
Fatimah memandangi telapak tangannya. Baru kali ini ia menampar orang dan tak lain orang itu, Udin anak Risma sahabatnya. Tetapi kekecewaan yang dirasakan Fatimah sudah memuncak.
"Kamu itu ternyata bodoh Udin, di suruh orang berbuat jahat, tapi kamu menurut saja!" omel Fatimah.
Udin tetap menunduk.
"Jika ada orang menyuruh kamu, masuk jurang, apa kamu akan menurut juga?!" tandas Fatimah.
Udin menggeleng.
"Ibu kecewa sama kamu Din, sebaiknya, kamu pergi dari sini!" usir Fatimah tanpa menatap wajah Udin.
"Ibu... jangan usir Udin Bu, biarkan aku tinggal beberapa hari disini, sebelum mendapat tempat tinggal." Udin kembali mencium kaki Fatimah. "Maafkan Udin Bu, aku mengaku salah, jika Ibu mau hukum aku boleh saja,"
"Udin kapok Bu, tidak akan mengulangi lagi," sesalnya.
Udin terisak di kaki Fatimah. Namun Fatimah bergeming.
********
Sementara Rembulan masih di halaman mansion mencoba mengajak berbicara suaminya dari hati ke hati.
"Bang, ayo katakan Bang, apakah Abang mengalami kecelakaan saat pulang dari desa aku?" Bulan memeluk lutut Tara tidak tahu jika ada mata-mata yang pura-pura membersihkan taman, mengabadikan tiap-tiap sentuhan yang dilakukan Rembulan.
"Iya! Puas kamu!" Tara menjawab sinis.
"Astagfirlullah..." Bulan menenggelamkan wajahnya di lutut suaminya.
"Lalu, mengapa Abang selalu marah-marah padaku Bang? Apa salahku?" Bulan menatap lekat wajah suaminya dekat sekali.
"Banyak kesalahan yang kamu lakukan Bulan!" sungut Tara.
"Iya, tapi apa salahku?"
"Ironis memang, ketika aku koma di rumah sakit, kamu malah selingkuh dengan pria lain kan?!" tuduh Tara. Menatap lurus ke arah matahari yang menyilaukan.
"Maksud Abang apa? Pria yang mana yang menjadi selingkuhan aku?" Bulan balik bertanya, menahan tangis. "Abang salah sangka, hanya Abang yang ada di hati aku."
"Jangan pura-pura tidak tahu Bulan?" Tara melempar tatapan gusar.
"Abang... sumpah, aku benar-benar nggak tahu," jawab Bulan menatap wajah suaminya sendu.
Setelah membaca diagnosa hasil pemeriksaan Tara. Bulan berbicara lebih halus dengan suaminya agar tidak membuat suaminya semakin setres.
"Bang, jika aku salah, maafkan aku, tapi aku berani bersumpah tidak pernah melakukan apa yang Abang tuduhkan," Bulan mencium lembut tangan suaminya.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar," potong Tara datar.
Bulan pun tidak berani bertanya lagi, ia lalu mendorong kursi suaminya masuk ke dalam rumah. Ketika di depan pintu berpapasan dengan Keke sudah berpakaian rapi, sangat minim tampak seksi.
"Dipta, gw berangkat ya," Keke pamit, menunduk di depan Tara dan ingin mencium wajah Tara.
"Hait," tidak boleh sembarangan mencium!" Bulan menarik kerah Keke dari belakang.
"Dipta saja mau! Kenapa loe yang sewot sih?!" Keke berdiri tegak berhadapan dengan Rembulan.
"Karena Dia suami saya, dan selama ada saya, tidak boleh ada yang menyentuhnya! Ngerti?!"
Bulan melengos lalu kembali mendorong Tara ke kamar.
"Brengsek! Loe!" Keke melotot tajam.
Bulan menoleh sambel menjulurkan lidah tersenyum meledek, seperti anak kecil.
Keke menghentakan kakinya ke garasi sambil mengumpat kesal. Ia hendak mengeluarkan mobilnya yang parkir di garasi bersebelahan dengan mobil silver milik Tara, yang sudah hampir setengah tahun tidak iya pakai.
"Non, lihat ini," Sumidah menunjukka foto hasil penyelidikan pagi ini," mata-mata tadi ternyata Dia orangnya.
"Bagus! Sum, pantau terus, dan laporkan padaku," perintahnya kemudian merogoh tas. "Ini upah kamu pagi ini," Keke memberikan satu lembar uang merah. "Sekarang kirim foto itu kepadaku,"
"Baik Non, terimakasih," Sumidah tersenyum, mencium uang tersebut. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya setelah mengirim foto.
