Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Ratu Bohong.


__ADS_3

"Dipta... kamu kenapa?" tanya Keke mengusap punggung tangan Tara. Tara menyingkirkan tangan Keke, menatap nyalang ke arah Gavin yang sedang panik karena dahi Bulan berdarah.


"Kamu bisa nyetir nggak! Gavin?!" bentaknya. Padahal Tara yang membuat Gavin terlonjak kaget, hingga hampir saja menyebabkan kecelakaan, tapi Tara justru marah kepadanya.


"Brak! Brak! Brak!


Pengendara sepeda motor menggebrak-gebrak mobil Tara, yang dikendarai Gavin.


Gavin menurunkan kaca mobil.


"Mau mati loe?! Kalau bosan hidup! Jangan ajak orang lain!" pengendara motor tampak emosi. Tidak hanya itu, pengendara mobil yang lain pun memarahi Gavin.


"Maaf," Gavin menangkupkan telapak tangan di depan dada. Jalanan pun kembali lancar karena Gavin segera minta maaf.


"Bulan... maaf, saya kaget, jadi ngerem mendadak," Gavin menoleh Tara yang sedang melempar tatapan sinis kepadanya. Gavin tidak berani berkata apapun.


"Astagfirlullah... dahi kamu keluar darah banyak Bulan." Gavin menatap Bulan yang meringis menutup dahinya dengan telapak tangan, bingung apa yang harus ia lakukan.


Sedangkan Tara merasa bersalah, karena tidak bisa mengontrol emosi menyebabkan istrinya terluka.


Gavin meminggirkan mobil. Bagusnya tidak mengalami tabrakan beruntun. Ia segera membuka laci mobil ambil P3K.


"Maaf Tuan, saya terpaksa berhenti sebentar," ucap Gavin, sambil membersihkan darah Bulan, dengan kapas.


Tara ingin rasanya berjalan dan mengobati luka Bulan, tapi ia tidak berdaya. Hanya bisa memandangi Gavin yang tulus memperhatikan istrinya. Sebenarnya Tara tidak rela istrinya di rawat pria lain. Ia gelisah, bersandar di jok berkali-kali menarik napas berat.


"Masih sakit Bulan?" tanya Gavin. Setelah selesai mengobati luka Bulan.


"Masih perih sedikit, terimakasih Pak Gavin," Bulan tersenyum menatap Gavin, walaupun sebenarnya masih terasa nyut-nyutan Bulan menyembunyikan.


Melihat senyum Bulan, membuat dada Gavin berdebar kencang.


"Sudahlah Vin, drama amat, jangan kelamaan, jadwal kontrol kan jam 10," kata Keke tidak punya perasaan.


"Kamu ini Ke, nggak punya perasaan, Bulan lagi sakit juga! Tenang saja sih, sekarang masih jam delapan kok," Gavin pun merasa kesal. Di marahi sana sini.


"Halah... paling memar sedikit doang, jangan lebai," sungut Keke. Ia kesal sebab sejak tadi Tara memperhatikan istrinya terus.


"Jalan Pak Gavin, saya sudah tidak apa-apa," pungkas Bulan.


Gavin pun kembali menjalankan mobil ke rumah sakit.


*******


Di kontrakan ibu Fatimah.


Dok! Dok! Dok.


Udin memasang kayu panjang untuk menggantung dagangan berupa kopi, snek rencengan, dan yang lainya.

__ADS_1


Sudah dua hari, Udin tinggal di kontrakan Fatimah. Fatimah melihat ketulusan hati Udin, sungguh-sungguh bertaubat. Fatimah pun memaafkan.


"Udin... kamu minum dulu teh nya, dari pagi kamu belum minum maupaun sarapan loh," Fatimah mengingatkan.


"Bentar Bu, tanggung," jawab Udin yang sedang nangkring di atas tangga. Pensil yang terselip di telinga. Memegang palu dan paku.


Setelah shalat subuh tadi, Udin tidak membiarkan Fatimah memegang pekerjaan. Pria eksotis kulit hitam manis itu, menyapu, mengepel, kecuali memasak. Udin tidak bisa melakukannya.


"Ini Udin susun ya Bu" kata Udin. Setelah selesai membuat gantungan dagangan, ia membuka kardus hendak menyusun di etalase.


"Nanti saja, sekarang sarapan dulu, baru nanti kita lanjutkan," kata Fatimah menghampiri Udin.


"Baik Bu," Udin segera menggelar tikar di lantai.


Fatimah membawa nasi goreng, yang sudah matang ia tuang menjadi dua piring, kemudian membawanya kedepan meletakkan di tikar.


"Sekarang kita sarapan," Ujar Fatimah.


"Waah... ibu kalau memasak selalu enak," puji Udin, setelah menyuap satu sendok. "Krauk, krauk, krauk" Suara kerupuk dari mulut Udin. "Srupuuut," meneguk teh. 🤣🤣🤣.


