Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Kesedihan Fatimah.


__ADS_3

🎵Lalala... Grek"


Pulang membeli jamu, Keke meletakan benda tersebut ke dalam laci sambil bernyanyi-nyanyi.


"Jika gw tidak bisa hidup bahagia, apa lagi loe Bulan! Hahaha..." Keke melempar tas di atas tempat tidur. Selesai bernyanyi ia lantas tertawa sendiri, lalu marah-marah. Jika di bawa ke psikiater mungkin tingkat kegilaan Keke sudah stadium lanjut.


Ia sudah merencanakan sesuatu. Lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur, kemudian tidur. Padahal baru jam 11 pagi.


*********


"Alhamdulillah... kamu sudah agak baikan Nak," kata bu Fatimah, menyambut kedatangan anak dan menantunya, kemudian menggelar tikar agar Tara beristirahat. Bulan bersama Tara sudah sampai di kontrakan.


"Ibu apa kabar?" tanya Tara seraya meraih tangan Fatimah kemudian menciumnya bergantian dengan Bulan.


"Ibu sehat Nak Tara. Maaf, Ibu belum sempat menjenguk kamu," kilah bu Fatimah. Padahal ingin sekali menjenguk menantunya, namun di larang Rembulan.


"Tidak apa-apa Bu," Tara menjawab.


"Sebenarnya Ibu ingin sekali menjenguk Abang, tapi aku nggak boleh" Bulan nyambung obrolan.


"Kok nggak boleh? memang kenapa?" Tara mengernyitkan kening.


"Nanti... kalau Abang sudah menceritakan pada Mama Maya, kalau kita sudah menikah, baru aku akan ajak Ibu kesana. Boleh kan Bang?" Bulan menimpali, sambil membantu suaminya turun dari kursi roda.


Astagfirlullah... kenapa Tara, belum juga menceritakan tentang pernikahanya sih?!"


Fatimah menarik napas berat. Tidak lagi melanjutkan ucapanya. Ia menatap sendu wajah putrinya yang sedang menunduk melepas sepatu suaminya. Mengapa keadaan rumah tangga putrinya tidak selancar ketika menikah dulu.


"Tentu boleh, apa tidak sebaiknya, Ibu tinggal bersama kami saja," saran Tara.


"Hehe... Abang ini, ada-ada saja deh, mana mau, Ibu di ajak tinggal bersama besan." potong Bulan.


"Yang di katakan Bulan benar Nak Tara," Fatimah tersenyum getir. Kemudian ke dapur membuat minuman.


"Bentar ya Bang," ujar Bulan ketika posisi Tara sudah duduk dengan nyaman. Bulan menyusul Fatimah.


"Ibu membuat minuman apa?" Bulan menghampiri Fatimah yang sedang memblender minuman berwarna hijau membuat Bulan meneguk ludah nya.


"Ini Ibu membuat juice lidah buaya Lan, berikan setidaknya sehari sekali, syukur bisa tiga kali," tutur Fatimah sembari menuang juice ke dalam gelas. Juice yang sudah di campur dengan sedikit gula, dan juga biji selasih.


"Oh... apa khasiat nya, Bu," Bulan menoleh sang Ibu.


"Lidah buaya itu bagus untuk tulang dan sendi, jadi jangan lupa besok di praktekan di rumah mertua kamu Bulan," nasehat Fatimah.


"Baik Bu. Oh iya wanita hamil boleh minum nggak?"


"Tentu boleh. Eh kamu hamil Nak?" Fatimah menghentikan kegiatanya.

__ADS_1


"Iya Bu, alhamdulillah... aku barusan kan dari rumah sakit, ke apotek menebus vitamin, terus kesini," Bulan bertutur panjang.


"Alhamdulillah... Ibu senang mendengarnya," Fatimah mencium kedua pipi Bulan.


"Tapi apa selama kamu tinggal di rumah mertua kamu. Tara tidak berniat menceritakan jika kamu ini istrinya Nak?" Fatimah sebenarnya kesal, karena Tara sepertinya tidak berniat bercerita pada orang tuanya.


Bulan diam sesaat tampak berpikir tentu harus hati-hati berbicara pada bu Fatimah.


"Bulan..." Fatimah menepuk pundak putrinya yang sedang melamun.


"Sebenarnya... Abang sudah mau cerita Bu, tapi kali ini mamanya pergi ke luar kota," jawab Bulan beralasan yang tepat.


"Ya sudah... ini dibawa ke depan gih," titah Fatimah.


"Ya Bu," Bulan membawa nampan yang berisi 3 gelas minuman. Sampai di ruang tamu sekali gus warung kecil. Bulan melihat suaminya sedang memindai sekeliling.


