
"Kamu kenapa Ke?" tanya Maya ketika di dalam mobil Keke gelisah sekali.
"Ini Ma, dahi aku nyut-nyutan," alasan Keke masuk akal. Walupun sebenarnya merasa syok mengapa Abu bisa kenal dengan Maya, dan tidak hanya itu, Abu justeru menjadi supir Nya.
"Sebentar lagi kita sampai kok, sabar dulu ya," Maya menghibur.
"Abu... cepetan sedikit ya," titah Maya.
"Baik Nyonya," jawab Abu menatap Keke dari kaca spion.
"Memang Non Keke, kenapa? Kok dahinya sampai benjol begitu?" Abu meringis.
"Keppo!" ketus Keke.
"Keke..." Maya memperingatkan.
"Keke jatuh di kamar mandi Abu," Maya yang menjawab.
"Oh... saya jadi ingat teman saya Nyonya, gara-gara Dia bernyanyi di kamar mandi, lalu kepleset sampai masuk rumah sakit," Abu geleng-geleng, mengingat temanya.
"Sok tahu! Siapa juga yang nyanyi di kamar mandi?!" Keke melotot tajam menatap Abu dari spion.
"Maaf Non, saya ini sedang menceritakan teman saya," Abu menyimpulkan dengan marahnya Keke. Itu berarti, Keke tadi jatuh gara-gara bernyanyi di kamar mandi.
"Oh... kalau bernyanyi di kamar mandi ternyata tidak boleh ya Bu?" Maya bertanya serius, sekaligus menghentikan perdebatan.
"Menurut agama yang saya anut begitu Nyonya, tapi yang dimaksud, tidak hanya bernyanyi, tapi juga bersiul, berjoget, bahkan berdoa," jawab Abu diplomatis. Agar tidak di anggap menggurui sang boss.
"Oh gitu..." Maya manggut-manggut.
Mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit. Keke segera diperiksa ditemani Maya, setelah diberi obat anti nyeri, Keke diperbolehkan pulang.
********
Sementara Bulan di dalam kamar, sedang ngobrol dengan suaminya.
"Yank, kira-kira... anak kita laki-laki atau perempuan ya," Tara megusap perut istrinya yang ia buka sedikit.
"Abang sendiri, maunya Apa?" Bulan memilin rambut suaminya yang masih betah mencium perutnya.
"Apa saja sih! Yang penting kamu, dan bayi kita sehat," puas mencium perut Bulan, Tara mengangkat kepalanya menatap Bulan.
"Aamiin..." Bulan mengamini.
Tok tok tok
__ADS_1
Saat sedang asyik ngorol, pintu kamar diketuk. "Bentar..." Bulan mengenakan kerudung dan sandal rumahan, lalu membuka pintu.
"Ada apa Bi?" tanya Bulan, ternyata bibi yang mengetuk pintu.
"Tuan Bisma memanggil Tuan muda Neng..."
"Tuan Bisma? Memang sudah pulang Bi?" Bulan terkejut.
"Sudah Neng, beliau sekarang menunggu di ruang kerja," tutur bibi.
"Baik Bi," Bulan hendak mengantar suaminya bertemu dengan Mertua. "Oh mertua" gumam Bulan, menjadi takut sendiri. Takut akan sikap Bisma yang super dingin itu. Sikap apa yang akan ditunjukan kepadanya jika Bisma mengetahui bahwa putranya sudah menikah denganya? Akankah menerima dirinya, atau justeru mengusirnya seperti yang dilakukan Maya tempo hari? Oh tidaaak... Kepala Bulan sepertinya penuh dengan pertanyaan negatif.
"Yank... ada apa?" Tara menatap mata istrinya yang dirundung risau.
"Bibi bilang, Abang di panggil Papa," lirih Bulan.
"Oh Papa sudah pulang?" Tara kaget, sebab menurut Maya, Bisma pulang masih tiga hari lagi.
"Sudah... ayo," Bulan mendekatkan roda. Setelah suaminya nyaman hendak mendoronganya.
"Aku bisa sendiri Bulan, biarkan aku belajar sendiri, agar aku tidak selalu merepotkan kamu," Tara mendorong roda dengan kedua telapak tangan.
"Kok Abang bicara begitu sih... Abang sudah tidak membutuhkan aku lagi?" Bulan merengut.
"Bulan..." Tara menyambar tangan istrinya lalu mengecupnya sambil terpejam. "Jangan salah sangka, aku tidak ingin merepotkan kamu terus, seharusnya aku yang menjaga kamu Bulan, apalagi kamu sedang hamil," Tara mengusap perut istrinya.
Bulan mendorong gagang pintu tampak pria dingin itu, sedang berkutat di depan komputer.
Tara masuk mendekati sang papa sementara Bulan hanya bersandar di tembok dekat pintu. Ia tidak berani masuk.
