
Fatimah masih menasehati menantunya yang hanya diam seribu bahasa.
"Baik Bu, saya sebenarnya sudah ingin cerita sama Mama, tetapi beliau belum kembali." jawab Tara pada akhirnya.
"Ibu percaya sama kamu Nak," Fatimah mengusap sisa air matanya.
"Ibu kok nangis... kenapa?" Bulan yang baru keluar dari kamar mandi terkejut. Lalu melempar tatapan pada Tara ingin jawaban.
"Ibu tidak apa-apa Lan, jika kalian mau istirahat, di kamar Udin saja," titah bu Fatimah. Fatimah segera melayani pembeli. Setelah di jawab Bulan.
"Lan mau nggak kamu antar aku jalan-jalan di kawasan ini," pinta Tara.
"Tapi sekarang sedang terik matahari Bang, sebaiknya Abang istirahat dulu, baru habis ashar kita jalan ya," saran Bulan.
Tara mengangkat pergelangan tangan memang benar sudah hampir jam 12 siang.
"Abang ke kamar dulu yuk, tapi aku bereskan kamar Udin" Bulan pun beranjak.
"Apa tidak apa-apa Lan, kalau kamar Udin kita pakai?" Tara tidak enak hati.
"nggak apa-apa" pungkas Bulan kemudian masuk ke kamar Udin.
Kamar yang di skat tripleks dan di beri pintu, inilah pekerjaan Udin.
Sampai di dalam kamar, Bulan memindai sekeliling. Walupun kecil kamar Udin tampak rapi. Wajar kamar yang hanya berukuran 4 meter di skat menjadi dua bagian, bersebelahan dengan bu Fatimah. Baju yang di susun dalam lemari kecil pun sangat rapi.
Bulan juga mengamati tempat tidur, kecil yang hanya muat satu orang. Tidak Bulan pungkiri sahabatnya ini kreativitas nya perlu di acung jempol.
"Ayo masuk Bang," Bulan membantu Tara ke kamar, bersandar di atas tiga bantal yang Bulan susun.
"Ibu tadi kenapa Bang?" tanya Bulan setelah suaminya bersandar.
Tara pun menceritakan apa yang meresahkan bu Fatimah.
"Oh... jadi ibu tanya soal itu Bang?" padahal Bulan sudah tidak mau menceritakan, tentang masalahnya, tetapi rupanya sang Ibu bisa menilai apa yang terjadi.
"Iya Lan, maafkan aku sudah membuat kamu dan ibu menderita," Tara mengusap lembut kepala istrinya.
"Semua orang tua, ingin anaknya medapatkan kebahagiaan Bang, termasuk ibu, dan juga Mama Abang, hanya mungkin berbeda cara mereka menerapkan pola pikir." tutur Bulan bijak.
"Ada orang tua yang memaksakan kehendak anaknya, padahal belum tentu yang orang tua mau sesuai dengan keinginan anak itu sendiri. Contohnya orang tua Abang, beliau pikir dengan Abang menikahi Keke, Abang akan merasakan kebahagiaan, padahal belum tentu." Bulan berkaca-kaca.
"Contoh yang kedua adalah Ibu. Ibu itu tahu mana yang terbaik buat anaknya. Namun kali ini ternyata feling nya meleset!" Bulan menyindir Tara.
Tara seketika menatap Rembulan, karena merasa tersentil.
"Meleset?" dahi Tara berkerut.
"Iya meleset dari prediksi nya. Ibu pikir, Abang pria yang punya prinsip akan selalu membela kehormatan istrinya, tidak mudah tergoyahkan," sindir Bulan.
"Tergoyahkan apa?" sangkal Tara.
"Iya ternyata suami aku, masih melirik buah yang warnanya merah mengiurkan, walaupun belum tentu buah itu rasanya manis, atau asam kan?! Padahal Abang sudah punya buah sendiri, walaupun warnanya kusam, tapi sudah jelas manis," Bulan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Sekarang Abang instropeksi diri dulu, dan renungkan kata-kata aku. Dadaa, Abang... aku mau masak yang manis hari ini," Bulan tersenyum menatap suaminya yang hanya menatapnya lekat entah apa arti tatapan itu.
*******
Sore harinya selesai mandi dan shalat ashar. Bulan mengajak suaminya jalan-jalan di perkampungan warga. Di situlah masih banyak tanah kosong milik warga penduduk asli.
"Di sini, masih banyak tanah yang kosong ya Lan?" tanya Tara, yang sedang memindai sekeliling.
