Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Baikan.


__ADS_3

Maya menyandak tas lalu ke luar dari kamar dengan linangan air mata. Saat itu berpapasan dengan Rembulan yang hendak ambil minum untuk Tara di meja makan.


Bulan menatap wajah mertuanya sendu, namun lidahnya kelu untuk bicara. Hanya bisa memandangi Maya yang membuka pintu berjalan ke luar rumah.


Belum hilang rasa terkejut nya, Bulan menatap Bisma yang terburu-buru mengejar Maya.


Di luar rumah, Maya membuka pagar kebetulan ada taksi lewat kemudian menyetopnya.


Sementara Bisma mengejar keluar pagar namun taksi sudah berlalu. Ia bergegas ke garasi hendak mengeluarkan mobil.


"Siapa kamu?" tanya Bisma terkejut melihat Abu yang sedang membersihkan karpet mobil milik Tara yang digunakan untuk mengantar Maya tadi.


"Saya supir Tuan, baru mulai bekerja tadi pagi," jawab Abu mengangguk santun.


"Sekarang antar saya cepat!" intonasi suara Bisma meninggi.


"Siap Tuan," Abu segera mengeluarkan mobil Bisma yang sudah dimasukkan ke garasi oleh Gavin setelah pulang dari luar kota tadi pagi.


"Sekarang ikuti taksi nomor sekian-sikian," titah Bisma masih berharap jalanan macet dan tidak akan tertinggal jauh.


********


"Bang, Mama Maya kenapa Ya?" tanya Bulan sambil memberikan segelas air pada suaminya.


"Memang kenapa?" Tara bertanya balik setelah meneguk air lalu mengembalikan gelas pada Bulan.


"Mama tadi menangis Bang, kelihatan sedih gitu, terus lari ke luar kayaknya ribut deh sama Papa" tutur Bulan terbawa perasaan.


"Masa sih... selama ini Papa sama Mama nggak pernah bertengkar kok, ya wajar sih... kalau Mama suka kesal, karena Papa itu terlalu cuek," tutur Tara memang benar.


"Nggak lama setelah Mama pergi, Papa mengejar Bang, aku yakin, jika beliau sedang ada masalah," Bulan meyakinkan Tara.


"Tolong ambil handphone aku Yank," titah Tara. Tara berniat menghubungi Maya. Ia menjadi ingat ketika ngobrol satu jam yang lalu Bisma mengatakan bahwa Mama sedang ngambek.


"Ini Bang"


"Terimakasih," Tara mencari nomer Maya, setelah ketemu lalu menghubungi.


"Tidak di angkat Yank," Tara merasa khawatir.


"Coba telepon Papa Bang," saran Bulan.


Tara pun menghubungi papa nya tapi tetap saja tidak diangkat. "Kok jadi dua-duanya nggak diangkat gini sih?!" Tara benar-benar kepikiran.

__ADS_1


"Terus bagaimana ini Lan?" Tara mengacak rambutnya.


"Coba aku ke luar dulu Bang, cari tahu, mungkin bibi melihat," kata Bulan. Ia meninggalkan Tara, sampai di ruang tamu sangat sepi, kemudian ke halaman. Netranya menyipit kala melihat garasi terbuka, dan tidak bisanya demikian.


Bulan memutuskan jalan ke garasi. "Sum kok sepi, pada kemana?" selidik Bulan.


"Tuan pergi diantar A'a Abu Non, entah mau kemana," jawab Sum.


"A'a Abu? Ciee... cieeee...," Bulan meledek.


"Nona..." Sum tersipu.


"Kamu suka sama Kak Abu? Kalau iya, nanti aku comblangin ya," Bulan melupakan sejenak tentang mertuanya.


"Memang Non kenal ya, sama A'a?" Sum melempar selang lalu mendekati Bulan, yang berdiri di depan garasi.


"Kenal Sum, Kak Abu itu tetangga saya di kampung, Dia itu sholeh loh," tutur Bulan. "Ya sudah Sum, nanti saya akan cerita banyak tentang Abu sama kamu, sekarang saya mau telepon Dia dulu."


"Iya Non, terimakasih,"


"Sama-sama" Bulan segera ke dalam akan segera menghubungi Abu.


******


"Anda tidak percaya kalau wanita yang bernama Maya ini istri saya?!" sarkas Bisma.


