Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Supir Baru Membuat Dua Wanita Jantungan.


__ADS_3

Maya mengabaikan telepon suaminya bergegas ke dapur menemui bibi.


"Bibi... kalau masak jangan hanya buat Dipta ya, masak juga kesukaan Keke," titah Maya.


"Baik Nyonya, tapi kalau saya masak untuk Non Keke, seringkali mubazir," jawab bibi santun.


"Mubazir?" tanya Maya.


"Ya gitu Nyonya, keseringan... Non Keke, makan di luar. Sedangkan saya dengan Sum, lebih suka masakan seperti selera Tuan muda." tutur bibi.


"Oh gitu ya," Maya lalu ambil air putih kemudian duduk di meja makan.


"Selamat pagi Ma," Bulan pun hendak membuat minuman untuk suaminya.


"Pagi Lan, kamu sudah mandi? Bangun jam berapa?" tanya Maya mengamati menantunya sudah nampak segar dan wangi.


"Jam 4 Ma," Bulan lantas membuka kulkas ambil beberapa lembar daun lidah buaya.


"Buat apa itu Lan?" Maya mendekati Bulan yang sedang memisahkan daun lidah buaya, mengambil bagian dalam dengan sendok lalu meletakan ke dalam panci.


"Ini bagus untuk membantu pemulihan, dan penyembuhan sendi Ma," Bulan menoleh Maya di sebelahnya.


"Saya juga tambahkan campuran susu, agar gizinya lebih lengkap Ma," Bulan meracik resep bu Fatimah dengan mahir.


"Waah... kamu pintar sekali," puji Maya.


"Pintar apa sih Ma?! paling Dia itu mau meracuni Dipta! Iya kan?! Ngaku?!" Keke ke dapur masih dalam keadaan rambut acak-acakan, melipat kedua tangan, menatap Bulan tidak suka.


Semua lantas menoleh ke arah suara.


"Keke... kamu kok bicara begitu sih..." Maya mendekati Keke.


"Saya ke kamar dulu Ma," kata Bulan.


"Iya, Nak," Maya yang sudah siap memperingatkan Keke duduk di meja makan berhadapan dengan Keke.


Bulan meninggalkan Keke tentu tidak ingin memperpanjang masalah.


"Ke, kamu tidak boleh berburuk sangka pada Bulan, Dia itu ternyata menantu Mama, Ke," kata Maya diplomatis. Walaupun bagaimana Maya sudah menganggap Keke seperti anak sendiri. "Tapi... maksud saya, bukan serta merta karena Bulan menantu Mama loh, kepada siapapun tentu tidak boleh bersikap seperti tadi," Maya menasehati Keke seperti anak SD.


"Sebenarnya aku sudah tahu Ma" Keke menjawab santai.


"Kamu sudah tahu? Tapi kenapa kamu justeru minta kami menikahkan kalian?" cecar Maya. Maya heran, mengapa semua orang di rumah ini menyembunyikan pernikahan Dipta kepadanya.


"Lalu sejak kapan? Kamu tahu?" Maya menambahkan.


"Dia menikah saat kami KKN Ma. Aku memang sengaja nggak cerita sama Mama, karena Bulan itu tidak sebaik yang Mama Kira," Keke mulai memprofokasi.


"Makanya aku ingin Tante menikahkan kami, karena aku kasihan sama Dipta, ditipu mentah-mentah oleh istrinya sendiri," wajah Keke di buat memelas.


"Maksudnya?" tanya Maya menyipitkan mata hingga dahinya berkerut-kerut.


"Sebenarnya, Bulan itu selingkuh dengan Abu Ma, sudah tahu suaminya sakit, bukan merawatnya malah bersenang-senang dengan pria lain, apa salah jika aku ingin membuat Dipta bahagia, dan tidak memikirkan Bulan terus-menerus," Keke tersenyum tipis kala menangkap wajah Maya yang menunduk sedih.


"Kamu pagi ini ada kuliah nggak Ke?" Maya mengalihkan.


"Nggak ada," Keke menggeleng.

__ADS_1


"Kalau begitu... sebaiknya kamu mandi, setelah sarapan kita berangkat ke rumah kamu," kata Maya.


"Baik Ma," Keke bersemangat. Ia senang sekali. "Yes! Mama Maya mau melamar Aku," gumam Keke. Sambil berjalan ke kamar. Ia segera menyandak handuk melenggang ke kamar mandi.


Ia buka kran setelah melucuti baju tidur, bahagianya membuncah, mengguyur tubuhnya.


Bahagia aku bila bersamamu.


Tenang hatiku dalam pelukanmu.


Tetap denganku hingga kau menua.


Hingga memutih rambutmu.🎵


Keke melenggak lenggok dalam keadaan tanpa sehelai kain. Tangannya ia angkat ke atas bergoyang erotis.


Brakk.


"Aaaagggghhh..." Keke terpeleset di kamar mandi. Ia memegangi wajahnya yang jatuh tengkurap membentur lantai. Sudah pasti dahi Nya memar. Belum lagi kakinya rasanya sakit luar biasa.


