
"Apa benar yang dikatakan Keke Bulan?" Maya sebenarnya tidak yakin apa yang dikatakan Keke.Tetapi, ia juga berpikir bahwa Keke tidak mungkin berbohong.
"Yang dikatakan Non Keke Itu tidak benar Nyonya, ada saksinya kok, Tuan muda, dan juga Pak Gavin sendiri," Bulan melirik Keke yang sedang merengut kesal.
Bulan meremas pundak Tara agar membelanya, namun yang di kode tidak merespon.
"Bulan bohong Ma," sanggah Keke.
"Stop! Setiap mau makan kenapa kalian ribut?!" Bisma memangkas kata Keke. Bisma yang jarang bicara itu sekali bicara cukup disegani hingga membuat semuanya terdiam.
Mereka sarapan dalam diam. Selesai sarapan Bisma ke kamar hendak bersiap-siap ke kantor.
"Aku hari ini nggak ikut ke kantor Pa, rasanya kok capek banget ya," kata Maya sambil memasang dasi suaminya.
"Nggak apa-apa," Bisma menjawab pendek.
"Pa, Kalau sama Keke itu... jangan suka ketus kenapa sih? Cek," protes Maya berdecak kesal.
"Aku berangkat! Nggak usah bahas itu!" tandas Bisma, kemudian berlalu. Maya menatap nanar suaminya yang hanya terlihat punggungnya.
Bisma berangkat diantar supir. Di dalam mobil ia segera telepon seseorang.
"Hallo! Tuan,"
"Hallo! Bagaimana hasil penyelidikan kamu?" tanya Bisma pria rahang tegas itu.
"Saya belum berhasil Tuan,"
"APA SAJA! KERJA KAMU SELAMA SEBULAN INI?! JIKA TIDAK BISA! SAYA AKAN MENCARI ORANG LAIN! KERJA BEGITU SAJA, TIDAK BECUS!"
Tut!
*******
Sementara Bulan mendorong Tara untuk berjemur. Namun sebelumnya ke kamar dulu, karena Tara hendak ke kamar mandi.
"Antar aku sampai dalam," rengek Tara manja. Semenjak Bulan memandikan tempo hari, setiap ke kamar mandi Tara minta ditemani. Bahkan sikapnya semakin manja.
"Iya, bayi besar kuuu..." Bulan meledek terkikik mentertawakan ucapanya sendiri.
"Jangan meledek!" sungut Tara.
"Habisnya, Abang menggemaskan!" Bulan mendudukan suaminya di closed.
Selesai ke kamar mandi, Bulan mengganti kaos suaminya yang tipis agar menembus sinar matahari.
Bulan tidak ingin tubuh atletis suaminya ditonton Keke dan juga Sumidah.
"Abang... jangan marah-marah terus, kurangi emosi Abang, kalau Abang terus begini, sedikit-sedikit marah, darah tinggi Abang naik, terus menambah penyakit yabg baru," Bulan merapikan kaos Tara yang berlipat.
"Kamu nyumpahin, aku!" Tara mendelik gusar.
__ADS_1
"Tuh kan! marah-marah lagi... bukan nyumpahin Bang, tapi ini realita." Bulan mendorong suaminya ke pinggir sofa, kemudian duduk disana. Suaminya ini memang harus diberi pengertian.
Bulan duduk berhadapan dengan suaminya. Diraih tangan kekar itu diletakan di lututnya. Lalu mengusapnya lembut.
Api hanya bisa padam dengan air, maka tidak ada gunanya jika membalasnya dengan emosi. Pikir Bulan.
"Ingat nggak, luka di dahi aku ini, gara-gara Abang kan, tapi Abang malah melimpahkan amarah pada Pak Gavin." Bulan menatap wajah Tara yang menunduk seperti anak sekolah disidang guru bp.
"Belum lagi calon Istri Abang itu, terus menerus memfitnah aku, kalau terus begini, aku nggak kuat Bang," Bulan menatap nanar suaminya.
"Makanya, Abang jangan marah-marah, mencoba damai dengan keadaan, shalat dan minta ampun pada yang maha kuasa," Bulan berceramah.
"Dengan Abang diuji seperti ini, Abang harus koreksi diri, mungkin ada yang salah dalam diri Abang."
Tara masih menunduk seperti berpikir sesuatu.
"Ayo lah Bang... aku mohon, Abang bisa berubah lebih baik, seperti Abang yang bisa menggetarkan hati aku, karena Abang anak sholeh, dan rajin ibadah," Bulan mencium punggung tangan suaminya.
Tara mendongak menatap istrinya. "Kan benar... karena keadaan aku begini, kamu sudah tidak mencintai aku lagi," Tara justru salah sangka.
"Abaaaang... ih!" Bulan gregetan dibuatnya.