"Abang jangan tidur beneran ya, masih pagi soalnya," kata Bulan perhatian.
Bulan pun keluar kamar, menuju dapur.
"Neng butuh apa?" tanya bibi lembut.
"Tidak butuh apa-apa Bi, boleh nggak? Saya memasak untuk Bang Tara?"
"Bang Tara?" Tanya Bibi.
"Maksud saya... untuk Tuan muda Bi," Bulan meralat. Tidak sadar dia keceplosan.
"Oh, boleh sih. Neng, yang penting tidak menelantarkan Tuan muda,"
"Memang, Neng berniat memasak apa hari ini?" tanya bibi. "Soalnya saya mau kepasar Neng,"
"Oh kalau gitu, beli tulang sapi ya Bi, minta dipotong sekalian, nanti mau saya ambil sum-sum nya," Bulan berniat membuat sop untuk kesehatan tulang.
"Siap Neng,"
__ADS_1
Bibi berangkat ke pasar, sedangkan Bulan kembali ke kamar Tara. Ketika melewati meja makan berpapasan dengan Sumidah yang sedang membereskan meja makan.
"Huh! Orang baru, sok cari perhatian boss!" Sumi melempar tatapan geram.
"Mbak, menyindir saya?" Bulan berhenti mengamati Sumidah yang sedang mengelap meja.
"Merasa, memang?!" sungut Sumi melengos kesal.
"Ya jelas nggak merasa lah Mbak, saya nggak pernah mencari perhatian siapapun," Bulan menjawab santai.
"Huh! Dasar ganjen, suka genit sama Tuan Dipta," Sumi menaikan bibir sebelah.
"Maksudnya?" tanya Bulan.
"Kamu pikir, saya nggak tahu! Kalau kamu suka nempel-nempel dengan Tuan, awas saja! Nanti saya adukan Tuan sama Nyonya besar. Biar kamu di pecat!" Sumi lantas melenggang pergi menyampirkan serbet di pundak.
"Ya Allah... perasaan aku nggak pernah berbuat salah, tapi kenapa menjadi banyak musuh," Bulan bergumam. Kemudian melanjutkan ke kamar Tara.
Sampai di kamar, ia menggeleng, sudah di bilang jangan tidur pagi-pagi, tapi Tara malah mendengkur.
Bulan duduk di ranjang, memperhatikan wajah teduh suaminya. Ia merenungi jalan hidupnya. Selama 19 tahun, hatinya tidak pernah mengalami sakit seperti setelah menikah dengan Tara. Cobaan datang silih berganti.
Bukan tidak pernah mengalami kesedihan. Bulan sempat merasa terpuruk saat kepergian Ayahnya dulu. Namun ia segera menyadari semua yang terjadi sudah kehendaknya.
Bulan menarik napas panjang, apakah suatu saat nanti hubunganya dengan Tara akan kembali seperti dulu? atau justeru sebaliknya. Akan kehilangan orang yang dikasihi untuk yang kedua kali? Mengingat sikap Tara, yang tidak bisa bersikap lembut kepadanya.
Bulan ke kamar nya ambil gawai yang sejak pagi tidak ia buka. Ia kembali ke kamar Tara duduk di sofa.
Gadis cantik itu membuka aplikasi ajang bakat menulis novel, yang selalu ia gemari saat SMK.
Ia menulis bab yang sekian kali tertunda karena kesibukan di dunia nyata. Tangan terampilnya mengetik yang sudah ia simpan di kepala.
Bulan menulis tentang kisahnya dengan nama pena. BUL BUL.
Bukan maksud Bulan untuk mempublikasikan kisah pribadinya untuk dikonsumsi publik. Namun Bulan hanya ingin meringankan kesedihan. Dengan menulis dapat menghiburnya, tentu dengan nama samaran.
"Keke... Keke..." mendengar suara Tara Bulan beranjak. Ia memandangi wajah Tara yang masih terpejam. Ternyata Tara mengigau.
"Abang... dalam tidur pun kamu menyebut nama Keke, sungguh sudah tidak adakah sedikitpun rasa cinta di hati kamu, untuk aku? Bulan berkaca-kaca.
"Keke..." Tara mengigau lagi.
"Keke.....!!!" Tara memekik.
"Abang... bangun Bang," Bulan menepuk pelan pipi Tara. Seketika Tara menarik tangan Bulan hingga jatuh di dadanya.
__ADS_1
.