"Aku nggak tahu lah Bang, tanah ini milik siapa, kan Abang yang asli penduduk Jakarta?" Bulan pikir suaminya ini lucu.
"Penduduk sini, tapi kan jauh Lan, kamu kan tahu, rumah aku di kelilingi jalan raya, kalau malam kadang berisik" keluh Tara.
"Lalu?" tanya Bulan. Yang masih mendorong roda.
"Aku mau membeli tanah di perkampungan ini Bulan, ingin membuat rumah untuk kita berdua, walaupun kecil," Tara meremas punggung tangan Bulan yang memegang pundak Tara
"Kita besarkan anak kita bersama," kata Tara antusias.
Tara bertekat akan mandiri tinggal bersama keluarga kecilnya, tanpa ada campur tangan keluarga besar untuk membina rumah tangga nya, jika keadaa tubuh Tara sudah lebih baik.
"Aku dukung rencana Abang, ikut kemana Abang pergi, asal jangan ada penghianatan di antara kita." Bulan manggut-manggut tentu senang akan pemikiran suaminya.
"Bulan..." Tara tidak mau mendengar kata itu.
"Lan, itu ada tanah di jual," Tara membaca plang bertuliskan tanah di jual.
"Iya sih Bang, tapi 500 meter loh, pasti harganya mahal," Bulan membayangkan tanah 500 meter pasti merogok kocek besar.
"Besok kalau Papa pulang akan aku ceritakan pada beliau," Tara bersemangat.
"Tenang saja Bulan, sekarang aku akan catat nomor telepon nya," Tara mencatat nomor telepon yang tertera di papan reklame, kemudian menyimpan.
Bulan kembali mendorong kursi roda angin sepoi-sepoi terasa sejuk menerpa wajah mereka.
"Sudah jam 5 Bang, sebaiknya kita pulang," kata Bulan. Kemudian putar balik. Tanpa menunggu jawaban suaminya.
********
Di kontrakan sambil melayani pembeli, Fatimah sudah selesai memasak. Mendengar dering telepon. Fatimah bergegas ke kamar tidur ambil handphone kemudian melihat siapa nama penelpon, ternyata Udin.
Fatimah.
"Assalamualaikum..."
Komaruddin.
"Waalaikumsalam..."
Fatimah.
"Ada apa, Nak?"
Udin.
__ADS_1
"Maaf Bu, malam ini saya nggak pulang ya,"
Fatimah
"Loh kenapa? Nak,"
Udin
"Malam ini lembur Bu,"
Fatimah.
"Hati-hati. Nak,"
Fatimah mengembalikan hp di tempat. Ia berpikir, pasti Udin tidak pulang malam ini lembur hanya alasan Udin saja. Fatimah berpikir pasti Udin punya alasan lain.
*******
Di kediaman Tara, bibi pun sudah menyiapkan makan malam, bahkan semua masakan sudah matang. Akan tetapi, Bulan barusan telepon bibi. Memberi kabar bahwa malam ini, dia tidak pulang ke mansion.
Bibi hanya bisa memandangi masakan yang sudah tersaji di meja makan.
"Kenapa Bi kok bengong?" tanya Sumidah yang sudah selesai mandi.
"Non Bulan malam ini nggak pulang Sum," kata bibi kecewa.
"Ya ampun... padahal susu hamil sudah di siapkan Bi," sesal Sumidah. Tadi siang ada kiriman susu hamil, dan Sumi pun sudah membuatkan untuk Bulan ternyata tidak pulang.
"Terus buat apa ini susu Bi?" tanya Sumi.
"Ya sudah biarkan saja, memang kamu mau minum Sum?" tanya bibi terkekeh.
"Bibi mandi dulu ya Sum,"
"Iya, Bi."
Bibi segera ambil handuk berniat mandi di kamar mandi dekat dapur.
"Bi, sini deh," bisik Sumi. Menarik lengan bibi mengajaknya bersembunyi.
"Ada apa Sumi?" lirih bibi.
"Lihat noh di meja makan," titah Sumi. Kedua wanita berbeda generasi itu memperhatikan Keke clingak clinguk, di samping meja makan.
Keke tahu situasi yang sepi, ia merogoh kantong, ambil benda membuka bungkus nya, kemudian membubuhkan ke dalam gelas susu hamil milik Bulan.
Dahi bibi berkerut kala menyaksikan Keke yang berbicara sendiri saat selesai membubuhkan serbuk sambil senyum-senyum.
"Astagfirlullah... apa itu yang di butuhkan di dalam susu?" bibi melebarkan mata.
*******
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Jangan lupa like komen agar budhe semangat nulis ✍✍✍💪💪💪.