
"Baik-baik kamu di dalam perut Ummi sayang..." Tara mengusap perut Bulan lembut. Saat mereka sudah berada di dalam taksi.
"Abang... jangan terlalu berharap" kata Bulan. Ya kalau benar ia hamil, jika tidak... Bulan khawatir, Tara akan kecewa.
Bulan menatap tangan Tara yang masih mengelus perutnya yang terhalang gamis merasa terharu.
"Mudah-mudahan memang benar hamil Yank, kalau ternyata belum, aku akan terima, wajar lah, kita kan menikah baru,"
"Menikah baru, sudah gitu... di tinggal sama Abang," Bulan tersenyum kecut.
"Bukan di tinggal," Tara pun terkekeh. Merangkul pinggang istrinya, menjatuhkan kepalanya di pundak Rembulan.
Mereka tidak tahu jika pria sang supir taksi, mengenal mereka.
Taksi berjalan sedang sang supir mengamati pasutri yang sedang romantis di belakang. Pikiranya campur aduk. Senang, sedih, terharu menjadi satu.
Senang karena Bulan bisa menemukan suaminya, sedih karena keadaan Tara menjadi lumpuh entah apa penyebabnya, dan terharu bahwa wanita yang di cintai dalam diam selama 3 tahun kini sedang bersenda gurau dengan suaminya. Walau tidak ia pungkiri rasa cemburu itu pasti ada
"Alhamdulillah... kamu akhirnya bisa bertemu dengan suami kamu Bulan." batin Abu.
Ya, supir taksi itu adalah Abu Bakar. Pada akhirnya pria sholeh, dan baik hati itu, pergi juga dari kampung halaman dan kini bekerja menjadi supir taksi.
Setelah memberikan alamat Bulan kepada Udin, Abu merasa bersalah. Abu satu-satu yang tahu alamat dimana Bulan bekerja dan tinggal. Namun Abu justeru memberkan alamat kepada Udin, yang sudah jelas pernah berbuat salah kepada Bulan.
Itulah yang menggerakkan kaki Abu, pergi dari kampung halaman, dan akan memastikan jika Bulan baik-baik saja, Abu kini menjadi lega.
"Mas, kami turun di depan ya," kata Bulan ketika taksi sampai di depan rumah sakit.
"Baik Bu," Abu menghentikan mobil nya.
"Jadi berapa Mas?" Bulan merogoh dompet berniat membayar taksi.
"Delapan puluh ribu," Abu menjawab setelah melihat nominal uang yang harus ia terima di aplikasi.
Bulan membayar taksi sedetik kemudian, dua mata mereka saling bertemu. Abu segera memalingkan wajah khawatir Bulan mengenali dirinya. Abu tentu tidak ingin mengganggu kebahagiaan tetangganya itu.
"Kembalinya Bu," Abu menyodorkan uang 20 ribu. Tapi hanya Tara yang masih duduk di situ sebab Bulan sudah turun lebih dulu, ambil roda di bagasi.
"Kembalinya ambil saja," Tara yang menjawab, tanpa menatap supir taksi, karena sedang mengetik di ponsel.
"Tapi Pak," Abu tentu tidak ingin dikasihani.
"Tenang saja, anggap saja, itu uang tip untuk Anda," Tukas Tara.
"Bang, ayo," Bulan setelah ambil kursi roda di bagasi segera membantu suaminya turun. Netranya melempar tatapan ke arah supir. Namun hanya terlihat bahunya saja. Sebab Abu sengaja menghindar dari pandangan Bulan.
__ADS_1
Bulan mendorong roda menoleh ke belakang namun taksi sudah berjalan.
"Bang, kok aku seperti familiar melihat mata supir taksi tadi ya," Bulan mengingat-ingat.
"Memang kamu selama di Jakarta sering naik taksi?" Tara balik bertanya.
"Belum pernah, paling aku naik ojek, kan harus hemat Bang,"
"Oh iya, selama aku sakit, belum pernah transfer ke rekening kamu Lan, kamu pasti kekurangan uang kan," Tara merasa bersalah.
"Eh, bukan begitu maksudku, uang yang Abang transfer sebelum berangkat ke Jakarta, masih banyak kok, mas Kawin pun belum aku pakai," kata Bulan.
"Kenapa nggak kamu pakai Bulan... itu kan untuk kebutuhan kamu sehari-hari," Tara geleng-geleng kepala.
"Aku pakai kok Bang, aku ambil buat jualan pakaian ketika di kampung, sama kemarin membelikan etalase untuk Ibu," Bulan berkata apa adanya.
"Memang Ibu jualan, jualan apa?" cecar Tara.
