
Di gaji berapa kamu bekerja disini? Jika kamu mau, saya akan menggaji kamu tiga kali lipat" kata Keke congak.
"Waah... hebat juga ya Mbak, gaji saya disini saja, hampir empat juta, berarti jika saya kerja sama Mbak, setiap bulan akan terima gaji sekitar 12 juta," Udin menunjukan 10 tambah 2 jari.
Udin mengikuti permainan Keke.
"Begitulah kira-kira," merasa di sanjung Udin. Keke semakin congak.
"Cek... cek... cek..." Udin berdecak.
"Tapi sayang, pekerjaan yang Mbak Keke tawarkan, pasti pekerjaan yang tidak halal," tandas Udin.
"Apa maksudnya?!" Keke mulai terpancing emosinya.
"Saya disuruh bekerja apa Mbak, membunuh orang, memperkosa, atau ada yang lebih ekstrim lagi?" tanya Udin tentu mau mengucap kata-kata itu merinding sendiri.
"Jika itu yang akan Anda tawarkan, saya tidak tertarik," tolak Udin. Sambil mengelap seluruh etalase hingga kinclong.
Keke tidak mau pergi dari situ, walaupun sudah mendapat obat yang dicari, dan juga kata-kata pedas dari Udin.
"Oh tentu tidak! Kamu cukup bekerja menjadi supir pribadi saya," jawab Keke.
"Waah... supir pribadi? Saya nggak nyangka, ternyata Mbak anak konglongmerat, kerja menjadi supir gajinya sampai 12 juta," Udin kembali berdecak.
"Iya, tapi ada pekerjaan sampingan, dan pekerjaan ini tentu tidak hanya menguntungkan saya, tapi juga kamu," Keke tersenyum licik. Ia ingat ketika memperdaya Udin, dan akhirnya berhasil. Sekarang pun ia berniat mengulang kembali.
"Pekerjaan sampingan apa itu?" Udin tidak menatap lawan bicara, justeru tangan kirinya mengangkat keranjang obat, dan tangan kananya mengelap kaca bawah.
"Kamu cukup mengantar saya kuliah, dan kemanapun saya pergi, tapi syaratnya kamu harus tinggal bersama saya," tutur Keke.
"Tentu kamu ingin selalu berdekatan dengan Bulan kan?" Keke menyeringai.
"Bulan?!" Udin lantas meletakkan lap menatap Keke tajam.
"Iya, pasti kamu nggak akan nyangka, jika saya dengan Bulan tinggal bersama," Keke tersenyum.
"Apa?!" Udin mendelik gusar. Ia khawatir jika sampai terjadi yang tidak-tidak pada sahabatnya.
"Tunggu dulu, jangan melotot begitu dong, serem... ah!" Keke melirik Udin yang sedang melotot ke arahnya ada rasa ngeri juga.
"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa dengan wanita yang kamu cintai itu, makanya rebut Dia dari tangan Dipta," Keke tampak optimis.
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu pasti tertarik kan" Keke memberi penawaran.
Udin pun diam berpikir, kenapa ketika kemarin bersama Bulan. Bulan tidak becerita jika dia tinggal bersama Keke. Udin menjadi khawatir pasti selama di Jakarta Bulan mendapat masalah besar.
Udin menatap Keke nyalang tanganya terulur keluar etalase.
"Heh! Jangan berbuat macam-macam kepada sahabat saya! Jika kamu melanggar! Akan saya bunuh! Kamu!" tanpa Keke sangka Udin mencengkeram kerah Keke menariknya hingga mentok ke etalase.
"Aow" paha Keke yang masih terasa nyeri saat jatuh ketika main adegan laga dengan bibi, kini kembali kepentok.
"Apa?! Masih kurang, mau ditambah?!" Udin tanpak emosi. Ia menarik kerah semakin kencang melempar tatapan sinis ke arah Keke. Bagusnya Udin dengan Keke terhalang etalase. Jika tidak, pasti Udin sudah mencekik leher Keke. Gara-gara wanita siluman ini, hampir saja Dia masuk penjara. Dan sudah melukai perasaan Bulan.
"Udiiin... kenapa loe? Jangan main kasar!" Bentak Anisa yang baru kembali dari membeli nasi rames, ia masuk dari pintu belakang membawa tentengan kantong plastik.
Udin melepas cengkeraman, tapi sedikit mendorong Keke hingga terhuyung.
"Ada apa Din?" Anisa mendekati teman kerjannya setelah meletakkan kantong di atas etalase.
"Temanmu ini mau mengajak saya kencan, karena saya menolak, malah marah-marah sama saya," dengan menyebalkan Udin. Keke justeru memfitnah.
