
"Dengan bujukan Bulan pada akhirnya Tara mau kontrol ke rumah sakit. Karena sudah tidak mempunyai supir saat ini Sum lah yang menyetir.
Sampai di rumah sakit Bulan mengikuti suaminya melewati lorong lorong.
"Eh loe, mau kontrol juga?" seorang pria menghentikan langkah mereka.
"Iya, loe sudah lebih baik Ta?" Tara balik bertanya. Pria itu ternyata Nanta. Walaupun sudah sembuh namun masih disarankan agar check walaupun tidak rutin.
"Alhamdulillah... gw sudah sembuh kok Dip, gw juga sudah mulai kuliah lagi," jawab Ananta lalu beralih menatap Rembulan
"Sudah berapa Bulan, kehamilan loe?" Ananta melirik perut Bulan yang sudah membesar.
"Sudah hampir delapan bulan, Kak. Kalau begitu kami temui dokter dulu," Bulan tadi sudah mendaftar secara online janji bertemu dokter pasti tidak lama lagi akan dipanggil.
"Gw temenin loe deh, mau ngobrol sama Tara," Ananta pun mengikuti Tara dan Bulan sambil berjalan mereka ngobrol.
Sampai di depan ruangan masih ada pasien. Sambil menunggu Bulan menitipkan Tara pada Ananta kemudian ijin ke toilet.
"Loe masih mengikuti kuliah online kan Dip?" tanya Ananta. Setelah duduk bersebelahan dengan Tara.
Agar tidak tertinggal Bisma menyarankan Tara mengikuti kuliah online.
"Masih, tapi gw menyerah Ta, sepertinya gw nggak bisa lanjut," Tara merasa putus asa karena rasanya berat sekali untuk membayar kuliah.
"Kenapa Dip? Apa karena biaya?" Ananta terkejut. Tidak biasanya Tara putus asa seperti sekarang.
"Jangan kencang-kencang bicaranya Ta, khawatir bini gw mendengar," Tara selama ini tidak bicara dengan Rembulan tentang masalah ini.
"Ya ampuun..." Anantan tidak tega dengan sahabatnya yang dulu bergelimang harta kini membayar kuliah saja tidak mampu.
"Maaf Dip, gw tidak bisa bantu loe, gw juga sekarang hidup pas-pasan," Ananta yang notabene sudah tidak punya papi, harta peninggalan beliau nyaris habis untuk biaya berobat. Ananta sebenarnya berniat berhenti kuliah lantas bekerja namun sang mami melarang.
"Nggak apa-apa gw jalanin saja, Ta," Tara hanya bisa pasrah. Tidak ada barang yang bisa di jual cepat untuk saat ini, selain mobil. Namun saat ini jika Tara mempertahankan mobil miliknya bukan untuk gaya hidup. Melainkan memang ia butuh. Jika ke rumah sakit seperti saat ini tentu Tara membutuhkan benda itu. Belum lagi jika nanti istrinya kontrol dan lain sebagainya.
"Sudah di panggil belum Kak?" Bulan ternyata sudah kembali dari toilet.
"Belum Lan," jawab Nanta. Sambil menunggu dokter mereka berbincang-bincang tetapi kali ini membahas yang lain.
"Pradipta Bumantara," panggilan itu menghentikan obrolan mereka. Bulan mengantar suaminya ke dalam, kemudian Ananta menunggu di luar ruangan.
Ananta masih berpikir tentang jalan hidup manusia. Dulu ia walaupun bukan orang kaya namun hidup dalam kecukupan karena harta peninggalan papi nya tidakkah sedikit. Namun kini hanya tinggal sisa-sisa untuk ia berobat selama berbulan-bulan. Ya. Ananta sadar Semua hanya titipan dan bisa berubah hanya dalam sekejap.
Contoh yang lain adalah sahabatnya. Tara yang dulu segar bugar kini menjadi lumpuh. Dan yang membuat tercengang adalah mengapa kehidupan sahabatnya menjadi berubah sedemikian menyedihkan.
Gluk!
__ADS_1
Saat sedang termenung sendiri. Ananta dikejutkan dengan gadis yang duduk di sebelahnya tanpa permisi. Wajar yang namanya tempat umum.
Badanya yang berisi duduk di kursi kayu panjang itu hingga berbunyi.
"Menunggu siapa Mbak?" tanya Nanta.
"Menunggu boss," jawabnya singkat tanpa menatap lawan bicara.
"Boss nya sedang sakit apa Mbak?"
