
"Sini-sini" Maya mengambil alih kursi roda dari tangan Rembulan, lalu membantu putranya pindah kursi.
"Bulan kamu duduk di sini saja," Maya menunjuk kursi di sebelah Tara.
"Keke saja yang duduk di sini, sebaiknya kamu duduk di tempat saya tadi," Keke membuat aturan.
"Tidak usah Non, biar saya saja, yang duduk di sini, khawatir nanti Tuan membutuhkan seseuatu." Bulan pun segera duduk di samping Tara.
Hati Keke merasa gondok tapi ia berusaha menahan diri.
"Bagaimana keadaan kamu Dip?, sudah lebih baik?" tanya Bisma pada putranya. Ayah dan anak ini memang jarang komunikasi. Namun begitu, sebenarnya saling menyayangi.
"Seperti yang Papa lihat," jawab Tara singkat.
Klak!" Dengan langkah kesal bukan main, Keke kembali menjatuhkan bokongnya di kursi semula dengan kasar. Semua beralih menatap Keke, termasuk Bisma memperhatikan Keke geleng-geleng, lalu menyeruput sedikit kopi buatan Maya.
"Dug"
Kaki Keke menendang kaki Bulan di kolong meja.
Bulan pura-pura santai agar pemilik rumah tidak curiga.
"Dug"
Bulan menendang balik kaki Keke lebih kencang, tanpa pemilik rumah ketahui bahwa perang kaki terjadi di kolong meja.
"Aow" pekik Keke.
"Kenapa kamu Ke?" Maya segera beranjak mendekati Keke yang sedang meringis.
Tara sebenarnya melihat, tapi hanya diam tangannya meremas paha Bulan. Entah apa maksudnya.
Keke sebenarnya ingin mengadu pada Maya, tetapi melihat pria dingin yang memasang ekspresi datar, yang tak lain adalah Bisma, membuat Keke gentar.
"Tidak apa-apa Ma, hanya terbentur meja," Keke mengepalkan tangan, sekilas melirik Bulan yang mengulum senyum.
"Sebaiknya kita sarapan dulu," titah Maya.
"Biar Keke yang siapkan makan untuk Dipta," Keke beranjak dari duduknya.
"Oh tidak usah repot Non, masalah Tuan Tara, biar saya yang urus," Bulan pun tak kalah cepat berdiri di samping Tara, menyandak piring. Ambil makanan kesukaan suaminya.
Keke pun kembali ke tempat duduk merengut kesal. Semua itu tidak luput dari perhatian Maya.
__ADS_1
"Keke, biar Dipta Bulan yang urus, sebaiknya kamu makan sendiri," Maya menengahi.
"Bulan..Kamu tahu darimana? Nama belakang Tara?" tanya Maya, merasa aneh sebab art yang sudah lama bekerja disini pun tidak ada yang tahu nama belakang Tara. Sedangkan Bulan yang baru datang sudah tahu nama kesayangan anaknya.
Keke menatap Bulan seolah berkata. "Awas saja! Kalau sampai loe berani bilang!" Keke komat kamit mengancam dalam hati.
"Oh, saya melihat nama Tuan, dari laci Nyonya. Tidak sengaja melihat surat dari dokter." Bulan menjawab lancar sambil menyiapkan makanan kesukaan Tara.
Tara menoleh cepat, ke arah Bulan di sebelahnya. Kamu sekarang pintar bohong sayang. Tara kemudian minum juice sedikit.
Bulan diam berpikir, sebenarnya ingin sekali berkata jujur pada keluarga ini, mengatakan siapa dirinya. Namun mengingat perubahan sikap suaminya, Bulan tentu akan menunggu waktu yang tepat. Jika tidak di pikirkan dulu, bisa-bisa dicurigai sebagai wanita yang menginginkan harta Tara. Bulan tahu, Keke pun tentu tidak akan tinggal diam.
"Oh saya pikir kamu mengenal Dipta sebelumya, padahal kan kamu baru disini sehari." selidik Maya.
Semua yang duduk di meja makan saling diam. Terutama Bisma yang sejak tadi hanya diam menyimak obrolan, melempar tatapan sekilas ke arah Bulan. Namun Bulan tidak menyadari karena serius menyendok nasi dan lauk untuk Tara.
"Kamu ternyata pintar ya Bulan, dari kemarin saya perhatikan tahu makanan kesukaan Dipta," Maya lagi-lagi merasa aneh.
Bulan menanggapi dengan senyuman. "Saya hanya berpikir sesuai kebiasaan pola makan di kota besar Nyonya." jawab Bulan diplomatis. Walupun bagaimana, ia berhadapan dengan orang-orang berkelas.