"Biasa saja, Din," Fatimah rersenyum, melihat Udin tampak menikmati nasi goreng buatanya. Dari kemarin setiap disuruh makan, jawaban Udin selalu "Masih kenyang Bu," ternyata hanya malu.


Mereka sarapan nasi goreng, lalap timun dan kerupuk.


"Bu, tujuan Udin kesini, selain mau minta maaf sama Ibu, dan Bulan. Udin juga dapat panggilan kerja," tutur Udin selesai makan.


"Di kontrakan sebelah, ada yang kosong nggak ya?" Udin berniat kontrak rumah sendiri. Tidak ingin merepotkan Fatimah terlalu lama.


"Di apotek Bu, Alhamdulillah... sesuai jurusan," Udin tampak senang.


"Terus... kapan mulai kerja?"


"Hari senin Bu," Udin menyeruput teh setelah makan nasgor minum teh hangat sungguh nikmat.


"Syukurlah Nak. Ibu senang mendengarnya, masalah kontrakan sebelum kamu dapat gaji, tinggal disini saja dulu," saran Fatimah.


"Tapi Bu" Udin merasa gelisah memikirkan sesuatu.


"Kenapa Udin? Ibu senang kok, kamu menemani Ibu disini,"


"Tapi, hari minggu besok, Bulan pulang ya?" Udin merasa takut berhadapan dengannya. Entah harus mulai darimana menjelaskan pada sahabatnya tentang kelakuan buruknya.


"Udin... Ibu perhatikan, kamu tidak suka kalau Bulan Pulang,"


"Bukan Bu," Udin memotong kata-kata Fatimah.


"Udin takut Bu, pasti Bulan akan marah, dan mengusir Udin dari sini." terlukis kekhawatiran di mata Udin.


"Udin... kamu ini kan laki-laki, harus berani bertanggungjawab apa yang sudah kamu perbuat," nasehat Fatimah.

__ADS_1


"Ibu Benar," Udin pun tampak berpikir. Apapun yang akan di lakukan Bulan terhadapnya. Ia harus terima konsekuensinya.


"Tapi Ibu nggak yakin Din, kalau Bulan akan pulang,"


"Memangnya kenapa Bu?"


"Kamu tahu nggak Din, yang dirawat Bulan itu, sebenarnya suaminya sendiri,"


"Apa? Kok bisa Bu?" Mata Udin melebar.


"Allah itu maha kuasa atas segala sesuatu Din, semua terjadi atas rencana Nya. Tidak usah berpikir terlalu jauh, nyatanya saat ibu sedang tinggal disini sendiri pun. Allah menggerakkan kaki kamu untuk datang kesini," tutur Fatimah.


"Benar Bu, dan ternyata kepergian Bulan dengan Ibu kesini, membuat Udin sangat kehilangan, dan Udin merasa bersalah karena sudah melakukan perbuatan yang tidak benar." Udin menunduk sedih.


"Sudahlah Nak, yang sudah ya sudah, kita diperbaiki semuanya. Kamu masih muda, jangan gunakan masa remaja kamu untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum islam maupun negara Nak," Fatimah mengusap pundak Udin.


********


"Tadi dokter berkata apa May, mengenai kesehatan Dipta?" tanya Bisma saat ini sedang menunggu Tara di meja makan.


Saat Tara diperiksa, Maya di antar supir menyempatkan diri berkonsultasi dengan dokter yang menangani Tara.


"Alhamdulillah Pa, menurut dokter, perkembangan psikologis anak kita selama seminggu ini membaik. Terus, kaki Dipta juga sudah bisa di gerakkan," tutur Maya tersenyum senang.


"Pasti ini karena Bulan sungguh-sungguh merawat Dipta Pa, selain memberi obat-obatan tradisional, Bulan juga tahu makanan yang baik dan mempercepat kesembuhan, anak kita,"


Benturan keras di kepala Tara, mengakibatkan cedera gangguan fungsi otak, dan memicu kelumpuhan di kaki. Setelah sadar dari koma, Tara sudah melakukan operasi.


Bisma hanya mengangguk-angguk.


Sedangkan Keke menahan rasa marah mendengarkan pujian Maya terhadap Rembulan.


"Selamat Malam, Tuan... Nyonya..." Bulan menganggukan kepala sopan.


"Malam" Maya yang menjawab. Bisma hanya melirik sekilas. Sementara Keke menatap Bulan sengit.


"Bulan... dahi kamu kenapa Nak?" tanya Maya terkejut, menatap dahi Bulan yang di plester.


Bulan mendorong roda ke meja makan mengantar Tara hendak makan malam bersama.


"Tadi ada kecelakaan kecil Nyonya, saya kurang hati-hati, jadi membentur dashboard mobil." kata Bulan.


"Bohong Ma! Tadi saat Gavin sedang menyetir, Bulan kecentilan godain Gavin, jadi Gavin hampir nabrak!" Potong Keke.


Bisma dan Maya pun melempar pandang ke arah Keke.


Bulan terkejut akan jawaban Keke ternyata Keke ratu bohong.


******

__ADS_1


...Happy reading....


__ADS_2