mereka di tempat yang di tuju.


*******

__ADS_1


"Jadi begini Mbak Fatimah, kami bermaksud mengadakan acara syukuran 4 bulan kehamilan Rembulan," Maya menuturkan maksud dan tujuannya.


"Saya setuju saja Bu," Fatimah menjawab.


"Awalnya kami ingin mengadakan resepsi Mbak, tapi rupanya Bulan menolak," jujur Maya. Maya dengan Bisma awalnya sudah membujuk Bulan. Tetapi Bulan tidak ingin aneh-aneh. Sudah diakui sebagai menantu oleh keluarga besar Bisma saja sudah merupakan satu kehormatan baginya.


Sedangkan Bisma hanya diam saja, mendengarkan obrolan Maya dan Fatimah. Sebab ia sudah mewakilkan Maya untuk bicara.


Bisma bermaksud mengundang rekan-rekan bisnis. Selain ingin mengenalkan Rembulan kepada mereka. Juga berniat mengundang anak-anak yatim sebagai rasa syukur atas segala rezeki bukan hanya berbentuk harta mamun juga bayi yang di kandung Rembulan.


"Menurut saya, apa yang dikatakan Bulan benar Bu Maya," Fatimah berpikir jika mengadakan resepsi yang ada putrinya terlalu capek dan justru akan mempengaruhi bayi dalam kandungan.


Setelah sepakat Fatimah dan Udin kembali pulang diantar Abu.


*******


Malam harinya Bisma di ruang kerja menerima telepon dari salah satu investor membatalkan pembelian apartemen yang baru selesai di bangun di kota S.


"Ada apa Pa?" Tara menangkap kekecewaan di wajah Bisma setelah menyudahi pembicaraan di telepon.


"Papa merasa aneh Dip, baru kali ini ada investor membatalkan pembelian apartemen, padahal sudah tanda tangan" kata Bisma gusar.


"Alasannya apa Pa?" Tara pun kecewa sebab proyek ini miliknya.


"Ada salah satu pemilik properti yang menawarkan harga lebih murah Dip, bahkan harganya jauh di bawah harga yang sudah di tentukan kota tersebut," Bisma sambil berpikir siapa yang sudah berani merusak pasar. Padahal harga yang ditawarkan Bisma sesuai harga setandar.


"Berarti kita coba menawarkan harga yang lebih murah lagi Pa," jawab Tara enteng.


"Cek! Kamu ini! Bisnis properti bukan seperti bisnis minyak sayur Dip, bisa kita turunkan sewaktu-waktu," jawab Bisma. Tentu Bisma tidak bisa melepas harga asal. Harus sesuai dengan material yang sudah ia keluarkan.


"Papa..." Maya masuk ke ruang kerja dengan tergesa-gesa.


"Ada apa May?" tanya Bisma. Tara pun ikut menoleh.


"Para penyewa apartemen milik Tara yang di dekat kampus semuanya membatalkan kontrak Pa," Maya berkaca-kaca mengingat mereka saat ini sedang butuh banyak biaya untuk Tara berobat.


"Ada apa lagi ini?!" Bisma menjambak rambutnya gusar.


"Mama tahu darimana?" Tara pun tak kalah syok. Padahal ia sudah nego harga tanah kepada pemilik tanah yang berada di perkampuan dekat kontrakan Fatimah. Dan tanah itu akan Tara hadiahkan untuk Rembulan.


"Coba lihat group penyewa Apartemen milik kamu Dip," titah Maya.

__ADS_1


"Astagfirlullah..." Tara hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


.


__ADS_2