Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Bukan Bumantara Yang Dulu.


__ADS_3

Merasa ada yang mengusik tidurnya Bumantara membuka mata. Ia mempertajam pendengaran menyingkirkan selimut yang menutup telinga.


Tanganya terangkat ingin segera menghempaskan tangan wanita entah siapa gerangan yang sudah berani memeluk dan menangis di dadanya. Namun mendengar suara familiar niatnya urung.


"Hiks... hiks. Abang... aku rindu Bang, kenapa bisa terjadi begini Bang,"


Bulan... benarkah ini Bulan? Lalu mengapa Dia bisa berada disisi?


Suara ini, bau tubuh ini, pelukan ini, yang selalu Tara rindukan. Sesaat Tara membiarkan tubuh Bulan bergetar di dadanya.


Tara menitikkan air mata tanpa Bulan tahu. Ia ingin Bulan memeluk tubuhnya seperti ini selamanya.


Namun, masih segar dalam ingatan Tara, menurut penuturan Keke sahabatnya, dan bukti-bukti bahwa Bulan selingkuh dengan Abu Bakar pria alim dan juga tampan. Tara merasa kecewa dan marah.


Secepat itukah Bulan melupakan dirinya? Harga diri Tara merasa di injak-injak. Baru selama dua bulan di tinggal, Bulan sudah mengkhianati dirinya.


Apa lagi saat ini, ia bukan Tara yang dulu, tetapi pria lumpuh, yang hanya akan merepotkan wanita yang dicintainya.


Jika Bulan tetap di sisihnya tangis ini tiap kali akan Tara dengar. Apakah ia harus merelakan istrinya bersama Abu? Oh tidaaak... tentu hatinya tidak bisa mengikhlaskan Bulan hidup dengan Abu Bakar.


Walau Tara yakin, bahwa Bulan akan berbahagia dengan pria seperti Abu, sudah pasti bisa melindungi istrinya.


Bulan masih sangat muda jalan ke depannya masih panjang. Tara tidak ingin Rembulan hidup dalam kesulitan jika tetap bersamanya, namun tentu melepas istri tidak semudah melepas burung piaraan.


Begitulah Tara saat ini merasa incecure dan mudah marah, sudah terhasut oleh kata-kata wanita pembohong seperti Keke sahabatnya.


Flashback.


"Bulan..." lirih Tara, yang di ucap pertama kali satu bulan yang lalu ketika sadar dari koma.


"Dipta... loe sudah sadar?" Keke tersenyum saat itu hanya Keke yang menemani Tara di ruang ICU. Segera memencet tombol memanggil dokter.


"Bulan... mana Bulan Ke, gw dimana? gw ingin bertemu dirinya Ke?" Tara memberondong pertanyaan.


"Dip, Loe sekarang di rumah sakit, kamu pasti ingat kan, ketika kita pulang dari KKN bus yang kita tumpangi mengalami kecelakaan." terang Keke.


"Gw mau pulang kampung Ke, menjemput Bulan, pasti Dia menunggu gw," seketika itu Tara berniat bangun. "Aaarrrggg..." Tara memegangi kepalanya karena merasakan kesakitan yang luar biasa.


"Dipta... jangan dipaksakan! Keadaan Loe masih belum sembuh," Keke membantu Tara tidur kembali.


"Sudahlah Dip, jangan pikirkan Bulan lagi. Dia itu bukan wanita baik-baik, buktinya baru loe tinggal sebentar sudah selingkuh dengan pria lain" Keke memprovokasi.

__ADS_1


"Bicara apa loe Keke?!" Tara mendelik gusar.


"Loe pasti tidak akan percaya kan, lihat ini," Keke menunjukkan foto-foto Bulan setiap saat bersama Abu.


"Loe bohong! Ke!" Tara menyingkirkan handphone Keke.


"Loe nggak percaya sama gw. Gw sudah menyuruh orang agar memata-matai bini loe, selama loe koma Dip,"


Demi misinya untuk memiliki Tara, Keke menyuruh orang agar memata-matai Bulan.


"Gw nggak percaya!" dengan sekuat tenaga Tara kembali duduk. Ia mengangkat kakinya, berniat turun. "Aaarrrggg..." Tara kembali memekik. Tatkala satu kakinya tidak bisa di gerakan.


Bertepatan dengan itu dokter datang memeriksa keadaan Tara.


"Kenapa kaki saya tidak bisa digerakkan dok?"


Dokter menatap wajah Tara menarik napas panjang kemudian menjelaskan bahwa Tara mengalami kelumpuhan.


