Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Disini Aku Menanti.


__ADS_3

"Kamu sudah sampai, Bul?" tanya Fatimah, beliau masih berada di tempat dimana ketika Bulan berangkat tadi memilah-milah sayuran.


"Suami kamu sudah berangkat?" Fatimah nyambung pertanyaan.


"Sudah Bu," setelah setandar sepeda, Bulan menghampiri Fatimah, tidak bicara lagi kemudian menyandak kangkung yang sudah disortir oleh Fatimah. Bulan kemudian mengikatnya menjadi ikatan-ikatan kecil.


Fatimah sejak tadi memperhatikan putrinya yang sedang murung. Tidak biasanya, Bulan diam seperti itu, jika sedang berdua biasanya tanya ini itu. Fatimah gatal ingin bertanya walaupun sebenarnya sudah tahu apa penyebab Bulan bersedih.


"Bulan..." sapa Fatimah.


"Ada apa Bu," Bulan mengangkat kepalanya cepat.


"Ibu perhatikan, kamu sejak tadi murung terùs, apa kamu memikirkan suami kamu?" tanya Fatimah.


Bulan mengangguk.


"Hehehe... kamu! Tara itu pergi belum ada satu jam loh, masa kamu sudah sedih begitu," Fatimah terkekeh.


"Ibu kok malah tertawa sih... Ibu nggak ngerti!" suara Bulan serak menahan tangis.


"Bulan... yang namanya suami istri itu tidak harus berkumpul terus, kadang kita berpisah karena sesuatu hal, itu sudah lazim," nasehat Fatimah.


"Tapi rasanya berat sekali Bu," Bulan memandang Fatimah matanya menganak.


"Ibu tahu, karena Ibu pernah merasakan itu Nak,"


"Ibu dulu pernah berpisah dengan Ayah?" Bulan mulai penasaran.


"Sering, dulu ketika Ibu sedang hamil kamu, Ayah kamu terpaksa meninggalkan Ibu bekerja di kota, sebab kami tidak cukup hanya berkumpul saja, Nak. Tetapi... Ibu juga butuh biaya untuk lahiran kamu, untuk kebutuhan sehari-hari," Fatimah tersenyum getir menuturkan kisahnya agar putrinya mengerti.


"Masa Bu," Bulan menatap bu Fatimah merasa kasihan.


"Makanya Nak, berat sih memang di tinggal suami, saat itu ibu sedang hamil, ngidam ingin ini itu, tapi hanya bisa menelan ludah, karena apa? Karena menunggu Ayahmu pulang. Saat malam tiba, ibu hanya bisa berdoa semoga Ayah kamu sehat, dan mendapatkan rezeki yang halal," Fatimah menahan sesak mengingat kala itu. Namun Fatimah tidak menunjukkan kesedihanya di depan putrinya.

__ADS_1


Belum lagi Fatimah harus terima kenyataan bahwa suaminya meninggal saat usianya masih terbilang muda yakni 30 tahun.


"Terus Bu," Bulan ingin tahu kisah ibunya lebih lanjut.


"Yah... begitulah seklumit cerita Ibu, jika Ibu ceritakan semua terlalu panjang," Fatimah tarik nafas.


"Ibu hanya ingin kamu bisa ambil hikmah dari cerita Ibu, suami kamu kan ke Jakarta mau melanjutkan kuliah, jika Dia di sini terus menunggu kamu, terus Tara gagal kuliah apa kamu nggak kasihan," nasehat Fatimah panjang lebar.


"Tapi kenapa Abang nggak ajak aku, kesana sih Bu? Aku kan sebenarnya mau ikut," Bulan manyun.


"Lalu kenapa tidak kamu tanyakan kepadanya?" cecar Fatimah.


"Sudah Bu, tapi Abang bilang, mau bicara dengan orang tua nya dulu,"


"Nah! Itu kamu tahu, coba bayangkan jika kamu di posisi Tara, menikah tanpa Ibu tahu, lantas tiba-tiba pulang membawa kaki-laki, pasti Ibu akan syok, kalau Ibu pikir, orang tua Tara akan bersikap sama seperti Ibu,"


"Iya deh," Bulan pada akhirnya mengerti.


"Ibu tidak ingin, menikah lagi?" Bulan mengalihkan pembicaraan. Selama ini Bulan tidak pernah menanyakan masalah ini, ia baru sadar ternyata sendiri itu sungguh berat.