"Maaf Tuan, kami disini hanya menjalankan tugas, kami harus menjaga kenyamanan siapapun yang menginap di sini," tegas resepsionis wanita.


"Kamu pikir, saya akan merampok disini?! Saya hanya berniat menemui istri saya kok," Bisma tampak emosi.


"Sekarang begini saja, jika Tuan memang suami wanita yang bernama Maya Juwita, kami minta bukti." salah satu resepsionis mengambil jalan tengah.


Bisma segera membuka handphone mencari galeri, karena ia menyimpan surat-surat penting di situ, kemudian menunjukan.


Kedua resepsionis itu saling pandang, lalu keduanya mengangguk memberi tahu nomor kamar Maya.


Bisma segera mencari kamar dimana istrinya berniat menginap. Setelah keluar dari mansion, Bisma minta Abu agar ngebut mengikuti taksi yang ditumpangi istrinya.


Sampai lampu merah, tampak Maya di dalam taksi tepat berada di sebelah Bisma. Bisma menyuruh Abu hingga sampai hotel tersebut.


********


"Mau apa?! Kamu ikuti aku kesini?!" sungut Maya. Ketika mendengar pintu kamar di ketuk Maya segera membuka karena ia pikir petugas hotel. Padahal Maya baru 15 menit berada di kamar.

__ADS_1


"May... maafkan aku, aku janji, akan merubah sikap aku sedikit demi sedikit," Bisma memeluk Maya dari belakang. Napas Bisma menerpa leher Maya. Maya kali ini tidak memberontak.


"May... aku akui ketika itu memang tidak memberi tahu kamu jika keluarga aku selalu merong-rong," Bisma menempelkan dagu ke pundak istrinya.


"Karena..."


"Karena Apa?!" potong Maya, balik badan menatap sinis wajah Bisma.


"Karena... aku takut kehilangan kamu May..." lirih Bisma. "Aku mencintai kamu Maya"


Maya terperangah menatap lekat wajah suaminya. Selama menikah hingga 25 tahun, kata cinta belum pernah terucap dari bibir Bisma.


"Makanya May... aku kerja keras, agar kamu bisa hidup bahagia dan layak, walaupun keluarga aku selalu meminta ini itu, tidak mengurangi hak kamu sebagai istri aku May," jujur Bisma.


Tangis Maya pecah, kemudian menghambur ke pelukan suaminya. Bisma mengusap punggung istrinya lembut, selama ini tidak menyadari bahwa istrinya menderita luka hati.


Selama ini Maya tampak tidak pernah ada masalah, menerima segala kekurangan yang Bisma miliki. Namun ternyata Bisma salah.


"May..." Bisma mengurai pelukan.


"Kita perbaiki dari awal, jika aku salah terus ingatkan Ya," Bisma memeluk pundak Maya yang masih terisak, mengajaknya duduk di ranjang.


"Maaf Mas, aku sudah emosi tadi," lirih Maya. Membuat pria berkumis tipis itu tersenyum.


"Senyum dong," terkekeh. Lalu merebahkan tubuh Maya ke ranjang.


"Terus... kenapa Mas nggak mau cerita sama aku, kalau Dipta sudah menikah? Dipta itu anak kita Mas, bukan adikmu, maupun orang tuamu, jika ada salah bisa kamu tutup-tutupi dari aku," Maya mengeluarkan isi hatinya.


Bisma pun menceritakan tentang penyelidikanya di kampung Rembulan.


"Jadi... Mas sudah tahu selama itu?! Keterlaluan!" Maya merengut kesal.


"May... sebenarnya aku mau cerita sama kamu sejak saat itu, tetapi hasil anak buah aku menemukan masalah lain, dan ini ada sangkut pautnya dengan Keke,"


"Keke?! Kenapa dengan Keke," potong Maya menghadap Bisma.


"Keke tidak suka ketika Tara menikah dengan Bulan Maya, dan asal kamu tahu, Keke itu menghalalkan segala cara, agar bisa merebut Dipta dari Rembulan" Bisma geleng-geleng kepala.


"Iya wajar lah Pa, Keke kan cinta sama Dipta, sudah pasti lah kalau Keke itu cemburu," Maya masih yakin jika Keke wanita baik.


"Cek! ini nih, kenapa aku nggak mau cerita sama kamu, kamu pasti tidak akan percaya May" Bisma meraup wajahnya gusar.


.

__ADS_1


__ADS_2