
"Dooorrr!
"Bulaaaannnn..." teriakan Tara melengking.
Flashback on.
Mobil yang di kendarai Sumidah meluncur cepat hingga sampai di depan gedung yang sudah lama tidak di pakai. Dilihat dari tepi jalan sungguh menyeramkan.
"Gps nya sampai di sini, apa jangan-jangan... Bulan di sekap di sini Ta?" tanya Tara pada Nanta. Ia memeriksa handphone kemudian membuka kaca mobil menatap gedung di depanya. Bangunan yang tidak dirawat dan di tumbuhi ilalang tampak jalan yang biasa di lalui mobil menuju gedung tersebut di penuhi sampah.
"Bisa jadi, tapi tempatnya seram begitu!" Ananta tampak ngeri.
Sum walaupun diam namun mata nya memindai sekeliling. "Benar, lihat mobil yang di parkir di sebelah sana itu," tunjuk Sum.
"Dasar penjahat blo,on jadi penjahat tanggung," umpatnya. Biasanya jika penjahat parkir mobil di tempat bersembunyi tetapi ini di pinggir jalan.
"Terus bagaimana ini?" tanya Tara bingung.
"Sebaiknya Tuan menunggu di dalam mobil biar kami yang masuk ke dalam," saran Sum, tidak mungkin mengajak Tara ikut dalam keadaan seperti itu.
"Kami? Berarti saya..."
"Jangan jadi pengecut! Turun!" Sum memotong ucapan Ananta.
"Siapa takut!" Nanta pun turun dari mobil.
"Ta, hati-hati, kaki loe belum pulih benar," Tara khawatir.
Sum menghentikan langkahnya. "Kaki loe masih sakit? Kalau begitu loe tunggu di sini saja," Sum pun baru ingat jika Nanta juga sedang kontrol.
"Hais! Ayo!" Ananta berjalan lebih dulu tentu kewibawaanya tidak ingin jatuh di depan cewek tomboy. Pikir Nanta. Mereka berjalan cepat hingga sampai di depan gedung. Mereka diam sejenak ada dua pintu agar bisa masuk tetapi yang mana.
"Sebaiknya loe lewat pintu ini! Gw lewat pintu sebelah sana!" Sum mengatur siasat.
"Jangan! Kita sama-sama saja!" tolak Nanta nyali nya menciut juga.
Sum tidak lagi bicara. Ia tahu jika Nanta memang belum sepenuhnya pulih, tidak ada pilihan lain selain mereka masuk bersama. Sum mendorong pintu kaca walaupun sudah usang dan kotor namun masih kokoh dan kebetulan tidak di kunci.
Ia menyingkirkan kayu-kayu rupanya plafon di atas sudah runtuh sebagian hingga menyebabkan sulit untuk berjalan.
Sum mengedarkan pandanganya, menajamkan telinga kala mendengar suara wanita bertengkar. "Loe dengar keributan tidak?" tanya Sum pelan.
"Iya sedikit, samar-samar," jawab Nanta. Mereka berjalan pelan menuju arah suara. Namun dua orang pria menghadangnya.
"Ahahaha... berani sekali kalian menyerahkan nyawa!" pria itu tertawa sengit.
"Heh! Mana Nona gw?!" Sum menunjuk pria itu.
__ADS_1
"Dia sudah mati, di bunuh boss gw!" jawab pria itu congak.
"Hajar mereka!" pria satu lagi, yang dari tadi diam memerintah.
Pria itu merangsak maju mendekati Sum siap menyerang.
Sum melebarkan pijakan kaki antara kiri dan kanan selayaknya mempunyai lilmu bela diri profesional.
Dada Ananta yang berdiri di samping Sum berdetak lebih cepat. Jujur ia merasa ngeri.
Buk!
Buk!
Buk!
Sum melawan dua orang penjahat sekaligus dengan tendangan kaki kanan kiri. Bak pesilat tangguh Sum berhasil melawan mereka.
Hingga beberapa menit kemudian, Sum terpelanting jauh. Wajar sebab ia di keroyok.
Ananta ambil kayu hendak memukul dua pria itu. Namun sebelun Ananta melayangkan kayu. Kayu itu direbut penjahat lalu membuangnya ke belakang. Ananta panik ingin mengandalkan kaki tentu kakinya masih belum bisa untuk beraktifitas yang berat.
"Ahaha..." Kedua pria itu merasa di awang-awang, karena sudah bisa mengalahkan musuh.
Penjahat itu mencengkeram kaos Ananta bagian atas.
