Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Mengusir Sepi.


__ADS_3

"Bagaimana hasil penyelidikan? Apakah ada faktor kesengajaan, atau murni kecelakan?" tanya Bisma pria dingin jarang bicara jika bukan masalah penting, kini bertanya ini itu.


Saat ini, Bisma sedang mendatangi kantor polisi yang menyelidiki kasus kecelakaan naas putranya.


"Untuk sementara ini kami masih belum menemukan titik terang Tuan, tapi sepertinya memang ada unsur kesengajaan," jawab polisi.


Bisma mengepalkan tangan, giginya gemerutuk menahan marah. Ia sebenarnya pria baik walaupun angkuh. Namun jika dimulai Bisma bisa semakin menakutkan. Apa lagi jika ada yang berani mengusik ketenangan keluargannya akan ia tindak tegas.


Selama sepekan polisi menyelidiki apa penyebab kecelakaan naas. Dicurigai ada pihak yang sengaja membuat rem bus itu blong. Entah siapa orang nya, dan apa motifnya penyelidikan masih dikembangkan.


Setelah mendatangi kantor polisi Bisma kembali pulang di antar supir. Sampai di mansion, Bisma masuk ke ruang kerja.


Bisma membuka jendela lebar-lebar kemudian mendekati meja. Di bukanya laci meja itu ambil produk berwarna putih. Mengangkat kursi dibawa ke pinggir jendela lalu duduk memandangi kebun kosong di belakang mansion.


Bapak punya anak satu itu ambil satu batang produk tersebut menghisapnya setelah mematik korek dan menyulutnya. Kemudian melemparkan batang korek api ke belakang.


"Uhuk uhuk.


Bisma sebenarnya bukan perokok namun hanya ini yang mampu menghilangkan stres walaupun terbatuk-batuk.


Belum hilang rasa terkejutnya ketika putranya selama KKN sudah menarik uang tunai hampir 150 juta. Bisma takut jika sampai anaknya terpengaruh pergaulan dan menyalah gunakan uang tersebut. Kini yang lebih mengejutkan lagi, Tara mengalami kecelakan.


Bisma kembali menghisap rokok asap mengebul ke luar jendela.


"Uhuk. Uhuk.


"Papa..." sapa Maya tiba-tiba berdiri di sampingnya. "Sudah tahu, kalau merokok suka batuk, masih... juga di langgar," omel Maya.


"Kamu sudah pulang May, bagaimana, ada perkembangan mengenai anak kita?" tanya Bisma tanpa melirik istrinya. Bukan menjawab omelan Maya. Bisma justeru bertanya mengenai putranya, padahal baru dua jam yang lalu ia ke luar dari rumah sakit.


"Belum Pa, masih sama, aku takut Pa, kalau sampai anak kita... oh tidaaakkk..." Maya menangis tidak bisa melanjutkan ucapannya. Membayangkan jika sampai Tara mengalami hal yang tidak diinginkan.


******


"Ada apa ini? Kenapa malam-malam begini anak saya dibawa kemari?" tanya Risma ibu kandung Udin. Yang baru saja dijemput salah satu warga agar datang ke balai desa.


"Suami Ibu Risma kemana?" kepala dusun setempat balik bertanya.


"Ayah Udin sedang ke kota Pak," jawab Risma.

__ADS_1


"Jadi begini Bu Risma, saya mewakili warga di sini, mohon maaf jika mengganggu ketenagan ibu malam-malam begini," kepala dusun menceritakan apa yang dilakukan Udin, terhadap Rembulan.


"Apa?" Risma menatap Udin mendelik gusar.


"Jadi... kami mohon Bu, jaga putra bu Risma, malam ini agar jangan kemana-mana, karena kami akan melanjutkan kasus ini besok," tutur kepala dusun.


Risma lemas mendengar penuturan kepala dusun. Ia tahu selama ini Udin anak yang santun. Tapi kenapa bisa terjadi begini? Air mata Risma menetes.


"Dan kamu Udin, kami mohon kamu mematuhi aturan dusun, jika kamu melanggar, kami terpaksa akan melaporkan kamu ke pihak yang berwajib," tegas kepala dusun.


Udin hanya menunduk entah apa yang ia pikirkan. Malam ini juga, Udin pulang bersama ibunya.


*******


Sampai di rumah, Bulan segera ke kamar mandi. Sebelum masuk, ia memandangi pompa air yang sedang berbunyi.


Mesin yang ditutup sebuah kotak dari semen dan pasir. Menurut Tara agar tidak kehujanan kala hujan tiba. Dan benar adanya walaupun hujan deras sejak sore, mesin air tidak terendam air hujan.


