Takdir Cinta Rembulan

Takdir Cinta Rembulan
Terkejut.


__ADS_3

Setelah bercinta, yang dilakukan oleh pria kebanyakan, adalah: tidur. Karena menandakan jika pria itu sedang berbahagia. Seperti yang dilakukan Tara saat ini. Namun berbeda dengan Rembulan, ia sudah mandi dua kali lalu meninggalkan suaminya ke dapur membuat sarapan.


"Bi, biar saya saja yang memasak, Bibi kan cape, baru dari pasar," ucap Bulan ketika sampai di dapur.


"Nggak apa-apa Non, saya teh sudah biasa," bibi tersenyum.


"Oh iya Bi, manggilnya seperti kemarin saja, ya. panggilan Neng, lebih cocok untuk saya," Bulan tidak mau dipanggil Non.


"Oh gitu ya, Neng," bibi pun sebenarnya lidahnya lebih enteng dengan panggilan neng.


"Bi, mangga mudanya ada nggak?" ini yang ingin Bulan tanyakan sejak tadi.


"Ada Neng, tapi belum dikupas, nanti selesai membuat nasi goreng, saya kupas ya," bibi memang sedang mengaduk-aduk nasi goreng.


"Biar saya saja Bi," ucap Bulan.


"Biar saya saja, Non?" Sumi yang baru selesai menjemur pakaian menawarkan jasa.


"Nanti mengganggu pekerjaan kamu Sum," tolak Bulan.


"Tidak Non, konon... membuat rujak itu, kalau kita membuat sendiri, terus kita makan sendiri pula, tidak enak rasanya, beda jika orang lain yang membuat nya," ujar Sumi kemudian mengupas mangga.


"Terimakasih Sum, kamu baik sekali," Bulan senang karena sikap Sumi sudah lebih baik.


"Sama-sama Non," selesai mengupas mangga, Sumi mencucinya, kemudian membuat sambal.


Sementara Bulan membuat tempe mendoan seperti pesanan Tara tadi malam. Tidak lupa juga menyeduh susu khusus untuk suaminya agar gizi nya tercukupi. Sebab itulah yang akan mempercepat proses penyembuhan kaki suaminya.


"Terimakasih ya Bi, karena sudah menggagalkan rencana Keke," ucap Bulan.


"Sama-sama Neng, pokonya kita mah, sekarang harus hati-hati" bibi menyudahi pembicaraan.


Setelah selesai dengan tugas masing-masing. Bibi bersama Sum membawa makanan ke meja makan. Sedangkan Bulan bergegas ke kamar Tara. Membangunkan suaminya membantunya mandi dan berpakaian. Setelah selesai mengajak nya sarapan.


"Ini tempe, kamu yang membuat Yank?" tanya Tara sambil mengunyah tampak menikmati.


"Iya, kan Abang yang pesan," Bulan menjawab. Lalu ambil air putih hangat untuk minum mendekatkan di depan Tara. Agar minyak yang menempel di tempe cepat larut dan tidak menyebabkan batuk maupun kolesterol.


"Enak," Tara terkekeh lalu diusap nya puggung istrinya lembut.


Keke yang memperhatikan keromantisan mereka merasa geram.


Sekarang bersenang-senang lah dahulu, sebelum Tante Maya dan Om Bisma pulang! Jika mereka sudah pulang kamu akan menangis,"

__ADS_1


"Ini rujaknya Neng," bibi membawa piring berisi rujak mangga, memberikan kepada Bulan.


"Terimakasih Bi," Bulan menusuk rujak dengan garpu lalu menyuap nya. Walaupun buah mangga itu sangat asam. Namun tidak untuk Bulan.


"Yank, yang benar saja, kamu pagi-pagi makan rujak, nanti lambung kamu sakit," Tara ambil piring di depan Bulan lalu menyingkirkan.


"Aaahhh... Abang! orang lagi enak juga! Bibi, tolong Bi!" Bulan menjilat-jilat garpu memelas.


"Tuan muda... biarkan Neng Bulan makan rujak itu, sepertinya Neng sedang ngidam, Tuan," tutur Bibi ambil rujak kemudian mengembalikan ke depan Bulan.


"Ngidam?" Tara terperangah.


"Aku nggak tahu Bang," jawab Bulan cuek, sambil menyantap rujak. Tidak memperdulikan Tara yang masih menatapnya lekat.


"Bulan... kamu benar hamil?" Tara memegangi punggung tangan Bulan yang akan menusuk rujak.


