Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Kuat menahan tekanan.


__ADS_3

Makan pagi pun telah selesai. Maya kemudian bersiap-siap hendak ke rumah sakit. Setelah salin baju, ia kembali ke ruang tamu bersama Bisma. Tampak Keke masih memainkan ponsel duduk melipat kaki.


"Keke... kamu kesini tadi naik apa?" tanya Maya.


"Numpang taksi, Tan," jawab Keke. Ia kemudian memasukkan handphone ke dalam tas.


"Sekarang, mau berangkat sendiri, atau... barengan Om sama Tante?" tanya Maya kemudian.


Sedangkan Bisma keluar lebih dulu meninggalkan istrinya.


"Memang nggak ganggu ya Tan, kalau Keke barengan Om sama Tante?" Keke bertanya balik.


"Tentu tidak... ayo," ucap Maya.


Mereka menyusul Bisma yang sudah menunggu di mobil bersama supir.


Di belakang Maya. Keke senyum-senyum sendiri entah apa yang ia pikirkan.


"Ke, ketika kalian hendak berangkat pulang ke Jakarta, apa kira-kira kamu melihat seseorang yang mencurigakan?" selidik Maya. Saat ini mobil sudah berjalan. Ia duduk bersama Bisma yang sedang chake email.


"Maksud Tante?" Keke yang duduk di samping pengemudi, menoleh ke belakang.


"Siapa tahu Ke, ada yang berniat jahat untuk mencelakakan kalian," Maya menduga-duga. Sebab Bisma sendiri belum bercerita kepadanya.


"Seingat saya tidak ada Tan, kemarin polisi juga sudah menanyakan hal ini" jawab Keke memang dia di jadikan saksi penyelidikan.


Pria yang di sebelah Maya tetap cuek. Entah mendengar perbincangan istrinya atau tidak.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. "Tan, saya mau kontrol dulu, nanti saya menyusul," ucap Keke.


"Baiklah," Maya menjawab singkat. Kemudian mereka berpisah. Maya bersama Bisma ke ruang ICU.


"Sudah ada perkembangan Bi?" tanya Maya kepada bibi. Setelah sampai di samping putranya.


"Belum Nyonya..." bibi tampak lelah, karena semalaman tidak tidur.


"Ya sudah, Bibi sebaiknya pulang saja," titah Maya merasa kasihan menatap ART nya.


"Baik Nyonya," bibi pun pergi setelah diberi uang untuk ongkos taksi oleh Maya.


"Cepat sadar Dipta... kamu hutang cerita pada Papa," kata Bisma mengusap lembut kepala Tara. Walupun terlihat tegar, sebenarnya Bisma sangatlah rapuh dan hatinya terasa tercabik-cabik.


Setelah menjenguk putranya sebentar. Bisma berangkat ke kantor di antar supir. Maya mengantar suaminya sampai parkiran.

__ADS_1


Di ruang ICU setelah kontrol. Keke menjenguk sahabatnya. "Dipta... jika boleh aku berdoa buruk, jika sadar nanti, aku ingin kamu lupa ingatan, dan melupakan istrimu. Jadi... kamu akan menjadi milikku. Hahaha,"


"Keke... kenapa tertawamu seperti itu?" tanya Maya yang baru saja masuk.


Kelopak mata Keke seketika terangkat ke atas tidak menyangka ia akan kepergok.


"An-anu.Tan" bibir Keke menegang dan gemetar, sulit untuk menjawab. "Hehe... ini Tan, teman aku sedang chat, terus... kata-katanya itu lucu.." jawab Keke asal.


Maya menatap Keke dengan ekspresi dahi berkerut.


******


Dua bulan sudah Tara pergi. Namun belum ada kabar. Sungguh Bulan meratapi nasib nya. Namun ia menyibukan diri mencoba ambil uang tabungan sedikit untuk modal berjualan pakaian.


Bulan berkeliling desa menggoes sepeda menawarkan dagangannya.


"Jadi kamu jualan pakaian Bulan?" tanya salah satu warga yang usianya lebih tua sedikit, sepantar dengan nya.


"Betul Kak, lumayan buat jajan," Bulan menjawab.


"Hahaha..." wanita berwajah jutek itu meledek.


Bulan menarik napas sesak.


"Katanya menikah sama orang kaya, tapi... mana? Baru satu bulan malah di tinggal minggat!" ketus wanita yang tak lain kakak kelas Rembulan ketika sekolah itu. Dengan wajah angkuh.


Itulah salah satu cibiran orang-orang selama Tara tidak ada. Bulan merasa asing di desanya sendiri. Hanya Halimah dan Bariah teman Bulan yang masih menganggap teman, dan juga keluarga pak Umar.


Mengapa kehidupan di daerah ini. Dalam sekejap bisa berubah? Dulu Rembulan sangat disayangi oleh teman-temannya. Namun karena iri dengki membuat mereka berubah.


