Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Mulai Terkuak.


__ADS_3

"Bulan..." sapa pria hitam manis jika para wanita menatapnya tidak akan bosan. Dia adalah Udin, baru hari ini pertama kali kerja. Namun tidak dinyana. Ia yang awalnya ketakutan jika bertemu sahabatnya, tapi justeru bertemu di tempat ini.


Bulan melengos kesal. Bayangan Udin yang hendak melecehkan kembali muncul di kelopak mata.


"Mbak, saya mau nebus obat ini," Bulan tidak menghiraukan Udin, justru memberikan secarik kertas pada karyawan wanita agar meracik obat.


"Baik Non," karyawati apotek segera ke kebelakang.


"Bulan, apa kabar kamu?" tanya Udin memelas.


"Jangan basi basi! Saya tidak kenal dengan pria bejat! Sepertimu!" sungut Bulan. Sebenarnya Bulan tidak pernah berkata kasar, tetapi karena harga dirinya di injak-injak tentu siapapun tidak semudah itu menerima kata maaf.


Mendengar kata-kata Bulan hati Komaruddin mencelos.


Udin menatap sendu wajah Bulan yang sama sekali tidak mau memandangnya barang sekilas.


"Bulan... aku minta maaf, terserah kamu mau menilai aku seperti apa, karena aku memang bersalah" suara Udin serak.


"Diam Udin!" potong Bulan mendelik gusar. "Aku tidak sudi mendengar lagi mulut palsu Mu!" tandas Bulan.


Teman kerja Udin yang baru saja selesai meracik obat. Terkejut memergoki teman kerja nya sedang di marahi pelanggan.


"Nona, kami minta maaf, jika teman saya ini, belum bisa melayani pelanggan dengan baik, kerena Udin, baru bekerja sehari," Wanita itu pikir, Udin tidak bisa melayani.


"Lupakan Mbak, ini masalah pribadi" jawab Bulan, walaupun sebenarnya marah, tapi Bulan tidak tega jika Udin dipecat padahal bukan masalah pekerjaan yang tidak benar.


"Sudah Mbak?" Bulan mengejutkan teman Udin itu.


"Sudah Nona, ini kwitansi nya bayar di loket sebelah ya," jawab teman Udin.


"Terimakasih, Mbak," Bulan pindah ke loket sebelah.


Sedangkan Udin menatap sahabatnya berkaca-kaca. Ia menarik napas berat. Ya. Udin harus menerima konsekwensinya. Saat ini ia telah memetik buah yang ia tanam sendiri.


"Puk" teman Udin menepuk pundaknya.


"Loe kenal Dia?" tanya Anisa.


"Dia, sahabat gw dari kampung Nis," Udin tidak mau berpaling masih menatap Bulan.


"Memang loe ada masalah apa, sama Dia? Kok cewek itu marah banget?" cecar Anisa.


"Sudahlah Nis, tidak usah di bahas," pungkas Udin, masih belum mau berpaling memandangi Bulan yang sedang berjalan ke pinggir jalan.


Bulan membuka tas ambil hp hendak memesan ojek online. Namun belum sampai memesan, mobil yang hanya muat empat orang itu berhenti di depanya.


"Hai, cantik..." seorang pria tersenyum manis membuka kaca depan.


"Pak Gavin," sapa Bulan.

__ADS_1


"Ayo naik," Gavin segera turun membukakan pintu untuk Rembulan.


"Saya mau pesan ojek saja Pak," tolak Bulan.


"Saya disuruh Tuan Dipta, agar menjemput kamu," kata Gavin masih memegang daun pintu mobil.


"Tuan muda, menyuruh Bapak menjemput saya?" tanya Bulan, menunjuk diri sendiri. Lalu di angguki oleh Gavin.


Hati Bulan berbunga-bunga. Betapa tidak? Tidak Bulan pungkiri kian hari, sikap suaminya kepadanya semakin membaik.


"Ayo naik, cek! Malah melamun, kamu suruh aku berdiri terus," Gavin pura-pura kesal.


"Iya," Bulan pun segera masuk.


"Pak Gavin, memang habis dari rumah Tuan muda?" Bulan menoleh Gavin ketika mobil sudah berjalan.


"Nggak, Tuan Dipta tadi telepon aku, agar menjemput kamu,"


"Oh..." Bulan mengukir senyum memandangi jalanan, tanpa Gavin tahu. Di dalam mobil pun saling diam.