"Minum Bang," kata Bulan, tapi Tara tidak menyahut.


Tara rupanya memang sedang merenung, banyak yang Tara pikirkan. Jika sembuh nanti, ia berniat membelikan ruko untuk mertua.


Tara tidak bisa melarang mertuanya untuk tidak berdagang. Di samping sang mertua masih sangat muda, bu Fatimah juga wanita yang biasa bekerja keras.


"Abang ngalamun saja sih..." Bulan mengejutkan suaminya.


"Oh kamu," Tara menggaruk tengkuknya.


"Abang mikirin apa sih?, sampai aku ajak ngomong nggak dijawab" Bulan cemberut.


"Enak Lan, minuman apa ini?" Tara pun kembali meminumnya hingga tinggal setengahnya.


"Ini minuman kesehatan Bang, Ibu yang membuat," Bulan pun segera menyeruput karena memang sudah ingin minum sejak tadi.


"Beliii..." terdengar suara perempuan Bulan menghampiri.


"Iya Bu, mau beli apa?" Bulan bertanya lembut.


"Kamu siapa?" wanita itu balik bertanya, karena belum pernah melihat Bulan.


"Saya Rembulan, anak bu Fatimah."


"Waah... cantik sekali... pasti kamu istrinya Udin kan?" ibu itu terkekeh.


"Bukan Bu, ibu bisa saja," Bulan tersenyum.


"Iya, pasti kamu istrinya Udin, namanya saja Sama, Komaruddin kan artinya Rembulan," tutur ibu pembeli keppo.


Bulan melirik Tara yang sedang merengut kesal mendengar kata-kata pembeli.

__ADS_1


"Mau beli apa Bu Mimin?" tanya Fatimah, yang baru keluar dari dapur.


Bulan segera menghampiri Tara khawatir bu Mimin semakin tanya ini itu.


"Bu Fatimah..." bisik bu Mimin.


"Ada apa Bu Mimin, kok pakai bisik-bisik ngomong nya," Fatimah menoleh Bulan dan Tara. Pasti maksud bu Mimin agar tidak terdengar oleh mereka.


"Saya mau beli ini," Mimin menyerahkan cacatan belanjaan.


"Baiklah" Fatimah segera menakar beras 5 liter, sabun, pasta gigi, dan bermacam-macam sembako lainya.


Fatimah memasukan belanjaan ke dalam kantong sambil menghitung dengan kalkulator.


"Ini Bu Mimin... totalnya jadi 500 ribu," kata Fatimah seraya menyerahkan nota.


"Terimakasih, saya doakan dagangan Ibu Fatimah laris manis, tapi saya bayarnya tanggal satu ya Bu, menunggu suami saya gajian," kata Mimin enteng.


"Oh iya Bu, tapi jangan bilang-bilang sama tetangga kita ya," pesan Mimin kemudian pulang.


Fatimah hanya menggeleng, mau hutang saja, alasanya banyak sekali. Pikir Fatimah.


Fatimah kembali ke dapur ambil makanan yang baru ia masak. Tidak lama kemudian kembali.


"Ini cemilanya," Fatimah membawa brokoli goreng tepung, meletakkan di depan Tara dan Bulan.


"Ibu... jangan repot-repot," ujar Tara kehadirannya merasa merepotkan sang mertua.


"Tidak repot," jawab Fatimah.


Mereka pun ngobrol, sambil menikmati kudapan, sesekali Fatimah sambil melayani pembeli. Sementara Bulan ke kamar mandi.


"Tara... dulu ibu menyerahkan Bulan untuk kamu, karena Ibu percaya sama kamu Nak," Fatimah bersedih.


"Maksud Ibu?" tanya Tara belum mengerti kemana arah pembicaraan bu Fatimah.


"Jujur Nak, Bulan hidup bersama Ibu, walaupun kami hidup dalam kekurangan, tetapi Bulan selalu ceria," Fatimah dan juga Tara saling pandang.


"Walaupun Bulan tidak pernah bercerita sama Ibu, keadaan rumah tangga kalian, Ibu tahu bahwa Bulan menanggung tekanan yang berat," Fatimah meneteskan air mata.


Sementara Tara menunduk, tahu apa yang dimaksud Fatimah.


"Jujur Nak Tara, Ibu paling takut anak Ibu satu-satunya tidak tentram dalam hidupnya," Fatimah menyusut air matanya.


"Jika kalian ada masalah Ibu mohon, selesaikan dengan cepat, jika terus berlarut-larut, tidak hanya Bulan yang menderita Nak, tapi juga bayi dalam kandungan Bulan,"


"Ibu..." Tara merasa bersalah.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG.


__ADS_2