Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Kemarahan Maya.


__ADS_3

"Siapa yang bikin nasi goreng ini Bi?!" tergambar jelas kemarahan di wajah Keke.


Bibi tidak menyahut, ia berpikir ada apa dengan nasi goreng buatan Sum?


"Jawab Bi!" Keke membentak.


"Saya yang buat Non, ada apa dengan nasi goreng itu, rasanya kemanisan, keasinan, atau... terlalu gurih?" cecar bibi.


"Cobain nasi goreng itu! Jika perlu habiskan!" sungut Keke.


Bibi mendekati nasi goreng mengambil sedikit, lalu menyuapkan ke mulut. Nasi goreng yang super pedas memang, walupun bibi sendiri, suka makan pedas.


"Enak kok Non, tidak ada yang aneh dengan nasi goreng ini," Bibi tidak menunjukkan gejala kepedesan.


Teng tong teng tong.


Terdengar bel berbunyi bibi merasa lolos dari sarang macan. Ia segera berjalan cepat ke depan hendak membuka pintu. Ia buka kunci yang masih menggantung di pintu.


Keke mengikuti bibi, rasa lapar nya hilang. Ia senyum-senyum sendiri. Pasti yang datang saat ini adalah Tara. Gadis galak itu berpikir, Tara tidak akan bisa menemukan Rembulan. Pasalnya, ia menemukan Bulan lumayan jauh dari tempat ini.


Keke tahu jika Bulan sama sekali tidak memegang uang. Karena secara tidak sengaja mendengar Bulan sedang berbicara dengan ibu nya melalui telepon.


"Kamu tidak akan bisa bertemu istrimu lagi, Dipta," gumam nya. Namun mata Keke membelalak lebar, ketika sampai di pintu. Menatap Bulan yang membantu suaminya pindah dari mobil ke kursi roda. Belum hilang rasa terkejut nya tampak Maya menepuk pundak Rembulan. Senyum terukir di bibir Maya saat berbicara sesuatu pada menantunya entah apa yang Maya bicarakan.


Keke mengontrol emosi bukan waktu yang tepat jika ia marah. Ia memperhatikan Maya berjalan lebih cepat meninggalkan Bulan lebih dulu.


"Selamat malam Ma," ucap Keke menyambut kedatangan Maya. Seolah-olah tidak ada yang ia sembunyikan.


"Malam Ke, kamu sudah makan? Sebaikanya kamu makan saja, kami sudah makan di rumah Rembulan," kata Maya santai.


Deg


Wajah Keke seperti tertampar. Ia semakin kesal, apa yang terjadi? Mengapa Maya justeru makan di rumah Bula? Sudah seakrab itukah? Pikiran Keke seolah penuh.


"Keke... kok malah bengong?" Maya mengejutkan Keke.


"Aku malas makan Ma, bibi tidak bisa bekerja. Masa masak nasi goreng saja pedasnya... Nggak ketulungan," adu Keke.


Maya tidak menjawab, kemudian membuka penutup saji. "Kok masak nasi goreng... itu Bibi sudah masak," Maya menoleh Keke yang tampak suntuk.


"Masa tempe sih Ma, akukan nggak suka tempe," rengek Keke, sungguh tidak tahu malu. Numpang, tapi pengen makan enak.

__ADS_1


"Ya sudah Ke, Dipta kan sekarang memang senang makan tempe, jika kamu nggak suka... besok bisa pesan sama Bibi," Maya menanggapi dengan sabar.


"Mana mau Ma, paling kalau aku suruh membantah," Keke merengut.


"Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu pesan online saja Ke, kasihan Bibi kalau harus memasak lagi," pungkas Maya, lalu ke kamar meninggalkan Keke yang masih berdiri memegangi kursi meja makan.


Keke kesal lalu menjatuhkan pantatnya di kursi. Hari ini kenapa sungguh menyebalkan. Pikir Keke.


"Alhamdulillah... neng, Bibi teh seneng... lihat kamu kembali Ke rumah ini," kata Bibi ketika dari luar hendak mengantarkan tas ke kamar, melewati meja makan mendapati Keke sedang menopang dagu.


"Yang penting... Bang Tara tidak akan tergoda wanita lain, dan tidak mudah dipengaruhi oleh wanita yang berniat menghancurkan rumah tangga kami, saya pasti akan kembali Bi," Sindir Bulan.


Keke melempar tatapan sinis ke arah Bulan, yang hanya menanggapi dengan senyuman.


Tara mendongak menatap Bulan yang mendorong roda di belakang nya. Ia merasa tersentil dengan sindiran istrinya.


