Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Tidak Diperbolehkan Masuk.


__ADS_3

"Brengsek..." umpat Keke kala mendorong pintu kamar Tara ternyata dikunci.


"Akan gue pastikan loe! Bakal mati membusuk! Terkurung selamanya di gudang itu! Nenek tua!" Keke meninju angin. Wanita bertampang galak itu pun menyingkir dari depan kamar Tara.


*******


Cintaku hanya kamu.


Cinta merah. Merah jambu.


Rinduku hanya kamu


Rindu hangat. Hangat kuku.🎵


Di dalam kamar, Sumidah bernyanyi dangdut, sambil menyimpan uang pemberian Keke.


"Maaf Bi, aku terpaksa melakukan ini, sebab jika tidak, aku tidak bisa membantu ibu menyekolahkan adik-adik," gumam Sumidah.


"Sumidaaaahh..." pekik Keke di depan kamar Sumidah.


Sumidah terkejut segera menutup lemari. "Iya Nona..." Sumidah terburu-buru keluar dari kamar.


"Kamu ngapain! Di kamar terus?!" bentaknya matanya mendelik gusar.


Sumidah menunduk ketakutan meremas kedua tanganya. Di dalam kamar tadi dia boleh senang karena menghitung pecahan uang merah dan biru. Tetapi saat ini ia tinggal menerima nasip untuk sasaran kemarahan Keke.


"Cepat buat masakan, saya lapar!" sungut nya, kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi meja makan sambil telepon seseorang.


"Baik Non," Sumidah segera membuka penutup saji, namun tidak ada masakan sama sekali. Biasanya bibi yang memasak, tetapi saat ini bibi sedang dikurung.


Jika ditanya "lapar? sudah pasti Sumi pun perutnya keroncongan. Tetapi, saat ini tidak ada yang bisa buat ganjal perut.


Sumidah membuka kulkas, berdiri di depannya. Mengamati bermacam-macam stok sayur, dan juga lauk. Tetapi Sumi bingung entah mau memasak apa. Selama ini dia belum pernah memasak. Jika diajari bibi, pasti banyak alasan untuk menolak.


"Sumidaaah... cepaaattt!" Keke menoleh Sumi yang hanya bengong di depan kulkas kembali berteriak.


"Iya Nona, tapi saya tidak bisa memasak," Sumi gemetar.


"Dasar bodoh! Bisanya apa kamu?!" Keke menatap Sumidah geram.


"Hanya nasi goreng Non," lirih Sumidah.


"Dasar nggak guna! Cepat masak!" Sarkas Keke kemudian kembali memainkan ponsel.


"Baik Non," Sumidah meracik bumbu nasi goreng, menumbuknya hingga halus kemudian menumis.


"Hiacih" Keke gosok-gosok hidung karena bau pedas membuatnya bersin-bersin.

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk! Huacih!" Keke terus menerus bersin maupun batuk.


"Kamu masak nasi goreng bumbunya apa Sum?!" Keke menatap Sumidah yang sedang mengaduk nasi goreng.


"Hanya cabe, bawang Non," jawab Sumi. Selama memasak perasaan Sumi seperti sedang terjebak di hutan, lalu ditunggu macam pula.


Nasi goreng pun akhirnya matang. Sumi meletakan ke dalam piring kemudian menghidangkan di depan Keke.


"Telur ceploknya mana?" kali ini Keke bicaranya sudah agak pelan.


"Oh iya lupa," tanpa membantah, Sumi menceplok telur.


Pletok pletok


"Aow" minyak pun muncrat ke wajah Sumi.


"Hiks. Dosa apa aku..." gumam Sumi menahan rasa panas di wajah. Tidak Sumi sadari dosa yang sudah dia perbuat cukup banyak. Dengan meringis karena menahan panas ia segera meletakkan telur di piring.


"Ini telurnya Non,"


"Timun sama tomat mana!" perintah Keke tidak menatap Sumi.


Sumi pun beranjak mengambil dua macam buah tersebut yang sudah dicuci oleh bibi memberikan kepada Keke.


Keke menyuap nasi goreng yang pertama kali segera melepeh nya kembali.


"Oh maaf Non, perasaan tadi cabe nya hanya 10 butir," Sumi berdiri di samping Keke.


"Dasar nggak becus!" Keke melenggang pergi masuk ke dalam kamar, meninggalkan nasi goreng.