*******


"Keke... kamu kenapa?" tanya Maya. Ketika Keke jalan pincang dalam keadaan dahi membiru sebesar kepalan tangan.


Bulan, Tara, Maya, dan juga bibi setelah menata meja makan, menatap Keke terperangah.


"A-aku..." Keke rasanya malu sekali.


Sumidah yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat itu, yang masih memegang serbet rasanya ingin tertawa. Tapi tentu ia menahannya, karena tidak boleh tertawa dalam penderitaan orang lain.


Duduk Ke, kita sarapan dulu, nanti Mama antar ke dokter," titah Maya.


"Kamu kenapa? Sampai begini Ke? Cerita sama Mama," desak Maya.


"Aku kepleset waktu mandi tadi Ma, kamar mandinya licin sekali, sepertinya yang bagian menyikat kamar mandi malas Ma," adu Keke. Melontarkan kata sindiran pada Sumidah.


Jelas Sumidah kesal sekali, padahal baru kemarin sore kamar mandi ia sikat, jadi tidak mungkin kotor. Sumidah hendak membuka mulut namun disentuh lengannya oleh bibi.


"Sum, nanti kamar mandi Keke di sikat ya," Maya menoleh Sum.


"Baik Nyonya,"


Mereka pun makan dalam diam. Bulan sesekali menyuapi Tara, membuat Keke semakin menderita bukan hanya dahi dan kakinya, yang sakit. Namun hati Nya jauh lebih sakit.


Setelah makan, Maya dan Keke bersiap-siap hendak ke dokter sambil menunggu supir.


Sedangkan Bulan mengajak Tara berjemur di halaman.


"Bang, kira-kira Keke tadi lagi ngapain ya, kok jatuh sampai parah begitu" Bulan tidak habis pikir.


"Nggak tahu! Kok kamu malah tanya sama aku, tanya saja sama Dia," Tara seperti tidak perduli.


"Kasihan juga, Dia Bang," tulus Bulan.


"Sudah... jangan pikirkan Dia, mungkin Dia salto di kamar mandi, kali," Tara terkekeh.


"Si Abang mah ada-ada saja deh, masa salto di kamar mandi,"

__ADS_1


Tek tek tek.


"Assamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Jawab Bulan hendak membuka pagar.


"Jangan Non, biar saya saja," cegah Sum. Ia menghentikan kegiatanya membersihkan taman, kemudian membuka pagar.


Deg deg deg


Jantung Sum tiba-tiba berdebar-debar kala menatap pria yang datang.


"Nyonya Maya, ada?" tanya pria itu.


"Ada A, silahkan masuk," Sumidah tersenyum manis.


"Siapa Sum?" tanya Bulan yang sedang menggunting kuku kaki suaminya.


"Oh... Kak Abu? Masuk saja, Mama sudah menunggu," kata Bulan.


Sementara Tara, menatap Abu dingin.


"Terimakasih Lan" Abu mendorong koper masuk ke dalam.


Sumidah memandang langkah kaki Abu, hanya melongo, baru kali ini ada pria seganteng itu. Menurut Sum.


"Hihihi... Sum, kamu naksir Kak Abu? Sampai ngiler begitu?" Bulan tertawa, membuat Tara pun ikut tertawa, memergoki Sum hampir ngiler kesengsem pada Abu.


"Nona..." Sumi tersipu malu. Kemudian melanjutkan pekerjaannya, sebenarnya Sum ingin tahu banyak. Mengapa Bulan bisa mengenal pria tadi.Tapi tentu Sum tidak punya keberanian.


******


"Jadi... begini Nak Abu, sebelum Dipta masuk kuliah, dan tidak ada jadwal kontrol maupun keperluan lain, tugas kamu mengantar saya ke kantor, ya," Maya memberikan tugas pada Abu.


"Siap Nyonya," Abu bersemangat.


Maya memberi tahu dimana kamar Abu. Abu akhirnya diberi kamar yang tempo hari Bulan gunakan. Sebab sudah barang tentu Bulan akan tidur bersama suaminya.


"Sekarang antar saya, dan Keke ke rumah sakit," Maya memberi tugas Abu untuk yang pertama kali.


Maya segera memberikan kunci mobil kepada Abu, agar mengeluarkan dari garasi. Kemudian Maya melangkah memanggil Keke ke kamar nya.


"Ke, kita berangkat," kata Maya.


"Iya Ma"


Maya menuntun Keke membantunya ke depan. Menghampiri mobil yang sudah di panaskan oleh Abu.


"Bulan... Dipta... Mama berangkat ya," Maya menghampiri Tara dan Bulan yang masih berjemur.


"Iya Ma," Bulan bersama Tara, menyahut.


Sum membuka pagar lebar-lebar matanya mengerling ke arah Abu yang sudah siap menyetir.


Keke kemudian membuka pintu mobil, lantas masuk ke dalam di ikuti Maya. "Kamu!" bola mata Keke hampir lompat dari kelopak ketika melihat siapa sang supir.

__ADS_1


.


.


__ADS_2