Jika teman yang perempuan iri karena Bulan telah menikah dengan orang kaya. Tetapi teman yang laki-laki kecewa karena tidak mendapatkan Rembulan.


Bulan tidak menjawab perkataan kakak kelasnya. Penghinaan seperti ini sudah sering Bulan terima. Anggap saja ini adalah sebagai peluruh dosa.


"Ya sudah Kak, kalau begitu, saya permisi," jawab Bulan lalu kembali berjalan. Kira-kira beberapa meter, ada lagi wanita yang menghentikan langkahnya.


"Bulan... boleh, saya lihat bajunya?" tanya seorang ibu.


"Boleh Bu, silahkan," Bulan membiarkan pakaiannya di buka dan di rentangkan oleh ibu itu.


"Yang ini bahanya panas! Yang ini bahanya kasar! Yang ini kesempitan," Ibu setengah baya itu membuka hampir seluruh dagangan Bulan.


"Maaf Bulan! Nggak jadi," ibu itu melengos meninggalkan Rembulan yang hanya bisa menatap tidak percaya, dagangan nya diacak-acak doang.

__ADS_1


"Sabar Rembulan," gumam Rembulan seraya melipat kembali daganganya lalu memasukan ke dalam kantong.


Rembulan menjalankan sepedanya kali ini tidak di goes, melainkan ia tuntun. Rembulan tetap semangat, dan bersabar meskipun pakaianya hari ini sama sekali belum terjual.


Ketika Ashar, Rembulan singgah di masjid, hendak menunaikan ibadah shalat. Ia ambil mukena di lemari masjid setelah wudhu. Bulan bersujud di hadapan Allah, pertama yang ia sebut dalam doanya adalah; kedua orang tua, kemudian Tara suaminya.


Selesai shalat Bulan kembali keluar ketika mendengar suara yang memanggil namanya, kemudian menoleh.


"Bulan... tumben, kamu shalat di sini?" tanya Abu Bakar, kakak kelas Rembulan dulu yang hendak keluar juga.


"Eh Kak Abu, saya kebetukan lewat Kak, sedang jualan pakaian terus mampir shalat,"


"Kamu jualan pakaian Bulan?" tanya Abu tidak percaya. "Terus mana dagangan kamu?" cecar Abu.


"Betul Kak, kalau nggak percaya kita lihat yuk,"


Bulan pun keluar menghampiri sepeda. Namun betapa terkejutnya Bulan. Kala mendekati sepeda daganganya lenyap entah kemana. Bulan hanya bisa menatap rafia bekas pengikat pakaian yang Bulan masukkan sebagian ke dalam kardus dan sebagian ke dalam kantong plastik. Bulan hanya bisa istighfar dan mengelus dada.


"Kamu kenapa Bulan? Kok malah bengong," Kata Abu menggerak-gerakan telapak tangan di depan wajah Rembulan.


"Dagangan aku hilang Kak," jawab Bulan sambil geleng-geleng kepala.


"Yang benar kamu Bulan?" tanya Abu. Abu tidak percaya sebab selama ini desa nya cukup aman.


"Masa sih Kak, aku berbohong. Buat apa,"


"Astagfirlullah... aku akan coba kejar Dia Bulan, jika hanya selama kamu shalat pasti pencurinya belum jauh,"


"Tidak usah Kak," cegah Bulan tetapi Abu sudah melesat pergi.


"Astagfirlullah..." Bulan duduk di anak tangga masjid. Sudah jatuh tertimpa tangga pula yang di rasakan Bulan saat ini. Namun, ya sudahlah mau apa lagi, Bulan koreksi diri dengan kejadian hilanganya modal pakaiannya. Mungkin dirinya selama ini kuarang sedekah.


Ting


Terdengar suara pesan handphone Bulan. Dengan semangat ia segera membuka WA. Siapa tahu suaminya yang kirim pesan. Begitulah yang selalu Bulan pikirkan, tiap kali mendengar dentingan handphone.


"Huh! Cuma iklan doang," gerutu Bulan.


Untuk menghilangkan galau karena memikirkan banyak hal. Bulan iseng membuka google. Ia check lowongan pekerjaan.


Siapa tahu rezeki, dan siapa tahu juga dengan bekerja di Jakarta bisa bertemu dengan Tara, waupaun kemungkinan itu sangat kecil.


Hingga 30 menit Bulan mengotak atik ponsel. Netranya tertuju pada iklan dua lowongan pekerjaan. "Di butuhkan dua tenaga wanita sebagai pelayan restoran dan tenaga memasak," Bulan membaca dengan mata berbinar. Ia segera beranjak kembali menggoes sepeda kemudian pulang.

__ADS_1


********


"Maaf ya gaes, kalau aku telat up. Karya aku yang pertama yang berjudul. ISTRI SANG MAJIKAN. Dulu tidak lulus kontrak kerana banyak typo jadi budhe revisi dulu. Sebab sekarang banyak yang baca.😁😁😁


__ADS_2