Secepatnya ia berdiri. "Sekarang... kita belajar berjalan di halaman, yuk, biar kena sinar matahari," pungkas Bulan.
"Bulan..." Tara menahan tangan Bulan.
"Apa?" Bulan kembali duduk.
Bulan mengangguk. Di ciumnya bibir merah alami itu dengan lembut oleh sang pemilik yaitu Tara. Keduanya lantas tersenyum. Bulan kemudian ke halaman rumah menjemur Tara.
"Abang tunggu disini dulu ya, aku ambil Walker."
********
Sedangkan Keke masih di meja makan berbincang-bincang dengan Maya.
"Ma, Keke pulang saja dech, sepertinya papa Bisma tidak suka aku tinggal disini," kata Keke dibuat memelas agar mengundang simpati maya.
"Sabar Ke, kamu kan tahu, sikap Papa. Papa itu tidak mau mendengar keributan, apa lagi saat sedang makan," Maya menjelaskan lembut.
"Iya Ma, aku mengerti,"
"Oh iya Ma, apa Mama sudah membicarakan pada Papa, kapan pernikahan Keke dengan Dipta akan dilaksanakan?" Keke berharap jawaban Maya tidak mengecewakan.
"Sudah," jawab Maya pendek.
"Terus... bagaimana tanggapan Papa, Ma?" Keke menggebu-gebu.
"Papa bilang, kalian masih terlalu muda Ke, kamu sabar dulu," Maya menatap wajah Keke tergambar rasa kecewa yang dalam.
"Ke, setelah Mama pikir-pikir... memang benar apa kata Papa, kalian masih terlalu muda, belum bisa mengendalikan emosi, lebih baik mempersiapkan diri dulu," nasehat Maya pelan.
__ADS_1
"Sebaiknya, selesaikan kuliah kamu dulu Ke. Lagian... Dipta kan masih sakit, dan entah kapan akan sembuh, aku tidak ingin kamu menyesal menerima keadaan Tara, dan kamu nantinya akan meninggalkan nya," terlukis kekhawatiran di wajah Maya. Putranya sudah menderita dan tidak ingin jika nanti Keke mempermainkan perasaan Dipta.
"Tapi Ma," Keke menyembunyikan kekecewaan.
"Jangan menuruti napsu sesaat Ke, menjalani bahtera rumah tangga itu, tidak semudah ketika mengucap ijab kabul saja, tapi bagaimana menjalani kedepanya" Maya menggengam tangan Keke.
"Tapi, kalau Dipta menikah dengan wanita lain, dan usianya nasih terlalu muda, apa Mama akan menyetujui?"
"Tentu tidak Ke, dengan siapapun," tegas Maya.
Yes! Aku akan memanfaatkan ini, bukankah Bulan masih terlalu muda? Bahkan lebih muda dari aku tiga tahun?
Keke tersenyum. "Baik Ma, aku menurut." Padahal dalam hatinya kecewa.
Saat sedang ngobrol, Rembulan melintas.
"Bulan, Dipta di kamar?" tanya Maya melihat Bulan tidak bersama Tara dan berjalan tergesa-gesa.
"Saya mau ambil Walker Nyonya," Bulan masuk ke kamar Tara.
"Oh" jawab Maya singkat
"Saya senang Ke, Bulan sedikit demi sedikit mampu merubah Dipta menjadi lebih baik, secara kesehatan mental maupun tubuh," Maya tersenyum.
Tanpa Maya tahu tangan Keke mengepal kuat.
********
"Bang latihan berjalan yuk, aku bantu," kata Bulan lembut. Jika sedang bekerja, Bulan profesional tidak ia campur adukkan antara urusan pribadi dan pekerjaan.
Bulan membantu Tara berdiri dengan cara merangkul pinggangnya, kemudian mendekatkan Walker alat seperti jemuran untuk latihan berjalan.
"Ayo pelaaan..." ucap Bulan lembut.
Tara hendak melangkah namun ragu-ragu.
"Ayo semangaaaattt..." Bulan berjalan mundur di depan suaminya.
Satu langkah, Tara sempoyongan, dengan sigap Bulan merangkul pinggangnya. Dua langkah hampir terjatuh, Bulan semakin merekatkan rangkulan, dan yang ketiga.
Braak!
Tara jatuh namun dengan cepat Bulan menahan tubuh Tara hingga Bulan yang jatuh ke lantai ditindih tubuh Tara. Dua mata mereka saling bertemu, jujur keduanya saling merindukan.
Hangat sinar matahari pagi yang cerah, sehangat hati pasutri yang sebenarnya masih saling membutuhkan kehangatan. Dan menjadi saksi bahwa keduanya masih saling mendambakan.
"Bulan..." Tara mendekatkan bibir hingga tinggal beberapa centimeter.
"Kaliaaaannnn???
Teriakan wanita menggagalkan ciuman Tara.
__ADS_1