
Praaannngggg..."
Nampan yang Bulan bawa terlepas dari tangan, karena gemetar ketika mendengar perbincangan Maya dengan Tara. Bahwa suaminya berniat menikahi Keke.
Isi nampan pun hancur berantakan berserakan di lantai. Bulan syok mendengar kenyataan itu.
"Bulan..." tegur Maya, menghampiri Bulan yang masih terperanjat. Sedangkan Tara tertegun menatap Bulan dari kejauhan.
"Nyonya... sa-saya... min-minta maaf," Bulan memandangi wajah Maya, menahan air matanya jangan sampai jatuh.
"Hati-hati Bulan... memang kenapa? Kok nampan nya bisa jatuh?" Maya memindai sekeliling, tapi tidak ada yang membuat Bulan kesandung.
"Maaf Nyonya, saya tidak hati-hati," alasan Bulan masuk akal.
"Ya sudah, ambil lagi yang baru, terùs... sekalian bilang Bibi suruh bereskan beling ini," titah Maya.
"Baik Nyonya," Bulan pun ke dapur.
Suatu hal yang paling menyakitkan setiap wanita dalam kehidupan berumah tangga adalah; jika diduakan. Seperti yang dirasakan Rembulan saat ini. Benarkah, pernikahan yang belum seumur jagung akan kandas? Dan akan menjadi janda saat usianya belum genap 20 tahun? Ya Allah.... Hati Bulan bagai tersayat sembilu.
*******
"Bulan kenapa ya Dip, kok piring nya sampai pecah?" Maya meninggalkan pecahan piring.
Bumantara menggeleng lemah. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Agak lama juga ibu dan anak itu melanjutkan perbincangan. Namun Bulan tak kunjung masuk.
"Bulan... kok kamu lama? Bibi kemana?" cecar Maya ketika Bulan kembali. Meletakan nampan di pinggir ranjang.
"Maaf Nyonya, saya tadi ke kamar mandi dulu," jawab Bulan menunduk bukan berarti menunjukkan kebodohan, tetapi menyembunyikan mata merahnya. Memang benar. Ia menangis dulu di kamar mandi sebelum akhirnya ke dapur.
Tara melirik mata Bulan yang sembab hatinya tercubit. Namun ia segara berpaling.
"Oh, ya sudah... nggak apa-apa," Maya berkata lembut.
"Permisi Nyonya, saya bereskan beling dulu," Bulan ingin berlalu tapi lenganya ditahan oleh Maya. Sedetik kemudian Bulan tidak bisa lagi menyembunyikan mata merahnya.
"Loh memang Bibi kemana?" cegah Maya.
"Biar saya saja Nyonya, saya kan yang memecahkan piring. Berarti saya yang harus bertanggung jawab,"
"Iya, tapi kan itu bukan tugas kamu Bulan," Maya tidak mau dibantah.
"Tidak apa-apa Nyonya, sesama ART tidak boleh saling perintah," jawab Bulan diplomatis.
Deg
Seketika Tara mendongak, tidak rela Bulan berbicara seperti itu. Tetapi Bulan segera keluar kamar, hendak mencari peralatan untuk membersihkan sampah.
"Bi... tempat menyimpan sapu dimana ya?" tanya Bulan ketika sampai di dapur.
"Di belakang Neng, buat apa?" Bibi balik bertanya.
"Mau membersihkan beling Bi, piringnya pecah," Bulan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Biar saya, atau Sumidah saja yang membersihkan, Neng," Bibi menahan tangan Bulan.
"Tidak usah Bi," Bulan pun meninggalkan Bibi sambil membawa sapu, pengki, dan kain pel. Bibi tersenyum menatap Bulan dari belakang.
"Kenapa senyum-senyum Bi?" tanya Sumidah.
"Itu loh Sum, perawat Tuan yang baru, ternyata cantik, dan baik," Bibi berdecak kagum.
"Biasa saja!" sungut Sumidah kemudian beranjak pergi meninggalkan bibi yang masih bengong dengan sikap Sumidah.
*******
Di kamar tamu, Keke sejak kedatangan Bulan tadi pagi, tidak mau keluar. Ia mengurung diri di kamar. Memeluk kedua lutut seraya mengumpat kasar.
"Kurangajar sekali perempuan itu! Kenapa justeru datang kesini sih!
Ia bergumam, sudah berbagai cara agar Tara mau menerima dia menjadi istrinya, tetapi Bulan tiba-tiba datang.
Dunia mengapa sempit sekali? tanya Keke dalam hati.
Pradipta dan Maya sudah bisa ia kendalikan hanya tinggal mencari cara agar bisa meluluhkan hati Bisma. Tetapi masalah ini belum bisa Keke selesaikan justeru muncul istri sah Dipta. Keke benar-benar marah.
Flashback on.
"Tan, sudah berapa kali mencari perawat, tapi Dipta hanya ingin dirawat sama saya," tutur Keke.