"Jualan sembako Bang, warung kecil-kecillan, makanya aku senang ada Udin di rumah, jadi ibu ada yang membantu." jujur Bulan.
*******
"Selamat Dik, kalian akan segera mendapat momongan," dokter menjelaskan saat Bulan selesai USG.
"Alhamdulillah... berapa bulan usia kandungan istri saya, Dok?" Tara tampak bahagia.
"Terimakasih..." Tara mengulas senyum melirik sang istri di sebelah. Dan tidak luput dari perhatian dokter.
"Kalian ini menikah muda?" dokter menatap Bulan dan Tara bergantian. Sebab wajah pasutri itu memang masih sangat muda. Wajar, karena usia mereka baru jalan 20 tahun, dan jalan 22 tahun.
"Benar dok," jawab mereka kompak.
Bulan kembali mendorong roda ke halaman rumah sakit.
"Bank, kita sekalian ke apotek menebus vitamin ya," usul Bulan, sebab di rumah sakit tidak ada vitamin tersebut.
"Okay... pulang dari apotek, kita langsung ke rumah ibu Fatimah," ujar Tara mengejutkan Bulan.
"Ke kontrakan Ibu Bang? Abang yakin?" Bulan berputar ke depan Tara.
"Yakinlah, kamu kenapa sih, kaget gitu?" Tara tertawa.
"Bukan begitu, Abang kan belum sehat, memang nggak apa-apa gitu?" Bulan merasa khawatir.
"Sudah... pesan taksi gih"
__ADS_1
Bulan memesan taksi, 5 menit kemudian, sudah datang. Taksi pun meluncur ke apotek.
"Mas, bisa menunggu disisni sebentar tidak? Saya mau ke apotek dulu," kata Bulan kepada supir taksi.
"Baiklah Neng," jawab supir taksi yang sudah setengah baya itu.
Bulan pun segera menebus vitamin dimana Udin berkerja. Netra Bulan menangkap sosok Udin yang sedang melayani pembeli.
"Bulan... kamu tidak apa-apa kan?" Udin menatap Bulan dari atas sampai bawah. Ia merasa tidak tenang karena menurut Keke Bulan tinggal bersamanya.
"Hihihi... pertanyaan kamu itu aneh Din, kalau aku kenapa-kenapa nggak mungkin kan aku disini," Bulan merasa sahabatnya ini lucu.
"Cepat Udin, aku mau menebus vitamin," Bulan meletakan resep di atas etalase.
"Baiklah," tidak banyak bicara lagi Udin ambil vitamin membungkus nya ke dalam kantong plastik kecil.
"Kamu kesini numpang taksi ya Lan?" Udin mengamati taksi yang parkir di depan apotek.
"Iya, Din, aku kan kesini sama Bang Tara, terus Dia, ajak aku ke rumah Ibu," tutur Bulan tampak senang.
"Bulan, maaf ya, aku belum bisa bertemu suami kamu, soalnya sedang kerja," Udin beralasan. Jujur dia belum berani menemui Bumantara.
"Nggak apa-apa Din, terimakasih, aku pamit," Bulan segera meninggalkan Udin, masuk ke dalam taksi.
Taksi melaju ke kontrakan bu Fatimah.
******
"Mbak, obat untuk penguggur kandungan ada nggak?" tanya wanita yang memakai masker, kepada pedagang jamu tradisional di pinggir jalan.
"Ada" pedagang jamu yang mengenakan kain dan baju kebaya rambut di konde itu, memilih sekian banyak jamu. Ambil satu bungkus, lalu memberikan pada pelanggan barunya.
"Ini Mbak," tukang jamu memberikan kepada wanita itu.
"Jamu ini, di jamin ampuh Mbak?" tanya wanita itu, sambil membaca kemasan.
"Di jamin ampuh, minum satu bungkus ini, sudah pasti gugur," kata tukang jamu tampak ngeri ketakutan.
"Makanya Mbak, kalau belum siap punya anak, jangan hanya enak bikinya saja. Pikirkan dulu sebelum melakukan! itulah risiko yang harus Anda ambil! Bukan sudah tek dung! Lalu kemudian membunuhnya!" omel tukang jamu.
"Anda jangan banyak bacok! Di jual tidak jamu ini?!" wanita itu menatap horor pada pedagang jamu.
"Oh baik, ini jamu nya, tidak usah bayar, anggap saja, ini bonus karena Anda calon pelanggan saya," ibu pedagang jamu tampak ketakutan. Ia terpaksa merelakan dagangan nya, daripada pembeli itu lama-lama di tempat.
"Loe pikir, gw pengemis!" pembeli melempar uang berwarna biru ke dada pedagang. Lalu melangkah pergi tanpa permisi.
__ADS_1
****
...Happy reading....