
Dengan perasaan campur aduk dan langah ragu-rugu, Bulan mendekati Bisma. Memegang erat telapak tangan Tara untuk mengurangi rasa gugup.
"Se-selamat si-siang Tu'an," ucap Bulan tersendat-sendat.
Bisma tidak menoleh maupun menjawab. Mata tajamnya fokus ke arah komputer, dan tangan yang masih kekar diusianya yang menginjak 50 tahun itu, sibuk dengan mouse.
Bulan tertunduk sedih merasa diabaikan.
"Papa..." melihat kegelisahan istrinya Tara berucap. "Tadi katanya Bulan suruh di panggil, kok malah didiamkan sih," Tara pun turut kesal.
"Memang siapa yang dipanggil istrimu? Apa pantas! Menantu memanggil mertuanya dengan sebutan Tuan," ujar Bisma namun tidak berpaling dari komputer.
"Selamat siang Pa," Bulan mengukir senyum, maju mendekati sang mertua. Secepatnya meraih telapak tangan beliu menjabatnya.
"Duduk" titah Bisma.
Dengan perasaan lega Bulan menarik kursi kayu kemudian menurut.
"Kamu bahagia dengan pernikahan kamu?" tanya Bisma tanpa basa basi.
"InsyaAllah... selagi tidak ada orang ketiga Pa," sindir Bulan melirik Tara yang awalnya tersenyum manis berubah tersenyuman asam.
Begitu juga dengan Bisma melempar tatapan skeptis kepada putranya.
"Jangan khawatir Bulan, jika sampai itu terjadi Papa yang akan berada dipihak kamu!" tandas nya.
"Terimakasih Pa," Bulan kembali menoleh Tara.
"Selagi Papa masih disini, jemput kedua orang tua kamu kemari, saya ingin berkenalan," Bisma tidak tahu jika Bulan sudah tidak punya ayah.
"Baik Pa, tapi tinggal Ibu, karena Ayah saya sudah lama meninggal," wajah Bulan menjadi murung.
Bisma menatap wajah Bulan, baru kali ini paham benar dengan wajah menantunya.
"Oh maaf, Ayah kamu meninggal karena Apa?" tanya Bisma. Sebenarnya tidak tega mengingatkan menantunya denga sang ayah, Bisma merasa kasihan tetapi tentu Bisma ingin tahu kehidupan menatunya.
"Ayah saya meninggal karena bencana alam tahun 206 Pa," lirih Bulan.
"Kami turut berduka cita" ujar Bisma.
"Terimakasih Pa," Bulan menatap mertuanya dengan seksama. Bisma tidak ada mirip-mirip nya dengan Tara.
Bulan beralih menatap suaminya. Jika Bisma menatap seperti mata Elang, namun berbeda dengan Tara. Tatapan mata Tara yang teduh hampir tidak ada bedanya dengan Maya.
"Dip, besok pagi jemput mertua kamu," titah Bisma.
__ADS_1
"Okay Pa, besok kami akan menjemput,"
Obrolan berlanjut, dan akhirnya mereka keluar dari ruang kerja. Tara bersama Bulan, kembali ke kamarnya, sedangkan Bisma hendak beristirahat perjalanan dari luar kota membuatnya lelah.
********
Tin tin tiiinn...
klakson mobil terdengar nyaring. Sumidah yang sedang beres-beras di ruang tamu segera berjalan cepat keluar rumah hendak membuka pagar.
Grendeeeennngggg....
Sum mendorong pagar hingga sampai ujung.
Begitu mobil masuk Maya turun lebih dulu membantu Keke, menuntunnya perlahan. Tentu kaki Keke masih dalam keadaan pincang.
"A'a... boleh kita kenalan," todong Sumidah to the point.
"Boleh, nama saya Abu," jawab Abu sambil menurunkan belanjaan. Sebab Maya pulang dari rumah sakit mampir swalayan membeli buah.
"Oh nama yang bagus, nama saya Sumidah. Panggil saja, Sumi," Sumidah mengeluarkan jurus senyum yang memabukkan.
"Oh iya A. A'a mau minum apa? Aku buatkan ya," Sum terus menerus mengajak nya bicara walapun Abu hanya bicara seperlunya.
"Terimakasih," jawab Abu singkat, lalu tersenyum.
Tanpa Sum sadari bibi mendengar gumaman Sum. Sum ambil gelas, meletakkan teh celup dalam gelas yang ia ambil dari lemari, ditambahkan gula dan mengaduknya.
"Buat siapa Sum?" dahi bibi berkerut. Pasalnya Sum tidak suka minum manis khawatir badanya semakin gemuk.
"Eh Bibi..." Sum tersenyum malu.