Sum berjalan mendekati dua penjahat yang mengancam Ananta dengan segala umpatan.
"Lepaskan teman gw," Sum maju lebih dekat lagi.
"Hahaha... dasar cewek gendut!" pria itu melotop tajam.
Cus!
"Aaaaggghhh..." salah satu pria menutup wajahnya terduduk di lantai, karena matanya di colok oleh Sum.
"Kurangajar!" pria yang satu lagi melepas cengkeraman tanganya dari Nanta. Lalu berniat menghajar Sum.
"Buk!" tinju melayang ke hidung pria itu.
"Aaagggghhhh..." darah keluar dari hidung kedua pria itu terkulai lemas di lantai.
"Ayo!" Sum menarik tangan Ananta mendekati keributan.
"Loe punya sapu tangan?" tanya Sum pada Ananta. Mereka menghentikan langkahnya.
"Ada" Ananta ambil sapu tangan berwarna cokelat pasta dari kantong celana jins.
__ADS_1
"Bekas mengelap ingus loe? Ya!" Sum menarik sapu tangan dari tangan Ananta.
"Enak saja!" Tara menjawab ketus.
"Bukan begitu dodol! Sapu tangan ini mau gw buat mengikat luka, kalau sampai bekas ingus loe, yang ada infeksi," gerutu Sum. Lalu mengangkat satu kaki ke atas meja, ternyata lukanya menganga lebar.
"Loe" Ananta terperangah menatap kaki Sum darahnya masih mengucur. Ia menoleh ke belakang bekas darah yang berceceran. Ananta beralih menatap Sum yang sedang membebat luka kaki dengan sapu tangan hanya meringis.
"Diaaammm... berani sama gw loe!" suara teriakan terdengar nyaring Sum seketika menatap dari celah kubikel.
"Astagfirlullah... Nona..." Sum menatap Bulan yang sedang di todong dengan pistol oleh seorang wanita yang hanya terlihat dari belakang.
Sum berjalan perlahan, selain kakinya masih sakit agar suara langkah kaki nya tidak terdengar wanita yang menyandera Rembulan.
Ananta mengikuti langkah Sum menatap wanita dari belakang yang sudah tidak asing lagi baginya ternganga lebar. Sungguh tidak menyangka sahabatnya bisa menjadi seperti sekarang. " Keke" batin Nanta.
Sementara Sum mendekati Keke dari belakang.
Keke sudah menggenggam erat grip pistol hendak menarik pelatuk tentu Bulan yang menjadi target.
Bulan hanya bisa memejamkan mata. Kali ini ia pasrah sambil berdoa dalam hati agar Tuhan mengampuni segala dosa.
Namun tanpa Keke sangka dari arah belakang satu tangan merebut pistol dengan cepat mengarahkan ke salah satu kaca.
Dooorrr!
Praaaannnggg!!
"Bulaaann..." Tara berlari ke arah istrinya.
Flashback off.
"Abaaanng..." pekik Bulan. Tara segera membuka tali yang mengikat tangan istrinya.
Semua tercengang menatap Tara yang sudah bisa berlari.
Tara memeluk tubuh istrinya erat kini istrinya lolos dari tembakan maut. Ketika di dalam mobil tadi ia gelisah sekali sebab sudah hambir satu jam menunggu Sum dan Nanta belum juga ke luar. Ia memutuskan untuk turun dari mobil sebisa mungkin menarik kursi roda menyusul Ananta mendorong roda masuk ke dalam gedung. Namun sebelumnya ia menghubungi Papa dan mama nya mengabarkan bahwa ia sedang di lokasi tersebut.
Ia memilih melewati pintu yang sebelah kiri kebetulan di tempat itu tidak ada puing-puing seperti yang di lewati Sum, sehingga memudahkan roda untuk berjalan. Ketika sampai di pintu yang biasa di gunakan oleh karyawan atau di lalui siapa entahlah sebab pintu itu tidak sebesar pintu utama.
Tara mendengar tertawa seorang wanita segera mendorong roda hendak mendekat namun langah Tara berhenti kala netranya menatap istrinya dalam bahaya. Entah kekuatan darimana Tara segera berlari meninggalkan roda tanpa Tara sadari.
"Abang sudah bisa berlari," Bulan baru menyadari. Tara mengeratkan pelukanya. Di saat semua terpaku menatap Tara yang sudah berdiri dengan gagah. Kesempatan itu di gunakan Keke. Ia berjalan pelan-pelan mengambil pistol yang tergeletak.
Dooorrr!!!
"Aaaaagggghhh"
__ADS_1
.