Sementara Anisa menatap Udin dan Keke bergantian.
"Terus saja! Fitnah orang, untuk menutupi kebusukan kamu!" sarkas Udin.
"Saya sudah mencatat kejahatan kamu selama beberapa bulan ini, saya tidak takut masuk penjara, karena saya sudah berbuat kesalahan besar, terkena hasutan wanita iblis macam Kamu!" Udin tampak menggerutukkan taring.
Anisa hanya bengong tidak mengerti apa yang dua orang ini ributkan. Baru bekerja tiga hari Anisa sudah memergoki Udin bertengkar dua kali bahkan lawan bertengkar nya bukan sesama lelaki melainkan wanita.
Keke melengos kesal, dengan menahan nyeri di paha yang belum sembuh justeru bertambah. Ia pergi kembali pulang. Pergi membawa amarah yang meluap-luap.
********
Keesokan harinya, Bulan bangun dari tidur. Tetapi bukan tidur di kamar sendiri melainkan di kamar Tara. Karena Tara memaksa Bulan, agar tidur bersamanya.
Bulan melirik suaminya yang masih pulas bergulung selimut. Ia memandangi wajah Tara. Sejak kemarin sikap Tara sudah berubah lebih baik. Bulan hanya bisa berdoa semoga inilah awal yang baik dalam kehidupan rumah tangganya ke depan.
Bulan turun dari ranjang, seperti biasa sebelum mengurus suaminya. Ia selalu mandi terlebih dahulu kemudian shalat.
Bulan membuka pintu kamar suaminya. Hendak ke kamar sendiri mandi di sana dan mengganti pakaian tentunya.
Ia berpapasan dengan bibi yang sudah rapi hendak pergi.
__ADS_1
"Bibi mau kemana?" tanya Bulan kemudian.
"Mau ke pasar Non, stok sayuran tinggal sedikit," jawab bibi.
"Ya ampuun... pagi-pagi begini? Masih jam 4 lebih loh, Bi." Bulan tidak tega pada wanita yang baru ia kenal tetapi sangat baik itu.
"Sudah biasa Non, kalau belanja jam segini, sayuran baru datang, jadi masih segar semua." tutur bibi.
"Ya sudah Bi, hati-hati di jalan, oh iya Bi, kalau pagi-pagi begini, di pasar sudah ada buah mangga muda belum?" Bulan meneguk ludah sambil membayangkan.
"Ada Non, nanti saya belikan, oh iya Non. Non lagi ngidam ya?" Bibi tersenyum senang.
"Nggak tahu Bi, ibu saya juga bilang begitu, besok kalau kontrol Bang Tara saya akan sekalian check. Doakan ya Bi, mudah-mudahan... dengan kehamilan saya nanti; semua kepahitan yang saya rasakan akan berubah manis," Bulan berharap.
"Aamiin... saya berangkat Non,"
"Iya Bi"
Bibi membuka pintu depan segera pergi setelah mengunci nya dari luar.
Sementara Bulan masuk ke kamarnya.
Mereka tidak tahu jika sepasang mata telah mendengarkan obrolan mereka.
"Apa?! Bulan hamil? kurangajar! Ini tidak boleh dibiarkan! Aku harus berbuat sesuatu!" gumam Keke mengeram marah mendengar Bulan hamil berniat merencanakan sesuatu.
Namun marahnya seketika hilang kala melirik pintu kamar Tara. Ia berjalan cepat mata liarnya menoleh kanan kiri.
"Tidak ada orang," ia berbicara lirih lalu tanganya mendorong handle pintu kamar Tara. Senyum merekah di bibir merahnya. Berjalan pelan agar tidak mengganggu pria pujaan.
Ia menghampiri tempat tidur, dan mendapati Tara yang masih pulas. Perlahan ia naik ke ranjang, tampak dada Tara yang tidak mengenakan pakaian. Walupun sering dekat dengan Tara baru kali ini Keke mempunyai kesempatan melihat dada bidang itu.
Tanpa ragu ia mendekatkan bibirnya hendak mencium dada itu, karena beberapa kali Keke sudah menelan saliva.
"Prak!"
"Dasar jal- lang," seseorang telah melancarkan serangan pagi, senjata mak-mak, yakni sapu lidi mendarat di punggung Keke.
"Aaaggghh," Keke memekik.
"Ada apa ini?!" Bentak Tara karena tidurnya terganggu ia pun segera bangun. Dan matanya membulat kala Keke berada di samping nya.
__ADS_1
***
Happy reading.