"Pa" ucap Tara ketika sampai di samping Bisma.
Bisma menoleh cepat. "Kamu?" Bisma tertegun belum seminggu tidak bertemu putranya kini ternyata sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Ketakutan Bisma, jika putranya akan lumpuh permanen seperti prediksi dokter ternyata tidak benar, dan tentu membuat Bisma sedikit lega. Walaupun sang putra belum sembuh benar.
"Alhamdulillah... kamu sudah bisa mendorong roda sendiri Dip," Bisma tersenyum lebar. Dibalik diamnya Bisma, ternyata memiliki perhatian lebih pada Tara. Meskipun Bisma kaku untuk mengungkapkan.
"Alhamdulillah Pa, semua ini karena ketekunan Bulan, fokus untuk merawat aku, hingga aku berangsur-angsur sembuh." Puji Tara tersenyum.
"Oh Papa kok, sudah sampai... kata Mama, masih tiga hari lagi," bukan tanya kabar, Tara justru bertanya demikian.
"Kamu nggak suka Papa pulang? Kamu sama saja seperti Mama Kamu!" Bisma pura-pura kesal.
"Bukan begitu maksud aku Pa," kilah Tara. "Oh iya Pa. Papa, tadi bilang, aku sama seperti Mama, memang Mama kenapa Pa?" cecar Tara.
"Mama kamu lagi ngambek tuh, Papa telepon tidak di angkat, makanya Papa pulang cepat," Bisma yang super cuek itu, kini lebih banyak bicara.
__ADS_1
"Lagian, Papa... punya salah apa sama Mama? Pasti karena Papa nggak memperhatikan Mama kan?" tebak Tara sudah tahu, tiap kali mama nya ngambek, gara-gara tidak di perhatikan sang papa.
"Hais! Sok tau kamu," Bisma kembali memegang mouse.
"Jangan kerja dulu Pa, aku mau bicara," Tara menghentikan kegiatan Bisma. Bisma pun memutar kursi menatap Tara. "Mau bicara Apa?" tanya Bisma.
"Bulan itu, sebenarnyaa..." Tara menghentikan ucapanya kala menoleh ke belakang tidak ada Bulan. Karena keasikan ngobrol sampai melupakan istrinya.
"Maksud kamu... Bulan itu istrimu, gitu kan?" potong Bisma.
"Papa sudah tahu?" Tara terkejut, menatap wajah papanya walupun seolah tidak perduli, tetapi ternyata perhatian.
"Papa tahu semua yang kamu lakukan saat KKN, Dip," tegas Bisma.
"Benar Pa? Lalu sejak kapan Papa mengetahui jika aku sudah menikah?" Tara berseri-seri kala menangkap wajah Bisma, seolah tidak menolak perkawinan nya dengan Rembulan.
"Sejak kamu mencuri uang 100 juta itu, kamu pikir Papa nggak tahu!" Bisma pura-pura ketus.
"Maaf Pa," Tara merasa bersalah walaupun uang itu miliknya, namun seharusnya ijin dulu.
"Begitu kamu menarik uang tunai, Papa memerintahkan orang untuk menyelidiki. Gara-gara kamu! Papa hampir jantungan tahu nggak! Papa pikir, uang itu kamu gunakan untuk membeli barang-barang haram seperti yang sedang marak belakangan ini," Bisma menarik napas berat.
"Papa... ihh! Jangan sampai Pa," Tara begidik ngeri.
"Lalu, kenapa kamu nggak bicara kan dulu dengan Papa, ketika kamu, mau menikah?" Sesal Bisma.
"Aku takut Pa. Papa marah, soalnya kan Papa waktu itu bilang, katanya aku tidak boleh menikah muda," jawab Tara.
"Tapi buktinya, kamu melanggar aturan Papa kan?! Dasar anak nakal kamu!" Papa menjewer telinga Tara.
"Aduh! du,du-duuu... sakit Pa," Tara menarik tangan Bisma.
"Kamu ini! Punya rencana sebesar itu, malah melangkahi Papa, kamu anggap apa Papa ini?!" tandas Bisma.
"Iya, iya. Pa, tapi Papa sekarang merestui kami kan?" Tara memegangi lengan Bisma seperti anak kecil.
"Sekarang panggil istrimu kemari," titah Bisma.
"Okay..." Tara kembali mendorong roda ingin memanggil Bulan. Namun ketika di ambang pintu Bulan masih bersandar di tembok.
"Bulan... kenapa kamu tadi nggak ikut masuk sih! Sekarang ke dalam yuk," Tara mengait lengan Bulan.
"Tapi aku takut Bang," Bulan pun akhirnya memberanikan diri untuk menghadap pria dingin itu.
.
__ADS_1
.