"Kamu teh aya naon atuh Sum? Ditanya kok mani seri kitu?" bibi heran.
"Bentar Bi, doakan ya," pungkas Sum kemudian keluar dari pintu dapur yang terhubung ke garasi. Meninggalkan bibi yang ambil alih mencuci buah.
Dengan membawa gelas beralaskan cawan, Sum menatap Abu yang sedang mencuci mobil sungguh maha karya yang sangat sempurna. Membuat gadis manis itu mabuk kepayang.
"A'a" minum dulu," Sum meletakan teh di meja taman.
"Terimakasih... jangan repot-repot Mbak, saya bisa membuat minum sendiri," jawab Abu tanpa menoleh.
"A. Jangan panggil Mbak, saya bukan orang jawa loh," tolak Sum. Sum ingin dipanggil nama.
"Nah, kamu juga manggil saya, A'a. Padahal saya kan bukan orang jawa barat," Abu membalikan kata-kata Sum.
__ADS_1
*****
Di dalam kamar, Maya setelah masuk melihat suaminya sudah tiduran bertumpang lutut. Namun Maya mendiamkan suaminya, melempar tas asal, kemudian masuk ke kamar mandi.
Bisma menatap wajah istrinya dengan wajah yang sudah siap menabuh genderang perang hanya bisa mearik napas panjang. Netranya tidak mau berpaling hingga Maya menutup pintu kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Maya sudah selesai, lalu melewati Bisma hendak ke luar kamar, namun di hadang Bisma.
"May..." Bisma memegang pundak Maya.
"Minggir! Aku mau lewat!" ketus Maya.
"May... jangan bersikap seperti anak kecil, aku akan ceritakan semuanya," Bisma merangkul Maya mengajaknya duduk di ranjang.
Maya melengos marah dikatakan seperti anak kecil.
"Jangan begini May, kamu nggak malu sama menantumu? Sebentar lagi kita akan punya cucu loh," tutur Bisma enteng.
"Lagian! Kenapa ada masalah sebesar ini kamu nggak cerita sama aku Mas?! Kamu menganggap aku ini istrimu bukan Mas?!" Maya mengeluarkan taring. Menggoyang-goyang badan Bisma geram.
"May..." Bisma menatap sendu wajah istrinya.
"Aku di rumah ini hanya kamu anggap patung! Jika ada apapun tidak kamu ajak bicara, apa lagi musyawarah!" Maya selama ini seorang ibu yang lembut, tidak pernah semarah ini, tapi kali ini rasa kecewanya sudah sampai ubun-ubun. Jika hanya maslah lain yang menjadi persoalan Maya masih bisa mengalah. Ttapi jika menyangkut masalah anak, Maya tentu marah.
"Maya! Dengarkan dulu makanya, aku mau bicara" Bisma merangkul tubuh ramping istrinya.
"Lepas! Aku kecewa sama Mas, selama ini aku diam bukan berarti setuju dengan sikap arogan kamu itu!" Maya lantas berdiri menatap nyalang suaminya.
Maya menangis tersedu-sedu. Maya tahu jika suaminya itu memang pendiam. Tentu Maya tidak bisa merubah watak. Namun Maya hanya ingin suaminya selalu terbuka dalam segala hal.
Maya bukan hanya sekali ini kecewa, tapi sudah berkali-kali. Ia berusaha untuk bersabar. Awalnya Maya bangga jika suaminya selalu bersikap acuh tak acuh jika pada orang lain tentunya, tetapi Maya adalah istrinya seharusnya tidak bisa disamakan dengan orang lain.
"Dulu orang tua Mas kelilit hutang, dan banyak uang yang sudah Mas keluarkan untuk menutup hutang-hutang itu! Kamu tidak pernah bilang hingga rambut aku mulai memutih!" Maya menyusut air matanya dengan jari.
Bisma hanya menunduk tidak berani menatap istrinya.
"Dan tidak hanya itu! Ketika adik kamu perusahaannya hampir bangkrut! Kamu yang menyuplai dana hingga milyaran. Apa kamu pernah cerita Mas?! tidak kan Mas?!" Maya mengeluarkan isi hatinya. Selama bertahun-tahun memendam rasa kecewa dan kurang adanya komunikasi itulah. Bak gunung yang menyimpan lahar panas, kini telah meletus.
"May..." Bisma meghampiri Maya yang hanya berdiri menghadap tembok. Bisma hendak memeluk Maya. Namun Maya menghindar kembali menyandak tas, lalu membuka pingu kamar.
"Maya, kamu mau kemana? May?" tanya Bisma. Namun Maya sudah ke luar.
Bisma ambil celana panjang, mengenakan, kemudian ambil jaket kemudian menyusul istrinya.
.
__ADS_1
.