Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Edisi part s 1


__ADS_3

"Ibu boleh menggendong cucu ku kan," bu Fatimah mendekati cucunya yang sedang di tidurkan di sebelah Rembulan.


"Boleh Bu" Bulan dan Tara menjawab bersamaan.


"Cucu ku... di gendong nenek ya..." Fatimah menggendong cucunya. Sore harinya setelah tidak ada tamu ia segera menyusul bersama sang suami.


Bulan menatap Fatimah yang sedang menggoyang-goyang Erlang dalam gendongan. Ibu muda itu membayangkan bagaimana seandainya sang Ibu mempunyai bayi seperti ini alangkah lucunya. Bulan tersenyum pasti anak sama cucu itu akan sepantaran.


"Kok kamu lihatin Ibu sampai begitu?" Tara yang duduk di ranjang sebelah istrinya mengusap wajah Rembulan.


"Bang... kira-kira... Ibu masih bisa punya bayi seperti itu nggak?" Bulan belum bisa berpaling dari sang ibu.


"Ya jelas masih bisa Yank, Ibu kan masih muda masih bisa punya anak dua lagi, lagian pak Han juga pasti menginginkan keturunan," Tara bertutur seraya membetulkan hijab istrinya. Di dalam tidak hanya ada mereka berdua tetapi ada pak Han tentu Tara tidak ingin ada salah satu organ tubuh Bulan yang terlihat.


"Sekarang gantian aku yang gendong ya," Handoko bersemangat. Lalu ambil alih Erlang dari gendongan Fatimah.


"Hati-hati loh Pak, Pak Han kan belum pernah menggendong bayi," Fatimah tampak khawatir.


"Tenang saja Fatimah... itung-itung aku belajar menimang bayi," Handoko terkekeh.

__ADS_1


"Belajar" kata Fatimah belum tahu maksud suaminya.


"Ya Belajar Fatimah... memang kamu nggak mau punya anak dari aku," jawab Handoko menatap wajah Fatimah seketika merona.


"Kamu kenapa?" Han melirik istri di sampingnya yang masih bingung.


"Nggak apa-apa," jawab Fatimah tetapi dalam hati bertanya-tanya. Benarkah ia nanti akan punya bayi lagi setelah dua puluh tahun yang lalu ketika melahirkan Bulan? Tetapi ketika Fatimah menatap Bulan yang sedang bercanda dengan Tara. Ia merasa baru kemarin melahirkan.


"Kok kamu malah bengong, sekarang kita pergi," Handoko membawa Erlang menidurkan di samping Tara kemudian minta pamit.


"Kita mau kemana Pak?" Fatimah menoleh Bulan dan Tara. Anak dan menantu nya itu memberi isyarat agar mengikuti Handoko.


Handoko menggandeng tangan Fatimah hingga sampai di mobil ia bukakan pintu untuk istri barunya itu.


Fatimah diam sejenak merasa tersanjung karena di bukakan pintu oleh handoko.


"Fatimah... ayo masuk, kok malah bengong?" Handoko pun merangkul pundak istrinya sedikit mendorong agar segera masuk. Bulu kudu Fatimah lagi-lagi merinding. Walaupun pada akhirnya


Fatimah menyerah juga. Mobil Han melaju hingga tiba di salah satu gedung menjulang.

__ADS_1


"Hah... hotel? Yakin Pak, kita kesini?" Fatimah menghentikan langkahnya. Ia tercengang hari ini sudah berkali-berkali di buat terkejut oleh suami barunya. "Bisa jantungan aku kalau begini" gumam Fatimah dan masih terdengar oleh Han. Han mengulum senyum.


Han pun sebenarnya tak kalah deg degan. Wanita di sebelahnya ini mampu menghipnotis dirinya.


"Yakinlah..." Han memeluk pundak istrinya tetapi kali ini lebih kencang membuat Fatimah melebarkan mata. Fatimah mengimbangi langkah panjang Han entah mau apa Han berjalan tergesa-gesa.


Han memencet lift.


Tink


Lift terbuka pria gagah dan tampan itu memencet angka tiga dalam hitungan detik sudah tiba di lantai tersebut.


Han sesekali melirik istrinya yang mendadak pendiam. Wajar hari ini seperti mimpi bagi Fatimah. Beberapa hal yang merasa aneh ia lalui bersama Han.


Menikah, digandeng, dipeluk membuat Fatimah tidak percaya diusianya yang tidak lagi muda.


"Pak..." lamunan Fatimah buyar ketika mereka sampai di dalam kamar hotel.


.

__ADS_1


__ADS_2