Gavin pun berkhayal seandainya gadis di sebelahnya ini, menjadi istrinya, atau paling tidak menjadi kekasihnya, ia tersenyum sendiri. Namun senyum itu mendadak sirna kala Gavin menyadari jika ia mencintai Bulan, itu artinya akan bersaing dengan Tara.


Gavin menoleh Bulan sekilas, menarik napas berat.


"Bulan..." lirih Gavin.


"Jangan panggil aku pak apa Bulan, kayaknya tua banget, padahal sama Dipta hanya beda tiga tahun loh," Gavin menyembunyikan kegalauan hatinya.


"Terus... saya harus, panggil apa?" tanya Bulan polos.


"Apa saja, A,a, Mas, Abang... atau nama saja juga boleh," Gavin tersenyum.


"A, A" kok seperti merk mie yang suka untuk pelengkap bakso ya, hihihi" Bulan tertawa.


"Mas, kok seperti tukang sayur yang lewat di depan rumah ya, suaranya medok,"


"Kalau Abang..." Bulan diam. Maksudnya panggilan Abang hanya untuk orang spesial di hatinya.


"Kalau Abang, jadi kaya nyanyian Ibu aku ketika aku kecil dulu Lan," Gavin tersenyum.


"Memang apa nyanyian, Abang waktu Ibunya Pak Gavin kecil?" Bulan bertanya serius.


Abang tukang bakso


Mari-mari sini aku mau beli.


...Abang tukang bakso cepat dong kemari sudah tak tahan lagi.🎵...


"Hahaha..." Gavin mentertawakan nyanyian nya sendiri.

__ADS_1


"Bulan, sepertinya Tuan muda suka sama kamu ya?" Gavin kali ini serius.


Bulan hanya diam menatap lurus ke depan. Bingung entah harus jawab apa.


"Bulan, kan bengong lagi" ujar Gavin.


"Lagian Pak Gavin lucu, masa iya, Tuan muda suka sama saya, Keke mau buat apa," Bulan tersenyum kecut.


"Keke nanti di gantung di tengah sawah, buat mengusir burung yang merusak padi." jawab Gavin asal.


"Pak Gavin ini ada-ada saja, memang Non Keke orang-orangan sawah apa?" Bulan geleng-geleng kepala.


"Bulan, seandainya Tuan muda benar suka sama kamu, apa kamu akan menerima?" kali ini, Gavin lebih serius dan berharap Bulan menjawabnya "Tidak"


"Biar waktu yang menjawab Pak," tegas Bulan mengakhiri obrolan, karena mereka sudah sampai tujuan.


***********


"Dipta... boleh Mama bertanya?" kata Maya. Saat ini menemani putranya di kamar dan sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Mau tanya apa Ma?" Tara balik bertanya.


"Mama perhatikan, sepertinya kamu ada rasa dengan Bulan," Maya memegangi pundak Tara di sebelahnya.


"Kalau misalnya iya, kenapa Ma?" Tara menjawab cepat. Inikah saatnya harus jujur dengan mama nya.


"Tentu Mama tidak ingin kamu mengecewakan Keke," tegas Maya.


"Tapi, aku nggak cinta sama Keke Ma, jujur... Bulan itu cinta pertama aku, dan kami saling mencintai," kata itu akhirnya meluncur deras dari mulut Tara.


"Cinta? Hanya bertemu seminggu lantas kamu bilang cinta?" Maya tersenyum miring.


"Bukan seminggu Ma, Mama tahu Nggak? Bulan itu berasal dari desa dimana aku KKN dulu," tutur Tara.


"Apa? Berarti Bulan datang kesini, hanya pura-pura bekerja agar bisa berdekatan dengan kamu?" tersirat kekecewaan di wajah Maya.


"Bukan Ma, ini hanya kebetulan saja, awalnya aku juga berpikir begitu, tapi Bulan melamar kerja melalui iklan yang Mama pasang di internet. Jika Mama tidak percaya tanyakan saja pada Gavin,"


"Pokoknya aku nggak mau tahu Dipta! Kamu tidak boleh mengecewakan keluarga Keke. Mama Keke itu sahabat Mama sejak SMA dulu."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Bulan menghentikan obrolan ibu dan anak itu. Maya pun segera keluar dari kamar tanpa menyapa Bulan.


Bulan merasa bingung atas sikap boss nya yang tidak ramah seperti biasa.


.

__ADS_1


__ADS_2