"Ah... lumayan..." Sumi bukanya marah, tapi justeru menyantap nasi goreng. Walaupun sangat pedas karena Sumi memang setan cabe, tidak masalah.


Teng tong. Teng tong.


Suara bel rumah. Keke segera kembali keluar.


"Sum lihat siapa tamu di depan, jika Bulan yang datang, jangan di bukain pintu! Ngerti!" Keke menunjuk wajah Sumi.


"Baik Non," Sumi segera ke depan mengintip dari gorden sedikit, ternyata memang Bulan dan Gavin tamunya.


********


"Pak Gavin, kok nggak ada yang buka pintu? Apa nggak ada orang ya?" tanya Bulan. Sudah beberapa kali memencet bel namun tidak dibuka ia merasa panik.


"Nggak mungkin pergi Bulan, kalau pergi terus kemana?" Gavin tidak yakin. Sebab selama Dipta sakit, tidak pernah ke mana-mana, biasanya jika pergi pun hanya ke rumah sakit saja, dan saat ini belum waktunya kontrol.


"Terus bagaimana ini Pak? Kasihan Bang Tara, pasti belum mandi, belum makan," Bulan terus menerus kepikiran. Sengaja ia datang pagi-pagi sekali agar segera bisa mengurus suaminya. Namun mengapa rintangan banyak sekali.

__ADS_1


"Bang Tara?" tanya Gavin terkejut karena panggilan Bulan terhadap Dipta.


"Maksud saya, Tuan Dipta," Bulan meralat ucapannya.


"Pak, tolong coba telepon Tuan Dipta, saya nggak tahu nomornya soalnya," Bulan lupa tidak minta nomor suaminya, sebab waktu berangkat dalam keadaan kesal.


"Ok!" Gavin memencet tombol memanggil Tara. Namun tidak di angkat.


"Mungkin masih tidur kali Lan," Gavin masih terus mencoba menghubungi.


"Mungkin juga Pak, tapi bibi sama Sumi kan harusnya ada," Bulan semakin khawatir memikirkan suaminya. Padahal matahari sudah menampakkan sinar nya.


"Biar saya memanjat pagar saja, Lan," Gavin menitipkan hp pada Bulan kemudian menggulung celana panjang nya.


"Pak Gavin yakin?" Bulan terkejut.


"Kenapa tidak?" tanpa bicara lagi Gavin memanjat pagar.


********


Di dalam gudang bibi tampak santai, walaupun di sekap. Wanita setengah baya itu justeru merapikan gudang. Beliau tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi justru Tara yang ia pikirkan.


"Bagusnya Tara sudah sarapan, hanya tinggal mandi. Bibi berharap Bulan segera datang, dan mengurus suaminya.


Waktu berjalan hingga jam delapan, bibi membereskan gudang.


"Huh! Gerah" gumam bibi. Ia istirahat sejenak, kipas-kipas seraya berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari tempat itu.


Netranya menangkap jendela senyum menghias bibir yang pucat tanpa perona itu. Ide muncul di benak. Lalu beliau beranjak berniat membuka jendela selain agar tidak terlalu pengap, barang kali jendela itu bisa untuk jalan keluar.


Namun jendela tersebut terhalang tumpukan barang-barang.


Tidak kehilangan akal, bibi memindahkan posisi barang-barang tersebut hingga ada celah untuk membuka jendela.


Bibi merarik napas panjang, ketika jendela tersebut dipasang teralis. "Aku harus cari sesuatu," ucapnya seorang diri. Ia kembali mencari akal. Bibi ingat tadi sempat membereskan tang, gegep, dan seperangkat yang dimasukan ke dalam kardus.


Beliau membuka kardus tersebut lalu mencari sesuatu yang bisa untuk mencongkel teralis.


Senyum bibi kembali mengembang kala menemukan obeng diantara peralatan benda-benda berbentuk besi. Ia ambil obeng kembali ke jendela, dengan sekuat tenaga mencongkel teralis.


Bersusah payah bibi berupaya keras untuk membuka jendela. Usahanya tidak mengkhianati hasil. Jendela tersebut berhasil ia buka.


"Biar nanti aku akan mencari tukang, untuk membetulkan teralis ini," bibi mengamati teralis yang sudah meleot karena ulahnya.


Dengan perasaan lega. Bibi lompat dari jendela. Bagusnya gudang tersebut terletak di lantai bawah.


.

__ADS_1


__ADS_2