"Huek!" dalam hati Keke. Ingin muntah mendengar kata-kata Bulan.
"Oh begitu." ujar Maya kemudian menyendok nasi goreng untuk dirinya sendiri.
"Tidak usah Nyonya, saya nanti makan di dapur saja," ucap Bulan santun.
Deg.
Ingin rasanya Tara berkata jangan! Tetapi hanya di dalam hati saja.
"Benar apa yang dikatakan Bulan, Ma, bisanya kan perawat Dipta makan di dapur!" Keke yang menjawab sinis.
"Tidak... biar Bulan makan bareng kita disini Ke." tegas Maya.
"Tapi Tan." Keke kesal melihat Bulan berduaan dengan Tara tepat di depanya pula.
"Kalau ngobrol terus, kapan kalian mau makan?" potong Bisma semua pun lantas diam. Termasuk Keke. Keke sebenarnya sejak tadi berkata hati-hati karena takut dengan Bisma, tapi toh keceplosan juga.
Bulan sengaja memanas-manasi Keke duduk di samping Tara menyendok nasi goreng kemudian menyantapnya perlahan.
Selesai makan, Bisma dan Maya meninggalkan meja maka lebih dulu.
"Bang... kita ke halaman ya, berjemur," ucap Bulan. Menarik tisue membersihkan mulut Tara.
__ADS_1
"Bang... Bang... huh! Lebai," Keke yang masih di depanya merasa sangat marah.
"Bang, kepalanya wangiiii..." Bulan mencium kepala Tara. Tanpa Bulan sadari Tara tersenyum.
"Keke melihat Tara tersenyum smakin marah. Beranjak dari duduknya lalu pergi. "Tunggu pembalasan gw Bulan!" gumamnya.
"Hihihi..." Bulan pun terkikik. Memandangi langkah Keke. Puas dengan drama yang ia lakoni pagi ini. Maaf Keke, saya hanya membela diri dengan caraku!"
Bulan kemudian mendorong roda ke halaman yang luas.
"Nah, segar kan Bang..." Bulan menghentikan roda menyambut matahari yang cerah. "Ya Allah... jika boleh hamba memohon, biarkan rumah tangga kami ini, tetap bersinar seperti matahari pagi ini," doa Bulan dalam hati.
Sementara Maya bersama Bisma pun keluar menuju halaman, menunggu supir mengeluarkan mobil hendak berangkat ke kantor.
"Pa, coba lihat. Bulan itu mengerti banget tentang kesehatan anak kita. Mengajaknya berjemur, kemarin saja, Dia membuat ramuan tradisional untuk Tara loh, katanya biar cepat menyembuhkan tulang," tutur Maya tersenyum menatap Bulan yang mengajak Tara berbicara. Seperti biasa Bisma tidak ada komentar.
"Sayang... Mama berangkat," pamit Maya pada Tara.
"Iya" jawab Tara singkat kemudian salim kedua orang tuanya.
"Bulan... saya titip Dipta." pungkas Maya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Tentu Nyoya," Bulan tersenyum menatap mobil Maya hingga menjauh.
"Abang... aku mau tanya sesuatu, tolong jawab dengan jujur," Bulan duduk bertopang lutut di depan Tara.
"Mau tanya apa?" kali ini Tara bicara sedikit lembut tidak seperti sebelumnya. Mungkin karena suasana di luar membuatnya lebih rileks. Sentuhan hangatnya matahari pagi, ketika memindai sekeliling terdapat taman yang memanjakan mata.
"Bang, tolong cerita, dimana Abang mengalami kecelakaan? Apa saat Abang pulang dari KKN saat itu, Abang mengalami kecelakaan, hingga membuat Abang menjadi seperti sekarang?" Bulan mengusap lutut suaminya pelan.
*****
Di tempat yang berbeda. Ibu Fatimah bersemangat belanja di agen sembako. Ia sudah siap berjuang di kota besar yang baru ia tinggali berniat berjualan sembako.
Walaupun baru dua hari tinggal di Jakarta. Namun Fatimah tidak bingung maupun khwatir kesasar. Dengan menenteng dua kardus besar, Fatimah berjalan ke pinggir jalan raya, hendak menunggu angkutan umum.
"Ibu..." suara berat menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke sumber suara.
"Kamu?" Fatimah terkejut bukan main, melihat siapa yang datang.
*******
"Hayo... siapa kira-kira, orang yang mengejutkan Fatimah???
__ADS_1