"Sakit hati!" ujarnya. Sambil memainkan kunci mobil di lempar-lempar ke atas lalu di tangkap dengan telapak tangan.
Ananta mengerutkan kening. "Orang di tanya kok sombong amat!" batin Nanta.
Keduanya lantas diam tidak lama kemudian Bulan bersama Tara membuka pintu.
"Sum, kamu menyusul?" tanya Bulan.
"Iya Non, habis di mobil bosan," Sum menjawab jujur.
Nanta baru tahu yang di maksud bos tadi adalah Tara.
"Abang sama Kak Nanta, sebaiknya menunggu di mobil ya biar bisa rebahan, Abang pasti capek dari tadi duduk terus," saran Bulan perhatian. Ia berniat menebus obat dulu di lihat dari kejauhan tempat nya antri.
"Tapi kamu sendirian Yank," Tara kasihan melihat istrinya pun tidak kalah lelah, di tambah lagi dalam keadaan perut yang besar.
"Baik Non,"
Mereka berpisah, Bulan ke tempat obat bersama Sum, Kemudian Tara mendorong roda menuju mobil bersama Ananta.
"Cewek tadi siapa Dip?" Ananta rupanya masih penasaran dengan Sum.
"Dia ART di rumah gw, karena kami sudah tidak mampu membayar supir, terpaksa nyurih Dia, kenapa gitu?"
"Kagak tanya saja," pungkas Ananta lalu membuka pintu. Membiarkan Tara rebahan di jok tengah. Sementara Ananta membuka kaca mobil mereka kembali ngobrol.
*******
"Sum, aku mau ke toilet dulu," setelah antri obat Bulan ingin buang air kecil. Setelah kehamilan yang sudah mendekati persalinan. Ia memang beser.
"Saya temani Non," Sumidah mengikuti Bulan.
Ketika Bulan masuk ke toilet sumidah bersandar di tembok satu kaki menjejak tembok sambil memainkan ponsel.
Bulan setelah ke luar dari toilet berkaca sebentar sambil membetulkan hijab. Ia tidak menyadari jika dua orang pria mengintai sejak tadi.
__ADS_1
"Siapa Anda?!" sungut Bulan ketika dua orang pria yang mengenakan masker itu menghadang langkah Bulan.
"Hahaha... ternyata cantik juga wanita ini! Walaupun perutnya besar!" salah satu pria itu tertawa sambil mendekati Bulan yang sudah berjalan mundur.
"Cepat, kita bawa wanita ini, jangan buang waktu!" salah satu pria memerintah saat kamar mandi sedang sepi. Pikir dia.
"Mau apa kalian?!" bentak Bulan.
Tidak banyak bicara lagi kedua pria itu membekap mulut Bulan menutupnya dengan kain.
"Ada apa Non?" rupanya bentakan Bulan terdengar oleh Sum. Sum segera berlari menuju arah suara ternyata Nonanya sedang di seret-seret oleh dua orang pria.
"Lepaskan Dia?!" sergah Sum.
"Buk! Buk!
Sum melancarkan tendangan dari belakang. Namun apa lah daya. Sekuat kuatnya Sum, tentu tidak akan mampu melawan dua pria yang berbadan kekar itu.
"Brak!
Salah satu pria mendorong Sum hingga membentur pintu toilet. Sum tergeletak namun secepatnya bangun dan kembali mengejar mereka.
Namun kedua pria itu sudah membawa Bulan berlari ke luar melalui pintu yang hanya di gunakan oleh karyawan rumah sakit.
Sum berlari mengejar, pandanganya tidak lepas dari Bulan yang dua tanganya di ringkus ke belakang.
"Berhentiiiii..." jerit Sum ketika kedua pria itu membawa Bulan melewati jalanan kecil samping rumah sakit yang biasa di lalui motor oleh penduduk setempat yang tinggal di belakang rumah sakit.
Dengan terengah-engah Sum membuka ponsel kemudian mencari nama Tara.
"Hallo Sum, kenapa lama sekali?" tanya Tara.
"Tuan! Saya mau bicara dengan teman Tuan!" Pekik Sum. Membuat Tara menjauhkan handphone karena suara Sum memekakkan telinga.
"Ada apa Sum?"
"Tuan! Cepat!" Sum telepon sambil berlari agar jangan sampai kehilangan jejak.
"Hallo" kali ini Nanta yang menjawab.
"Hallo! Tolong jalankan mobil belok kiri kearah lampu merah," perintah Sum.
"Ada apa?"
"Cepat! Tidak banyak Waktu!"
__ADS_1
Tut.
.