"Terus... menurut kamu bagaimana Ke, apa yang harus Tante lakukan?" Maya merasa putus asa. Pasalnya Dipta selalu teriak-teriak ketika di dekati oleh orang lain.
"Ijinkan kami menikah Tan," kata Keke enteng.
"Tante... dengan kami menikah, saya akan bebas merawat Dipta, tidak ada lagi merasa risi. Alasan Dipta marah-marah jika di rawat oleh orang lain, mereka semua itu waniata Tan, sudah pasti Dipta merasa risi." tutur Keke sok bijak.
"Tapi kan, kamu tahu sendiri Ke, setiap kami mencari perawat, yang melamar rata-rata perempuan,"
"Tan, selama yang merawat Dipta adalah perempuan, Dipta akan selalu bersikap seperti itu. Saya mencintai Dipta setulus hati Tan, saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Tara, dan merawat sampai sembuh," tutur Keke.
Maya diam tampak berpikir, hingga beberapa menit kemudian. "Masalah ini....Tante akan rundingkan dengan Om Bisma dulu Ke, biar bagaimana kalian masih sangat muda, apa lagi masih kuliah." Maya tak mau gegabah.
"Masalah kuliah, jangan dipikirkan Tan, kami akan mengambil cuti dulu, setelah Dipta sembuh... kami akan lanjutkan," kata-kata Keke telah menghipnotis Maya.
"Kalau begitu, saya temui Om dulu Ke,"
"Okay... Tan. Oh iya Tan, boleh tidak, saya memanggil Tante dengan panggilan Mama?"
"Terserah kamu, mau panggil apa Ke," jawab Maya, kemudian keluar kamar.
Setelah kepergian Maya Keke menyeringai licik.
"Sebentar lagi Dipta akan menjadi milikku! Hahaha..." Tawa Keke bergema di kamar tamu seorang diri.
Flashback off.
"Aaahhh..." pekik Keke. Hingga terdengar dari luar kamar.
__ADS_1
Tok tok tok.
Ceklak
Keke membuka pintu ternyata Maya yang mengetuk.
"Keke... kamu tidak apa-apa?" tanya Maya panik. Memandangi Keke dari atas sampai bawah.
"Ee... itu, ta-tadi ada Kecoa," jawab wanita yang berdandan menor itu, gugup.
"Kecoa? Masa sih?" Maya masuk kamar memperhatikan sudut-sudut bahkan sampai melongok ke kolong tempat tidur.
"Tidak ada apa-apa Ke,"
"Anu Tan, mungkin sudah terbang keluar saat pintu dibuka tadi," Keke pintar mencari alasan.
"Mungkin juga Ke. Oh iya, kamu nggak kuliah?" Maya bicara yang lain. Pasalnya sudah jam 9 Keke masih belum berangkat.
"Kuliah Tan, habis ini mau berangkat." Keke mengakhiri pembicaraan karena Maya sudah ke luar dari kamar.
Maya kemudian diantar sopir pribadi menuju kantor properti, menyusul suaminya. Begitulah kegiatan Maya sehari-hari, membantu Bisma. Maya tidak ingin suaminya mempunyai karyawan wanita satu ruangan.
Maya membuka pintu ruangan tampak pria dingin sedang serius di depan computer, siapa lagi jika bukan Bisma.
"Pa," sapa Maya sambil meletakkan tas di meja suaminya.
"Heeemmm..." jawab Bisma. Jawaban seperti itu sudah biasa Maya dengar. Jadi tidak kaget lagi.
"Pa, perawat Dipta yang baru, anaknya ternyata baik Pa, tapi sayangnya, sikap Dipta masih belum berubah," Maya berubah murung.
"Memang Dipta ngamuk lagi?" tanya Bisma pada akhirnya. Walaupun masih serius menatap computer.
"Ngamuk sih nggak, tapi aku perhatikan, Rembulan habis menangis," tutur Maya.
"Sudah pasti kan anak kita itu menyakiti hati Dia." Wajah Maya berubah sendu.
Bisma tidak menjawab tetap asik bekerja.
"Papa... ih! Dengar nggak sih?! Aku ngomong!" sungut Maya.
"Terus... Papa harus apa?" jawab Bisma menjengkelkan Maya.
"Tahu. Ah!" Maya pun beranjak pindah ke sofa. Iama-lama kesal juga. Sekali-kali kalau diajak bicara masalah serius, inginnya suaminya itu memberi solusi. Bukan seperti bicara dengan robot.
Melihat istrinya ngambek, Bisma menghentikan kegiatanya. Lalu duduk di sebelah Maya.
"Kok malah ngambek sih... kan Papa tanya May," Bisma bersandar di sofa dengan mata terpejam.
"Sekarang aku mau minta pendapat Papa. Jawab dengan jujur. Keke ingin cepat kita menikahkan mereka,"
"Apa?!" seketika Bisma membuka mata.
*******
__ADS_1
...Happy reading....