"Bi, tolong tas nya disimpan di kamar saya lagi ya," titah Bulan.


"Baik Neng," bibi belok kanan ke kamar Bulan. Sedang Bulan ke kiri segera membuka kunci kamar yang diberikan oleh bibi. Selama kamar Tara kosong seharian bibi tidak membukanya setelah ia bersihkan tadi pagi.


"Aku langsung tidur ya Lan," Tara terlihat lelah ingin segera merebahkan tubuhnya.


"Iya, tapi ke kamar mandi dulu Bang, bersih-bersih," kata Bulan seperti menasehati anak kecil.


"Capek Ya?" tanya Tara mengusap lembut kepala istrinya yang sudah memejamkan mata.


"Sangat Bang, aku tidur ya, perutku rasanya kencang sekali," kata Bulan kakinya ia angkat ke atas guling yang biasa Tara pakai agar lebih tinggi.


"Tidurlah..." Tara menarik selimut menutup tubuh Bulan hingga sampai dada. Hanya waktu 5 menit Bulan sudah tidur.


Tara menatap sendu wajah istrinya. Di saat sedang hamil begini, harusnya ada suami yang memanjakan. Membelikan makanan yang ia suka, mengantar ke dokter, mengajak nya ke mall membelikan baju hamil, tetapi justeru sebaliknya.


Tara menarik napas berat, apalah daya, ia memang sedang diuji. Semoga Bulan tetap bersabar menerima kondisinya yang seperti sekarang.


Tara pun merebahkan tubuhnya tidur miring menghadap sang istri. Menghujani ciuman ke wajah Bulan yang sudah pulas. Pipi, dahi, bibir ia jelajahi sebelum akhirnya tidur juga.


*******


Malam berlalu, datanglah pagi. Maya sudah bangun dari tidurnya. Setelah selesai shalat, ia ambil handphone sambil memanjakan tubuhnya, menumpuk bantal untuk ia bersandar.


Maya vidio call suaminya, biasanya Bisma jam segini sudah bangun juga.

__ADS_1


"Hallo!"


Tampak Bisma masih mengenakan pakaian koko, dan belum bangun dari sadjadah.


"Ada apa may?" tanya Bisma seperti biasa nggak ada basa basi.


"Ah! Papa... kalau di telepon jawabnya ada apa?" omel Maya.


"Ya terus bagaimana May, kamu nggak mengenal suami kamu ini, seperti Apa?" Bisma bersandar di ranjang. Saat ini masih di kamar hotel.


"Orang tuh jangan kaku begitu apa! Sama istri, kalau di ajak ngobrol jawabnya formal," kata Maya kesal. Suaminya jika di telepon tidak pernah ada kata romantis. Panggil sayang, cinta, atau apa. Pikir Maya.


"Iya, iya... sekarang mau bicara apa aku dengarkan," Bisma geleng-geleng kepala.


"Gini Pa, ternyata Bulan sama Dipta itu sudah menikah. Papa harus tahu itu. Besok kalau Papa pulang... jangan sampai marah-marah ya. Biarkan saja Tara menikah muda, semua sudah terjadi, dan Papa harus tahu, kita akan mempunyai cucu," tutur Maya panjang lebar.


Bisma tidak menjawab fokus dengan penuturan istrinya yang ngebut seperti mobil tanpa rem.


Maya lagi-lagi kesal, kata-katanya tidak ditanggapi.


"Papaaaa...!!!" pekik Maya mengejutkan Bisma.


"Maya! Kamu itu loh, teriak-teriak." Bisma mengingatkan.


"Lagian! Ngomong dari tadi nggak ditanggapi, sudah! Aku tutup saja!" Maya membuang wajah dari layar.


"Tunggu! Aku sudah tahu semua, May," jawab Bisma enteng.


"Apa?! Papa sudah tahu? Sejak kapan?" cecar Maya


"Sejak Tara kecelakaan," Bisma lastas berdiri pindah ke tempat tidur.


"Apa? Kenapa Papa nggak bilang? Papa jahat!"


Tut


Maya memutuskan vidio call sepihak, kemudian melempar hp ke tempat tidur. Ia kesal, Bisma tahu bahwa Tara sudah menikah saat Tara kecelakaan, itu artinya Bisma menyembunyikan darinya selama dua bulan. Lalu apa maksud nya??? Begitulah pertanyaan Maya dalam hati.


Deerrt... deeerrrt..


Handphone Maya terus bergetar. Ia menelisik si penelepon, ternyata suaminya. Maya mengabaikan saja meninggalkan handphone ke luar dari kamar lalu ke dapur.

__ADS_1


.


.


__ADS_2