Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Aksi Tangan Jahil.


__ADS_3

"Sepertinya ada pihak-pihak yang sengaja ingin membuat kita bangkrut Pa" Tara menjambak rambutnya gusar. Hanya dalam waktu sehari semua investor membatalkan kontrak pembelian, maupun penyewaan properti.


Deerrtt dereett.


Saat sedang tegang handphone Bisma bergetar.


"Hallo," Bisma menyahut suara dari seberang.


(....)


"Apa?!" intonasi suara Bisma meninggi entah apa yang di bicarakan di handphone. Hingga beberapa menit kemudian Bisma mengakhiri obrolan.


"Ada apa lagi Pa?" Maya menatap lekat wajah Bisma seperti ada sesuatu.


"Para pekerja proyek pembangunan hotel kita di kota M, semua mogok May," Bisma meremas dagu nya gusar.


"Kenapa bisa begitu Pa? Apa alasannya, dan sejak kapan?!" Maya mencecar pertanyaan.


"Baru hari ini May," jawab Bisma. Mencoba untuk bersikap tenang.


"Memang siapa yang telepon baru saja Pa?" Tara meletakkan handphone miliknya kemudian mendekatkan roda ke depan Bisma bersebelahan dengan Maya.


"Gavin," jawab Bisma singkat.


"Lalu apa yang kita akan lalukan Pa?" Maya tak kalah gusar.


"Hanya satu, kita harus tenang, anggap saja kita sedang berkompetisi, sudah pasti ada kalah menang," Bisma bersikap lebih santai dibandingkan anak dan istrinya. Sebab hal ini lah sejatinya sesuatu yang bijaksana.


"Kita selidiki kemudian kita balas perlakuan mereka Pa," Tara merasa geram.


"Tenang lah Dipta, alangkah lebih baik jika kita tetap fokus dengan rencana kita ke depan. Yang penting kita harus waspada jika mereka sampai berbuat berlebihan. Untuk tidak menyerah dengan perilaku buruk mereka," pungkas Bisma menghibur anak dan istrinya.


Maya bersama Bisma lalu meninggalkan ruang kerja. Mengikuti Tara yang sudah mendorong roda lebih dulu. Mereka akhir nya berpisah. Maya dan Bisma ke kamarnya Tara pun demikian.


"Abang dari ruang kerja ya?" tanya Bulan ketika Tara sudah sampai di kamar.


"Iya" tergambar jelas ketidak puasan di wajah Tara.


"Kenapa Bang," Bulan menggenggam tangan Tara. Tanpa cerita pun Bulan sudah mengerti jika suaminya ada masalah.


"Lan, sepertinya kita gagal membeli tanah di perkampuan," Tara tampak menyesal. "Usaha kita sedang menurun drastis," sambung Tara.

__ADS_1


"Sudahlah Bang, jangan terlalu dipikirkan masalah pembelian tanah itu. Yang namanya membeli tanah tidak seperti membeli kacang goreng, jika gagal itu sudah biasa. Anggap saja itu belum rezeki kita." kata Bulan membuat Tara sedikit lega.


"Maaf ya Lan, mudah-mudahan jika kita sudah punya rezeki lebih, tanah itu belum terjual," kata Tara.


"Aamiin... Bang yang penting kita tetap usaha dan berdoa," Bulan meraup kedua telapak tangan.


"Terimakasih Lan" ujar Tara. Ia sudah terlanjur mencintai lokasi tersebut. Sebenarnya Tara sudah ada planing kedepan, berencana akan membuat rumah untuk mereka tinggali, dan ingin membuat toko sembako yang besar untuk mertuanya, tetapi semuanya gagal.


********


Tiga hari kemudian Bulan sudah berdandan cantik. Sebenarnya ia tidak mau dirias walaupun hanya tipis. Sebab saat ini ia sedang tidak mau mencium perona bibir dan juga bedak yang lain, mungkin karena bawaan bayi.


"Nah... kamu cantik kan?" Maya tersenyum menatap menantunya.


"Terimakasih Ma," Bulan membalas senyum itu, walaupun ia mual mencium aroma kosmetik. Namun tentu Bulan tidak akan mengecewakan mertua.


"Mbak Fatimah, lihat ini anak kita," Maya memamerkan Bulan kepada besan.


"Terimakasih Bu," Fatimah terharu ternyata mertua putrinya sangat menyayanginya.


Terlihat dari persiapan acara dan juga interaksi Maya terhadap Rembulan sudah tidak diragukan lagi.


"Abu... nanti kamu memimpin anak-anak pengajian ya," titah Maya kepada Abu.