Flashback off.


Secepatnya Tara menyingkirkan kepala Bulan dari dadanya.


"Abang sudah bangun..." Bulan menghapus air matanya. Namun tangis nya kembali pecah, kala menatap lekat wajah suaminya, matanya cekung, pipinya tirus, tubuh Tara pun tampak kurus.


Tara melengos tidak mau menatap balik wajah istrinya.


"Abang... kenapa dengan Abang? Abang tidak kangen..." rengek Bulan memelas.


"Panggil Keke! Saya mau ke kamar mandi," ketus Tara. Membuat hati Bulan terasa sakit. Namun Bulan tidak menunjukkan.


"Abang... Kenapa musti Keke? Istri Abang itu aku,"


Mendengar Tara menyebut Keke Bulan menyembunyikan rasa cemburu.


"Pergilah Bulan! Aku tidak butuh kamu!" usir Tara.


"Abang, jahat!" Bulan menjatuhkan bokongnya dengan kasar di pinggir ranjang membelakangi Tara merengut kesal.


Kini Tara bukan Tara yang dulu, yang senantiasa menjaga perasaanya, tapi kini justeru mengusirnya.


"Cepat panggil Keke!" Tara mengulangi.

__ADS_1


"Tidak! Abang tidak boleh di pegang Keke. Keke bukan muhrim Abang!" dengus Bulan, seketika berdiri.


"Tapi Keke calon istri saya, jadi apa salahnya jika Dia merawat saya!"


"Abang bohong!" potong Bulan menahan air matanya agar jangan sampai jatuh.


"Abang sekarang menurut, ayo aku bantu ke kamar mandi," Bulan berkata lembut. Ini bukan saatnya untuk bertengkar. Yang harus Bulan lakukan saat ini adalah; kesembuhan Tara.


Tidak banyak bicara lagi Bulan ambil kursi roda di pinggir tempat tidur kemudian mendorong meletakkan di samping Tara.


"Ayo aku bantu," Bulan berniat membangunkan suaminya.


"Saya bisa sendiri!" tolak Tara. Bulan membiarkan saja, namun matanya tidak berpaling tetap memantau apa yang akan di lakukan Tara.


Tara menggeser bokongnya ke tepi ranjang. Satu kaki kananya yang tampak baik-baik saja menginjak lantai lalu duduk di kursi roda tanpa menatap istrinya yang sedang memegangi kursi roda.


Bulan kemudian mendorongnya ke kamar mandi. Di dorong nya daun pintu oleh Bulan menyusul kursi roda.


Braaakk!"


Tanpa Bulan sangka bahwa Tara akan menutup pintu hingga keras. Membuat Rembulan terjengkang ke luar dan jatuh duduk di lantai.


"Bang Tara... kenapa kamu jadi kasar begini? gumamnya. Kemudian berniat berdiri namun perut bagian bawah terasa kencang.


Bulan kembali duduk bersandar di tembok meluruskan kaki. Seraya mengusap perutnya yang terasa nyeri. Beginilah akhir-akhir ini yang Bulan rasakan jika bekerja terlalu keras perutnya terasa kram.


Mendengar derit pintu kamar mandi dibuka. Mata Bulan seketika tertuju pada Tara yang tampak kesulitan mendorong kursi dengan kedua tanganya.


"Sudah selesai?" tanya Bulan seketika berdiri lalu menyandak kursi roda mendorongnya ke luar. Tara sama sekali tidak mau menjawab.


Sampai di ranjang, Bulan membantu Tara duduk kemudian membuka kancing baju. Ketika baru membuka satu kancing mata mereka saling bertemu. Bulan meneguk saliva beralih menatap dada bidang Tara yang sudah dua bulan tidak ia lihat.


"Saya bisa buka sendiri!" Tara menepis tangan Bulan.


Bulan hanya bisa menarik napas sesak, kemudian meninggalkan Tara ke kamar mandi. Memindai sekeliling, ambil ember kecil, dan handuk kecil yang disangkut kan di rak tempat perlengkapan mandi Tara.


Rembulan kembali ke luar menatap suaminya dari belakang yang sudah telanjang memamerkan punggung putih nya. Lagi-lagi Bulan meneguk ludah.


"Aku seka dulu ya," Bulan mengusap punggung Tara dengan handuk basah. Kali ini Tara membiarkan saja, mungkin karena sedang asik memainkan ponsel hingga tidak menyadari.


Entahlah.

__ADS_1


*****


Bonus Malming reader 💪💪💪


__ADS_2