Bulan terseyum segitu perhatian suaminya itu, memikirkan semua hal tentang kenyamanan rumah ini hingga sekecil-kecil nya. Ada perasaan tidak percaya jika suaminya mengingkari janji.


Senyum Bulan seketika hilang ketika kembali ingat kemana suaminya selama seminggu ini, mengapa tidak memberi kabar?


Bulan kemudian masuk ke sebuah kotak berukuran 1,5 meter persegi. Bangunan yang kecil namun kokoh yakni kamar mandi.


Bulan mengerlingkan mata, memandangi closed, bak mandi yang sudah di pasang tampak rapi, tembok kamar mandi yang di keramik berwarna biru muda. Inilah salah satu ide suaminya, dan sudah barang tentu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.


Melihat perhatian yang di berikan Tara suaminya. Bulan menepis anggapan, tidak mungkin jika Tara akan berkhianat kepada nya.


Belum lagi Mas kawin 50 juta, dan sebelum berangkat pun Tara mengajaknya ke salah satu Bank membuka rekening agar menyimpan uang tersebut di situ.


Belum lagi Tara menambah saldo tabungan 10 juta untuk keperluan Bulan.


Akan berpikir dua kali jika Tara sengaja meninggalkan dirinya. Tetapi kemana kamu suamiku? Bulan menangis sesegukan di dalam kamar mandi.


"Bulan... jangan lama-lama di kamar mandi, sudah dingin Nak," suara Fatimah sambil mengetuk pintu, mengejutkan Bulan.


"Bentar Bu," jawab Bulan. Kemudian segera membuka pakaian yang sudah basah. Mandi kembali agar tidak masuk angin. Ingat masuk angin, Bulan kembali teringat ketika Tara sedang sakit lantas memandikan di sini.


"Cepat pulang suamiku... nanti aku mandikan lagi, tapi jangan sakit," batin Bulan.

__ADS_1


"Bulan..." Fatimah mengulangi panggilan.


"Iya Bu" Bulan menyudahi mandinya kemudian mengganti pakaianya dengan piama cuple yang Tara belikan. Segara Bulan membuka pintu kamar mandi. Tampak bu Fatimah masih menunggu di situ.


"Kamu mandi pakai air hangat nggak?" tanya Fatimah perhatian. Ketika mereka bersamaan menuju kamar.


"Nggak Bu, nggak kepikiran," sahut Bulan.


"Bulan... sebenarnya kamu sama Udin ada masalah apa Nak?" tanya Fatimah. Sebenarnya ia tidak mau menanyakan hal ini sekarang, tapi rasanya ada yang mengganjal di hati Fatimah.


"Ceritnya panjang Bu," jawab Bulan. Fatimah kemudian mengajak putrinya duduk di kursi meja makan.


"Sekarang makan dulu," titahnya. Namun Bulan hanya menggeleng. Karena tidak ada rasa lapar sama sekali.


"Makan sedikit, kamu hanya makan tadi pagi Nak," kata Fatimah khawatir putrinya sakit.


"Bulan minum teh hangat saja Bu," kata Bulan sambil beranjak menyeduh teh hangat. Fatimah mengalah, kemudian memasukan Ayam goreng ke dalam kulkas.


"Ibu mau minum teh juga? Bulan buatkan sekalian ya," ucap Bulan sambil mengaduk teh.


"Tidak usah Bul," mereka melanjutkan obrolan sambil minum teh menceritakan perihal Udin.


"Jadi... Karena gagal mendapatkan kamu, lantas Udin berbuat nekat, Bul?" Fatimah geleng-geleng kepala.


"Begitulah Bu, segala ngatain kalau Bulan itu nikah cepat gara-gara hamil duluan lah! Munafik lah! Siapa yang nggak kesal coba!" adu Bulan kesal.


"Ya sudah... biarkan saja, jika Udin mau macam-macam lagi, jangan takut, lawan Dia. Kita ini memang perempuan Bul, tapi jangan lantas kita lemah," nasehat Fatimah panjang lebar.


Bulan mengangguk-angguk.


"Sekarang kita tidur Bul, sudah malam,"


"Bulan tidur sama Ibu boleh kan?" tanya Bulan, ingin mengusir sepi.


"Tentu boleh" Ayo,"


Bulan tidur dalam pelukan fatimah.


Keesokan harinya, kepala Bulan terasa sakit mungkin karena kehujanan tadi malam.

__ADS_1


Tidak biasanya setelah subuh Rembulan tidur kembali. Membuat Fatimah curiga. Tapi Fatimah membiarkan putrinya tidur, sebab tadi malam memang tidur hingga larut.


__ADS_2