"Kan sudah aku bilang tadi, belum tahu, Bang, rencana aku, ingin sekalian periksa kalau Abang kontrol lusa," tutur Bulan fokus menyocol mangga lalu mengunyah dengan lahap.


"Sekarang saja kita periksa, kenapa harus menunggu besok," Tara antusias.


"Sekarang..." kata Bulan berhenti mengunyah.


"Iya, kita naik taksi saja, aku ingin segera tahu kamu hamil benar atau tidak," Tara bersemangat. Tergambar jelas kebahagiaan di wajah Tara.


"Iya deh, tapi sebaiknya habiskan dulu sarapannya," Bulan melirik susu dalam gelas belum di minum.


"Loe yakin! Dip? Kalau memang Bulan benar-benar hamil, Dia itu mengandung darah daging loe, bukan?" Keke memotong ucapan Tara. Tara seketika meletakkan kembali gelas, urung meminum nya.


Jedeeerr!"


Bulan mendengar ucapan Keke seperti mendengar suara petir.


"Apa maksudnya?! Keke?!" tatapan marah di wajah Bulan menjurus ke wajah Keke. Betapa tidak, Keke telah memfitnahnya dengan kejam.


Bibi pun tak kalah terkejut, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Halah... sok suci!" sungut Keke. Keke melirik Tara tersenyum manis, yakin jika Tara akan percaya kepadanya, dan mengusir Bulan dari rumah ini.


"Gw yakin Dip, kalau yang dikandung Bulan itu anak Abu. Iya kan, Bulan?" Keke tersenyum miring.


"Sudah lah Keke, jika loe! ingin tinggal di sini lebih lama, jangan ganggu rumah tangga gw dengan Bulan! Jika loe! tidak mau menurut, sebaiknya loe segera pergi dari sini!" tegas Tara.


"Ayo Bulan," Tara menghabiskan susu. Lalu di bantu Bulan, pindah ke kursi roda.

__ADS_1


Keke menatap Tara yang sedang di dorong oleh Bulan kesal sendiri. Kenapa sekarang Tara tidak mau mendengarkan kata-katanya lagi.


Keke pun pergi meninggalkan meja makan, segera kembali ke kamar dengan membawa amarah.


Sementara Bulan bersiap-siap akan berangkat, ke dokter.


"Bang... kalau aku benar-benar hamil, terus Mama sama Papa Abang, tidak menerima bayi yang aku kandung bagaimana?" Bulan merasa takut.


"Sudah lah Bulan, jangan khawatir, kamu ini bukan hamil di luar nikah, lalu kenapa kamu takut?" nasehat Tara.


"Iya sih Bang, tapi kan masalahnya, Mama Abang, ingin punya menantu Keke, bukan aku," Bulan bersedih.


"Sebaiknya kita berangkat, kamu pesan taksi ya," Tara mengalihkan.


Bulan tidak menjawab kemudian memesan taksi online. Setelah pamit bibi Bulan mendorong Tara menunggu taksi di pinggir jalan.


"Hati-hati ya, Neng," pesan bibi sebelum menutup pagar lalu menguncinya.


"Iya Bi," jawab Bulan singkat.


******


"Alhamdulillah... dapat penumpang," gumam supir taksi tersenyum kala menatap handphone.


"Tapi kok nama orang ini, seperti teman aku, apa jangan-jangan... benar, memang teman aku?


"Biar sajalah, siapapun itu, aku nggak boleh menolak. Aku harus profesional," supir taksi menjalankan taksinya menuju alamat yang di tuju. Ia merubah tampilan mengenakan kaos, topi, yang selama ini tidak pernah ia pakai.


"Ciiiitttt...


Mobil pun berhenti, supir menatap calon penumpang dari kaca.


"Subhanallah... ternyata memang Rembulan yang aku kenal" pria itu segera merapikan topi, dan masker, sebelum membuka kaca. Agar Bulan tidak mengenali dirinya.


"Rembulan ya?" tanya supir taksi.


"Betul Mas," Bulan pun membuka pintu, membantu Tara naik taksi.


Supir taksi menatap calon penumpang di kaca spion terperangah kala melihat tubuh Tara yang sedang tidak baik-baik saja.


"Mas, saya boleh buka bagasi? mau menyimpan kursi roda" tanya Bulan baru memandang supir taksi.


"Silahkan Bu," supir pun sadar dari lamunan.

__ADS_1


*****


"Maaf telat up, soalnya kemarin tidak sempat menulis ✍✍✍.


__ADS_2