Acara syukuran berlangsung. Anak-anak yatim yang Maya undang sudah berkumpul. Begitu juga dengan para tetangga sekitar mereka sudah hadir.


Tetapi yang membuat Bisma tercengang adalah; para undangan rekan bisnis tidak ada satu pun yang datang.


"Apa salah kita Pa?" tanya Maya berkaca-kaca menatap suaminya.


"Biar saja May, tidak usah terlalu kita pikirkan, tujuan awal kita mengundang anak-anak yatim maka kita harus memperlakukan mereka dengan baik," Bisma berkata bijak.


"Selamat siang Tuan Bisma," datang satu orang yang tak lain adalah Handoko.


"Selamat siang Pak Han, Anda datang hanya seorang diri? tanya Bisma lalu bersalaman.


"Betul, sebenarnya ingin membawa pasangan, tetapi ternyata jodoh saya masih dalam angan," Handoko terkekeh menatap Fatimah yang sedang ngobrol bersama Tara, Bulan, Udin dan juga Abu.


"Waah... sudah ada bayangan rupanya," kelakar Bisma. Kedatangan Handoko sedikit merasa lega.


"Sudah... tapi beliau belum merespon perhatian saya," lagi-lagi Handoko melirik Fatimah.

__ADS_1


Usut punya usut ternyata Handoko adalah seorang perjaka tua. Dulu ia terlalu sibuk bekerja hingga melupakan yang namanya pernikahan. Boleh ia sukses dalam hal materi, namun tidak untuk masalah jodoh. Sebenarnya banyak wanita yang menaruh hati pada Handoko. Namun belum ada yang srek di hati.


"Selamat siang," tiga orang datang yang tidak lain adalah Keke, Herlina, dan juga Agung papa Keke.


"Selamat siang, Gung," begitulah Bisma memanggil nama papa Keke.


"Kok sampai telat Lin?" tanya Maya.


"Biasa May, Mas Agung sedang banyak pekerjaan," jawab Lina.


"Mari duduk," Maya mengajak Keke dan juga Herlina bergabung dengan Fatimah, sementara Bisma bergabung dengan para tetangga di susul Handoko dan juga Agung.


Tamu yang terakhir wanita paruh baya, datang hanya seorang diri di antar Sumidah atas permintaan beliau menemui Maya.


"Mbak Atin," sapa Maya lalu cipika cipiki.


"Maaf jeung Maya, saya terlambat," kata Atin.


"Nggak apa-apa Mbak Atin, pengajian belum dimulai kok," Maya tersenyum.


"Bagaimana keadaan Ananta Tante, maaf saya dan istri belum sempat menjenguk," Begitu melihat orang tua sahabatnya. Tara menggandeng Rembulan menemui beliau. Ya tamu terakhir itu adalah Atin mama Ananta.


"Tidak apa-apa Dipta..." Atin menjawab lalu melempar tatapan ke arah Bulan yang di gandeng Tara.


"Ini Istri kamu Dip? Cantik sekali, kamu pintar mencari jodoh," puji Atin. Atin tidak menyadari jika ada yang tidak suka dengan pujian itu.


"Tante bisa saja," Bulan tersenyum. Namun senyum itu segera menghilang kala Keke menatapnya tidak suka.


"Mari semua sambil mencicipi hidangan," kata Maya. Mereka mencicipi makanan yang di hidangkan hingga beberapa menit kemudian.


Terdengar pembacaan doa yang di pimpin Abu menghentikan obrolan. Terdengar lantunan ayat suci al quran yang di bacakan oleh salah satu anak yatim. Semua menunduk membaca buku yang mereka pegang masing-masing.


Di saat orang-orang sedang khusyu bukan turut ibadah justeru tangan jahil ambil benda dari tas. Matanya mengerling mencari celah memastikan bahwa tidak akan ada orang yang memergoki aksinya. Tangan jahil itu membubuhkan serbuk ke dalam gelas milik Bulan tanpa Bulan sadari sangking khusyu berdoa.


Setelah selesai melancarkan rencana buruknya. Wanita itu yang memiliki tangan jahil ke toilet dengan senyum mengembang. Tanpa ia sadari wanita yang duduk di belakang Bulan melihat kejadian itu. Ia ambil gelas di depan Bulan dengan cepat lalu mengganti nya dengan yang baru, kemudian membawa benda tersebut kebelakang.


Ia meletakkan minum yang sudah bercampur dengan entah apa itu di luar di tempat tong sampah di pinggir jalan.


Guk. Guk. Guk.


Mendengar suara guguk yang berlari ke tempat sampah wanita itu berlari kembali ke dalam.

__ADS_1


.


__ADS_2