"Bu, sekarang Bulan sudah besar, bahkan sudah punya suami, jadi Bulan ingin Ibu mencari teman hidup, Ibu kan masih muda, baru 36 tahun." Bulan menatap sendu wajah Fatimah.


"Sudah Ibu katakan, saat ini belum berpikir masalah itu Nak, sekarang ini Ibu hanya ingin rumah tangga kalian langgeng, kamu hamil, memberi Ibu cucu," jujur Fatimah.


"Wanita yang sudah seusia Ibu, menikah itu tidak hanya memikirkan diri sendiri Nak, tetapi apakah Ayah tiri kamu nanti akan sayang sama kamu," Itu lah pertimbangan yang membuat Fatimah betah menjanda selama enam tahun.


Mereka pun bercerita panjang lebar membuat bulan sedikit mengerti dan menerima kepergian suaminya anggap aja saat ini Tara sedang mencari rezeki seperti yang ayah Bulan lakukan dulu untuk masa depan mereka.


*******


Bulan sehari-harinya menyibukkan diri membantu Fatimah agar tidak terlalu memikirkan suaminya. Namun hingga tiga hari Tara tidak juga menghubungi dirinya.


Bulan pun tak kenal lelah menghubungi Tara, tetapi hanya operator yang selalu menjawab. Pikiran Bulan campur aduk. Sedih, dan kecewa. Namun karena nasehat Fatimah, Bulan selalu berpikir positif semoga Tara di Jakarta dalam keadaan sehat, dan hari sabtu nanti sesuai janjinya Tara akan kembali.

__ADS_1


Tiap malam pengantar tidur, Bulan hanya bisa mencium kemeja Tara. Wajar saja, selama ini Bulan belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, dan saat ini bayangan tara selalu di mata.


Sedang makan, sedang tidur, sedang mandi, sedang apapun, Bulan selalu ingat Tara seperti lirik lagu lama yang dinyanyikan oleh Dina Mariana.


*********


Hari berganti, hingga tiba saatnya hari sabtu Bulan bangun pagi-pagi sekali. Setelah subuh ia ke dapur.


"Kamu sudah shalat Nak?" tanya Fatimah saat sedang ke belakang ambil air wudhu.


"Sudah Bu,"


Bulan bersemangat membuka kulkas yang dibelikan Bumantara sebelum Tara pergi. Ia mengeluarkan Ayam, hari ini akan membuat Ayam goreng kesukaan suaminya.


Ia ambil panci yang menggantung, meletakan Ayam di dalamnya yang sudah ia cuci bersih.


"Kamu masak apa Bul?" Fatimah mengejutkan Bulan, yang sedang menumbuk rempah guna membumbuhi Ayam.


"Ayam goreng Bu, Bang Tara kan nanti pulang, Dia suka sekali Ayam goreng," Bulan bersemangat.


"Bukanya Tara pulangnya masih nanti sore Bul," Fatimah memandangi putrinya dengan dahi berkerut.


"Iya sih Bu, tapi kan sekarang Ayam nya diungkep dulu, biar bumbunya meresap, nanti sore baru digoreng," Bulan tak berhenti mengukir senyum. Ia nampak bahagia suaminya akan pulang.


"Iya, lakukan saja, apa yang menurutmu baik, Nak" pungkas Fatimah sambil berlalu.


Sejak pagi Bulan berharap sore akan segera tiba. Ketika mendengar adzan ashar Bulan bergegas mandi, kemudian shalat. Selesai shalat ia mematut diri di depan kaca.


"Menyambut suami harus dalam keadaan cantik," ujarnya komat kamit berbicara dengan bayangannya sendiri di cermin. Dirasa sudah percaya diri, Bulan keluar dari kamar.


"Bu, Bulan berangkat," pamit Bulan.


"Iya Nak, hati-hati," Fatimah tersenyum menatap putrinya tampak berbeda memoles bibirnya tipis-tipis.

__ADS_1


"Iya Bu" Bulan ambil sepeda kemudian menggoes dengan perasaan senang yang membuncah, karena saat ini akan bertemu dengan sang pangeran.


Akhirnya sampai di depan kecamatan dimana tempat yang dulu di minta oleh suaminya agar menunggu di tempat ini. Satu jam sudah Bulan menanti. Tempat itu sangat sepi, mendung gelap tidak ada satu orang pun yang keluar. Hanya terdengar suara guntur yang saling bersahutan membuat suasana semakin mencekam.


__ADS_2